Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Mengetahui Kebenaran


__ADS_3

Happy reading.........


Ilham membuka matanya secara perlahan, dia merasa kepalanya sangat pusing akibat banyak minum semalam. Lalu dia pun bangkit dan duduk, tapi alangkah terkejutnya dia saat melihat seorang wanita tengah tidur di sampingnya sambil memeluk dirinya.


'Apa yang terjadi? Apa aku sudah ...


Ya ampun Ilham, ceroboh sekali kamu!' batin Ilham sambil menggerutu pada dirinya sendiri.


Kemudian dia pun bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah 15 menit Ilham pun keluar dan melihat wanita itu sudah bangun dan duduk di ranjang sambil menyandarkan diri.


Kemudian dia pun mengeluarkan dompetnya lalu menulis cek untuk wanita itu dan menaruhnya di atas meja. "Ini ada cek untukmu, dan lupakan malam ini," ucap Ilham dengan nada dingin, lalu pergi meninggalkan kamar penginapan itu pulang menuju ke rumah.


Selama di dalam perjalanan dia terus meretuki dirinya sendiri, karena dia sudah ceroboh tidur bersama dengan wanita lain. Dia merasa telah menyelingkuhi Nara, karena sudah melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama.


Sesampainya Ilham di rumah, dia melihat Azam sedang bermain dengan babysitter-nya. Ilham pun menghela nafas kemudian dia beranjak naik ke lantai atas menuju kamar, namun saat dia sampai di sana Ilham tidak menemukan Nara, tapi dia melihat pintu balkon terbuka dan Ilham yakin jika Nara ada di sana.


Saat Ilham mendekat ke arah pintu balkon, sayup-sayup dia mendengar percakapan Nara, dan itu membuat rahangnya mengeras.


"Ya sayang, aku juga kangen sama kamu. Tapi gimana? Pria itu belum pulang dari semalam, aku juga tidak tahu. Kamu tenang aja, kita akan kuasai hartanya, kita akan buat dia miskin. Lagi pula, dia itu hanya pria bodoh," ucap Nara tanpa disadari jika Ilham mendengar semuanya.


Mendengar itu Ilham mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras dengan sorot mata yang begitu tajam. Amarahnya meluap-luap mendengar percakapan Nara dengan seseorang yang dia yakini adalah selingkuhannya, saat Ilham akan mendekat dan melabrak Nara, tiba-tiba dia mendengar lagi ucapan wanita itu.


"Iya, kita harus bermain cantik dulu dong, supaya kita bisa menguasai hartanya Mas Ilham."

__ADS_1


Ilham tadinya ingin melabrak Nara tapi tidak jadi, dia tersenyum miring mendengar ucapan wanita yang menjadi istrinya itu. 'Rupanya benar dugaanku, jika kamu punya selingkuhan. Kamu juga ingin bermain-main dengan ku ternyata, Nara. Benar yang Bunga katakan, jika kamu adalah seekor ular berkepala dua! Aku telah membuang berlian hanya untuk sebuah batu kerikil dari selokan,' batin Ilham menggeram.


Kemudian dia pun memundurkan langkahnya dan menuju sofa, lalu berdehem agar Nara mendengarnya. Dan benar saja, Nara yang mendengar deheman seseorang seketika menjadi panik. Dia takut jika itu Ilham dan mendengar percakapan antara dia dan juga Ferdi.


"Udah dulu ya Sayang, kayaknya Mas Ilham udah pulang. Jangan sampai dia mendengar percakapan kita," ucap Nara dengan nada berbisik. Setelah itu telepon pun terputus, kemudian dia masuk kembali ke dalam kamar dan melihat Ilham sudah duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya.


Nara membenarkan ekspresi wajahnya agar terlihat khawatir dan kesal, kemudian dia berjalan mendekat dan duduk di samping Ilham, lalu dia memegang lengan suaminya dengan manja.


"Mas, kamu ke mana aja sih? Kenapa semalam tidak pulang? Aku tuh khawatir sama kamu, Mas. Kamu marah sama aku sampai kamu tidak pulang semalaman? Emangnya kamu tidur di mana semalam?" tanya Nara dengan wajah yang dibuat cemas dan sedikit memanyunkan bibirnya merajuk manja.


Dulu ekspresi seperti itu membuat Ilham jatuh cinta bahkan sampai terlena, tapi sekarang melihat itu Ilham merasa jijik. Dia ingin sekali mencabik-cabik wajah Nara, tapi masih ada Azzam di antara mereka. Dan jika dia berpisah dengan Nara, Azam akan menjadi korbannya dan itu adalah pilihan yang sulit bagi Ilham.


