Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
S2. Ternyata Dia


__ADS_3

Saat pintu utama dibukax kedua netra Aurora membulat kaget saat menatap ke arah pria yang saat ini sedang berdiri tak jauh darinya.


'Pria sinting. Ngapain dia ke sini? Jangan-jangan dia ...?' Aurora nampak begitu terkejut, dia berasumsi bahwa pria yang tak lain adalah Justin, yang akan dijodohkan dengan dirinya.


Dia melihat ke arah kedua orang tuanya yang tengah menyambut hangat kedatangan Justin dan juga kedua orang tuanya. Bagas yang melihat putrinya hanya dian mematung kemudian memanggil Aurora "Kamu kenapa diam saja di situ? Sini!" Dia melambaikan tangannya.


Aurora mendekat kemudian mencium kedua tangan orang tua Justin, namun saat Bagas meminta Aurora untuk bersalaman dengan pria tersebut,wanita itu menolak dan malah membuang pandangannya.


Membuat kedua orang tuanya merasa heran dengan tingkah Aurora. 'Kenapa dengan dia? Tidak biasanya Aurora seperti ini. Apa dia sudah mengenal, Nak Justin?' batin Bunga.


"Aurora!" tekan Bagas dengan tatapan tajamnya.


Mendengar sang Papa memanggil dirinya dengan nada yang begitu tajam, Aurora kemudian mendesah dengan kasar. Dia mengulurkan tangannya ke arah Justin, sementara pria itu hanya tersenyum penuh arti.


Justin pun tidak menyangka jika ternyata wanita yang akan dijodohkan dengannya adalah Aurora, dan dia bisa menyimpulkan jika Aurora wanita yang akan di jodohkan dengannya. "Kita bertemu lagi," bisik Justin


Aurora segera menarik tangannya, dan tentu saja ucapan Justin yang tadi membuat Bagas dan kedua orang tuanya menatap mereka.


"Jadi kalian sudah mengenal?" tanya Bagas dengan tatapan menyipit ke arah Putri kesayangannya.


"Tidak sengaja kok, Pah. Dia cuma pria sinting yang tiba-tiba aja ngajak nikah. Nggak ada hujan, nggak ada petir, kenal juga kagak, main ngajak nikah!" gerutu Aurora.


"Maksudnya?" ucap Om Dilan, Papanya Justin.


"Sudah, sudah. Sebaiknya kita bicara di ruang tamu saja yuk!" lerai Bunga. Kemudian mereka pun berjalan menuju ruang tamu di mana minuman dan juga beberapa cemilan sudah tersedia oleh pelayan.

__ADS_1


Namun tetap saja tatapan Aurora sengit kepada Justin, karena wanita itu tidak menyukai pria tersebut. Apalagi dengan kejadian tadi siang yang membuat Aurora benar-benar semakin membenci dan tidak menyukainya.


'Jadi dia bukanlah seorang gadis? Dia janda, pernah menikah namun gagal menjadi seorang ibu. Menarik. Walaupun dia janda, tapi tidak terlihat sama sekali. Apalagi harga dirinya sangat mahal, tidak mudah untuk ditaklukan oleh pria.' batin Justin yang mulai tertarik dengan pribadi Aurora.


"Jadi bagaimana penjelasan tentang apa yang Aurora ucapkan tadi?" tanya om Dilan kembali, karena dia masih merasa penasaran.


"Bukan apa-apa kok, Pah, hanya salah paham saja," sela Justin.


Aurora seketika menatap tajam ke arah pria itu saat Justin bilang bahwa itu hanyalah salah paham. Dia mengepalkan tangannya dengan tatapan kesal, namun tidak mungkin marah-marah di hadapan kedua orang tuanya, karena jika Aurora melakukan itu maka martabat sang Papah menjadi taruhan.z


"Tapi sebelumnya terima kasih ya, kalian sudah mau datang ke sini. Tentu saja saya juga sudah berbicara dengan Aurora tentang Perjodohan mereka," ucap Bagas sambil melirik ke arah putrinya dan juga Justin bergantian.


"Aku nggak mau, Pah!" tolak Aurora dengan mentah.


"Karena Mama belum mengenalnya."


