Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
S2. Bab 158


__ADS_3

Aurora sampai di kantor Papanya, dia langsung menerobos masuk saat satpam sudah membukakan pintu diikuti oleh Justin.


Tanpa menunggu Justin, wanita itu masuk ke dalam lift dan hampir saja pintu lift tertutup jika Justin tidak cepat-cepat masuk. "Lo ini bisa nggak sih larinya pelan-pelan aja! Seperti dikejar-kejar setan. Emangnya Papa lo kenapa?" tanya Justin dengan kesal sambil bernafas terengah-engah.


Aurora tidak menjawab, karena percuma saja dia hanya akan dianggap gila. Tangannya bertaut dengan wajah yang terlihat begitu gusar.


Saat sampai di lantai atas, Aurora segera keluar dan berlari menuju ruangan Papanya dan melihat Bagas ada di sana sedang mengerjakan pekerjaannya.


"Aurora. Kamu kenapa masuk tindak ketuk pintu dulu? Terus kenapa basah kuyup kayak gitu?" Pria tersebut menatap ke arah putrinya dengan heran, lalu tatapannya mengarah kepada Justin.


"Kita tidak mempunyai banyak waktu. Kita keluar dari sini!" teriak Aurora dengan panik.


"Iya, tapi kenapa Nak? Kamu kenapa sih, kok kelihatan panik kayak gitu?" Bagas merasa heran.


"Please Pah, jangan tanyakan dulu! Ayo cepat kita keluar!" Aurora menarik tangan Papanya lalu Bagas pun keluar dari sana. Dia berpapasan dengan asistennya, lalu Aurora pun meminta asisten dari Papanya untuk keluar


"Ada apa sih Nak? Kamu tiba-tiba saja datang menghargetkan Papa lalu meminta kita keluar dari kantor. Memangnya ada apa? Kenapa wajah kamu terlihat begitu panik?" Bagas merasa ada yang tidak beres dengan sikap dari putrinya.


Aurora tidak menjawab, dia terus saja *******-***** jarinya melihat ke arah lift yang terasa jalan begitu lamban. Hingga saat mereka sampai di lantai bawah, Aurora langsung mengajak Papanya untuk berlari menjauh dari kantor gedung begitu pula dengan para satpam.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu meminta kami menjauh dari kantor? Ada apa, sayang? Katakan!"


"Kantor itu akan meledak, Pah," ucap Aurora.


Bagas terhenyak saat mendengar penuturan putrinya. Dia sudah sangat tahu dengan kemampuan Aurora yang memiliki ilmu batin, dan dia sangat percaya jika apa yang dikatakan oleh Aurora benar.


Tanpa berkata apapun lagi Aurora langsung memeluk tubuh Bagas dan menangis tersedu-sedu. Dia bahagia karena bisa menyelamatkan sang papa. Dan benar saja, beberapa detik kemudian gedung itu hancur dan menimbulkan suara yang begitu keras.


DUUAR!

__ADS_1


"Allahkuakbar!" jerit kedua satpam dan Ariel, asisten Bagas.


Semua tentu saja terkejut, begitu pula dengan Justin. Tadinya dia berpikir bahwa Aurora sudah gila dan kehilangan kewarasannya, tetapi apa yang dikatakan wanita itu malah benar-benar terjadi.


"Cepat panggil ambulance!" titah Ariel pada dua satpam.


'Apakah dia paranormal yang bisa membaca masa depan? Kenapa dia bisa tahu? Aku benar-benar penasaran.' batin Justin sambil menatap ke arah Aurora yang saat ini masih memeluk tubuh Papanya.


"Gerima kasih ya Nak, kamu sudah menyelamatkan papa." Bagas mengecup kening Aurora dengan begitu lembut, setitik air bening meluncur membasahi pipinya.


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Aurora tidak datang dan menyelamatkannya, mungkin saja sekarang dia sudah pulang dengan hanya membawa nama, meninggalkan anak-anak dan juga istrinya.


'Ya Allah, terima kasih telah memberikan aku seorang putri yang bukan hanya cantik, tetapi memiliki kemampuan untuk membantu orang lain. Terima kasih ya Allah.' rasa syukur terus saja dipanjatkan oleh Bagas di dalam hatinya.


"Pah, aku tidak akan pernah membiarkan Papa terluka. Aku tidak akan pernah sanggup kehilangan Papa. Tidak akan pernah." Aurora menggelengkan kepalanya kemudian dia kembali memeluk tubuh tegap Bagas.


