
Happy reading.........
Malam ini Bagas sudah siap dengan kemeja biru muda dan celana panjang berwarna hitam. Bagas terlihat begitu tampan, karena kemeja yang saat ini dia pakai adalah kemeja pendek dengan dalaman kaos putih.
"Papah ... Papah mau ke mana?" tanya Aurora saat melihat Bagas sudah rapi dan melewati ruang tamu.
Bagas pun mendekat ke arah Aurora, lalu berjongkok mensejajarkan badannya dengan tinggi badan Putri kecilnya itu, lalu Bagas menangkup kedua pipi Aurora dan menatap kedua manik indah milik gadis kecil berambut sedikit pirang itu.
"Papa akan bertemu dengan tante cantik, kamu doain Papa ya, semoga tante cantik mau untuk menjadi ibunya Aurora," ucap Bagas kepada sang putri.
"Wah ... Papa benelan, tante cantik mau jadi ibunya Aulola?" Aurora menjadi sangat antusias saat mendengar ucapan Bagas, bahkan dia sampai loncat karena girangnya.
Bagas tersenyum melihat wajah cantik Putri kecilnya itu. Sejujurnya ada rasa takut di hati Bagas, dia takut jika nanti Bunga menolak lamarannya karena malam ini Bagas akan menyatakan perasaannya kembali dan meminta jawaban dari Bunga atas pertanyaannya 2 bulan yang lalu.
"Aulola doain supaya tante cantik mau jadi ibunya Aulola, karena Aulolaa pasti akan senang sekali Papa, kalau sampai tante cantik menjadi ibunya Aulola. Setiap pagi pasti Aulola dimandikan di suapin, dikuncir, tidur ada yang nemenin." Gadis kecil itu terus berceloteh dengan senang saat mendengar jika Bagas akan melamar Bunga.
"Mama juga doakan, supaya Bunga menerima kamu sebagai calon suaminya," timpal Mama Ranti menghampiri Bagas lalu memegang pundak pria itu.
__ADS_1
Setelah mendapatkan restu dari Mama dan juga Putri kecilnya, Bagas pun keluar dari rumah dan menaiki mobil untuk menjemput Bunga.
Sejujurnya hati Bagas saat ini sedang berdebar, dia takut jika Bunga akan menolaknya kembali, tapi dia juga harus optimis dan yakin jika Bunga akan menerima cintanya dan menerima kehadirannya di dalam hati dan juga hidupnya.
Sedangkan di kediaman Mardasena, Bunga sudah siap dengan gaun hitam selutut tanpa lengan, membuatnya sangat cantik dan juga elegan namun juga sangat seksi.
Tak lama pintu kamar Bunga diketuk, dan itu adalah Mami Rindi yang mengabarkan jika Bagas sudah ada di lantai bawah menunggu dirinya. Bunga yang mendengar itu pun segera keluar dari kamar dan berjalan ke lantai bawah menemui Bagas.
"Sudah siap?" tanya Bagas kepada Bunga, bahkan pandangan pria itu tidak lepas dari Bunga. Dia benar-benar terpesona dengan kecantikan Bunga saat ini, bahkan saat Bunga menuruni tangga Bagas seperti menahan nafas dengan mata tak berkedip sedikitpun.
Kemudian setelah pamit sama Mami Rindi, Bagas dan juga Bunga pun masuk ke dalam mobil. Mereka akan menuju ke tempat di mana Bagas sudah menyiapkan semuanya untuk Bunga, dan selama di dalam mobil pula tidak ada pembicaraan antara keduanya. Mereka sama-sama terdiam, merasa canggung, bahkan Bunga sedari tadi terus meremas dressnya karena dia begitu gugup.
"Kita akan dinner di mana?" tanya Bunga membuka pembicaraan.
"Nanti juga kamu akan tahu," jawab Bagas. Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi sampai mobil pun terparkir di sebuah restoran yang cukup luas, kemudian Bunga dan Bagas pun turun, lalu saat mereka baru sampai di depan pintu restoran seorang pelayan menyambut Bunga dan juga Bagas sambil memberikan satu tangkai mawar merah kepada Bunga.
"Silakan Nona ikuti dan ambil setiap bunga yang diberikan oleh pelayan, yang sudah berbaris di dalam sana Nona," ujar pelayan wanita itu kepada Bunga.
__ADS_1
Bunga yang merasa bingung pun menoleh ke arah Bagas, dan pria itu langsung mengangguk tanda jika Bunga harus mengikuti instruksi dari pelayan itu. Kemudian Bunga pun masuk ke dalam restoran, dan di dalam dia diberikan bunga mawar kembali, begitupun seterusnya sampai langkah Bunga terhenti di sebuah lapangan dengan dekorasi yang indah, bahkan di sana ada lingkaran berbentuk love dari kelopak bunga mawar.
Bunga menutup mulutnya dengan kelima jarinya, bahkan di tangannya saat ini Bunga memegang 15 tangkai mawar merah, dia menatap ke arah Bagas kemudian pria itu mengulurkan tangannya, lalu Bunga pun memberikan tangannya kepada Bagas dan dengan perlahan Bagas menggandeng Bunga ke arah meja di mana sudah disiapkan di tengah lingkaran dari bunga mawar yang berbentuk love.
Saat Bunga sampai di meja, tiba-tiba sebuah petasan mengagetkannya, dan Bagas menunjuk ke arah langit di mana petasan itu meletus, dan di sana terdapat tulisan Will you marry me.
Bunga sangat kaget, bahkan dia benar-benar terharu, matanya berkaca-kaca dengan tangan menutup mulut, dan Bunga semakin dibuat kaget saat Bagas berjongkok di hadapannya dan memegang satu tangannya.
"Bunga Maheswari, malam ini aku akan menyatakan perasaanku kembali kepadamu, seperti dua bulan yang lalu. Perasaan itu tidak pernah berubah, bahkan semakin bertambah. Malam ini langit akan menjadi saksi, apakah Cintaku dan hatiku akan diterima olehmu atau tidak. Malam ini, aku akan mengungkapkan semuanya kepadamu, Bunga ... WILL YOU MERRY ME?"
Air mata yang tadi ditahan oleh Bunga seketika lolos begitu saja, dia tidak pernah mendapatkan perlakuan manis seperti itu. Hatinya benar-benar berbunga-bunga, bagaimana tidak? Dia merasa hangat diperlakukan begitu romantis dan istimewa bak seorang putri raja.
"Kamu ingatkan dengan kalung itu? Jika kamu menerima aku, maka kamu harus memakai kalung itu, tapi jika kamu tidak menerimaku, maka kamu bisa membuangnya," sambung Bagas kembali saat melihat Bunga hanya terdiam.
Bunga tidak tahu apa yang harus dia katakan, karena dia benar-benar sangat syok dan juga sangat senang mendapatkan perlakuan manis dan istimewa seperti itu. Dia juga melihat tatapan kesungguhan dari kedua mata Bagas, juga tatapan penuh cinta dari pria itu saat menatap dirinya.
"Aku ..." Bunga menggantung ucapannya sejenak, dia benar-benar harus memastikan jawaban apa yang harus dia kasih kepada Bagas. Karena walau bagaimanapun ini untuk masa depannya.
__ADS_1
Bersambung.........