
Happy Reading.....
Bunga menatap ke layar ponselnya setelah telepon terputus, dia melihat fotonya bersama dengan Aurora yang sedang berpelukan di sebuah taman, di mana keduanya tersenyum bahagia seakan foto itu adalah ibu dan juga putrinya.
"Siapa yang mau datang, Nak?" tanya Mami Rindi pada Bunga.
"Itu Mih, Bagas sama Aurora mau datang ke sini. Tadi mereka ke apartemen, tapi aku lupa ngabarin kalau aku pulang ke rumah," jawab Bunga sambil duduk di tepi ranjang.
Sedangkan di perjalanan Bagas dan Aurora sedang menuju ke rumah keluarga Bunga, bahkan terlihat wajah Aurora yang nampak bahagia karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan Bunga.
**********
Di kediaman Ilham, Nara saat ini tengah uring-uringan pasalnya dia tidak bisa keluar rumah dan harus menjaga Azam putranya, dia juga tidak bisa bertemu dengan Ferdi dan menghabiskan waktu bersama pria itu. Nara benar-benar mencari cara agar dia bisa terbebas dari rumah Ilham dan bisa jalan bersama dengan Ferdi.
Akhirnya Nara pun menemukan ide saat melihat Bi Marti keluar dari rumah untuk belanja bulanan ke supermarket. Nara pun akhirnya menawarkan diri agar Dia yang belanja, awalnya Bi Marti menolak, tapi Nara mengancam wanita itu dan mau tidak mau BimaTri tidak punya pilihan.
'Sebentar lagi aku akan bertemu dengan Ferdi,' batin Nara sambil memoles wajahnya dengan make up. Setelah itu dia pun keluar dari rumah dan menitipkan Azam pada Baby Sitternya, dia hanya punya waktu 3 jam untuk bersenang-senang dengan Ferdi.
Dengan perasaan yang bahagia, Nara mengendarai mobilnya menuju hotel di mana dia dan Ferdi sudah janjian. Tanpa Nara sadari jika ada seseorang yang sedang mengikuti dirinya yaitu anak buah Ilham. Hingga saat Nara sampai di hotel dan berpelukan dengan Ferdi, anak buah Ilham langsung memotret nya kemudian memberikannya pada Ilham dan memberikan alamat di mana Nara saat ini berada.
"Benar-benar keterlaluan! Dia berani keluar dari rumah dan bertemu dengan selingkuhannya di belakang aku!" geram Ilham sambil mengepalkan tangannya.
Ilham yang sudah merasa emosi pun mengendurkan dasi yang ada di lehernya, kemudian dia menggulung kemejanya setengah lengan lalu keluar dari ruangan dengan rahang yang sudah mengeras. Emosinya benar-benar sudah tidak tertahan lagi, Ilham akan datang ke hotel itu dan melabrak Nara bersama dengan Ferdi.
__ADS_1
Selama di dalam perjalanan Ilham benar-benar tidak sabar, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena Ilham ingin segera sampai di tempat di mana Nara dan juga Ferdi sedang memadu kasih. Sebagai seorang suami tentu saja dia tidak terima, dia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Nara.
Karena Ilham yang tidak fokus menyetir, dia tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang menyeberang jalan hingga orang itu pun terluka parah. Dan orang-orang yang melihat tabrakan itu segera mengerubuni mobil Ilham, meminta pertanggungjawaban dari pria itu.
"Oke, oke... saya akan tanggung jawab, cepat bawa dia ke mobil! Saya akan membawanya ke rumah sakit," ujar Ilham yang sudah frustasi karena saat ini dia harus menolong orang yang baru saja dia tabrak.
Mau tidak mau Ilham pun melajukan mobilnya ke rumah sakit, dia tidak jadi untuk pergi ke hotel di mana Nara saat ini berada. Karena Ilham malas jika harus berhubungan dengan hukum.
Dengan frustasi Ilham mengacak rambutnya, dia benar-benar kesal karena dia tidak bisa melabrak Nara bersama dengan selingkuhannya saat ini. Dan lagi-lagi dia harus menunggu waktu yang tepat.
