Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Jangan Gugup


__ADS_3

Happy reading.....


Setelah sampai di apartemen, wanita itu langsung membuka sabuk pengaman nya lalu dia berbalik ke arah Riko. "Terima kasih ya, sudah mengantarkan ku pulang. Kalau gitu aku turun dulu," ujar Tina sambil membuka pintu mobil lalu, keluar dari mobil Riko dan masuk ke dalam apartemen.


Riko menatap kepergian Tina dalam diam, kemudian dia menghela nafasnya. Entah kenapa, Riko tidak pernah berani jika harus bertanya kepada seorang perempuan. Padahal di dalam mobil, tadi Riko ingin sekali bertanya kepada Tina, tapi entah kenapa dia malah tidak mempunyai nyali sama sekali.


*********


Saat ini, Bunga sedang merasakan mual akibat kehamilannya. Padahal selama ini tidak pernah dia merasakan hal itu, tetapi entah kenapa pagi ini bunga merasakan perutnya seperti dikocok, sehingga susu yang baru saja dia minum di muntah kan kembali.


Bagas pun dengan peralahan mengurut belakang leher Bunga. Lalu, memberikannya minyak angin. Walau bagaimanapun, Bagas sudah pengalaman saat almarhumah istrinya mengandung Aurora, dan sedikit banyaknya Bagas sudah tahu apa yang harus dilakukannya.


''Sudah jauh lebih baik, Sayang?'' tanya Bagas sambil menuntun Bunga untuk duduk di tepi ranjang.


''Iya Mas, sudah jauh lebih baik. Entah kenapa, pagi ini kok aku mual ya? Biasanya, tidak pernah aku mual-mual seperti ini?'' heran Bunga sambil memegangi perutnya.


Badannya terasa begitu lemas, karena sudah 2 jam lamanya Bunga terus aja mual-mual. Dan itu, membuat Bagas merasa kasihan dan juga khawatir. Walaupun dia sudah tahu jika itu kebiasaannya ibu hamil, tetapi tetap saja rasa khawatir tidak bisa dihilangkan dari Bagas.


''Lalu, kamu mau makan apa, Sayang?'' tanya Bagas sambil mengusap lembut kepala Bunga yang sedang bersandar di sandaran ranjang dengan berasangga bantal.

__ADS_1


Bagas sangat tahu, jika pasti wanita hamil setelah mual itu, akan menginginkan sesuatu. Entah itu yang asam-asam atau yang manis-manis. Dan itu kenapa, Bagas bertanya kepada Bunga, tentang apa yang istrinya mau. Dan Bunga yang mendengar itu, tentu saja sangat antusias. Karena saat ini lidah dia sedang pahit dan dia ingin makan yang asam-asam.


''Kita beli manisan mangga yuk, Mas. Kayaknya lidah aku ini, pengen yang asam-asam deh,'' pinta Bunga kepada Bagas. Dan pria itu pun langsung mengangguk-kan kepalanya. ''Baiklah, kalau gitu aku keluar dulu untuk mencari manisan nya ya,'' ujar Bagas. Namun Bunga segera menggeleng.


''Tidak mau! Aku mau kita berdua yang beli. Aku juga ingin membelinya,'' pinta Bunga dengan wajah memelas. ''Tapi, kamu masih lemah, Sayang? Apa tidak apa-apa, jika kamu ikut?'' Bagas terlihat begitu khawatir saat melihat wajah pucat Bunga. Namun wanita itu ngotot ingin ikut bersama Bagas untuk mencari manisan mangga.


Akhirnya mau tidak mau, Bagas pun mengajak Bunga untuk pergi membeli manisan. Dan saat mereka sampai di bawah, ternyata ada Ardi dan Tina yang sedang duduk di ruang tamu.


''Eh, ada kamu Tin? Kamu kok kesini nggak ngabarin aku?'' tanya Bunga pada sahabatnya itu, sambil memeluk tubuh Tina sejenak.


''Iya, soalnya perusahaan kita 'kan, bekerjasama dengan perusahaannya Ardi? Karena sekarang lo lagi hamil, dan gue yang urus perusahaan. So, gue yang diskusi sama Ardi,'' jelas Tina. ''Tapi tunggu deh, lo mau ke mana? Wajah lo juga pucat banget?'' Tina menatap Bunga dengan raut wajah yang begitu khawatir.


