Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
S2. Bab 155


__ADS_3

Seketika Aurora langsung melepaskan pelukan orang tersebut, yang tak lain adalah Justin, kemudian dia mulai mendaratkan tanpa manisnya kembali.


"Lo itu nggak ada capek-capeknya yang masih hidup gue terus. Bisa nggak sih ... satu hari aja lu nggak nongol di depan gue!" marah Aurora.


Bukannya merasa kesal, Justin malah tersenyum. "Siapa juga yang ingin nongol di hadapan kamu? Aku tadi nggak sengaja aja habis meeting ketemu kamu di sini, ya udah deh ...."


"Ya udah lo bilang? Maksud lo ya udah ... dengan lo narik dan meluk gue? Gitu?" tatapannya begitu tajam. "Lo denger ya! Sampai kapanpun gue nggak akan pernah ngebuka hati gue untuk pria macam lo. Apalagi lo sering bermain wanita jarinya!" menunjuk wajah Justin.


"Lo jangan sembarangan nuduh ya. Siapa yang bilang kalau gue sering main wanita?" Justin marah dan tidak terima, apalagi di sana banyak orang.


Aurora malah menggelengkan kepalanya dengan kecil, lalu dia tersenyum tipis sambil mencebik mengejek. "Apa lo bilang? Kapan? Tanpa lo bilang, juga gue udah tahu kok, setiap seminggu berapa kali lo bermain dengan wanita."


DEGH!


Justin cukup terkejut. Dia tidak menyangka jika Aurora mengetahui bahwa dia sering bermain wanita. "Oh ya? Memangnya berapa kali?" tanyanya mencoba ingin tahu sedalam mana Aurora mengetahui dirinya.


"Seminggu 4 kali kan, di klub yang sama selepas bekerja. Hanya saja, wanitanya berbeda-beda."


Jantung Justin seolah berhenti berdetak, mulutnya menganga dengan mata membulat saat mendengar ucapan Aurora. Dia tidak menyangka, jika wanita itu mengetahui tentang kebiasaannya.


"Tidak usah kaget seperti itu." Aurora menepuk dada bidang Justin. "Semua yang terjadi pada lo itu gue udah tahu semua kok. Mulai lo yang kekurangan kasih sayang, bagaimana hubungan dengan keluarga lo, gue juga mengetahuinya. Dan satu hal ... sebaiknya lo jaga-jaga deh, karena gue rasa masa lalu lo akan kembali lagi dan dia akan mengusik kehidupan lo." Setelah mengatakan itu Aurora pun menarik tangan Rika untuk pergi dari sana.


Rika yang hanya tadi diam saja pun merasa heran siapa Justin, tapi melihat dari amarah dan juga kata-kata sahabatnya, dia mulai mengerti siapa pria yang sejak tadi dimarahi oleh wanita itu.


"Apa dia pria yang dijodohin sama, lo?" tanya Rika saat mereka berjalan menjauhi Justin.

__ADS_1


"Yah, begitulah ..." jawab Aurora sambil menghela nafasnya dengan kasar.


Saat mereka akan masuk mobil, tiba-tiba Justin menarik tangan Aurora kembali. Dia benar-benar tidak terima dengan ucapan wanita itu, apalagi dengan Aurora yang bilang bahwa masa lalunya akan kembali. Itu membuat Justin benar-benar kebingungan.


"Maksud lo apa tadi berkata seperti itu, hah? Mengetahui apa lo tentang keluarga gue? Dan masa lalu apa yang lo maksud?"


Aurora menghempaskan tangannya dengan kasar, "gue mengetahui semuanya. Oh iya .. satu lagi. Masa lalu itu akan datang beberapa hari lagi, jadi tunggu saja! Dan gue tidak perlu menjelaskan siapa dia, karena gue pun tidak tahu namanya siapa dan dia tinggal di mana." Wanita tersebut masuk ke dalam mobil.


Justin mencoba untuk menggedor pintu mobil Aurora, akan tetapi wanita tersebut segera mengklakson meminta Justin untuk minggir.


