Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
S2. Bab 154


__ADS_3

Aurora datang ke cafe dengan wajah cemberut. Dia membanting tasnya di atas meja lalu duduk dengan begitu kasar di hadapan Rika.


Wanita itu sampai terlonjak kaget saat tiba-tiba saja Aurora datang. Dia menatap sahabatnya dengan heran. "Lo kenapa sih Sarboah? Datang-dateng kok malah kayak kesal begitu? Emangnya gue salah apaan? Nih meja lama-lama hancur ya, kalau lo banting-banting kayak gitu."


"Udah deh, istrinya Roma biskuit, lo jangan tambah bikin mood gue hancur pagi ini."


"Iya, oke oke. Tapi kenapa wajah lo ditekuk kayak gitu?"


Aurora menghela nafasnya dengan kasar, kemudian dia memesan minuman kepada pelayannya. Sementara Rika menunggu dengan sabar, karena semakin ditekan, Aurora akan semakin kesal dan tidak ingin cerita.


Dia Mengenal sudah sejak SMA, jadi Rika sudah sangat hafal dengan karakter sahabatnya itu. Setelah minuman datang, Aurora menegaknya hingga habis setengah.


"Gue dijodohin sama mama dan papa gue, lo tau itu kan?" Rika langsung mengangguk. "Terus?" tanyanya.


"Dan lo tahu siapa pria yang dijodohin sama gue itu?" Wanita tersebut langsung menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Mana gue tahu. Kan lo nggak bilang." Rika mengangkat kedua bahunya dengan acuh.


"Dia adalah pria sinting yang tiba-tiba ngajak gue nikah."


"Tunggu dulu! Maksud lo ... CEO dari perusahaan yang lo lamar kerja kemarin itu?" Rika membulatkan matanya sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Aurora.


Wanita tersebut langsung mengangguk, dia mengaduk-aduk minuman yang berada di gelas, kemudian mendesah dengan kasar. "Gue nggak mau sama dia. Padahal dia juga tahu status gue itu janda, tapi malah setuju."


"Terus, lo udah beri persyaratan yang kemarin kita diskusikan itu kan?" Aurora langsung menganggukan kepalanya.


"Iya, gue akan mengenalnya selama satu atau dua bulan. Tapi tetap, gue nggak mau sama dia. Entah gimana caranya biar perjodohan ini batal. Walaupun sebenarnya mungkin dia pria yang baik, tapi terlalu arogan dan percaya dirinya itu tingkat dewa. Gue tidak menyukainya. Lagi pula, dia juga sering bermain dengan wanita," terang Aurora.


Mendengar hal itu Aurora malah tertawa terbahak-bahak. Setelah beberapa detik dia pun menatap dengan lekat ke arah Rika. "Hahaha! Apa lo bilang? Cinta? Hahaha! Aduh ... Rika Rika ... mana mungkin gue jatuh cinta sama cowok seperti dia? Liat wajahnya aja gue pengen muntah."


"Eh ... jangan salah bUcapan itu adalah doa. Jadi sebaiknya lo jangan berkata seperti itu dulu. Siapa tahu nanti lo yang jatuh cinta duluan?"

__ADS_1


"Wkwkwk! Udah, daripada ngomong lo ngawur, mendingan sekarang kita sarapan! Gue laper yuk!" Aurora mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, karena semakin lama membahas pria itu malah semakin membuatnya mual.


Dia tidak mungkin jatuh cinta kepada Justin, apalagi dengan pribadi Justin yang benar-benar menyebalkan. Karena setiap bertemu dengan pria tersebut membuat mood Aurora selalu saja hancur.


.


.


Siang ini Aurora dan Rika baru saja selesai meeting dengan klien, di mana mereka akan melakukan kerjasama dan setelah selesai keduanya pun tidak pergi.


"Oh iya, si Anggi mana? Udah lo chat belum? Sekalian kita makan siang bareng di luar," tanya Aurora kepada Rika.


"Udah. Ya sudah, kita jalan ke restoran sekarang aja yuk! Nanti kalau kita telat tuh anak marah-marah. Lo tau sendiri kan, kalau dia ngomel udah kayak emak-emak pasar yang lagi nawar barang di bawah harga."


Aurora hanya tersenyum tipis, kemudian mereka pun keluar dari salah satu Cafe setelah meeting. Namun tiba-tiba saja tangan Aurora ditarik oleh seseorang hingga membuat wanita itu kaget dan masuk dalam dekapannya.

__ADS_1


DEGH!


BERSAMBUNG....


__ADS_2