Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Pergi


__ADS_3

Happy reading.......


Air mata Bunga sudah tidak tertahan lagi mendengar bentakan dari Papinya, karena untuk pertama kalinya sang Papi marah seperti seperti itu kepada Bunga.


"Aku Bukannya ingin durhaka kepada Papi. Aku bukannya ingin melawan kepada Papi. Tapi bisa tidak, sekali saja aku minta kepada Papi untuk menuruti keinginanku? Aku juga ingin bahagia Pi," ucap Bunga dengan suara yang serak karena tertahan oleh Isak tangisnya.


"DIAM KAMU...!"


Bunga semakin terisak mendengar bentakan Papinya, sedangkan Mami Rindi dan juga Jelita begitu syok melihat kemarahan pria paruh baya itu. Sebab selama ini dia tidak pernah melihat pria itu marah Sampai sebegitunya.


"Pih, sabar dulu Pi. Jangan terbawa emosi," ucap Mami Rindi sambil mengusap punggung suaminya, namun malah ditepis kasar oleh Pak Frans.


"Sekarang Mami lihat! Mami lihat dia! Sekarang dia itu menjadi anak yang pembangkang, Mih. Dia tidak mau menuruti ucapan Papi. Sekarang gini aja, kamu mau tetap lanjut hubungan dengan Edo? Papi kan sudah jodohin kamu dengan anak teman bisnis Papi, dan kami juga sudah menjadwalkan pertemuan kamu. Jangan pernah membantah Papi, Bunga!" .


Dada Bunga terasa begitu sesak, dia tidak menyangka jika Papinya begitu tega kepadanya. Selama ini Bunga selalu menuruti apa saja yang Papinya mau, tapi 'satu' dia hanya ingin bahagia dengan cintanya. Tapi apa? Papinya bahkan tidak merestui karena Edo dari kalangan biasa.


"Apakah aku tidak bisa Pih mendapatkan kebahagiaan dengan caraku sendiri?" tanya Bunga dengan lirih sambil menatap Papinya dengan air mata yang sudah entah kesekian kali menetes.


"Sekarang kamu pilih? Mau Papi jodoh-kan, atau kamu bertahan dengan Edo?"


Bunga menatap pria itu. "Maaf Pih, kali ini Bunga tidak bisa untuk mengabulkan permintaan Papi. Bunga akan tetap bersama dengan Edo. Karena Bunga yakin bersama dia Bunga bahagia, walaupun Edo bukan dari kalangan orang kaya.


"Benar-benar tidak tahu diri! Anak kurang ajar kamu! Sekarang kamu pergi dari rumah ini, kamu bukan lagi anak Papi. Dan Papi pastikan, kamu akan menyesal dan Edo tidak akan pernah bisa membahagiakan kamu! Paham itu!"


Bagaikan disambar petir di siang hari, Bunga, Mama Rindi dan juga Jelita sangat kaget mendengar ucapan pria itu. Mereka mendongakan wajahnya lalu menatap pria yang ada di hadapan mereka itu yang sedang diliputi amarah.


"Papi, apa yang Papi bicarakan? Kenapa Papi bicara seperti itu!" bentak Mami Rindi yang sudah tidak tahan lagi.

__ADS_1


"Biar saja Mi. Biar dia tahu jika tanpa harta, tanpa kita, dan dia lebih memilih pria miskin itu. Pasti hidupnya akan menderita!" geram Pak Frans sambil meninggalkan ruang keluarga dan pergi ke kamar.


Namun baru saja kakinya ingin menapaki anak tangga, tiba-tiba langkahnya terhenti karena ucapan Bunga.


"Jika itu yang Papi mau, maka baiklah, aku akan pergi dari rumah ini," jawab Bunga dengan lantang sambil menghapus air matanya dengan kasar.


Mami Rindi menggeleng mendengar ucapan Bunga, air matanya sudah mengalir deras. "Sayang, jangan katakan itu! Mama mohon jangan menjawab ucapan Papi-mu Nak!" Mami Rindi sambil memegang kedua tangan Bunga sambil menggeleng.


"Maafkan Bunga, Mih. Kali ini memang benar-benar Bunga tidak bisa mengabulkan permintaannya Papi. Bunga ingin bahagia Mi, Bunga ingin mencari cinta Bunga sendiri."


Pak Frans yang mendengar itu pun semakin emosi, kemudian dia berbalik dan berjalan mendekat ke arah Bunga lalu dia menampar wajah Bunga dengan keras, hingga membuat wajah itu sedikit memar.


Plak...


"Jika itu memang mau kamu? Jangan pernah kembali lagi ke rumah ini, jika memang kamu memilih pria itu! Kamu bukan lagi anak Papi! KAMU PAHAM!" bentak Pak Frans dengan suara yang tinggi, setelah itu dia pergi meninggalkan ruang keluarga menuju mobilnya untuk ke kantor.


Hati bunga baikan bagaikan disayat sembilu saat mendengar ucapan sang Papi,.dia tidak menyangka jika Papinya akan berbicara seperti itu kepadanya karena dia berhubungan dengan Edo. Badannya luruh ke lantai, terasa lesu tanpa adanya tulang. Dadanya begitu sesak seakan tidak ada lagi udara yang masuk ke dalam paru-parunya.


"Nak, jangan dengarkan ucapan Papimu! Mami yakin jika Papimu bicara seperti itu karena sedang emosi. Dia tidak benar-benar mengusir kamu, dia tidak benar-benar mengatakan itu, Nak," ucap Mami Rindi saat kembali ke ruang keluarga dan langsung memeluk tubuh Bunga sambil terisak.


