
Happy reading.....
Ardi dan juga Bagas sama-sama tidak mau kalah, mereka lagi-lagi menarik tangan Bunga, memperebutkan wanita itu untuk makan siang bersama. Dan Bunga benar-benar jengah dengan tingkah laku mereka yang seperti anak kecil.
"Cukup! Kalian ini kenapa sih? Lama-lama tangan aku tuh bisa diganti sama tangan karet!" geram Bunga sambil melepaskan tangannya dari kedua pria itu, kemudian dia mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit, dengan wajah cemberut.
"Gara-gara Ardi, tuh. Orang aku mau jalannya sama kamu, ngapain dia ikut-ikut," kesal Bagas sambil melirik sinis ke arah sang Adik.
"Sudah, sudah ... sekarang gini aja, kalian mau makan atau tidak? Kalau kalian mau makan, ayo kita bertiga makan. Tapi, jika tidak, aku akan makan bersama dengan Tina!" geram Bunga sambil meninggalkan ruangannya.
Bagas dan Ardi saling melirik satu sama lain, melempar tatapan tajam tak mau kalah. Kemudian, mereka keluar dari ruangan Bunga. Namun, saat di pintu keduanya pun masih sama, tidak mau kalah untuk keluar lebih dulu. Mereka saling menyenggol satu sama lain seperti anak bocah yang sedang berebut es krim.
"Kamu itu ngalah kanapa sih, sama Abang sendiri? Masa gak mau ngalah," kesal Bagas sambil menatap ke arah Ardi.
"Lah, Bang, harusnya lo yang ngalah sesekali napa sih? Ngalah sama Adek," ujar Ardi tidak mau kalah dengan Bagas. Kemudian, salah satu karyawan yang ada di kantornya Bunga terkekeh melihat tingkah lucu kedua pria tampan itu.
Dan Ardi Yang merasa ditertawakan seketika terdiam, lalu Bagas merapikan jasnya dan berjalan lebih dulu dengan Wibawa yang dia punya, dan Ardi pun melakukan hal yang sama, dia berjalan mengikuti Bagas ke mana Bunga pergi. Mereka berdua tidak mau ditertawakan, karena itu bisa membuat Wibawa mereka turun sebagai laki-laki, dan sebagai CEO, di perusahaan ternama.
Bunga menunggu di luar kantor sambil bersender di mobilnya, kemudian dia melihat ke arah Ardi dan Bagas yang baru saja keluar dari kantornya. Dia tidak habis pikir, kenapa Kakak beradik itu selalu memperebutkan dirinya. Padahal Bunga bukanlah permen yang harus diperebutkan kanan dan kiri.
__ADS_1
"Kalau kita mau makan siang, ayo satu mobil. Tapi tunggu, aku tadi sudah mengajak Tina," ujar Bunga sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Tak lama dia melihat Tina keluar dari kantor, kemudian mereka berempat pun masuk ke dalam mobil dengan Bagas yang menyetir dan Ardi yang duduk di depan, sementara kedua wanita itu duduk di jok belakang.
'Gatot deh, alias gagal total buat kencan,' batin Bagas mereasa kesal.
Tidak ada pembicaraan di dalam mobil, semua terasa begitu canggung, begitupun dengan Bunga. Dia juga malas untuk mengangkat suara, sebab dia masih kesal dengan kejadian tadi. Dan Tina, yang melihat ketiganya diam hanya merasa heran, dia ingin angkat bicara namun dia juga bingung harus memulai dari mana. Akhirnya, dia hanya diam sambil menikmati jalanan di luar.
*******
Saat ini Bunga, Bagas, Tina dan juga Ardi sudah memesan makanan dan duduk di sebuah restoran. Tak lama makanan yang mereka pesan pun datang, dan mereka kangsung memakan makanan itu tanpa banyak bicara. Namun saat Bunga akan mengambil udang crispy yang ada di piring, tiba-tiba Bagas mengambilnya terlebih dahulu, lalu menaruhnya ke piring Bunga.
Ardi yang melihat itu tentu saja tidak mau kalah, dia mengambil cumi asam manis kemudian menaruhnya di piring Bunga,. Lalu Bagas menatap Ardi dengan tajam saat pria itu melakukan hal yang sama. Dengan kesal, Bagas kemudian mengambil udang crispy lagi dan menaruhnya di piring Bunga.
