
Aurora sudah bersiap, dia mengenakan dress berwarna navy selutut, padahal awalnya Aurora ingin memakai celana jeans dengan blus pendek, akan tetapi Bunga melarang. Karena wanita itu harus terlihat anggun.
"Kenapa sih Mah, harus memakaikan aku dress seperti ini? Aku kan ingin tampil apa adanya di hadapan dia."
"Iya, Mama tahu sayang." Bunga mengusap rambut Aurora, "tapi kita juga sebagai wanita harus tampil anggunly. Masa kamu mau tampil ugal-ugalan?"
"Ya, nggak ugal-ugalan juga, Mah. Pakai jeans juga nggak terlihat anak brutal kok."
"Sudah, sudah. Daripada kamu ngoceh terus ... mendingan sekarang kita turun ke bawah! Tadi Bibi sudah bilang kalau Justin sudah ada di sana."
Aurora cemberut, dia kemudian turun ke lantai bawah. Dan saat dirinya masuk ke ruang tamu, dia membuang pandangannya karena enggan melihat ke arah Justin.
Sementara pria itu benar-benar terpana dengan kecantikan Aurora. Qalaupun dipoles dengan make-up yang natural, tetapi penampilannya malam ini benar-benar sangat menawan, membuat pria manapun pasti akan terkagum-kagum.
'Dia cantik sekali.' batin Justin, 'berbeda dari biasanya.'
Aurora langsung mendelik tajam. "Emang lo pikir selama ini gue kayak apa?" celetuknya.
Mendengar celetukan dari Aurora, Justin mengerutkan keningnya. "Maksud lo?" tanyanya dengan bingung.
'Kenapa dia seperti bisa membaca isi hati gue ya?' batinnya kembali.
Aurora melipat bibirnya ke dalam, 'Astaga Aurora! Kenapa lo sampai keceplosan sih? Gimana kalau dia tahu, kalau gue ini bisa baca suara hati orang?' gerutu Aurora pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Sementara Justin terus menatapnya dengan lekat, karena dia penasaran tiba-tiba saja Aurora berkata seperti itu, seakan dia tahu isi hatinya tadi.
"Sudah, jangan berdebat. Lebih baik sekarang kalian pergi! Karena ini juga udah setengah delapan. Nanti kalian kemalaman pulangnya." Bunga mencoba melerai, dia tidak ingin Justin terlalu berpikiran jauh tentang Aurora, karena Bunga pun mengetahui tentang kelebihan dari putrinya tersebut.
"Iya Tante, kalau gitu Justin pamit dulu ya."
"Iya, jaga Aurora, ya! Jangan sampai Aurora pulang dalam keadaan tidak utuh."
"Maksud Mama?" bingung Aurora.
"Maksud Mama ... tidak utuh dalam mood kamu. Karena kalian ini kan sering bertengkar, jangan sampai nanti kamu ujug-ujug pergi meninggalkan Justin dan pada akhirnya kalian berpencar. Itu tidak boleh, dan kamu juga Justin. Pokoknya pulang bersama dengan Aurora tanpa kurang satu apapun, karena tahu sendiri kan kalau Om Bagas itu sangat over protektif."
Justin mengangguk kepalanya dengan mantap. Dia pun tidak ingin mencari gara-gara dengan Papahnya, Aurora, kemudian mereka pergi dari sana setelah berpamitan. Sementara Bagas masih berada di kantor karena ada banyak pekerjaan yang harus ia lakukan.
Sepanjang perjalanan Aurora terus saja menatap ke arah samping. Dia sama sekali enggan melihat ke arah Justin.
Mendengar celotehan kekesalan dari Justin, Aurora berdecak. "Ck! Terus gue harus ngapain? Emang gue, harus haha hihi ... gitu? Lagi pula, gue itu males ngobrol sama lo. Udah deh, mendingan sekarang lo jalanin aja mobilnya. Jangan sampai kita nabrak!" ketus Aurora.
Justin malah menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dan itu membuat Aurora sontak menoleh ke arahnya dengan wajah yang kesal. "Lo ngapain sih--" Ucapannya terhenti saat tiba-tiba saja Justin menaruh jari telunjuknya di bibir wanita itu.
