Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Masih Terbayang


__ADS_3

Happy reading.......


Dengan panik dan juga rasa ketakutan Ilham melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara itu Nara duduk di kursi penumpang sambil menggendong Azam. Dia takut jika terjadi apa-apa dengan anaknya, karena jika Azam sampai tiada, maka Nara tidak bisa untuk menguasai harta Ilham.


20 menit mereka pun sampai di rumah sakit, dan Ilham langsung menggendong Azam dan membawanya ke UGD, setelah itu Ilham dan Nara menunggu di luar.


"Ini semua gara-gara kamu, Mas. Coba saja kamu tadi tidak ngajak ribut, pasti Azam tidak akan seperti ini, Mas!" bentak Nara dengan kesal, karena semua ini terjadi gara-gara Ilham. Dia sengaja memojokan Ilham agar pria itu merasa bersalah.


Yang dituduh pun tidak terima, kemudian dia menatap Nara dengan tajam lalu menunjuk wajahnya. "Kamu bilang apa tadi? Gara-gara aku? Jelas ini semua gara-gara kamu ya! Kalau kamu tidak selingkuh di belakang aku, semua ini tidak akan pernah terjadi. Jika terjadi sesuatu dengan Azam, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Ilham berucap dengan nada yang tegas bahkan sorot matanya menatap Nara penuh kebencian dan juga amarah.


Tentu saja Ilham merasa kesal karena dia tidak terima dikhianati oleh Nara, lalu tak lama dokter pun keluar dan Ilham segera bertanya tentang keadaan Azam. "Bagaimana Dok tentang keadaan anak saya? Dia baik-baik aja kan? Dia nggak kenapa-napa kan, Dok?'' tanya Ilham dengan panik.


"Alhamdulillah Pak, anak Bapak tidak apa-apa, hanya luka-luka saja. Untung lukanya juga tidak terlalu parah, jadi masih bisa diselamatkan. Lain kali tolong dijaga ya Pak, anaknya di jaga," jawab Dokter itu sambil berlalu meninggalkan Ilham dan Nara.


Keduanya bernafas lega, apalagi Nara, dia benar-benar merasa plong seakan beban di dalam hidupnya telah pergi. Karena jika Azam tidak kenapa-napa, Nara akan sangat susah untuk menguasai harta Ilham. Mungkin saja dia akan dapat harta gono gini tapi tidak banyak.

__ADS_1


Ilham mendekat ke arah Azam di mana putranya saat ini tengah berbaring dengan selang yang ada di tubuhnya dan juga kepala yang diperban, melihat itu Ilham benar-benar merasa miris, karena akibat pertengkaran dia dan Nara Azam lah yang kena korbannya.


Nara merasakan handphonenya bergetar, kemudian dia melihat dan ternyata ada pesan dari Ferdi, lalu Nara pun berlalu masuk ke dalam toilet dan membalas pesan Ferdi. Dia tidak ingin Ilham curiga kepadanya.


*********


Pagi telah tiba, matahari mulai naik dengan sinar indah menyinari bumi, burung-burung berkicau dengan suara yang merdu, semilir angin di pagi hari begitu menyejukkan, membuat siapa saja ingin memejamkan mata sambil menikmati angin tersebut dengan pemandangan yang masih sangat segar.


Bunga menatap keindahan langit yang mulai cerah di mana sang matahari akan mulai naik dan semakin naik. Mulut Bunga bahkan menguap beberapa kali, dia merasa mengantuk sebab semalam dia tidak bisa tidur karena terus memikirkan kejadian ciu-man antara dia dan juga Bagas.


Tidak terasa satu tangan Bunga menyentuh bibirnya, seakan dia masih bisa merasakan sentuhan lembut itu. Kemudian Bunga memejamkan matanya mengingat bagaimana Bagas mengecup dan men-cium bibirnya dengan lahap tapi sangat lembut.


Dia berharap memukul-mukul kepalanya akan membuat otaknya kembali lurus, karena Bunga merasa jika saat ini otaknya sedang konslet, jadi pikirannya terus saja mengarah ke kejadian kemarin.


Jam sudah menunjukkan pukul 09.00, dan Bunga sudah bersiap untuk pergi ke kantornya. Tapi baru saja dia sampai lobby apartemen, tiba-tiba dia berpapasan dengan Ardi. Bunga tentu saja kaget melihat pria itu sudah berada di apartemennya. "Hei, Di... Apa kabar?" tanya Bunga.

__ADS_1


Ardi tersenyum manis lalu memberikan sebuket Bunga mawar kepada wanita itu. "Morning Princess, nih aku bawain kamu bunga." Ardi pun menyodorkan bunga itu, dan langsung diterima oleh Bunga.


"Kamu ke sini mau ketemu aku, atau--"


"Ya kamu lah, masa mau ketemu sama security di sini," kekeh Ardi sambil menjawil hidung Bunga dengan gemas.


"Kamu mau ke kantor? Kalau gitu aku antar ya!" tawar Ardi, tapi Bunga segera menggeleng.


"Tidak usah, aku bisa sendiri kok. Lagian emangnya kamu nggak ke kantor juga?" tanya Bunga sambil mengangkat satu alisnya.


Ardi yang mendengar itu pun segera merangkul bahu Bunga. "Kamu lupa ya, aku ini kan CEO, calon Presdir di perusahaan. So, aku tinggal limpahkan aja semua sama Sekretaris, beres. Lagi pula tidak ada jadwal yang padat sih hari ini, jadi aku mau ikut kamu ke kantor, boleh kan?" tanya Ardi dengan tatapan memelas dan wajah yang dibuat seimut mungkin.


Bunga benar-benar tertawa melihat wajah Ardi yang begitu lucu di matanya, kemudian dia mencubit pinggang Ardi hingga membuat pria itu mengaduh sakit. "Kok malah dicubit? Daripada dicubit, mending kamu cium aku." Dan langsung mendapat tatapan tajam dari Bunga.


"Nyium kamu? Mendingan aku nyium tembok," ledek Bunga sambil berlalu meninggalkan Ardi, sedangkan pria itu hanya tersenyum melihat wajah Bunga yang merona. "Hei tunggu..," ucap Ardi sambil mengejar langkah Bunga mendekat ke arah mobil.

__ADS_1


Mereka tidak sadar jika ada satu pasang mata sedang menatap mereka di dalam satu mobil dengan tatapan cemburu, bahkan tangannya sudah terkepal di setir mobil, dadanya bergemuruh menahan rasa tak suka melihat kedekatan Ardi dan juga Bunga.


Bersambung. . ......


__ADS_2