Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Bekerja Sama


__ADS_3

Happy reading...


Ilham terbengong melihat tante Rindi merangkul Bunga, dia melihat dengan seksama bahwa wajah keduanya memang Mirip dan Ilham merutuki kebodohannya yang tidak pernah tahu identitas dan asal usul sang istri.


"Tunggu, tunggu. Jeng Rindi ini tidak bercanda kan? Mana mungkin wanita mandul ini adalah putrinya Jeng Rindi?" Tante Farah masih saja menampik kenyataan yang sudah ada di depan matanya, dia masih tidak percaya jika Bunga adalah putri dari Mami Rindi, sebab tante Farah juga tahu siapa keluarga Mami Rindi.


"Buat apa saya bohong? Apa anda tidak bisa melihat wajah kami begitu mirip? Apakah mata anda ini buta?" kekeh Mami Rindi mentertawakan kebodohan tante Farah.


Kemudian tante Farah memperhatikan wajah keduanya, dan memang sangat mirip. Seketika hatinya mencolos, otaknya ngeblank tidak bisa berpikir, lututnya lemas, entah kenapa seketika nyali tante Farah menciut saat mengetahui jika Bunga adalah putri dari teman sosialitanya.


'Bodohnya aku sudah membuang Bunga demi Nara,' batin Tante Farah.


"Sayang, Mami rasanya ingin sekali memberikan pelajaran kepada mereka. Mereka ini sudah lancang menghina kamu, mencaci maki kamu, bahkan mengatakan kamu mandul. Yang jelas-jelas kamu ini sehat? Oh, atau jangan-jangan bukan kamu, tapi mantan suami kamu tuh yang mandul? Jangan-jangan dia tidak subur?" sindir Mami Rindi sambil menatap sinis ke arah Ilham.


"Jaga ucapan Anda ya, Jeng! Anak saya ini sehat, dia tidak mandul. Yang mandul itu anak Anda!" geram tante Farah merasa malu karena Mami Rindi menyindir Ilham dengan kata 'mandul'.


Suasana di sana semakin tegang, acara yang seharusnya buat happy-happy malah harus kacau gara-gara Ilham dan keluarganya.


Bunga mengusap lengan sang Mami, memberikan isyarat kepada Maminya untuk berhenti. Sebab dia merasa tidak enak karena acara itu adalah acara sahabat dari Maminya, dan dia tidak mau mengacaukan acara itu.


"Tidak sayang! Mami harus kasih pelajaran kepada mereka, biar semua orang tahu jika yang mandul itu bukan kamu, tapi Ilham. Mungkin anak lelaki itu bukan anaknya Ilham? Lihat saja, bahkan wajah mereka tidak mirip," ucap Mami Rindi sambil mengarahkan dagunya ke arah Azam dan juga Ilham.


Degh


Seketika jantung Ilham seakan berhenti berdetak saat mendengar ucapan Mami Rindi, kemudian dia melirik ke arah Azam yang berada di sampingnya. Dan setelah diperhatikan memang Azam tidak mirip dengannya, Ilham menjadi Bimbang jika memang Azam bukanlah Putra kandungnya. Sedangkan Nara mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras, dia tidak terima dengan penghinaan Mami Rindi.

__ADS_1


"Kalian jangan asal bicara ya! Azam ini jelas-jelas putranya Mas Ilham, jangan asal ngomong ya, tante!" teriak Nara tidak terima sambil menunjuk wajah Mami Rindi, namun Ilham segera memegang lengan Nara, kemudian menatap wanita itu dengan tajam.


"Kita pulang sekarang! Bikin malu aja, ini tuh acara orang kita malah mencari keributan di sini," ujar Ilham dengan bijak karena dia malu, sebab semua mata tertuju ke arah mereka. Tapi, Nara tetap bersihkukuh untuk membalas ucapan Mami Rindi. Namun Ilham segera menggelengkan kepalanya dan menarik Nara keluar dari restoran itu diikuti oleh tante Farah yang sedari tadi diam kehabisan kata-kata dan tentunya masih merasa kaget dan malu.


Mami Rindi tersenyum penuh kemenangan, dia senang karena bisa melindungi putrinya, dan dia juga senang telah mempermalukan keluarga itu.


'Ini belum seberapa, masih untung cuma aku permalukan belum kupotong mereka,' batin geram Mami Rindi sambil menatap kepergian ke tiga orang itu.


Setelah acara pertengkaran itu selesai, Mami Rindi pun berjalan ke arah sahabatnya untuk meminta maaf karena telah mengacaukan acaranya. Dia tidak bermaksud untuk seperti itu, hanya saja sebagai seorang Mami dia akan membela putrinya jika sedang dihina dan diinjak-injak oleh orang lain, terlebih mantan keluarga suaminya.


*********


Ilham menitipkan Azam kepada Baby Sitter, kemudian dia menyeret Nara ke kamarnya lalu menghempaskan Nara dengan kasar ke atas ranjang dan mencengkram rahang Nara dengan kuat.