"Apa yang dia maksud? Masa lalu apa? Kenapa dia bisa bicara seperti itu? Emangnya dia para peramal yang bisa membaca masa depan?" Pria tersebut mendengkus dengan kasar kemudian dia berjalan menuju mobilnya untuk pergi ke kantor.


Sementara Aurora hanya dia menatap lurus ke arah jalanan. Rika yang di sampingnya pun merasa penasaran dengan ucapan dari sahabatnya. "Masa lalu apa sih yang lo maksud tadi? Maksudnya mantan dia yang bakalan datang?" tanya Rika yang memang sudah tahu bahwa Aurora memiliki kemampuan.


"Gue rasa nih ... sepertinya, wanita itu masa lalu atau seorang wanita spesial yang pernah ia tidur. Atau mungkin, bisa jadi mantannya dan mereka pernah melakukan itu."


Aurora mengangkat kedua bahunya, sementara Rika terus saja berpikir karena dia penasaran. Tapi feelingnya sangat yakin, bahwa masa lalu yang disebut oleh Aurora adalah mantan kekasih dari Justin.


.


.


Sore ini Aurora sedang bersantai menikmati kopi latte dengan brownies coklat sambil membaca buku novel kesukaannya. Tiba-tiba saja Bunga duduk di sebelahnya, namun Aurora enggan menoleh karena dia masih fokus pada buku yang berada di tangannya.


"Sayang," panggil Bunga, "nanti malam kamu siap-siap ya!"

__ADS_1


"Emangnya kenapa, Mah?" Aurora menatap sekilas, kemudian dia kembali fokus pada bukunya.


"Tadi Om Dilan dan juga tante Milea menelpon mama, katanya mereka sudah menyiapkan sebuah acara untuk kamu makan malam bersama dengan Justin. Dan nanti malam dia akan ke sini menjemput kamu."


"What!" Seketika Aurora melipat buku tersebut. "Mah, aku nggak mau ah!" tolak nya.


"Ayolah sayang ... kamu dan juga Justin kan sedang dalam masa pendekatan, dan kalian sedang tahap mengenal satu sama lain. Jadi tidak ada salahnya jika tante Milea ataupun Om Dilan menyiapkan makan malam tersebut. Bagaimana kalian akan saling mengenal karakter satu sama lain, jika kalian sendiri pun enggan untuk bersama?"


"Tapi mah ...."


"Tidak ada tapi-tapi. Dan permintaan Mama ini tidak bisa ditolak! Kamu dan dia kan punya waktu 2 bulan untuk saling mengenal, jadi pergunakan dengan baik. Setelah itu, terserah kamu, mau kamu dan dia melanjutkan atau tidak, Mama tidak akan memaksa, Nak. Kebahagiaan ada pada kamu sendiri, tapi biarkan kami memilihkan untukmu."


Bunga mencoba untuk memberi pengertian kepada Aurora, bahwa ini semua demi kebaikan wanita itu, dan Aurora pun hanya bisa pasrah. Walaupun sebenarnya dia enggan sekali untuk makan malam bersama dengan Justin, karena sudah pasti hanya akan ada kekacauan yang dibuat oleh pria itu.


"Ya udah deh, aku mau ke kamar dulu."


"Lho! Kopinya nggak dihabisin,nsayang?"


"Udah nggak mood." Aurora beranjak dari duduknya, dia masuk ke dalam kamar dan langsung mengambil foto Kevin yang sedang merangkul dirinya dengan senyum bahagia.


Seketika air mata menetes begitu saja saat mengingat masa-masa indah bersama dengan mantan suaminya itu.


"Andai kamu masih ada di sini, mungkin kita sudah mempunyai dua anak. Kamu tahu Mas! Aku begitu merindukanmu. Aku tidak ingin menikah dengannya, tapi bukankah hidup ini terus berjalan? Tapi kenapa harus dia? Kenapa pertemuan kami disertai dengan ketidaksukaan. Andai kamu masih ada di dunia ini, pasti saat ini aku sedang dalam pelukanmu," gumam Aurora dengan begitu lirih, sambil mendekap foto Kevin di dadanya.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2