
Happy Reading....
Perlahan Ardi mulai menggerakkan bibirnya pada bibir Mentari. Gadis itu langsung tersadar, lalu dia menarik tubuhnya. Namun, Ardi yang setengah sadar pun menahan pinggang Mentari, hingga Gadis itu tidak bisa berkutik, dan dengan cepat Ardi membalik tubuhnya hingga kini Mentari berada di bawah kungkungannya.
Mentari yang melihat situasi tidak aman pun seketika menjadi takut, dia menatap kearah pria yang berada di atas tubuhnya. ''Kak, sadar. Tolong jangan lakuin ini Kak,''q ucap Mentari sambil bergetar ketakutan.
Namun Ardi yang sudah tertutup oleh hawa nafsu dan juga hasraat, tidak mendengar permintaan dan permohonan Mentari. Dia kembali menyatukan bibirnya dengan bibir lembut milik gadis itu, kemudian Ardi mulai menyesaap dan meluumatnya dengan lembut.
Tubuh Mentari menjadi lemas, saat bibirnya dikuasai oleh Ardi. Sebab baru pertama kali Mentari merasakan hal seperti itu seumur hidupnya. Dan itu kenapa Mentari merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya.
Berpikir jika itu hal yang salah, Mentari langsung tersadar. Dia mendorong tubuh Ardi, retapi tidak pria itu bergerak sedikitpun. Karena tenaga Ardi tentu saja lebih kuat dari Mentar. Air mata mulai mengalir di ke-dua pelupuk gadis itu. Dia benar-benar takut jika Ardi sampai ke lepasan dan merenggut mahkotanya.
''Kak, aku mohon jangan lakuin ini, Kak. Kak Ardi, sadarlah!'' Mentari terus menyadarkan Ardi saat ciumannya terlepas. Akan tetapi, Ardi yang sudah tertutup oleh api gairah tidak mendengar permohonan Mentari. Telinganya seakan tuli. Matanya sudah tertutup oleh kabut hasraat yang sudah menggebu ingin di tuntaskan.
Mentari terus memohon kepada Ardi, tetapi pria itu benar-benar sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Sehingga dengan satu gerakan, Ardi menarik baju Mentari, hingga baju itu pun robek. Dan Mentari semakin menangis tersedu-sedu.
''Aku tidak tahu! Kenapa aku begitu ingin bersamamu? Setiap melihat wajahmu, kamu selalu terbayang dalam pikiranku. Kenapa, kamu seperti hantu yang selalu ada di setiap sudut di dalam pikiran dan juga hari-hariku?'' bisik Ardi di telinga Mentari. Setelah itu dia mulai melakukan aksinya.
Mentari terpaku saat mendengar ucapan Ardi, dia tidak percaya jika Ardi mengucapkan itu dalam keadaan sadar. Saat dia akan menanyakan tentang ucapan Ardi, tiba-tiba saja dia merasakan geli saat Ardi menjillati telinganya, lalu turun ke leher dan semakin ke bawah..Sedangkan tangannya sudah menemukan sebuah mainan, dimana setiap laki-laki sangat menyukainya.
__ADS_1
Sekuat tenaga Mentari memberontak saat Ardi akan merenggut mahkotanya. Dia tentu saja tidak ingin itu terjadi. Walaupun pada akhirnya, dia sudah terlena dengan sentuhan dan kelembutan yang Ardi berikan kepada dirinya, tapi Mentari masih sadar.
''Kak, tolong jangan lakuin ini! Ini salah, tolong lepaskan aku.'' pinta Mentari dengan air mata yang sudah mengalir deras.
Ardi yang sedang berada di atas tubuh Mentari, menatap gadis itu dengan tatapan sayu.
''Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku akan mempertanggungjawabkan semuanya. Aku ingin memilikimu seutuhnya. Aku tidak ingin, seseorang memilikimu lebih dulu,'' ucap Ardi dengan suara yang purau. Setelah itu, dia menerobos masuk ke dalam tubuh Mentari, hingga membuat gadis itu menjerit kesakitan.
Malam itu, menjadi saksi atas terenggutnya mahkota Mentari oleh Ardi. Dan malam itu menjadi saksi, di mana Ardi mengungkapkan perasaannya kepada Mentari. Di mana laki-laki itu, sudah melupakan Bunga, dan mengakui jika Mentari telah berhasil menghapus nama Bunga di dalam hatinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi, Mentari duduk bersandar di bawah ranjang diatas lantai. Dia menangis tersedu-sedu, karena tubuhnya terasa begitu remuk. Dia juga merasa dirinya telah kotor, karena Mentari sudah tidak suci lagi.