'Ciih, dasar wanita berkepala dua. Pintar sekali dia membuat ekspresi wajah,' batin Ilham rasa jijik kepada Nara.


"Semalam aku menginap di di rumah teman. Sudahlah aku capek, aku mau bersiap dan ke kantor," ujar Ilham dengan nada dingin lalu bangkit dan menuju ruang ganti untuk bersiap-siap ke kantor dia tidak menghiraukan rajukan Nara sama sekali.


************


Saat Bunga tengah bersenda gurau dengan keluarganya tiba-tiba seseorang memencet bel pintu apartemen, dan Bunga pun berjalan menuju pintu untuk membukanya, dan saat dibuka ternyata itu adalah Bagas.


Bunga tentu saja sangat terkejut melihat pria itu yang pagi-pagi sudah berada di apartemennya sambil membawa paper bag. "Pak Bagas! Bapak tumben pagi-pagi ke sini?" tanya Bunga dengan wajah sedikit gugup, pasalnya di dalam apartemen sedang ada keluarganya.


"Ah, ini saya tadi mau ke kantor, tapi saya beli sandwich buat kamu. Kamu udah sarapan belum?" tanya Bagas dan langsung dibalas anggukan oleh Bunga. "Iya, kebetulan saya sudah sarapan Pak. Tadi Saya masak nasi goreng."

__ADS_1


Mendengar itu Bagas tentu saja sangat kecewa. "Oh, sudah sarapan ya. Sia-sia dong saya beliin kamu sandwich," ujar Bagas dengan nada kecewa.


"Tidak apa-apa Pak, nanti sandwich-nya akan saya makan kok. Tapi untuk sekarang memang Saya masih kenyang," jawab Bunga. Lalu terdengar suara Bariton seseorang dari belakang.


"Siapa itu Dek?" tanya Sony sambil menghampiri Bunga, karena dia sangat penasaran dengan tamu yang datang pagi-pagi ke apartemen Adiknya.


Sony mengerutkan kening saat melihat Bagas yang bertamu ke rumah Bunga.


"Looh, Pak Bagas!" ucap Sony dengan wajah kaget karena Bagas adalah rekan bisnisnya.


Bagas seperti mengingat sesuatu, kemudian dia membulatkan matanya.


"Pak Sony kan? Pemilik dari Cahaya Group," ujar Bagas dan langsung dibalas anggukan oleh Sony.


Kemudian mereka pun saling bersalaman satu sama lain, sedangkan Bunga menatap kedua pria itu dengan bingung. "Tunggu! Kalian sudah saling mengenal?" tanya Bunga dengan nada heran.


"Tentu saja Dek, Pak Bagas ini adalah rekan bisnisnya Kakak. Kebetulan kami sedang membangun proyek di daerah Korea, kalau gitu ayo masuk Pak Bagas. Tapi tunggu dulu! Ini kalian saling kenal? Kenapa Pak Bagas ke sini pagi-pagi? Tidak mungkin dong Pak Bagas tahu kalau saya ada di sini?" ledek Sony sambil menatap ke arah Bagas.


"Tidak, tidak! Kebetulan saya memang kenal dengan Bunga, karena perusahaan kami juga kerjasama dan sedang membangun proyek di luar kota. Dan jebetulan juga Saya tadi mau ke kantor, dan saya ingat jika Bunga kemarin sakit, Saya ingin menengoknya dan sepertinya sedang ada keluarganya di sini. Kalau gitu saya pamit saja dulu." Bagas merasa tidak enak karena sudah bertamu di pagi hari.


"Tentu saja tidak, Pak. Kalau gitu kita masuk dulu, kita ngobrol sebentar," ajak Sony. Sedangkan Bunga hanya diam saja, dia merasa gugup dia tidak menyangka jika Kakaknya dan juga Pak Bagas saling mengenal satu sama lain. Kemudian mereka pun masuk ke dalam.


Saat sampai di ruang tamu, Sony memperkenalkan keluarganya kepada Bagas. Dan memang Bagas baru tahu jika sony adalah Kakaknya Bunga, walaupun dulu dia pernah melihat fotonya, tapi hanya sekilas dan Bagas tidak ingat.

__ADS_1


"Nak Bagas, mari sini duduk," ucap Mami Rindi sambil mempersilahkan Bagas duduk di sofa. "ebentar ya, biar Tante buatkan kamu minum dulu." Mami Rindi pun pamit ke dapur dan Bunga yang melihat itu pun mengikuti sang Mami, karena dia merasa canggung berada di dekat Bagas.


Bersambung.........


__ADS_2