********
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam, tapi Aurora masih belum ingin pulang dari rumah orang tua Bunga. Dia masih sangat merindukan wanita itu, rasanya Aurora tidak ingin berpisah dengan bBunga. Bahkan dia sampai menangis saat Bagas mengajaknya pulang dan Bunga yang melihat itu tentu saja tidak tega.
"Tapi aku merasa tidak enak, sebab aku terus aja merepotkanmu," jawab Bagas sambil menatap lurus ke depan.
Mendengar jawaban Bagas, Bunga terkekeh. Dia sama sekali tidak merasa direpotkan dengan adanya Aurora, karena bagi Bunga, Aurora sudah seperti anaknya dan Bunga sama sekali tidak merasa jika Aurora merepotkan dirinya.
"Aku tidak merasa jika Aurora merepotkan, justru aku senang, lagi pula aku sudah menganggap Aurora sebagai putriku sendiri, apa itu salah?"
Bagas terpaku mendengar ucapan Bunga, kemudian dia menatap wanita yang berada di sampingnya dengan tatapan yang dalam. "Kamu serius? Kamu sudah menganggap Aurora sebagai putrimu sendiri?" tanya Bagas tidak percaya dan langsung dibalas anggukan oleh Bunga.
Setelah berbincang-bincang dan jam pun sudah menunjukkan pukul 09.00 malam, Bagas pamit pulang, sedangkan Aurora menginap di rumah keluarga Bunga. dan Bagas juga akan kembali besok pagi untuk menjemput Aurora.
__ADS_1
*********
Pagi pun telah tiba, Bunga saat ini sedang mengganti baju Aurora. Dia baru saja selesai memandikan gadis kecil itu, dan Bunga sangat bahagia sebab ia bisa merasakan bagaimana rasanya merawat seorang anak kecil.
Setelah rapi, Bunga pun mengajak Aurora untuk turun ke lantai bawah menuju ruang makan untuk sarapan. Sebab semua sudah menunggu di meja makan,
dan saat Bunga sampai di meja makan dia melihat Bagas sudah berada di sana. Bunga pikir Bagas belum datang karena Jam menunjukkan pukul 06.30 pagi.
"Papa...!" seru Aurora sambil berjalan dan memeluk Papanya.
"Kamu nggak nakal kan di sini? Enggak buat repot tante cantik kan?" tanya Bagas sambil mencium kening Aurora, dan Gadis itu pun langsung menggeleng. "No Papa, Aurora tidak membuat tante cantik repot kok," jawab Aurora sambil duduk di pangkuan Bagas. Kemudian mereka pun sarapan bersama.
Di tengah-tengah mereka sedang sarapan, Mami Rindi berkata, "oh iya sayang, nanti malam ada acara keluarga dari temannya Mami. Kebetukan di sana juga ada party, dan satu keluarga itu harus datang. Jadi Mami mau kamu datang dan temani Mami, soalnya Kak Sony tidak bisa datang karena kan Jelita sedang hamil, jadi kamu temani Mami dan Papi untuk acara itu Ya," pinta Mami Rindi pada Bunga dan langsung disanggupi oleh wanita itu.
"Oh ya, Nak Bagas. Kamu juga nanti malam ikut ya," ajak Papi Frans kepada Bagas.
Mendengar ajakan pria paruh baya itu, Bagas tersedak makanannya kemudian dia pun segera mengambil air putih lalu menegaknya hingga habis setengah gelas, lalu dia menunjuk dirinya sendiri. "Saya Om? Tapi kenapa saya harus ikut? Ini kan acara keluarga, Om?" heran Bagas sambil menatap Papi Frans dengan dahi mengkerut.
"Iya tidak apa-apa, saya sebenarnya nanti malam ada meeting makanya saya mau kamu temani dulu istri dan juga putri saya ke acara itu. Nanti mungkin saya akan menyusul, tapi jika kamu tidak keberatan dan kamu tidak sibuk. Kalau kamu sibuk saya juga tidak akan memaksa."
Bagas tentu saja menerimanya dengan senang, dia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan seperti itu. Karena kesempatan itu tidak datang dua kali, dan Bagas pun menyanggupi untuk ikut ke acara nanti malam bersama dengan Aurora juga.
Bersambung.......
__ADS_1