Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Hari Bahagia double B


__ADS_3

Happy reading.......


Tina kaget saat mendengar Ardi sudah mengetahui hubungan Bunga dan juga Bagas, lalu dia duduk menghadap ke arah pria yang berada di sampingnya.


"Jadi, Lo sudah tahu tentang hubungan mereka? Gue pikir Lo tidak tahu," ucap Tina sambil menatap Ardi dengan tatapan kasihan.


Dia tahu pasti saat ini Ardi tengah sakit, hatinya benar-benar hancur, karena Tina pun pernah merasakan hal itu, dan sebagai sahabat Tina ingin sekali menghibur Ardi.


"Yaah, mau gimana lagi. Mungkin memang aku dan Bunga tidak berjodoh dan kak Bagas jauh lebih cepat di depan diriku. Jadi, ya udahlah aku Ikhlaskan aja Bunga untuk kak Bagas. Mungkin memang Allah sudah menyiapkan jodoh untukku, tapi saat ini aku ingin fokus bekerja dulu. Aku tidak ingin memikirkan jodoh, hatiku masih belum sembuh dari luka yang begitu dalam." Ardi berkata dengan nada yang begitu miris terdengar di telinga.


Tina kemudian memegang lengan sahabatnya, dan mengusapnya dengan lembut. "Sudah, sekarang Lo fokus bekerja dan sembuhkan lukamu. Gue sebagai sahabat hanya bisa mendukung Lo saja, dan Gue yakin jika Tuhan sudah menyiapkan seseorang yang pantas untuk Lo. Atau mungkin, orang itu adalah Gue?" ucap Tina dengan PD-nya, sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menaik turunkan alisnya beberapa kali.


Ardi yang mendengar itu pun terkekeh, dia benar-benar beruntung mempunyai sahabat seperti Tina, yang selalu membuatnya tersenyum di saat dia sedang bad mood.


"PD Lo, tingkat Dewa sekali. Memangnya apa yang buat Gue tertarik sama Lo? Badan Lo kayak gitar Spanyol juga nggak! Yang ada kayak triplek lurus mah iya," ledek Ardi sambil terkekeh kecil.


PLAK


Tina memukul lengan Ardi dengan kesal, lalu wajahnya ditekuk hingga membuat pipinya mengembung. Ardi yang melihat itu tentu saja semakin terkekeh, karena wajah Tina jika seperti itu akan terlihat seperti ikan buntal.


"Enak aja, body goals kayak gini, Lo bilang kayak triplek? Lo nggak lihat nih, body gue ini kayak Ghea Youbi sister, you know?"


"Apa Lo bilang tadi? Ghea Youbi? Ckck yang ada kayak Lucinta Luna mah, ho,oh."


Keduanya pun saling meledek terus satu sama lain, sampai tidak terasa mobil sudah terparkir di halaman kantor milik Tina. Lalu perdebatan mereka pun terhenti.

__ADS_1


********


Tidak terasa hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, di mana pernikahan Bagas dan Bunga akan dilangsungkan, dan hari ini Bagas akan mengucapkan ijab qobul untuk memperistri Bunga.


Saat ini Bunga tengah dirias oleh MUA ternama di kamarnya, ditemani oleh Tina, Mama Ranti dan juga Mami Rindi. Sangat terlihat jelas wajah tegang sekaligus bahagia di wajah Bunga.


"Eh Zubaedah, nanti kalau Lo di bawah, Lo jangan nangis. Nanti make up Lo luntur, kan jelek tau nggak sih. Kayak nenek lampir." Tina mencoba menghibur ketegangan Bunga.


"Dasar Lo, janda bohay. Malah ngeledekin temennya, bukan di semangatin, malah diledekin. Ya, kalau Gue nangis, itu artinya Gue terharu. Masa di hari bahagia wajah Gue lempeng-lempeng aja?" jawab Bunga sambil menatap Tina dengan kesal.


Mami Rindi dan juga Mama Ranti terkekeh melihat pertengkaran dua sahabat itu, setelah riasan di wajah Bunga dan juga tubuhnya sudah selesai. Mami Rindi dan juga Mama Ranti menggandeng Bunga untuk turun ke lantai bawah, di mana semua orang sudah berkumpul. Dan di sana juga sudah ada Bagas yang tengah duduk di hadapan penghulu untuk mengucapkan ijab qobul.


Semua orang terpana melihat kecantikan Bunga, dan di sana juga ada Ilham dan juga Tante Farah yang menghadiri pernikahan Bunga. Karena seminggu sebelum acara hari H, Bunga datang ke rumah Ilham dan mengundang pria itu untuk datang ke pernikahannya dan Bagas.


Bagas melihat Bunga tidak berkedip sama sekali saat Bunga menuruni tangga dan duduk di sebelahnya. "Kamu sangat cantik, Sayang," bisik Bagas di samping Bunga, dan itu tentu saja membuat Bunga merona malu mendapat pujian dari sang Pujaan Hati.


"Saya terima nikah dan kawin ya Bunga Maheswari, Bin Frans Argapura Mardasena, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi, SAH?" ucap penghulu sambil menatap semua tamu undangan yang ada di ruangan itu.