"Aurora, kamu juga belum mengenal Justin kan? Apa kalian sudah kenal cukup lama, sampai kamu memutuskan hal itu?" tanya Bagas dengan tatapan lekat ke arah putrinya.


Aurora hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, dia menjelaskan pun percuma, karena pasti Justin akan terus mengelak. Akan tetapi orang tua Justin, Om Dilan dan juga tante Milea hanya diam terpaku dengan tatapan bingung.


"Begini saja. Kita makan dulu baru kita bicarakan lagi," ucap Bunga melerai, kemudian mereka berjalan menuju meja makan.


Namun saat Aurora sedang berjalan paling belakang, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Justin lalu pria itu pun mendekat dan berbisik di telinganya.


"Aku rasa kamu tidak mempunyai pilihan lain, selain kata iya. Jangan menolak yang pada akhirnya membuatmu jatuh cinta. Kamu akan jatuh ke dalam pesonaku."

__ADS_1


Mendengar kepedean dari pria tersebut, Aurora hanya mencebik dengan nada mengejek. "Pede sekali dirimu. Memangnya kau pikir, dirimu setampan apa, sampai aku harus terpesona? Kau pikir, kekayaan dan juga parasmu itu mampu membuatku jatuh cinta? PD gila!" Aurora melepaskan tangan Justin dengan begitu kasar.


Dia menatap tajam ke arah pria itu, kemudian menarik sudut bibirnya lalu menunjuk dada bidang milik Justin. "Jadi orang itu jangan terlalu pede tingkat Dewa. Karena ketampanan sepertimu sudah biasa bagiku." Wanita itu berjalan meninggalkan Justin untuk menuju meja makan.


Sementara pria tersebut masih terpaku saat mendapatkan hinaan dari Aurora. Dia semakin tertantang untuk mendapatkan wanita itu, karena baru kali ini ada yang menolak Justin secara mentah-mentah. Bahkan tidak tergiur dengan ketampanan dan juga hartanya.


'Pantas saja aku tidak bisa mendapatkan identitas aslinya, ternyata dia dari keluarga Anjasmara. Tentu saja Om Bagas tidak akan membiarkan biodata asli keluarganya sampai mencuat keluar dan gampang untuk didapatkan oleh orang lain.' Justin akhirnya mengerti kenapa data-data tentang Aurora yang dia dapatkan adalah palsu.


Dia pun menyusul orang tuanya menuju meja makan, dan di sana hanya ada obrolan tentang bisnis saja. Sementara Aurora banyak diam, karena wanita itu tidak bersemangat, apalagi mood-nya sangat hancur saat melihat kedatangan Justin.


Setelah makan malam selesai, mereka kembali ke ruang keluarga untuk membahas perihal Perjodohan Justin dan juga Aurora.


"Bagaimana Nak? Apa kamu setuju untuk dijodohkan dengan Justin? Percayalah, Papa tidak akan menjerumuskanmu ke dalam lembah jurang. Dan papa sangat yakin, Justin adalah orang yang baik." Bagas mencoba untuk meyakinkan putrinya.


Sementara Aurora menatap ke arah Justin dengan lekat, kemudian bergantian kepada Om Dilan dan juga tante Milea. Dia melihat masa lalu dari kedua orang itu, sementara Justin dia sudah mengetahuinya.


'Sejujurnya kedua orang tuanya sangat menyayangi Justin. Tapi sayang, mereka terlalu terobsesi dengan kerjaan sehingga melupakan Putra mereka. Dimana itu membuat Justin menjadi pria arogan, dingin, tapi memang sejujurnya dia memiliki hati yang baik. Akan tetapi, vibesnya membuatku tidak suka.' batin Aurora, sebab dia bisa melihat masa lalu dan masa depan.


"Begini saja." Aurora menatap semua orang bergantian, "berikan aku dan Justin waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Mungkin satu atau sampai 2 bulan. Kami perlu waktu penjajakan, karena kami pun harus mengenal karakter satu sama lain," ucap Aurora.


Terlihat semua orang hanya diam, sementara Justin menunggu jawaban dari kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua dari Aurora.


"Gimana Justin? Apa kamu setuju?" tanya om Dilan.


BERSAMBUNG. .....

__ADS_1


__ADS_2