Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
# 25


__ADS_3

Dan di sinilah, lelaki itu kini berada. Di depan pasar induk yang ada di daerahnya. Dia sudah siap menunggu mobil yang membawa barang.


Ya, kini Adnan menjadi kuli panggul, walaupn tak seberapa upahnya namun dia sedikit lega karena ada yang mau menggunakan jasanya.


"Bro, bantuin gue..." panggil salah satu temannya


"Siap bro..."


Adnan mendekat ke arah temannya.


"Lo angkat ini semua gue mau angkat yang ada di mobil itu..."


"Siap..."


Adnan dengan semangat mengangkati barang barang itu.


Setengah jam kemudian, Adnan sudah memindahkan separoh, dari barang yang ada. Adnan istirahat sebentar, dia meregangkan otot otot tubuhnya yang kaku.


"Wah lo cepet juga ya bro..."


"Hehe ia bro..."


"Lanjut lagi bro..."


"Ok bro... "


Adnan melanjutkan pekerjaannya.


"Eh pak, tadi yang ngantar barang ke kios saya siapa ya?" tanya seorang ibu ibu


"Yang blok mana ya bu?" tanya sopir mobil pik up


"Blok, b, yang ada tulisannya Toko Pak Haji Muin... "


"Oh, saya bu... "


"Berarti kamu ya yang mencuri uang saya?"


"Engga bu, saya ga tau sola itu..."


"Alah, pasti dia bu, mana ada maling ngaku..." ujar salah satu pengunjung


"Periksa aja bu... "


"Yanto cepet geledah dia... "


Seorang laki-laki berbadan besar datang, nyali Adnan menciut.


Laki-laki berbadan besar itu langsung menuruti perintah sang majikan, dia langsung menggeledah seluruh tubuh Adnan.


"Ini bu?" menunjukan sebuah dompet


"Nah ia bener itu milik saya, huh dasar pencuri... "


"Eh warga pasar, jangan mau mempekerjakan dia lagi, dia itu pencuri..." teriak ibu itu


Suasana menjadi gaduh, banyak pemilik kios yang menghajar Adnan habis habisan, sampai ia tak sadarkan diri.


"Rasain, makannya, jangn jadi pencuri..."


"Bener tuh, mau punya uang banyak tapi ga mau kerja, ya gitu tuh..."


Ada orang yang tersenyum melihat Adnan menderita. Dia bahagia karena telah berhasil menghilangkan kepercayaan orang kepada Adnan. Ya, kejadian ini memang sudah di rencanakan.


Orang-orang itu meninggalkan Adnan begitu saja.


Para polisi sedamg melakukan oprasi pasar. Mereka menyusuri seluruh tempat di sudut pasar ini. Bukannya menemukan barang haram, mereka malah menemukan Adnan yang terkapar tak sadarkan diri di dekat toilet.


Slah satu polisi memeriksa detak jantung Adnan, ternyata masih ada namun lemah sekali.


"Ayo bawa orang ini ke rumah sakit... "


"Siap Ndan..."


Adnan di gotong oleh beberpa polisi. Lalu mereka menaikan Adnan ke mobil patroli.


"Tolong kalian cari tau, apa sebenarnya yang terjadi dengan orang ini... "


"Siap, laksanakan... "

__ADS_1


Sang komandan membawa Adnan ke rumah sakit terdekat.


Dert dert dert.


"Ya halo... "


"Lpor komandan, kami sudah mendapat info tentang orang itu.... "


"Tolong kalian hubungi keluarganya, suruh datang ke rumah sakit... "


"Siap laksanakan...."


............................


Fani dan bu Siti sedang menonton televisi saat ada polisi yang datang.


Tok tok tok


"Siapa ya mi.... "


"Ga tau, buka aja... "


Fani melangkahkan kakinya menuju pintu depan.


Ceklek


"Selamat pagi....."


"Pagi... "


"Apa benar ini rumah pak Adnan Ramadan?"


"Ia benar, saya istrinya, ada apa ya pak?"


"Kami menemukan suami anda tergelak tak sadarkan diri, di pasar induk..... "


"Apa...." kaget Fani


"Sekarang suami anda ada di rumah sakit.... "


"Ya saya akan segera kesana... "


.................


Fani yang jengah mendengar gerutuan mertunya, mempercepat langkahnya.


"Fani tunggu ibu..... "


"Makannya jangan geretu terus...." ketus Fani


Kedua orang itu, sampai di ruang mawar. Fani langsung bertanya ke resepsionis.


"Mba pasien yang bernama Adnan Ramadan, di kamar berapa ya?"