"Jawab aku dengan jujur! Azam anak siapa? Dia bukan Anakku kan?!" bentak Ilham sambil menatap Nara dengan tatapan yang mengerikan, seakan ingin melahap wanita itu hidup-hidup.


Nara tentu saja tidak akan tinggal diam saat mengetahui jika Ilham mulai ragu kepada Azam, dia tidak mau jika nanti Ilham malah tidak memberikan harta warisan kepada putranya.


"Baiklah, jika memang Azam Putraku, maka aku ingin tes DNA. Aku ingin mengetahui secara pasti jika Azam memang Putraku." Setelah mengucapkan itu Ilham masuk ke dalam kamar mandi sambil membanting pintunya dengan kasar, hingga membuat Nara terlonjak kaget.


Nara ketakutan, dia benar-benar cemas karena Ilham akan melakukan tes DNA kepada Azam, dan jika tes DNA itu dilakukan makan Ilham akan mengetahui jika Azam bukanlah Putra kandungnya, dan itu membuat Nara benar-benar frustasi.


"Aku harus telepon Ferdi, aku harus memberitahukan hal ini kepadanya," gumam Nara sambil mengambil ponselnya, tapi keburu Ilham keluar dari kamar mandi. Akhirnya Nara pun mengurungkan niatnya untuk menelpon Ferdi.


"Kamu mau ke mana Mas?" tanya Nara saat melihat Ilham keluar dari kamar sambil memegang tangan suaminya, namun Ilham langsung menghempaskan tangan Nara, hingga membuat wanita itu terdorong beberapa langkah ke belakang.

__ADS_1


"Mau ke mana, itu bukan urusan kamu. Tapi yang pasti, aku tidak akan pulang malam ini," ujar Ilham dengan nada dingin, kemudian dia berjalan keluar dari kamar meninggalkan rumah untuk menuju ke suatu tempat di mana dia bisa membuat pikirannya plong.


Setelah kepergian Ilham, Nara mulai mengambil ponselnya kembali dan menghubungi Ferdi, untuk membicarakan perihal masalah tadi dengan Ilham dia akan meminta Ferdi untuk mencari solusinya.


*********


Setelah acara selesai dan Papi Frans juga sudah datang ke sana, dia juga mendengar penjelasan dari Mami Rindi soal kejadian tadi, tapi tidak semua Mami Rindi bicarakan hanya pertemuannya saja dengan keluarga Ilham. Karena masih di tempat acara jadi Mami Rindi tidak ingin membuat Papi Frans kehilangan kesabaran dan malah akan marah di sana.


Saat mereka sudah berada di parkiran untuk pulang ke rumah, tiba-tiba saja Aurora menghentikan Bunga yang akan masuk ke dalam mobil, hingga membuat wanita itu mengerutkan alisnya.


"Kenapa sayang? Kenapa tante cantik tidak boleh masuk ke dalam mobil?" tanya Bunga dengan heran.


"Tante cantik, aku boleh minta sesuatu nggak? Aurora mau es krim rasa alpukat,btapi Aurora mau tante cantik sama Papa yang belikan dan cari sampai dapat," pinta Aurora kepada Bunga.


Mendengar permintaan gadis kecil itu, Bunga melirik ke arah Bagas lalu dia melirik kembali ke arah Aurora, dan melihat pancaran dari kedua mata Aurora yang terlihat sendu. Bunga pun menjadi tidak tega, kemudian dia mengiyakan permintaan gadis kecil itu.


"Baiklah kalau gitu, kita cari es krimnya ya," ajak Bunga kepada Aurora, namun Aurora langsung menggeleng,


"Tidak Tante, aku mau Tante sama Papa yang nyari. Aku pulang sama Oma sama Opa aja ya. Aku akan menunggu di rumah."


Bunga pun akhirnya mengangguk, menuruti permintaan Aurora. Dia tidak mungkin menolak permintaan gadis itu, lalu Bagas dan Bunga pun pergi dan berpisah dengan mobil Papi Frans, mereka ke supermarket untuk mencari es krim pesanan dari Aurora.


Sementara itu di dalam mobil, Aurora bertos-ria dengan Mami Rindi. Mereka bersekongkol untuk kedekatan antara Bunga dan juga Bagas. memang tadi di tempat acara saat Bunga ke toilet, Mami Rindi mengajak Aurora untuk bekerja sama menyatukan Bagas dan juga Bunga, dan tentu saja Aurora sangat setuju. Karena dia juga ingin jika Bunga menjadi ibunya.


"Ternyata kalian ini bersekongkol ya? Kalian ini sudah seperti cucu dan juga nenek saja," ucap Papi Frans merasa heran dengan kedua wanita yang sedang duduk di belakangnya.

__ADS_1


Sedangkan Aurora dan Mami Rindi hanya senyum-senyum saja. Mami Rindi merasa bahagia melihat Bagas bersama Bunga. Dan dia berharap jika mereka akan dekat.


Bersambung........


__ADS_2