Bunga tidak menjawab, hanya gelengan lemah saja yang bisa dia lakukan. Setelah itu Bunga bangkit dan menuju kamarnya dengan langkah yang begitu gontai karena luka di hatinya begitu dalam.


Bagaimana mungkin seorang Ayah tega mengatakan Jika dia bukan anaknya lagi? Bagaimana mungkin seorang Ayah tega mengatakan jika putrinya tidak akan pernah bahagia? Luka itu benar-benar membuat Bunga tidak habis pikir tentang kemarahan sang Papi.


**************


Semenjak kejadian tadi siang Bunga tidak keluar dari kamarnya hingga saat makan malam tiba, semua sudah kumpul di meja makan tetapi Bunga masih belum juga nongol, membuat Mami Rindi benar-benar cemas.

__ADS_1


"Mih, Bunga ke mana? Kok jam segini belum turun?" tanya Sony dengan heran sebab tidak biasanya abunga telat untuk bergabung di meja makan.


"Mami juga tidak tahu Son, apa Mami oanggil dulu ya ke kamarnya," jawab Mami Rindi sambil menaruh centong nasi kemudian dia hendak ke kamar Bunga untuk mengajak Putri bungsunya itu makan malam.


Baru saja dia akan meninggalkan meja makan, tiba-tiba saja Bunga sudah datang sambil menenteng sebuah koper. Membuat Mami Rindi mengerutkan keningnya, tapi seketika dadanya terasa begitu sesak dan rasa takut pun menyelimuti dirinya.


"Sayang, kamu mau ke mana? Kok bawa koper?" tanya Mami Rindi dengan panik, lalu semua yang ada di meja makan pun menengok ke arah Bunga termasuk Pak Frans.


"Sesuai dengan ucapan Papi tadi siang, Bunga bukan lagi anaknya. Bunga kan bukan bagian dari keluarga ini lagi? Bunga pamit ya, Mi, Kak Sony, Kak Jelita, jaga diri kalian baik-baik. Bunga yakin kalau pun tidak ada Bunga di sini, kalau pun tidak ada Bunga membantu Kak Sony mengurus perusahaan, Bunga yakin semuanya akan berjalan dengan stabil. Bunga pamit, Assalamualaikum..."


Setelah mengucapkan itu Bunga pun pergi meninggalkan meja makan. Mami Rindi yang melihat itu pun menggeleng dengan cepat, lalu segera menghampiri Bunga dan memeluknya. "Please, sayang kamu tidak boleh pergi meninggalkan Mami. Tidak! Mami tidak mengizinkan! Kamu jangan pergi dari rumah ini Nak, Mami mohon," ucap Mami Rindi yang sudah menangis dalam pelukan Bunga.


Air mata Bunga pun sudah mengalir, dia juga sangat sakit dan juga rapuh. Tapi Bunga tidak punya pilihan lain, ucapan Papi nya tidak bisa dibantah. "Maafkan Bunga, Mih. bunga harus pergi, jaga diri Mami baik-baik," ucap Bunga sambil melepaskan pelukan sang Mami lalu pergi dari rumah itu.


Sony yang tidak tahu apa-apa pun bingung, kenapa Bunga pergi dari rumah. "Mih, Pih, sebenarnya ada apa ini? Kenapa Bunga pergi dari rumah? Ada masalah apa?" tanya Sony dengan bingung sambil menatap kedua orang tuanya bergantian.


Jelita yang melihat kepanikan sang suami segera memegang tangannya. "Sayang, tadi siang Bunga dan juga Papi berantem, dan Papi mengusir Bunga dari rumah," jelas Jelita.


Mendengar itu Soniy membulatkan matanya, mulutnya sedikit menganga karena kaget. Lalu dia menatap sang Papi yang hanya diam sambil menatap lurus ke arah depan. "Pih apa semua ini karena Edo? Sudahlah Pih, restui saja hubungan mereka. Apa Papih tega membiarkan Bunga keluar dari rumah ini?"


Sony benar-benar tidak habis pikir dengan pikiran sang Papi, pasalnya ketegasan Papinya benar-benar tidak bisa dibantah. Sony segera berjalan menuju ke teras di mana Bunga sudah sampai di gerbang kemudian dia menahan tangan sang adik.


"Dek, jangan pergi. Kakak mohon kamu jangan dengerin ucapan Papi, dia seperti itu karena dia lagi emosi. Kakak mohon Dek, tetaplah di rumah ini. Rumah ini akan terasa sepi tanpa kam!" Sony mencoba membujuk Bunga, tapi dengan pelan Bunga melepaskan pegangan tangan Sony di lengannya dengan senyuman yang terpantri di wajah cantiknya namun sudah sembab oleh air mata.


"Maafkan Bunga , Kak. Tapi Kakak tahu Papi seperti apa bukan ? Bunga juga ingin bahagia Kak, apa salah jika Bunga mencintai seseorang? Apa salah jika Bunga mencari kebahagiaan Bunga sendiri? Bunga capek harus menuruti semua perkataan Papi, Bunga titip Mami ya, Bunga pamit Assalamualaikum."


Sony mencoba mencegah Bunga tapi Bunga Kekeuh untuk pergi dari rumah dan masuk ke dalam taksi yang sudah dia pesan. Sony pun mengacak rambutnya dengan kesal, dia tidak menyangka jika Papinya tega mengusir adik kesayangannya dari rumah.

__ADS_1


Flashback....


Bersambung.......


__ADS_2