
Happy reading......
Wanita itu mengangkat wajahnya saat mendengar suara Ardi. Seketika keduanya sama-sama terdiam dengan wajah yang kaget. Bagaimana tidak? Wanita yang sejak tadi menangis itu adalah Mentari, dan Ardi yang melihat itu pun segera duduk di sebelah Mentari.
"Kamu kenapa? Kok menangis? Di tempat sepi lagi. Aku pikir, tadi kamu tuh miss kunkun, tapi ternyata bukan," ucap Ardi memecah keheningan.
Mentari menghapus air matanya, lalu dia pun tersenyum ke arah Ardi, kemudian menatap kembali ke arah depan. Mentari tidak tahu, apakah dia harus menceritakan masalahnya kepada Ardi atau tidak. Pasalnya, Ardi sudah banyak membantunya dan membantu proses pemakaman sang nenek. Walaupun baru satu kali mereka bertemu, namun Ardi begitu baik.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya rindu pada nenek saja," bohong Mentari sambil menahan isak tangisnya. Namun bukan Ardi namanya, jika dia gampang untuk dibohongi.
"Jangan berbohong! Aku tahu, kamu bukan merindukan nenekmu, tapi ada hal lain kan? Tidak apa-apa, jika kamu memang butuh teman cerita maka bahuku terbuka lebar untukmu. Silahkan menangis sepuasnya, dan jika kamu ingin membutuhkan teman untuk berkeluh kesah, silahkan cerita kepadaku. Aku akan mendengarkannya dengan senang hati," jelas Ardi sambil menepuk bahunya.
Mentari yang mendengar dan melihat itu pun sangat terharu, kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahu Ardi dan menangis tersedu-sedu. Ardi hanya membiarkan Mentari Menangis tanpa mengucapkan satu kata patah pun, karena Ardi ingin memberikan peluang kepada Mentari untuk mengeluarkan semua unek-unek dan rasa sesak yang ada di dadanya.
Mendengar tangisan Mentari, Ardi merasakan rasa sesak dan juga sakitnya yang ada di dalam dada dan hatinya saat ini, terwakilkan oleh tangis wanita itu. Sebab saat ini Ardi pun tidak sedang baik-baik saja. Dia pun sama hancurnya, tapi karena Ardi laki-laki, dia gengsi untuk menangis dan hanya bisa menyimpan rasa sakit itu di dalam hati.
Setelah beberapa menit, tangis Mentari pun merenda. Kemudian dia mengangkat kembali kepalanya dari bahu Ardi, lalu Ardi menyerahkan sapu tangannya kepada Mentari. Kemudian Gadis itu langsung mengusap air matanya dengan sapu tangan yang diberikan oleh Ardi.
"Terima kasih," ucap Mentari, dan langsung dibalas anggukan oleh Ardi.
"Sudah lebih baik?" tanya Ardi. Mentari pun mengangguk. "Iya, terima kasih ya sudah memberikan bahu kamu sebentar untukku. Dan maaf, bajunya basah gara-gara tadi aku menangis." Mentari berucap dengan nada tidak enak, sebab dia melihat separuh baju di bagian pundak Ardi basah oleh air matanya.
"Tidak apa-apa, lagian nanti bisa dicuci kok. Lalu, kenapa kamu menangis di tempat sepi seperti ini?" tanya Ardi yang masih penasaran, karena melihat Mentari menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Wanita itu pun menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian dia menatap ke arah danau yang ada di hadapannya. Lalu menceritakan masalahnya kepada Ardi.
"Bagaimana aku tidak sedih? Aku baru saja dipecat dari pekerjaanku,.karena aku difitnah. Aku dituduh mengambil uang, padahal aku tidak pernah melakukan itu. Aku pun tidak tahu, kenapa uang itu ada di dalam tasku. Padahal, sumpah demi Allah, aku tidak mengambil uang itu. Jangankan untuk mengambil, untuk berpikir melakukan hal seperti itu saja tidak pernah terlintas dalam benakku. Namun, gara-gara masalah itu, aku harus kehilangan pekerjaan. Sedangkan aku tidak tahu, harus mencari pekerjaan ke mana lagi?" ucap Mentari dengan air mata yang sudah kembali jatuh.
Ardi sekarang paham, kenapa Mentari sampai menangis tersedu-sedu. Dia pun mengusap pundak wanita itu dengan lembut. "Sabar ya! Terkadang manusia memang dibutakan oleh nafsu dunia. Dibutakan oleh hati iri dan dengki. Mereka terkadang membenci seseorang, karena hati mereka telah kotor, tapi percayalah, mungkin saja Tuhan telah menyiapkan yang terbaik untuk kamu. Dan mungkin saja, memang itu belum rezeki kamu. Mungkin juga, jika aku jadi Bosnya, aku akan menyelidiki dulu tentang pencurian itu. Apakah kamu pelakunya atau bukan? Karena bukti terkadang bisa dimanipulasi," jelas Ardi mencoba memberi pengertian kepada Mentari.
Mendengar ucapan Ardi, Mentari sedikit lega. Dia membenarkan apa yang diucapkan oleh pria yang ada di sampingnya itu. "Terima kasih ya, Tuan. Anda benar, mungkin memang rezeki saya belum di situ. Saya harus mencari pekerjaan lain," ujar Mentari dengan wajah yang lesu.
