Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Membantu Ardi


__ADS_3

Happy reading.....


Mentari dan Ardi masuk ke dalam restoran mewah itu, dan di sana sudah banyak teman-teman Ardi yang berkumpul dan sedang menikmati pesta. Ardi pun menggandeng tangan Mentari dan melangkah menuju di mana sang pemilik pesta berada.


''Hei, Bro. Selamat ulang tahun ya, semoga lu semakin sukses dan casanova lu juga semakin berkurang,'' ucap Ardi sambil terkekeh kecil dan menepuk bahu sahabatnya itu.


''Thanks ya, lu udah datang kesini. Buy the way, ini siapa? Kekasih lo, cantik banget? Lo nggak pernah kenalin kekasih lo sama gue,'' ujar Robi sambil melirik ke arah Mentari, dan gadis itu hanya tersenyum canggung.


''Kenalin, ini Mentari. Dan Mentari, kenalin dia temen aku, namanya Robi.'' ucap Ardi memperkanalkan Mentari kepada Robi.


Mentari mengulurkan tangannya ke arah Robi, dan pria itu menyambut dengan senang hati. Bahkan, pria itu mencium tangan Mentari. ''Robi,'' ucap Robi sambil tersenyum manis. Mentari yang mendapat perlakuan seperti itu langsung menarik tangannya dan menyembunyikannya dibalik punggung. ''Mentari,'' jawab Mentari dengan senyuman yang canggung.


Setelah berbasa basi dengan Robi, Ardi pun berjalan ke arah salah satu meja dan mengambilkan minuman untuk gadis itu. Mentari benar-benar tidak betah berada di sana, karena banyak sekali wanita dan juga pria yang duduk dengan mesra. Bahkan, ada seorang wanita yang duduk di pangkuan pacarnya, dan Mentari tidak biasa melihat itu semua.


''Kamu tidak betah di sini?'' tanya Ardi kepada Mentari, dan wanita itu mengangguk dengan pelan. Dia merasa tidak enak kepada Ardi, karena Mentari sudah mengecewakan Pria itu.


''Sebaiknya kita pulang saja! Daripada kamu tidak nyaman,'' usul Ardi, tapi Mentari segera menahan tangan pria itu, saat Ardi berdiri dari duduknya dan mengajak Mentari untuk pulang.

__ADS_1


''Kenapa? Bukannya kamu tidak betah?'' heran Ardi dengan tatapan menyempit ke arah Mentari.


''Kakak 'kan baru dateng ke sini, masa udah langsung pulang lagi? Tidak enak kepada temannya. Aku tidak papa kok, mungkin karena belum terbiasa saja berada di pesta seperti ini,'' jelas Mentari kepada Ardi. Dan pria itu pun duduk kembali di hadapan Mentari dan menggenggam tangan gadis itu.


''Tapi jika kamu tidak betah, aku tidak akan memaksa. Sebaiknya kita pulang! Lagipula, aku sudah datang, setidaknya tidak membuat temanku kecewa karena ketidakhadiran aku, 'kan?'' Setelah mengatakan itu, Ardi mengajak Mentari untuk berpamitan kepada Robi, tapi saat sampai di sana Robi malah mengajak Ardi untuk minum-minum sejenak. Karena mereka adalah teman, dan biasanya Ardi ikut untuk minum, minum walaupun cuma sedikit.


''Ayolah, hanya sedikit saja! Lagipula, kekasihmu tidak akan marah, benarkan Nona Mentari? Kami pinjam Ardi sebentar, tidak papa, 'kan? Kamu boleh menemani Ardi kok,'' ujar Robi kepada Mentari, tapi gadis itu hanya tersenyum dengan raut wajah bingung.


Ardi yang merasa tidak enak pun akhirnya mengangguk kecil, kemudian dia mulai meminum minuman alkohol itu hingga beberapa gelas kecil tapi lagi-lagi Robi menyodorkan minuman itu. Walaupun Ardi sudah menolaknya, tetapi Robi malah memaksa dirinya. Dan Ardi pun terus menegak minuman itu hingga dia cukup mabuk berat.


