Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Akar Masalah 1


__ADS_3

Happy reading.....


Bunga menghentikan gerakan sang Papi yang terus saja memukul dadanya dengan tangan Bunga. Kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan air mata yang benar-benar sudah membanjiri pipi cantiknya.


"Stop Pih! Stop! Jangan lakukan ini," ucap Bunga sambil melepaskan tangannya.


"Papi benar-benar merasa bersalah Nak, Papi gagal menjadi orang tua. Papi merasa, jika Papi Ini bukan orang tua yang baik bagi kamu. Papi merasa, jika Papi ini orang tua yang jahat bagi--"


Ucapan pria itu terhenti saat Bunga menaruh jari telunjuknya di bibir Sang Papi. "Jangan berbicara seperti itu, Pih! Tidak ada orang tua yang jahat. Tidak ada orang tua yang gagal. Mungkin memang Papi sudah memberikan Bunga luka yang begitu dalam, tapi bukan berarti Bunga membenci Papi. Bunga memang tidak pulang ke rumah, sebab Papi yang tidak mengizinkan Bunga untuk pulang ke sana bukan? Papi bilang, jika Bunga bukan lagi anak Papi? Lalu apa Bunga salah, jika Bunga tidak pulang ke rumah? Bunga hanya ingin menepati ucapan Papi," ujar Bunga sambil menatap pria parub baya itu dengan tatapan sendu.


Bunga tidak pungkiri jika luka yang ditorehkan oleh sang Papi begitu dalam, di mana masih terngiang jelas di telinga dan pikirannya saat sang Papi mengucapkan jika Bunga bukanlah Anaknya lagi. Hati anak mana yang tidak sakit hati? Hati anak mana yang tidak akan terkoyak? Hati anak mana yang tidak akan terasa hancur, saat kata-kata terlarang keluar dari mulut orang yang paling dia sayangi.


Bunga tidak pernah membenci sang Papi ataupun keluarganya, hatinya memang terluka tetapi untuk membenci tidak pernah terlintas dalam benak dan juga pikirannya Bunga sama sekali untuk membenci orang tuanya sendiri.


Flashback...


Pagi ini Bunga sudah bersiap dengan dress cantik yang dibelikan oleh sang pacar, kemudian dia berjalan menuruni tangga untuk menuju meja makan di mana semua keluarganya sudah menunggu, yaitu Papi, Mami dan juga Kakaknya beserta Kakak iparnya.


"Morning Mami, Papi," ucap Bunga dengan wajah yang ceria sambil mencium pipi kedua orang tuanya.


"Morning sayang," jawab sang Mami sambil mencium pipi Bunga.


"Loh, kok cuma Mami dan Papi aja yang dicium? Kak Sony nggak nih?" protes Sony sang Kakak.


Bunga yang melihat itu pun terkekeh. "Kalau Kak Sony mah, dicium sama Kak Jelita aja. Kalau dicium sama aku, yang ada nanti Kak Kak Jelitanya cemburu tuh," ledek Bunga sambil melirik ke arah Jelita yang sedang tersenyum malu.


Suasana di rumah megah itu pun terasa begitu hangat dan penuh cinta, karena setiap harinya semua orang yang ada di sana selalu mencurahkan perasaannya melalui kasih sayang. Tapi semua berubah saat hubungan Bunga dengan kekasihnya tidak direstui oleh sang Papi


Saat Bunga tengah menyantap makanannya, tiba-tiba sang Papi bertanya kepada Bunga. "Sayang, apa kamu masih berhubungan dengan pria itu?" tanya sang Papi sambil menatap dengan tatapan menyipit.


Bunga mengelap mulutnya dengan tisu, kemudian dia mengangguk. "Iya, aku masih berhubungan dengan Edo," jawab Bunga sambil mengangguk kecil.

__ADS_1


Brraak...


Papi Frans menggebrak meja dengan keras hingga membuat semua orang yang ada di meja makan terjingkat kaget, termasuk juga Bunga.


"Sudah berapa kali Papi bilang sama kamu? Jangan pernah berhubungan dengan pria miskin itu! Apa kamu tidak paham? Kasta dia itu sangat berbeda dengan kita. Lagi pula Papa melihat Jika dia bukan pria yang baik buat kamu! Sekarang gini aja, kamu pilih dia atau Papi? JAWAB!" bentak Papi Frans sambil menunjuk wajah Bunga dan menatap Putri bungsunya itu dengan tajam.


Bunga memang berhubungan dengan seorang pria yang bernama Eduardo, dan biasanya Bunga menyebutnya dengan Edo. Karena itu panggilan kesayangan Bunga untuk sang pacar.


Sedangkan Edo sendiri bekerja sebagai karyawan biasa di kantor milik sang Papi, dan Bunga beserta Edo sudah menjalin hubungan selama satu tahun. Dan rencananya mereka akan bertunangan tetapi Bunga masih menunggu restu dari kedua orang tuanya, dan kebetulan juga Edo tidak mempunyai orang tua sama sekali,


"Kenapa sih, Papi selalu melihat dari kasta? Kasta tidak menjamin segalanya Pih! Lagi pula Edo itu orang yang baik. Aku yakin kok kalau dia itu bisa membahagiakan aku. Papi hanya belum mengenal Edo saja," ucap Bunga membela sang pacar,


"Oke begini saja! Kamu tidak percaya dengan ucapan Papi. Baiklah, kita lihat siapa yang akan benar," ucap Pak Frans sambil meninggalkan meja makan.


Bunga terduduk dengan lesu, dia tidak habis pikir kenapa Papinya begitu membenci Edo. Padahal selama ini dia kenal dengan Edo, pria itu sangat baik, penyayang, tulus dan mencintainya apa adanya.