"SAH ...."


Bunga bernafas lega karena Bagas mampu mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas, kemudian penghulu pun membacakan doa. Setelah selesai Bunga langsung mencium tangan Bagas, lalu Bagas pun mencium kening Bunga dengan lembut, dan momen itu tidak disia-siakan oleh fotografer yang sejak tadi terus memotret ke arah pengantin itu.


Kebahagiaan yang Bunga dan Bagas rasakan saat ini, malah berbanding balik dengan perasaan Ardi yang hancur bagaikan debu, menyaksikan orang yang dia cintai diperistri oleh Kakaknya sendiri, tapi mau bagaimanapun Ardi tidak bisa melawan takdir. Yaitu, Bunga memang ditakdirkan untuk Bagas dan Ardi hanyalah pelengkap kisah cinta mereka saja.

__ADS_1


Setelah acara Ijab Qobul selesai, dan setelah acara sungkeman selesai. Bunga dan juga Bagas pun saat ini tengah berada di pelaminan untuk menyambut ucapan selamat dari para tamu undangan.


"Selamat ya, Kak, Bunga. Gue harap kalian akan terus bahagia sampai kakek dan nenek," ucap Ardi saat berada di atas pelaminan dan mengucapkan selamat kepada pengantin baru itu.


Bagas memeluk tubuh Ardi, kemudian dia menepuk pundak adiknya itu sebanyak tiga kali. "Gue yakin, Lo pasti bakal menemukan jodoh yang terbaik, dan Lo harus mencoba untuk membuka hati Lo kembali," ucap Bagas sambil tersenyum ke arah Ardi. Sementara itu Ardi hanya mengangguk saja, menjawab pertanyaan Bagas. Karena untuk membuka hati, itu tidaklah mudah, tidak semudah membalikan telapak tangan.


Saat Tina akan mengambil minuman, dia melihat Ardi keluar dari ruangan itu. Lalu Tina pun menyusul Ardi dan menghentikan langkah pria itu dengan memegang tangannya. "Lo mau ke mana? Kan acaranya belum selesai?" tanya Tina kepada Ardi.


"Gue mau cari angin segar, Tin. Tolong jangan halangi Gue ya!" Setelah mengatakan itu, Ardi melepaskan pegangan tangan Tina di lengannya, kemudian Ardi pun keluar dari gedung lalu menuju mobil dan meninggalkan gedung yang menjadi saksi bersatunya cinta Bagas dan juga Bunga.


Walaupun Ardi sudah berusaha untuk mengikhlaskan perasaannya. Walaupun Ardi sudah berusaha untuk tidak merasakan sakit, tapi tidak bisa dia pungkiri jika rasa sakit itu tidak bisa hilang dalam hatinya. Malah semakin sesak saat menyaksikan Bunga bersanding dengan Bagas di pelaminan dengan senyum yang bahagia.


Saat ini yang Ardi tuju hanyalah sebuah taman, di mana di sana dia akan mencari ketenangan. Karena saat ini itulah yang Ardi butuhkan, sebuah ketenangan dan tidak ingin diganggu oleh siapapun.


Setelah sampai, Ardi duduk di atas rumput sambil menatap ke arah danau kecil yang ada di hadapannya. Ardi benar-benar merasa miris dengan kisah cintanya, di mana dia sudah menunggu Bunga bertahun-tahun, mencintai wanita itu. Namun, ternyata wanita itu malah bersanding dengan kakaknya sendiri.


"Huuuufff ...."


Ardi menghela nafasnya dengan kasar, kemudian dia menyandarkan tubuhnya di pohon yang ada di belakang punggungnya. Namun, saat Ardi tengah melamun, sayup-sayup dia mendengar suara tangisan.


Ardi pun melihat kekanan dan kekiri, tapi tidak ada siapapun. Hanya ada dirinya sendiri di sana, karena kebetulan taman itu sedang sepi. Seketika bulu kuduk Ardi pun merinding.


"Ya ampun, masa iya siang-siang bolong ada Miss kunkun? Padahal kan Ini baru jam 11.00 siang. Masansudah berkeliaran sih? Mau cari apa dia berkeliaran di siang hari? Oh, jangan-jangan dia kehilangan Pak pocong yang lagi kabur ngejar janda kali ya?" gumam Ardi sambil celingak celinguk mencari arah suara.


Pria itu mencoba untuk tidak peduli, namun lama-lama suara tangisan itu semakin keras dan membuat Ardi penasaran. Karena dia yakin itu bukanlah suara Miss kun, yang biasa terbang di malam hari. Ardi pun bangkit dari duduknya, kemudian mencari asal suara itu, dan seketika mata Ardi tertuju pada seseorang yang sedang duduk di bawah pohon sambil menenggelamkan wajahnya di antara dua kaki.

__ADS_1


"Aduh Mbak, kalau nangis jangan di tempat sepi kayak gini. Saya kira tadi Mbaknya itu Miss kun loh," ucap Ardi saat sudah berdiri di samping wanita itu.


Bersambung.......


__ADS_2