"Bisa nggak, lo itu bersikap lembut sedikit saja! Kita ini lagi kencan. Dan bisa tidak, lo jangan nyolot terus kalau ngomong. Bagaimana kita akan mengenal karakter satu sama lain kalau lo sendiri sikapnya kayak gini?"
Aurora yang mendengar itu langsung menghempaskan jari yang berada di bibirnya. "Apa lo bilang? Sikap gue yang kayak gini? Dengar ya! Gue nggak pernah berminat tuh untuk dijodohkan sama lo. Lagi pula, tidak akan pernah ada yang menggantikan nama suami gue di hati ini!" tunjuk Aurora kepada dadanya, "karena hanya mas Kevin raja di dalam hidup gue. Dia cinta pertama gue!" tegas Aurora.
__ADS_1
Justin terdiam, dia dapat melihat tatapan penuh cinta saat Aurora menyebut nama mantan suaminya. Namun, tidak membuat Justin mundur satu langkah pun. Dia malah mengungkung tubuh Aurora, hingga membuat wanita itu menyandarkan tubuhnya di jok.
"Mau ngapain lo? Jangan macam-macam ya! Kalau lo berani macam-macam sama gue perusahaan lo sudah pasti akan hancur!"
Bukannya takut, Justin malah tersenyum miring. Kemudian dia memegang dagu Aurora, tetapi wanita itu menghempaskannya, namun Justin tidak membiarkan itu dia mengunci tangan Aurora.
"Lo dengar ya, wanita arogan! Lo dengar kata-kata gue dengan baik, ya! Seseorang pernah menjadi hal terindah di dalam hidup lo, dan gue tidak akan pernah bisa menghilangkan itu. Gue nggak akan bisa menghapuskan nama dia di hati lo. Tapi satu hal ... hidup itu terus berjalan. Dia tidak mungkin hidup kembali, dan lo hanya bisa mengenangnya. Lo punya masa depan, dan di sini orang tua kita sedang membuat kita dekat. Apa salahnya hanya mengenal karakter satu sama lain, setelah 2 bulan ini terserah lo mau membatalkan perjodohan kita kek, atau tidak kek, bagi gue nggak masalah." Justin berkata dengan nada dinginnya.
Tatapannya begitu sangat datar, seolah dia benar-benar sudah geram dengan tingkah Aurora yang begitu sangat keras kepala. Dan setelah memberi pengertian dan penegasan kepada wanita itu, Justin memundurkan tubuhnya kemudian dia kembali menyetir mobil tanpa berkata apapun.
Saat mereka sampai di restoran, keduanya berjalan tanpa satu kata pun, hingga saat berada di meja, Justin menghela nafasnya dengan kasar. Dia menatap kembali kepada Aurora dan menggenggam tangan wanita itu, membuat Aurora sontak menatapnya dengan tajam.
"Bisa tidak, saat pengenalan karakter kita satu sama lain, lo jangan bersikap cuek, judes, apalagi arogan. Anggap saja kalau aku ini temanmu, jika kita tidak cocok, ya tinggal batalkan saja. Semudah itu ... tapi setelah 2 bulan."
Aurora terdiam, yang dikatakan oleh Justin itu memang benar. Seharusnya dia tidak bersikap seperti itu kepadanya.
"Tapi kenapa lo tiba-tiba waktu itu ngajak gue nikah? Bahkan kita tidak mengenal satu sama lain?"
Mendengar pertanyaan dari Aurora, kali ini Justin yang terdiam. Dia menundukkan kepalanya, kemudian terdengar helaan nafas yang begitu berat. Kembali pria itu pun menatap Aurora dengan begitu dalam.
"Jadi lo benar-benar mau tahu kenapa waktu itu gue tiba-tiba ngajak lo nikah?" tanya Justin memastikan, dan tentu saja Aurora langsung mengganggu dengan mantap.
"Ya iyalah ... tiba-tiba ada seorang pria yang gue nggak kenal seluk beluknya, ***** bengeknya, tiba-tiba ngajak gue nikah begitu aja. Jelas aja menjadi pertanyaan di kepala gue. Sekarang lo jelasin deh, kenapa waktu itu lo ngajak gue nikah secara tiba-tiba? Padahal kita nggak kenal?"
__ADS_1
"itu, karena aku ...."
BERSAMBUNG....