
Happy reading......
Di sebuah rumah yang cukup mewah, yaitu di kediamannya Ilham. Saat ini pasangan suami istri itu sedang bertengkar, karena Nara menolak untuk tes DNA Azam dan Ilham. Dan tentu saja itu memacu keributan antara dia dan Ilham.
Memang tadi pagi selesai Ilham sarapan, dia menggendong Azam untuk membawanya ke rumah sakit, karena Ilham ingin melakukan tes DNA kepada Azam. Tapi Nara segera mencegahnya, karena Nara takut jika nanti akan ketahuan.
"Jangan-jangan benar lagi, jika Azam itu bukan anakku? Jika dia memang anakku, kenapa kamu tidak mau aku melakukan tes DNA kepadanya? Kamu takut kalau aku tahu, jika Azam itu Bukan anakku!" bentak Ilham dengan nada yang tinggi sambil menunjuk wajah Nara.
"Aku sudah berapa kali bilang sama kamu, Mas. Azam itu anak kamu! Kamu jangan suka nuduh aku yang nggak-nggak dong. Lagi pula, untuk apa kamu tes DNA dengan Azam? Jelas-jelas dia anak kamu, bukan anak orang lain," jawab Nara tidak kalah lantang.
"Kalau kamu tidak mau mengizinkan aku untuk tes DNA dengan Azam, kamu pergi dari rumah ini bawa Azam sekalian. Berarti dia memang bukan anakku!" ancam Ilham dengan sorot mata yang tajam dan tatapan dingin ke arah Nara.
Gluk
Nara menelan ludahnya dengan kasar saat mendengar ucapan Ilham, dia tidak mau jika sampai Terusir dari rumah itu, apalagi bercerai dengan Ilham. Karena Nara belum mendapatkan apa-apa dari pria itu. Akhirnya Nara pun menjalankan rencana kedua, karena Ilham tidak bisa dibujuk.
"Baiklah jika itu mau kamu, Mas. Sebentar ..." Kemudian Nara mengambil gunting lalu memotong rambut Azam, dan memasukkannya ke dalam plastik kemudian dia menyerahkan kepada Ilham dengan sedikit keraguan di hatinya.
"Ini, bawalah rambut Azzam dan tes DNA. Jika kamu memang tidak percaya," ucap Nara dengan sedikit menantang.
Ilham mengambil rambut sampel itu, lalu tatapannya mengarah kepada Nara. Dia melihat istrinya itu bersungguh-sungguh, akhirnya Ilham pun pergi meninggalkan rumahnya menuju rumah sakit untuk melakukan tes DNA antara dia dan juga Azam dengan sampel rambut yang dikasih oleh Nara.
'Aku harus kabari Ferdi, kalau Mas Ilham sudah membawa sampel rambut milik Azam,' batin Nara sambil mengambil ponselnya, lalu dia mengirimkan pesan kepada Ferdi tentang apa yang sedang dilakukan oleh Ilham.
__ADS_1
Nara dan juga Ferdi sudah mempunyai rencana Untuk membatalkan tes DNA itu, tapi walau begitu, kita tidak tahu kedepannya seperti apa? Apakah rencananya Nara dan juga Ferdi akan berhasil atau tidak untuk menggagalkan tes DNA antara Azam dan juga Ilham.
********
Sesampainya Ilham di rumah sakit, dia langsung menemui salah satu dokter untuk melakukan tes DNA. "Apa harus selama itu, Dok? Apa tidak bisa hari ini?" tanya Ilham saat mendengar jika dia harus menunggu selama 2 minggu dan paling cepat itu 1 minggu.
"Tidak bisa Pak, memang waktunya seperti itu," jawab Dokter itu membuat wajah Ilham seketika murung,kemudian dia pun pergi meninggalkan rumah sakit untuk pergi ke kantornya.
"Jika benar Azam adalah putra dari selingkuhan dia, maka aku tidak akan pernah memberikan maaf kepada Nara. Aku akan langsung mendepak mereka dari rumah," gumam Ilham dengan geram, sambil masuk ke dalam mobil.
Sedangkan Bunga dan Tina, mereka baru saja sampai di kantor. Namun langkahnya terhenti, saat Bunga melihat Bagas sedang duduk di ruang tunggu, di kantornya.
"Hei, apa kabar? Kok kamu ke sini nggak ngasih tahu aku?" tanya Bunga kepada Bagas.
"Semoga berhasil, Pak Duda dan Bu janda," goda Tina sebelum masuk ke dalam ruangan.
Bagas menarik satu bibirnya ke atas saat mendengar godaan dari Tina, tetapi tidak dengan Bunga. Wanita itu malah menekuk wajahnya, merasa kesal dengan godaan Tina.
"Oh ya, kamu ada apa ke sini?" tanya Bunga lagi mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau ngajak kamu makan siang, tapi kali ini aku tidak ingin ada pengganggu, karena ada yang ingin aku sampaikan,".ucap Bagas kepada Bunga.
Wanita itu terdiam sejenak, memikirkan apakah dia akan menerima tawaran Bagas atau tidak. Dan Bagas yang melihat itu tentu saja merasa deg-degan, dia takut Bunga menolak permintaannya, namun seketika senyum mengembang di wajah Bagas saat Bunga menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan makan siang di mana?"
"Nanti aku jemput kamu, dan kamu juga akan tahu." Setelah mengatakan itu Bagas pamit kepada Bunga untuk pergi ke kantornya dengan hati yang bahagia.
Sedangkan Bunga, dia merasa penasaran dengan apa yang akan Bagas sampaikan kepadanya nanti siang. Karena Bunga bisa melihat dari sorot mata Bagas, jika apa yang akan disampaikan pria itu sangat penting.
Saat Bunga masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi kerjanya, tiba-tiba Tina masuk dengan gaya centilnya. Dia menggoda Bunga, "cieee ... yang baru saja didatangin sama Pak duda. Dia mau ngapain ke sini?" goda Tina sambil mengedipkan sebelah matanya.
Bunga yang kesal pun akhirnya mengambil pulpen dan melemparnya ke arah Tina. "Dasar kau sahabat durhakim, kepo banget sih Lo, Zubaedah," gerutu Bunga sambil membuka laptopnya.
Namun bukan Tina namanya, jika dia tidak berhasil membuat Bunga kesal akibat godaan darinya. Dia pun mendekat ke arah kursi Bunga, lalu menompang wajahnya dengan satu dagu di atas meja dan menatap ke arah wanita yang sedang mengecek email yang ada di hadapannya itu.
"Gue setuju kok, kalau Lo sama Pak Bagas. Kan Bu janda dengan Pak duda, sangat serasi, seperti duren yang dibelah dua ya nggak?"
Setelah mengatakan itu, Tina langsung lari keluar dari ruangan Bunga. Dia terkekeh saat Bunga meneriaki dirinya dengan nada yang begitu kesal.
"Zubaidah ... awas lo ya!" kesal Bunga dengan wajah ditekukm
Bunga menggelengkan kepalanya, merasa heran kenapa dia mempunyai sahabat yang suka membuatnya kesal setiap hari. Kenapa dia mempunyai sahabat yang begitu jahilnya tidak ketulungan.
Tapi, walau bagaimanapun, Bunga sangat bersyukur karena ada Tina di sisinya. Karena wanita itu sudah membuat hari-hari Bunga berwarna, bahkan saat Bunga sedih, Tina selalu ada di sampingnya. Bahkan Tina selalu mensupport dirinya saat Bunga jatuh, bahkan saat Bunga berada di titik terendah.
Bersambung......
__ADS_1