Ardi membuka matanya dengan perlahan saat mendengar seseorang menangis. Lalu, saat Ardi bangun dan tersadar, dia melihat ke arah samping. Seketika matanya membulat saat mengingat jika dia dan Mentari semalam telah melakukan hubungan terlarang. Tepatnya, dia merenggut paksa mahkota gadis itu.
Ardi merasa bersalah, kemudian dia bangkit dan memakai celana pendek miliknya. Lalu, dia berjalan ke arah Mentari dan berjongkok di hadapan gadis itu yang sedang menangis dengan tatapan yang kosong. Ardi yang melihat itu pun langsung merengkuh Mentari dalam pelukannya. Dia benar-benar merutuki dirinya sendiri, yang tidak bisa menahan untuk tidak menyentuh Mentari.
''Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bisa menahannya semalam. Aku tahu, aku salah. Aku benar-benar minta maaf! Kamu boleh memukul ku, kamu boleh mencaci diriku. Aku akan menerimanya,'' ucap Ardi sambil memeluk tubuh Mentari yang bergetar karena isak tangis.
Pria itu pun mengangkat tubuh Mentari, lalu mendudukannya di atas ranjang. Kemudian, dia menyelimuti tubuh Mentari yang hanya terbalut dalaman saja. Ardi lagi-lagi memeluk tubuh gadis itu. Karena saat ini Mentari tidak ingin berbicara, dia masih sajamenangis.
__ADS_1
'Kenapa kau begitu bodoh, Ardi? Kenapa, semalam kau tidak mendengarkan permohonan dia? Kenapa, aku tidak bisa mengendalikan diriku, ya Tuhan?' batin Ardi yang terus merutuki dirinya sendiri, karena semalam dia kelepasan kendali.
''Apakah, ucapan Kakak semalam itu adalah benar?'' tanya Mentari saat tangisannya sudah jauh lebih tenang.
Ardi melepaskan pelukannya, kemudian dia menghapus air mata Mentari yang membasahi kedua pipinya. Lalu, menatap kedua mata gadis itu.
''Ucapan yang mana?'' tanya Ardi, seolah lupa dengan ucapan yang semalam.
Mentari memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia tahu, dan dia sadar, Ardi melakukan itu semalam tanpa kesadaran. Dan dia juga yakin, jika Ardi tidak mengingat setiap ucapan yang dia katakan tentang perasaannya kepada Mentari.
''Sudah, lupakan saja Kak. Sekarang aku mau pulang,'' ucap Mentari dengan suara yang purau. Kemudian dia memunguti bajunya yang sudah sobek, tapi Ardi segera menahan tangannya dan menarik Mentari, hingga tubuh gadis itu jatuh ke atas pangkuan Ardi.
Tatapan mereka lagi-lagi bertemu dan terkunci satu sama lain. Kemudian, Ardi melingkarkan tangannya di pinggang mungil Mentari. Lalu, dia mulai mengusap lembut pipi gadis itu.
''Dengarkan aku! Mungkin, semalam aku memang setengah mabuk, tapi aku sadar akan apa yang aku lakukan. Aku juga sadar tentang apa yang aku ucapkan. Itu semua bukan di bawah kesadaran ku, tetapi aku mengatakan itu memang karena aku sadar tentang perasaanku kepadamu, dan aku benar-benar mencintaimu,'' jelas Ardi dengan tatapan yang begitu dalam ke arah Mentari.
Mendengar itu, tentu saja Mentari kaget. Dia tidak menyangka, jika Ardi benar-benar mencintai dirinya. ''Tapi Kak, aku ini kan cuma gadis miskin? Aku tidak pantas, jika harus--'' ucapan Mentari terhenti saat Ardi menaruh jari telunjuknya di bibir mungil yang semalam dia lahap habis.
''Ini hatiku, dan ini pilihanku. Pantas dan tidak, hanya aku yang menentukan, bukan orang lain. Karena ini adalah hidupku! Dan kamu adalah wanita yang ku pilih. Sudah banyak hatiku patah, sudah terlalu dalam hatiku terluka. Dan kamu datang untuk menyembuhkannya. Kamu datang, menghapus luka itu. Dan aku yakin, Tuhan mengirimkanmu kepadaku, untuk menyembuhkan luka ini. Dan aku tidak ingin kehilangan kamu! Kehilangan cintaku untuk kedua kalinya.''
__ADS_1
Mentari terdiam mendengar ucapan Ardi. Dia tidak menyangka, jika pria itu tidak pernah memandangnya dari status. Kemudian Mentari memeluk tubuh Ardi dengan erat, dan keduanya larut dalam pelukan hangat. Saling mencurahkan perasaan satu sama lain. Walaupun Mentari belum tahu perasaannya saat ini kepada Ardi itu cinta atau bukan, tapi satu hal yang dia tahu, jika berada di dekat Ardi dia merasa nyaman.
Bersambung .......