"Sebentar ya mba... "


Sang resepsionis mencari nama yang disebut oleh Fani.


"Kamar nomer 3 ya mba... "


"Ayo bu... "


Fani dan bu Siti langsung menuju kamar itu.


"Mas, kamu itu ya bukannya ngurangi masalah malah nambah masalah....... " omel Fani, setelah sampai di kamar Adnan


Adnan hanya terdiam, dia sedang menahan sakit di sekujur tubuhnya.


"Kita bawa pulang aja, lagian cuma bekas di gebukin orang, bukan penyakit ganas... " bu Siti


"Ia, ketimbang di sini buang buang duit...."


"Hah, kukira yang kedua lebih baik daripada yang pertama, ternyata salah, tetap yang pertama yang terbaik......" suara hati Adnan


"Apa ini karma akibat aku menyianyiakan Nadin?, maafkan aku Din, kini aku tau rasanya tak di hargai.... "


"Mas jangan bengong, ayo kita pulang... "


"Ya...."

__ADS_1


Akhirnya dengan segala bujuk rayu, dan seribu alasan yang di keluarkan Fani, dokter yang menangani Adnan memperbolehkannya pulang.


"Hah, uang yang seharusnya buat jajan aku jadi terpakai buat bayar rumah sakit... " gerutu Fani


Kini Adnan sangat sangat menyesal, telah menyianyiakan Nadin. Selama jadi istrinya, Nadin tak pernah mengeluh, bahkan ketika di perlakukan tak layak oleh keluarganya.


Nadin masih mau merawatnya tanpa mengeluh ketika ia sakit, walaupun ia dan keluarganya selalu memperlakukannya layakna pembantu.


.....................................................


Di tempat lain...


Nadin sedang membersihakan pot pot yang sudah tak terurus, dia ingin menghilangkan bosannya dengan menanam berbagai macam sayuran.


"Sayang jangan cape cape yah... "


"Ia mah, nanti kalo aku cape aku istirahat... "


"Mamah sama ayah pergi dulu ya... "


"Ia mah, hati-hati di jalan ya... "


"Pasti sayang... "


Setelah mamah Aisyah berlalu, Nadin melanjutkan kegiatannya. Dia mulai mengisi pot pot yang telah ia bersihkan dengan tanah yang sudah di campur dengar kotoran hewan.


Setengah jam kemudian, Nadin sudah berhasil mengisi 5 pot besar itu.


"Mba, mas Bagas telpon... " ucap salah satu pembantu rumah tangga mertuanya


"Ia bi, sebentar, saya mau cuci tangan dulu... "


"Ia mba... "


Nadin membersihkan tangan dan kakinya, lalu dia bergegas ke kamar mengambil ponselnya.


Nadin berjalan ke balkon kamarnya, lalu ia segera menghubungi sang suami.


Tut tut tut


Tut


"Assalamu'alaikum sayang.... "


"Wa'alikusalam mas.... "


"Sayang habis ngapain sih, ko dari tadi ga angkat telpon mas?"


"Hehe, tadi aku habis ngisiin tanah ke pot pot, buat nanem kangkung dan lainnya..."


"Gitu ya sayang, kirain sayang lagi tidur..."


"Masa dari pagi sampai sore tidur mulu, yang ada sakit kepala... "


"Ia sih sayang, tapi sayang udah ga mual kan?"


"Alhamdulillah udah engga mas, mas udah sampai?"


Nadin dan sang suami melanjutkan obrolannya.


Saat azan asar terdengar, barulah mereka selesai bertelponan.


Nadin bergegas mengambil wudu, lalu ia melaksanakan kewajibannya.


...............................................


Tiga hari sudah, Nadin menginap di rumah mertuanya. Dan hari ini adalah jadwal kepulangan suaminya.


Nadin sudah bersiap menyambut sang suami tercintanya. Dia memasak menu kesukaan sang suami.


"Cie senengnya, yang suaminya mau pulang........" goda Naila


"Seneng dong....." jawab Nadin


Nadin terus menanti dan menanti sang suami yang tak kunjung datang. Padahal mentari sudah terbenam, di gantikan oleh bulan. Hatinya mulai gelisah, pikiran buruk menghantuinya.


"Sayang, kamu yang sabar ya.... " memeluk menantunya


Deg, bagiakan ada petir yang tiba tiba menyambar hatinya.

__ADS_1


"Ada apa sih mah?" kepo Naila


"Ayo sayang kita duduk dulu..." menuntun Nadin untuk duduk di sofa


__ADS_2