Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Rasa Tak Suka


__ADS_3

Happy reading......


Tidak terasa acara 4 bulanan kehamilan Bunga pun telah tiba, dan saat ini di kediaman Anjasmara sudah ramai, karena beberapa tetangga juga sudah datang untuk membantu persiapan acara 4 bulanan Bunga.


Di sana juga sudah ada Ardi, Tina dan juga Mentari. ?Karena kebetulan, Ardi mengajak Mentari untuk datang ke acara tasyakuran 4 bulan kehamilan Bunga.


Awalnya Mentari menolak, tetapi Ardi terus memaksanya untuk datang ke acara itu. Mentari yang merasa tidak enak pun, karena Ardi sudah banyak membantu keluarganya, akhirnya dia menerima tawaran Ardi untuk datang ke rumah kediaman Anjasmara.


Mentari saat ini tengah membantu para pelayan di dapur untuk menyiapkan minuman, untuk para tamu. Padahal Ardi sudah melarang Mentari, karena di sana Mentari adalah seorang tamu, tetapi Mentari ngotot ingin membantu pelayan yang ada di sana menyiapkan minuman.


''Sayang, kamu jadi mengundang Ilham dan juga Mamanya?'' tanya Bagas kepada Bunga, saat mereka akan keluar dari kamar untuk menemui para tamu di lantai bawah.


''Iya Mas, aku sudah menelpon tante Farah dan mengundangnya hari ini. Mungkin, sebentar lagi mereka akan datang. Sebaiknya kita turun ke bawah, tidak enak pada para tamu,'' jawab Bunga sambil menggandeng tangan Bagas.


Kemudian mereka pun turun ke bawah, dengan Bagas yang terus menggenggam tangan Bunga, karena dia takut jika istrinya terpeleset di tangga. Jadi Bagas selalu siaga menjaga istrinya, kapanpun dan di manapun.


Saat mereka sampai di lantai bawah, Bagas langsung menyambut para tamu dari kolega bisnisnya dan menyalami mereka satu persatu. Sedangkan Tina sedang duduk di salah satu kursi sambil mengobrol dengan Ardi.

__ADS_1


''Di, wanita yang kamu bawa tadi ke sini tuh, siapa?'' tanya Tina dengan penasaran.


''Oh, dia Mentari. Dia salah satu karyawanku di cafe, tapi aku lumayan cukup lama juga mengenal dia, ya sekitar 3 bulanan lah. Waktu itu aku ketemu dia, karena aku nggak sengaja mau menabrak neneknya,'' jelas Ardi sambil menatap ke arah para tamu.


Entah kenapa, di hati Tina ada rasa tidak suka kepada Mentari, saat melihat wanita itu datang bersama dengan Ardi. Tina pun tidak tahu perasaan apa itu, kenapa dia merasakan hal seperti itu. Padahal, Ardi adalah sahabatnya, dan Ardi juga sudah biasa mengajak teman wanitanya yang lain.


'Apakah aku mencintai Ardi? tapi selama ini, tidak ada rasa seperti ini di dalam hatiku? Lalu, kenapa sekarang aku merasa, aku tidak menyukai wanita itu saat berada di dekat Ardi ya?' batin Tina bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Namun, dia pun belum menemukan jawaban yang pasti akan perasaannya itu, karena Tina hanya menganggap Ardi sebagai sahabatnya saja.


Sebuah mobil putih terparkir di halaman kediaman Anjasmara, dan ternyata mobil itu milik Ilham. Dia pun turun bersama sang Mama dan masuk ke dalam rumah. Ilham dan juga Tante Farah langsung melangkah menuju ke arah Bagas dan juga Bunga yang sedang menyalami para tamu.


''Assalamualaikum, maaf ya aku telat,'' ucap Ilham sambil menjabat tangan Bagas dan juga Bunga.


''Oh iya, Bunga. Ini, Tante bawakan kamu hadiah. Semoga kamu suka ya?'' ucap Tante Farah sambil menyerahkan paper bag kepada Bunga, dan wanita itu pun langsung mengambil paper bag dari tangan Tante Farah. ''Terima kasih ya Tante, sudah repot-repot bawain hadiah. Padahal, Tante datang ke sini aja Bunga udah seneng,'' jawab Bunga sambil tersenyum manis ke arah Tante Farah.


''Tidak apa-apa Sayang, santai saja. Kamu ini seperti sama siapa saja?'' kekeh Tante Farah sambil memegang tangan Bunga.


Dari arah dapur, Mami Rindi dan Mama Ranti yang melihat Tante Farah pun segera menghampiri wanita itu, lalu mereka bersalaman dan berpelukan selayaknya teman. Tante Rindi sebagai ibu kandung Bunga, juga sudah memaafkan perilaku Tante Farah. Karena memang pada dasarnya, hati yang Bunga miliki tidak jauh berbeda dengan Mami Rindi, yang gampang untuk memaafkan seseorang dan tidak pernah membenci orang.

__ADS_1


Acara pun dimulai, semua orang sudah kumpul di ruang tengah yang sudah disiapkan untuk acara. Dan di sana sudah ada sekitar 60 orang yang hadir, hanya dari tetangga dan kolega bisnis dari Bagas saja dan juga dari orang tuanya.


Mentari duduk di barisan pelayan, karena dia merasa dia tidak cocok duduk di barisan keluarga Ardi. Sebab, Mentari merasa dia bukan siapa-siapa.


Ardi menepuk sebelah tempat duduknya yang masih kosong, sambil memberi kode kepada Mentari agar wanita itu mendekat, tapi Mentari sungkan. Akhirnya, Ardi pun mundur beberapa langkah ke belakang lalu duduk di samping Mentari.


''Kenapa tidak maju, saat aku panggil?'' tanya Ardi pada gadis itu.


''Saya merasa tidak pantas, berada di dalam barisan keluarga, Tuan,'' jawab Mentari dengan kepala menunduk.


Ardi tersenyum mendengar ucapan Mentari, dia benar-benar mengagumi kecantikan gadis itu yang alami. Apalagi saat ini, Mentari sedang memakai gamis berwarna coklat susu dengan jilbab senada, membuat wajahnya benar-benar terlihat begitu manis dan juga sangat cantik.


''Jangan sungkan, aku 'kan mengajakmu ke sini sebagai tamu, bukan sebagai pelayan? Jadi bersikaplah sebagai tamu, jangan menempatkan dirimu sebagai pelayan, Oke.'' Ardi berucap sambil mencubit hidung Mentari dengan gemas.


Para pelayan yang ada di sana saling melirik satu sama lain sambil tersenyum, saat melihat Tuan Muda mereka begitu akrab dengan Mentari. Mereka juga sangat menyukai Mentari, sebab Mentari gadis yang baik dan ramah.


Sementara itu, Tina yang melihatnya tentu saja tidak suka. Entah kenapa ada rasa sakit di hati Tina, saat melihat Ardi menjawil hidung Mentari. 'Kenapa hatiku merasa tidak suka, saat melihat keakraban mereka ya? Ada apa sebenarnya ini, Tuhan?Apakah benar, jika aku sudah mencintai Ardi? Tapi kapan rasa ini datang? Kapan rasa ini muncul, Ya Tuhan?' batin Tina sambil menatap tak suka ke arah Ardi dan juga Mentari yang sedang tersenyum.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2