"Papa juga tidak sanggup jika kehilangan kalian. Terima kasih ya sayang, papa benar-benar beruntung memiliki kamu."


Justin masih tidak bisa berkata-kata, dia tidak menyangka jika Aurora memiliki kelebihan yang tak pernah ia duga sebelumnya, di mana di zaman sekarang mana mungkin ada seseorang yang memiliki kelebihan seperti itu.


"Apa ini hanya kebetulan saja?" Pria itu masih menampik kenyataan yang baru saja ia lihat.


Bagas baru sadar jika di sana banyak orang, kemudian dia meminta orang kepercayaannya yang bernama Ariel untuk menyelidiki tentang penghancuran yang terjadi di kantornya.


"Kau selidiki! Aku ingin hasilnya cepat diketahui. Aku akan pulang, dan kalian juga," ujar Bagas kepada para satpam.


Justin ikut pulang bersama dengan Bagas, selama di dalam mobil dia hanya bisa terdiam karena apa yang terjadi barusan sungguh di luar nalar, dan itu masih membuat dirinya syok.


"Apa kamu tidak bisa melihat siapa pelaku di balik penghancuran kantornya Papa?" tanya Bagas kepada Aurora.

__ADS_1


"Aurora coba lihat ya, Pah." Wanita itu memejamkan matanya dengan begitu fokus, sementara Justin hanya melirik dari sudut ekor mata.


'Apa yang dia lakukan? Sepertinya benar dia itu paranormal yang bisa membaca masa depan. Apa aku akan menikahi wanita sepertinya?'


"Bagaimana?" tanya Bagas saat Aurora sudah membuka matanya kembali.


Wanita itu menggeleng, "samar-samar, Pah, tapi melihat dari bayangannya pria tersebut berambut gondrong, berbadan kekar dan memiliki banyak anak buah. Apakah dia salah satu dari musuh Papah?"


Mendengar penjelasan dari putrinya, Bagas terdiam memikirkan siapa target yang kira-kira pas dengan apa yang dikatakan oleh Aurora. "Nanti coba papa akan selidiki bersama dengan Ariel. Tapi sepertinya, Papa harus meningkatkan keamanan di rumah karena takut jika nanti malah terjadi apa-apa dengan mama dan juga adik kamu, termasuk kamu juga." Aurora hanya mengangguk, dia setuju dengan saran dari Papanya.


"Maaf Om, apakah Aurora mempunyai kelebihan? Kenapa dia bisa membaca masa depan?" tanya Justin yang tidak sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Kedua orang itu menatap ke arah Justin saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut pria tersebut. Namun Bagas merasa ini belum waktu yang tepat untuk mengungkapkan kelebihan putrinya kepada Justin, karena belum tentu mereka menikah.


"Untuk itu, om tidak bisa menjawab. Hanya Aurora sendiri, karena ini adalah wewenangnya. Lagi pula kalian belum tentu menikah?"


"Tapi Om dan tante bilang, bahwa kami dalam masa penjajakan? Seharusnya tidak boleh ada yang ditutupi satu sama lain. Harusnya saling terbuka apapun yang menyangkut Aurora. Seharusnya aku mengetahuinya, Om?"


Bagas melirik ke arah putrinya, dia menyerahkan semua keputusan kepada Aurora, karena ini menyangkut dirinya sendiri.


"Jadi kau penasaran kenapa aku bisa membaca masa depan? Jangan-jangan, di dalam hatimu kau menyangka jika aku ini seorang peramal?" tebak Aurora.


Justin tentu saja langsung mengangguk, "tentu saja aku menganggapmu peramal, karena hanya seorang peramal yang bisa membaca masa depan."


Mendengar itu Aurora dan Bagas hanya terkekeh, membuat Justin dilanda kebingungan. Tapi mereka pun memaklumi kenapa Justin bisa berbicara seperti itu dan menebak Aurora seorang peramal.


"Jadi kau benar-benar ingin tahu?" tanya Aurora memastikan.


"Iya, sebab kita sudah sepakat bukan akan mengenal karakter satu sama lain? Jadi tidak boleh ada yang ditutupi."

__ADS_1


"Baiklah jika itu kemauanmu. Nanti sesampainya di rumah, aku akan bicara."


BERSAMBUNG.....


__ADS_2