Keduanya sama-sama tidak mau kalah, terus-menerus menaruh lauk di piring Bunga, hingga mereka tidak sadar jika piring Bunga sudah full. Bahkan Bunga saja bingung, apa yang akan dia makan? Nasinya saja sudah tertutup oleh lauk pauk yang ada di atas piring.
Sedangkan Tina dari tadi menahan tawanya. Sebetulnya dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak, tapi dia tidak enak melihat penderitaan sahabatnya. Di mana dua pria sedang memperebutkan perhatian Bunga. Tapi, terselip rasa iri di dalam hati Tina, karena Bunga banyak disayangi oleh orang. Sedangkan dia tidak ada, bahkan dikejar laki-laki saja tidak.
Bagas dan juga Ardi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mereka merasa bersalah karena sudah menaruh lauk pauk di piring Bunga tanpa sadar, karena terbawa oleh rasa emosi yang ada di dalam hati mereka.
"Sorry ..." ucap Bagas dan juga Ardi berbarengan.
__ADS_1
"Ngapain Lo, Kak, ngikutin Gue? Ini semua gara-gara Lo, ya! Tuh lihat piring Bunga! Jadinya kan dia nggak makan nasi, makannya lauk aja," kesal Ardi kepada Bagas sambil menuduh pria itu.
Bagus tentu saja tidak terima, karena ini bukan murni kesalahan dia. "Enak aja, main nuduh-nuduh. Jelas-jelas, kamu juga salah di sini? Kan kamu juga naro lauk tuh di piringnya Bunga, pakai nggak ngaku lagi. Main nuduh orang seenak jidat, yang ada aku asingin kamu ke pulau, mau!" ancam Bagas dengan sorot mata yang begitu tajam mengarah kepada Ardi.
"Lah, bisanya cuma ngancem doang," gerutu Ardi dengan kesal.
Kepala Bunga serasa mau pecah, melihat perdebatan dua pria yang ada di hadapannya itu. Kemudian dia mengambil tasnya dan bangkit dari duduk. "Sudahlah, aku mau pulang aja. Selera makanku sudah hilang, kalian ini ya kayak anak ABG tahu nggak sih, yang lagi memperebutkan permen yang kalian suka!" kesal Bunga sambil berjalan meninggalkan meja makan disusul oleh Tina sahabatnya.
Bagas hendak mengejar Bunga, tapi Ardi menahan tangannya. "Biar gue aja Kak, yang kejar," ujar Ardi sambil berlalu meninggalkan Bagas. Tapi, baru saja 2 langkah Bagas sudah kembali menarik tangan Ardi.
"Tidak usah repot-repot, biar Bunga jadi urusanku. Kamu habiskan saja tuh makanan, sekalian bayar," ucap Bagas sambil meninggalkan Ardi dan menyusul Bunga.
"Kok gue? Kak, lo yang bayar lah ... Kak ..." teriak Ardi dengan kesal, namun Bagas tidak menghiraukan panggilan Ardi. Mau tidak mau, dia pun berjalan ke arah kasir dan membayar makanan itu tanpa ada yang disentuh satupun dari makanan yang ada di meja itu.
Bunga melajukan mobilnya, meninggalkan restoran bersama dengan Tina. Dan Bagas yang melihat itu tentu saja merasa kesal, dia pun menonjok udara. "Sial, ini semua gara-gara Ardi. Kenapa sih dia harus mengacaukan acara ngedate aku sama Bunga?" gerutu Bagas dengan kesal.
"Bunganya mana, Kak?" tanya Ardi saat sudah keluar dari restoran.
Bagas melirik ke arah Ardi dengan kesal, "udah pergi, ini semua gara-gara Lo, ya! Udahlah, Lo naik taksi aja sana pulangnya!" Bagas berucap sambil masuk kembali ke dalam restoran, dan dia menelpon anak buahnya untuk menjemput dirinya.
__ADS_1
Rasa kesal tentu saja bersarang di hati Bagas. Sebab, tadinya hari ini dia akan memberikan kalung kepada Bunga. Di mana kalung itu sudah Bagas beli special untuk Bunga, tapi gagal. Kencan yang tadinya sudah dia susun secara romantis, tapi harus gagal karena kedatangan tamu yang tidak diundang.
Bersambung........