''Kak, sebaiknya kita pulang! Tolong angan minum lagi!'' ucap Mentari disamping Ardi. Karena walau Ardi sudah mabuk, dia masih setengah sadar. Akhirnya Ardi pun mengangguk kemudian pamit kepada Robi.


''Jangan pulang ke rumah! Aku tidak mau, jika Mama melihatku seperti ini,'' ucap Ardi dengan mata tertutup dan menyandarkan kepalanya di bahu Mentari. Bau alkohol begitu menyengat, saat Ardi membuka mulutnya. Dan Mentari yang mencium itu segera menutup hidungnya dengan tangan, karena dia tidak biasa mencium bau alkohol.


Lalu ardi pun menyebutkan alamat apartemennya kepada sopir taksi, dan setelah 40 menit mereka pun sampai di apartemen Ardi. Mentari yang melihat Ardi berjalan Sempoyongan pun, langsung membantu Ardi berjalan menaiki lift menuju lantai 15, di mana kamarnya berada.


''Kak, sepertinya ini harus dimasukkan pin?'' ucap Mentari saat sampai di depan pintu kamar Ardi. Dan pria itu langsung memencet pin kamarnya, dan hampir saja badannya jatuh jika tidak ditahan Mentari. Lalu gadis itu pun membantu Ardi untuk masuk ke dalam apartemen dan menuju kamar Ardi.

__ADS_1


''Ya ampun, jika dia tidak biasa mabuk, kenapa harus mabuk seperti ini sih, kak?'' gerutu Mentari sambil membopong badan Ardi yang terasa begitu berat. Karena memang, postur tubuh Ardi dua kali lipat dari Mentari.


Tubuh Ardi terhempas ke atas ranjang dengan posisi telentang, kemudian Mentari langsung membuka sepatu Ardi dan juga kaos kakinya. Ardi yang terlalu banyak minum pun akhirnya muntah, dan Mentari yang melihat itu tentu saja tidak tega.


''Ya ampun, kalau tidak diganti kasihan ke Ardinya tidur dengan baju kotor. Kerjaan lagi deh,'' lirih Mentari sambil mencoba membuka baju Ardi dengan mata terpejam dan sedikit menyempit.


Dadanya berdebar dengan kuat, saat jari-jari tangan lentik milik Mentari membuka setiap kancing baju Ardi. Karena baru pertama kalinya Mentari membuka baju seorang pria, dan itu membuat dia sangat malu. Apalagi sekarang, Mentari merasakan kedua pipinya sangat panas.


Dengan susah payah Mentari membuka baju Ardi hingga menampakan dada bidang dengan 6 roti sobek di perut pria itu. Dia tidak menyangka jika Ardi mempunyai badan yang begitu atlantis, sehingga membuat Mentari terpana melihatnya. Namun, dia segera menggelengkan kepalanya agar tidak berpikiran kemana-mana.


''Apa yang kau pikirkan? Mentari, otakmu sungguh tidak waras!'' Mentari menggerutu pada diri sendiri. Kemudian, dia mencari kain lalu berjalan ke arah dapur dan mengambil baskom kecil untuk membersihkan muntahan di tubuh Pria itu.


Saat Mentari sudah selesai membersihkan muntahan yang ada di pundak Ardi. Dia hendak menuju ke dapur untuk menaruh baskom tersebut, tetapi tangannya ditarik oleh Ardi, hingga membuat wanita itu terjatuh dan terjermbab ke dalam dada bidang milik Ardi.


''Jagan pergi! Aku mohon,'' ucap Ardi sambil memejamkan matanya.


Jantung Mentari kian berdebar dengan kencang. Apalagi saat tubuhnya menabrak dadabidang milik Pria itu. Kemudian dengan perlahan dia mulai bangkit, tapi Ardi lagi-lagi menarik tangan Mentari, hingga membuat wanita itu jatuh dan menciuum bibir Ardi dengan tak sengaja.

__ADS_1


Kedua mata Mentari membulat, saat bibirnya bersentuhan dengan Ardi. Karena selama ini, tidak pernah ada seorangpun yang menyentuh bibir Mentari. Dan baru kali ini bibir itu ternoda, dengan perlahan Ardi mulai membuka matanya dan menatap Mentari dengan tatapan sayu.


Bersambung......


__ADS_2