Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Modus Bagas


__ADS_3

Happy reading.........


Sedari meeting Bagas terus saja memperhatikan Bunga, tatapannya tak pernah lepas dari wanita cantik yang ada di hadapannya. Sementara itu Bunga yang merasa diperhatikan menjadi salah tingkah, dia benar-benar gugup, dadanya semakin berdebar dengan keras.


'Aduh, kenapa Pak Bagas dari tadi merhatiin aku terus sih? Emangnya ada yang salah ya? Atau dandananku luntur? Tapi mana mungkin, aku pakai yang waterproof. Ini lagi jantung, kenapa semakin deg-degan kayak gini sih?' batin Bunga menggerutu.


"Jadi bagaimana Pak? Untuk proyek di sana kita pakai yang model seperti ini" tanya Bunga sambil menyodorkan hasil kerjanya, tapi Bagas tidak merespon, dia diam saja dan terus menatap ke arah wanita cantik itu.


Bunga heran, sebab Bagas tidak merespon ucapannya. Kemudian dia melambaikan tangannya di hadapan wajah Bagas. "Pak... Pak... Halo," ucap Bunga sambil melambaikan tangannya.


Bagas tersadar dari lamunannya, kemudian dia menatap Bunga dengan kaget. "Ah i-ya, ke-napa?" jawab Bagas dengan gugup, karena dia ketahuan mencuri-curi pandang dan terus memperhatikan ke arah Bunga.


Bunga pun menghela nafasnya dengan kasar. "Makanya Pak, kalau saya jelaskan Bapaknya jangan merhatiin saya terus. Emangnya di wajah saya itu ada pemandangan ya? Sampai Bapak nggak kedip sama sekali?" ledek Bunga merasa kesal.


"Maaf, saya tadi lagi tidak konsen." Bagas merasa tidak enak karena tidak memperhatikan dan mendengarkan penjelasan Bunga, kemudian dia meminta Bunga mengulanginya kembali dan kali ini dia fokus.


Setelah meeting selesai, Bunga membereskan berkas-berkas dan ingin kembali ke kantor. Tapi Bagas menahan tangannya dan menggenggam tangan itu dengan lembut, membuat Bunga sontak membulatkan mata dan menatap Bagas dengan heran.

__ADS_1


"Jangan pulang dulu! Makanannya kan juga belum habis, kita habiskan dulu makanannya nanti baru pulang. Lagi pula, saya mau minta kamu untuk menemani saya ke suatu tempat," ucap Bagas sambil menggenggam tangan Bunga.


Bunga terdiam, dia benar-benar tak bisa menjawab ucapan Bagas sebab saat ini jantungnya sedang berdisko-ria. Walau hanya dipegang tangan saja, tapi pipi Bunga sudah merona bagaikan kepiting rebus.


"Me-mangnya Ba-pak mau ke mana?" tanya Bunga dengan gugup.


"Saya mau membelikan baju untuk Aurora, dan biasanya kan selera wanita itu jauh lebih cocok bukan? Apalagi kamu dan Aurora sangat dekat," ujar Bagas sambil menatap penuh harap ke arah Bunga.


Mendengar nama Aurora, Bunga seketika mengangguk. "Baiklah Pak, nanti kita beli baju untuk Aurora." Bagas tersenyum mendengar itu, padahal itu hanya alibi Bagas saja agar dia bisa lebih lama jalan bersama dengan Bunga.


"Maaf Pak, itu tangannya," ucap Bunga dengan nada lirih, dan Bagas yang melihat itu menjadi salah tingkah. Kemudian dia melepaskan genggamannya di tangan Bunga.


Dari kejauhan seorang pria menatap ke arah Bunga dengan tatapan tidak suka, tatapan yang begitu menyiratkan kemarahan, tangannya terkepal kuat dengan rahang mengeras dan sorot mata yang begitu tajam. Kemudian dia melangkah ke arah Bunga dan juga Bagas.


"Yasudah, kalau gitu kita berangkat sekarang. Lagi pula cuaca di luar juga kan sudah mendung, nanti keburu hujan," ujar Bagas sambil menengok ke arah luar, dan ternyata memang benar cuaca di luar sudah mendung dan sebentar lagi pasti akan turun hujan. Lalu Bunga pun mengangguk.


Tapi baru saja mereka akan pergi, tiba-tiba tatapan mereka teralihkan pada suara tepukan tangan, dan ternyata itu adalah Ilham.

__ADS_1


"Waah... Ternyata benar ya dugaanku, kamu dan pria ini tuh ada hubungan? Mana mungkin jika hanya sekedar teman kerja atau semacamnya, kalian bisa sedekat ini? Apalagi tadi kalian sempat pegangan tangan!" sindir Ilham sambil mengangkat satu alisnya.


Bunga memutar bola matanya dengan malas, dia benar-benar tidak ingin meladeni Ilham. "Sudahlah Pak, kita pergi saja. Nanti keburu hujan," ucap Bunga pada Bagas, dan langsung dibalas anggukan oleh pria itu, tapi Ilham menahan tangan Bunga dengan cukup kasar.


"Lepasin Mas! Kamu ini apaan sih?" ketus Bunga sambil mencoba melepaskan pegangan tangan Ilham, namun Ilham enggan melepaskan tangannya. Dia benar-benar tidak rela melihat Bunga jalan bersama dengan pria lain.


"Lepasin tangan dia! Jangan berani main kasar sama cewek!" tegas Bagas sambil mencekal lengan Ilham, tetapi pria itu masih enggan melepaskan tangannya.


Bagas benar-benar geram melihat jika Ilham memegang tangan Bunga, walaupun Ilham mantan suaminya Bunga, tetapi mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.


"Lepas Mas! Kamu menyakiti aku! Tangan aku sakit." Bunga mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Ilham, dan Bagas yang melihat itu tentu saja sangat murka, kemudian dia mencengkram kerah Ilham dan hendak menonjok pria itu. Tapi sayang tubuh Ilham sudah terhempas ditendang oleh seseorang hingga menabrak kursi dan tersungkur ke lantai.


Bruuk...


Bagas dan Bunga seketika menengok ke arah sosok yang menendang tubuh Ilham, mereka kaget saat melihat orang itu. Sedangkan Ilham malah menatap orang itu dengan tatapan murka,karena sudah berani menyakiti dirinya.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2