"Tidak masalah, memangnya kamu ingin mencari kerjaan apa?" tanya Ardi berbasa-basi. Namun Mentari mengangkat kedua bahunya dengan acuh. "Aku tidak tahu, Tuan. Aku akan mencari pekerjaan apa saja. Yang penting pekerjaan itu halal, maka aku akan menjalankannya."
Ardi terdiam sejenak, kemudian dia menawarkan Mentari untuk kerja di salah satu cafenya yang ada di kota Jakarta. Karena kebetulan,.Ardi mempunyai cafe yang cukup terkenal di kota itu, dan mentari yang mendengar itu pun tentu saja sangat bahagia. Dia langsung menyetujui untuk bekerja di cafenya Ardi
"Baiklah, kalau begitu ini alamat cafe ku. Besok kamu datang saja ke sana, dan langsung bekerja, jika kamu mau. Kalau gitu, aku pergi dulu. Soalnya masih ada kerjaan yang harus aku urus," ucap Ardi sebelum pergi dan memberikan kartu nama serta alamat di mana Mentari besok harus bekerja.
**********
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam, dan Bunga baru saja selesai melaksanakan resepsi pernikahannya dan juga Bagas. Dia masuk ke dalam kamar dengan badan yang lelah, kemudian Bunga melepas satu persatu aksesoris yang ada di kepalanya. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi, membuka gaunnya dan berendam di dalam bathtub.
Setelah 30 menit, Bunga pun keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah handuk. Lalu, Bunga menuju lemari untuk mengambil baju tidurnya. Namun, seketika sebuah tangan melingkar di perut Bunga, dan tentu saja membuat wanita itu terkejut.
"Rupanya istriku ini sudah wangi. Kamu sudah siap ya dengan malam ini?" goda Bagas sambil mengendus leher Bunga.
Bunga tentu saja merasa geli, saat merasakan hembusan hangat nafas Bagas di lehernya.
__ADS_1
Mendengar ucapan suaminya, Bunga langsung mencubit pinggang Bagas dengan gemas. Hingga membuat pria itu meringis kesakitan. Kemudian, Bunga menatap pria yang ada di hadapannya melalui pantulan cermin. "Dasar suami messum, sana mandi dulu. Bau keringat tahu," ucap Bunga sambil mengusap rambut Bagas dari samping.
"Lebih baik jangan mandi saja. Toh, nanti juga akan mandi lagi? Lalu, akan berapa ronde malam ini?" Bagas masih terus menggoda Bunga, hingga membuat wajah wanita itu merah merona menahan malu.
"Iissh, udah sana mandi dulu. Nanti baru bicarain berapa rondenya, sekuatnya aja. Udah sana mandi!" Bunga pun mendorong tubuh Bagas untuk masuk ke dalam kamar mandi, karena dia sudah tidak kuat jika harus terus digoda oleh suami nackalnya itu,
Saat pintu kamar mandi tertutup, Bunga langsung mengusap dadanya. Kemudian dia menepuk-nepuk wajahnya dengan pelan, karena Bunga merasakan wajahnya seketika menjadi panas karena godaan dari Bagas.
"Sayang, jangan lupa ya kita main 20 ronde." Bagas kembali menggoda Bunga, dan memunculkan wajahnya di balik pintu. Setelah mengatakan itu Bagas kembali masuk ke dalam kamar mandi sambil terkekeh kecil, karena melihat wajah Bunga yang merah.
"Dasar, Pak duda nakal," gerutu Bunga sambil menggelengkan kepalanya.
Dia tidak habis pikir, ternyata Bagas jika sudah menjadi suaminya benar-benar sangat nakal. Sehingga sejak tadi di pelaminan pun Bagas tidak henti-hentinya menggoda dirinya, membisikan sesuatu yang nackal terus-menerus di telinga Bunga. Hingga membuat wanita itu menahan rasa panas di pipinya karena terus digoda oleh Bagas.
Sejujurnya Bunga juga sangat deg-degan, jantungnya terus berdebar dengan kuat, karena membayangkan malam ini, di mana akan menjadi saksi penyatuan cinta mereka. Walau pun Bunga sudah pernah melakukan itu, bahkan sering bersama dengan mantan suaminya, yaitu Ilham. Dan Bagas pun juga sudah berpengalaman, tetapi tetap saja itu membuat jantung Bunga tidak bisa dikondisikan. Dia benar-benar gugup saat ini.
"Aduh jantung, please deh, jangan berdebar terus. Nanti kalau Mas Bagasnya denger gimana? Kan aku malu. Lagian, ini bukan pertama kalinya kamu melakukan ini Bunga. Jadi rileks Bunga, rileks." Bunga terus bermonolog sambil mengusap dadanya agar berhenti berdetak dengan kencang.
Tidak bisa Bunga pungkiri, jika saat ini dia memang sedikit nervous. Karena ini adalah malam pertama dia dengan Bagas. Bahkan, keringat pun sudah menetes dari dahi Bunga, karena kegugupannya. Namun, setelah beberapa menit, Bunga langsung memakai pakaian yang seharusnya dia kenakan di depan suaminya nanti. Setelah itu, Bunga merias wajahnya untuk melayani suaminya dengan istimewa.
Bersambung....
Haduuh otaku mulai traveling🤣🤣🤣
__ADS_1