Sony yang melihat itu segera merangkul bahu sang Adik, mencoba menguatkan jika semuanya akan baik-baik saja.


"Tapi Kak, kenapa sih Papi selalu melihat segalanya dari kasta? Jika semuanya dilihat dari kasta, aku tidak mau dilahirkan sebagai anak orang kaya Kak. Lagi pula kebahagiaan bukannya aku yang memilih? Aku yang menjalani Kak," jawab Bunga sambil menangis.


Mami Rindi yang melihat itu pun tidak tega, kemudian dia memeluk tubuh putrinya membawanya ke dalam dekapan hangat yang membuat Bunga nyaman.


"Sabar sayang, kita akan bicarakan ini dengan Papi pelan-pelan. Dan Mami juga akan bicara sama Papi secara pelan-pelan ya," ucap Mami Rindi sambil mengecup kening Bunga.


Tiga hari sudah berlalu, Pak Frans terlihat begitu mendiamkan Bunga. Dia masih marah kepada putrinya itu, hingga saat siang hari Pak Frans baru saja selesai meeting dengan kliennya di sebuah restoran, dan dia melihat Bunga dan juga Edo yang sedang makan siang.


"BUNGA...!" teriak Pak Frans sambil membentak Sang Putri.


Bunga dan Edo yang sedang makan siang pun menoleh ke arah suara, dan mereka sangat kaget saat melihat Pak Frans ada di sana. "Papi," gumam Bunga dengan nada yang kaget.


Pak Frans lalu menarik tangan Bunga dengan kasar, terus dia menatap ke arah Edo dengan tajam. "Jangan pernah kamu dekati putri saya lagi! Kamu paham! Oh, atau kamu ingin saya pecat?" geram Pak Frans dengan tatapan mengintimidasi kepada Edo.

__ADS_1


"Pih, jangan berbicara seperti itu pada Edo, Pih. Dia--"


"Cukup! Ikut Papi pulang sekarang!" bentak Pak Frans sambil menarik Bunga dengan paksa menuju mobilnya.


Bunga pun tidak bisa melawan, kemudian dia menatap Edo dengan wajah sendu saat tangannya ditarik oleh sang Papi menuju mobil.


Tidak ada pembicaraan di dalam mobil, keduanya sama-sama terdiam. Bunga juga tidak berani mengangkat bicara, sebab dia bisa melihat raut kemarahan di wajah sang Papi. Dan jika Bunga mengangkat bicara dia takut Papinya akan semakin meledak-ledak.


Sesampainya di rumah, Pak Frans langsung berjalan dengan tegap dan juga emosi. Kemudian sesampainya dia di ruang keluarga, Pak Frans berbalik badan dan menatap Bunga dengan tajam, sedangkan yang ditatap hanya bisa menunduk.


"Kenapa kamu tidak pernah mau mendengarkan ucapan Papi, hah! Sudah berapa kali Papi bilang, putuskan hubungan kamu dengan dia. Dia itu hanya karyawan biasa, Bunga. Jangan pernah membantah Papi!" bentak Pak Frans dengan marah hingga suaranya yang menggelegar terdengar seisi rumah mewah itu.


Jelita dan juga Mami Rindi yang sedang membuat kue di dapur seketika terkejut saat mendengar suara menggelegar dari Pak Frans. Kemudian mereka pun berjalan ke ruang keluarga.


"Papi, ini ada apa? Kenapa Papi marah-marah?" tanya Mami Rindi pada suaminya.


"Mami tanya saja sama anak Mami itu? Anak kesayangan Mami. Sudah berapa kali Papi bilang, putuskan hubungan dia dengan Edo. Tapi mana? Dia masih saja berhubungan dengan pria miskin itu," ucap Pak Frans dengan nada yang marah.


Mami Rindi menghela nafasnya dengan pelan, dia tahu sebab apa yang membuat suaminya marah. Kemudian dia pun mengusap dada suaminya agar membuat amarah yang ada di dalam diri sang suami meredam.


"Bunga itu sudah dewasa. Dia patut untuk memilih kebahagiaannya sendiri. Memangnya kenapa jika Edo dari orang biasa? Papi lupa, jika dulu Mami juga orang biasa? Mami tidak punya apa-apa, tapi Papi mau menikahi Mami," ujar wanita itu menenangkan suaminya.


"Beda dong Mi. Mami ini perempuan, dan Papi laki-laki. Sedangkan di sini yang miskin siapa? Laki-lakinya bukan perempuannya Mi."


Bunga menangis mendengar perdebatan antara orang tuanya karena dirinya, padahal dia hanya Ingin menggapai kebahagiaan. Tapi selalu saja dibantah, selama ini Bunga selalu menuruti apa keinginan orang tuanya,tapi kali ini untuk kebahagiaannya malah harus dikekang.


"Cukup! Kenapa sih Papi tidak pernah bisa mengerti aku? Selama ini apa yang kurang dari aku? Aku selalu menuruti semua yang Papi mau, bekerja di perusahaan Papi, memegang cabang, membantu Papi dalam mengemban perusahaan sebesar itu hingga waktuku tersita banyak. Sejak SMA aku sudah harus dituntut untuk belajar tentang materi perusahaan. Apa Papi tahu bagaimana perasaan aku selama ini? Apa Papi tahu bagaimana tersiksanya aku? Apa Papi tahu bagaimana rasanya?" Bunga mengeluarkan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya, dan bukannya mengerti Pak Frans malah tambah marah kepada Bunga.


"Berani kamu melawan Papi ya! Kamu benar-benar anak durhaka! Sekarang juga kamu pilih Papi atau Edo?" bentak pria itu sambil menunjuk wajah Bunga dengan geram.


Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2