''Itu, Bunga dari pagi terus muntah-muntah, biasalah kalau ibu hamil. Dan dia minta manisan mangga, makanya saya mau mengajak dia untuk membeli manisan mangga,'' jawab Bagas mewakili Bunga.


Setelah mencari-cari selama 30 menit, dan melihat-lihat setiap penjual kaki lima. Akhirnya, Bunga dan Bagas mendapatkan manisan yang mereka cari. Bahkan, Bagas memborong semua manisan itu dan akan menaruh nya di dalam kulkas.


*********


Tidak terasa, malam yang ditunggu-tunggu Ardi dan juga Mentari pun telah tiba. Di mana pesta dari teman Ardi akan dilangsungkan, dan saat ini Ardi baru saja sampai di depan sebuah salon, di mana Mentari saat ini tengah di make-up dan didandani oleh temannya.

__ADS_1


Mentari keluar dengan gaun berwarna hijau tosca, selutut tanpa lengan dengan tali yang tipis di bagian pundak. Ardi yang melihat itu sampai ternganga, dia tidak menyangka jika Mentari sangatlah cantik. Bahkan, Ardi seperti melihat seorang Bidadari yang baru saja turun dari Khayangan.


Mata Ardi terus aja menatap kearah Mentari tanpa berkedip sedikitpun. Astrid yang melihat itu,.seketika menutup mulut Ardi sambil terkekeh kecil. Kebetulan, Astrid yang mendandani Mentari atas permintaan Ardi.


''Bagaimana, cantikan? Tutup mulutmu itu, tidak usah sampai menganga. Jika nanti laler masuk, aku tidak bertanggung jawab,'' kekeh Astrid, dan disusul kekehan Mentari.


''Iya, sangat cantik. Bahkan aku seperti melihat bidadari yang baru saja turun dari khayangan,'' puji Ardi menatap kagum ke arah Mentari. Dan membuat gadis itu tersipu malu sambil menundukkan kepalanya.


''Jangan memuji seperti itu Kak,'' kata Mentari dengan lirih.


''Ya sudah, kita berangkat sekarang yuk!'' Ardi menggenggan tangan Mentari, lalu mereka pun masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan salon milik Astrid. Di dalam mobil, hanya ada keheningan antara mereka berdua. Sebab, Mentari sangat gugup berada di dekat Ardi, apalagi dengan pakaiannya yang terbuka.


Jujur saja, Mentari tidak pernah berpakaian seperti itu. Jangankan untuk berpakaian dan berdandan seperti sekarang, baju yang Mentari pakai sekarang pun, sangat mahal. Dan untuk membelinya, mungkin Mentari akan membutuhkan waktu 1 tahun untuk bekerja.


Eekhm! Ardi berdehem untuk menarik perhatian Mentari. Namun gadis itu masih fokus menatap jalanan sambil menggigit bibir bawahnya. Jantung Mentari bahkan sudah berdetak dengan kencang, apalagi melihat Ardi yang begitu tampan malam ini, seperti seorang Pangeran yang sedang menjemput dirinya dengan kuda sembrani.


''Kak, nanti disana jangan jauh-jauh ya! Soalnya, aku belum pernah pergi ke pesta seperti itu, dan aku juga belum pernah datang ke tempat orang-orang kaya,'' ucap Mentari dengan gugup. Karena dia memang saat ini sedikit nervous.


Dia sangat yakin, jika teman-teman Ardi adalah dari kalangan atas. Tentu saja Mentari sangat gugup, dan Ardi yang melihat itu pun segera menggenggam tangan Mentari saat mobil berhenti di lampu merah. Dia menatap kedua mata indah gadis itu.

__ADS_1


''Tidak usah gugup! Aku akan ada disisimu. Tenang saja, teman-temanku tidak menggigit kok. Mereka bukan vampire!'' Arti mencoba mencairkan suasana, agar Mentari tidak terlalu tegang. Hingga tidak terasa, mobil pun sampai di sebuah restoran yang sudah disewa oleh temannya Ardi untuk merayakan pesta.


Bersambung........


__ADS_2