
Setiap rumah tangga, pasti ada ujiannya.
.................................................................................
Seminggu sejak kepulangan Bagas dari luar kota. Bagas benar-benar memotong uang bulanan Nadin, bahkan dia juga meminjam uang Nadin untuk menambahi pesangon pada kariyawan yang di PHK dari perusahaannya.
Namun tak ada perubahan besar dalam gaya hidup mereka yang dari awal sudah terbiasa hidup sederhana.
Ini hari Minggu, hari bersantai dan berkumpul dengan keluarga bagi pekerja kantoran. Sama halnya dengan Bagas, hari ini ia ingin menemani sang istri untuk mengecek swalayannya, kemudian menghabiskan waktu bersama.
"Ayo mas..."
"Ia sayang..."
"Mbok kami pergi dulu ya..." pamit Nadin
"Ia ia silahkan, hati-hati di jalan..."
"Siap mbok, Assalamu'alaikum..."
"Wa'alikusalam...."
Kedua melangkahkan kaki menuju mobil.
Sebenarnya Bagas menyuruh mbok Jum untuk berhenti bekerja sementara, namun beliau tak mau, beliau merasa kasihan denagn Nadin yang tengah berbadan dua, hingga beliau tetap mau bekerja di keluarga ini walupun tanpa di gaji.
Bagas dan Nadin sudah berada di mobil.
"Berdo'a dulu mas...."
"Ia sayang..."
Mereka membaca do'a naik kendaran darat sebelum mobil berjalan.
"Ok, les't go..."
"Siap...."
Bagas mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Setelah dari swalayan mau kemana mas?"
"Sayang maunya kemana?"
"Ke pantai, nanti di sana kita naik ombak asmara, mau ga mas?"
"Ia sayang apasih yang ga buat kamu..."
"Hemm, gombal...."
"Beneran loh sayang..."
"Ia deh ia..."
Tak terasa mereka sudah sampai di depan swalayan milik Nadin.
Bagas segera memarkirkan mobilnya, lalu keduanya pun turun.
Nadin segera menggandeng tangan sang suami, kemudian keduanya berjalan masuk.
"Pagi bu, pak bos..."
"Pagi, mba Dian nya mana?" tanya Nadin
"Ada di atas bu..."
"Oh ya sudah saya langsung ke atas ya..."
"Ia bu monggo..."
"Ayo mas..."
"Ia sayang..."
....................................................
"Pagi semua......" sapa Nadin setelah samapi di lantai tiga
"Pagi.... " jawab semua yang ada disitu
"Eh, Nadin...." ucap mba Dian
"Hai mba...."
"Duh kenapa ga panggil mba aja sih Din, biar mba yang kebawah?"
"Ga papa, santai aja mba, udah banyak yang abis ya mba?"
__ADS_1
"Ia Din alhamdulillah, sekarang pembelinya meningkat...."
"Alhamdulillah, udah pesen lagi kan?"
"Udah sih, tapi untuk baju sama celana belum....."
"Loh kenapa?"
"Sekarang yang di tempat biasa kualitas jahitannya menurun, banyak pelanggan yang protes....."
"Sayang duduk...." memberikan kursi
"Makasih mas..."
"Sama-sama..."
"Duh so swet nya pak bos ama bu bos, jadi iri nih...." ucap Nanda
"Ye, kerja dulu yang bener, baru mikirin nikah" ucap mba Dian
"Aku mah walaupun belum sukses, kalo jodohnya udah ada kenapa ga, ya ga mba Nadin, materi kan bisa kita cari sama-sama"
"Yap, betul, tapi ingat hidup itu pilihan dan setiap pilihan ada konsekuensi..."
"Ia bu bos, aku paham..."
"Ini mau ngomongin masalah swalayan apa jodoh nih?" sewot mba Dian
"Dih ada yang sewot tuh..."
"Jangn gitu Nda, mba Dian lebih tua dari kamu loh..."
"Hehehe, maafin Nanda ya mba Dian..."
"Hem...."
"Tadi gimana mba?"
"Itu bayak yang protes kualitas jahitannya menurun..."
"Mba ada kenalan orang yang bisa jahit gitu?"
"Tetangga ku ada mba, dia punya suami dan anak satu, tapi suaminya ga mau kerja, jadi hidup sehari-hari nya ngandelin uang jahitan dia mba, mana dia nya sedang berbadan dua lagi..." ucap Nanda dengan menggebu gebu
"Bisa buat baju kan?" tanya Nadin
"Ok nanti kamu coba pesen ke orangnya lima baju gamis ya, modelnya terserah dia terus untuk ukuran L ya..."
"Siap mba, tapi mba biasanya ada uang mukanya dulu, minimal buat beli bahan..."
"Oh ok, mba Dian tolong ambilin uangnya ya..."
"Siap Din, berapa?"
"2 Juta cukup kali ya..."
"Ok deh..."
Mba Dian berlalu, dia masuk ke sebuah ruangan khusus, hanya orang tertentu yang di perbolehkan masuk ruangan itu.
"Eamang kenapa Nda, ko suaminya ga kerja?"
"Pilih-pilih pekerjaan mba, padahal mah banyak yang nawarin kerjaan, tapi dianya ga mau, kalaupun mau dia hanya ngmbil kerjaan yang ringan tapi uapahnya besar..."
Mendengar cerita itu, Nadin menjadi ingat dengan sang mantan suami yang tak mau bekerja sama sekali.
"Hem kasihan, anaknya udah sekolah apa belum?"
"Udah mba kelas 1 SD, udah gitu ya mba, ayahnya si 'penjahit' itu terkena struk....."
"Terus sehari-hari nya gimana?"
"Ya mereka ngejualin tanah warisan, bahkan yang aku tau sekarang mereka udah ga punya tanah lagi buat di jual..."
"Innalilahiwainailaihirojingunn...."
"Ia mba kasihan kan, mirisnya lagi ya mba mereka juga ga dapet bantuan apa-apa dari pemerintah...."
"Huh, semoga saja mau ya nerima tawaran dari saya...."
"Pasti mau mba...."
"Din, ini..."
"Nanda nati tolong bilangin ya..."
"Siap mba...."
__ADS_1
"Ya udah saya mau meeting dulu sama mba Dian..."
"Siap...."
"Mas, aku sama mba Dian ke ruangan itu dulu ya...." menunjuk ruangan khusus
"Ia sayang......"
"Ayo mba...."
"Ayo..."
Nadin dan mba Dian masuk ke ruangan khusus, lalu mereka berdua duduk bersebrangan.
"Ini Din laporan bulanannya...."
"Makasih mba...."
Nadin meneliti satu persatu laporan bulanan itu.
"Ini beneran ada sembako yang ilang setiap bulannya?"
"Ia Din..."
"Pelakunya udah ketauan?"
"Udah..."
"Siapa?"
"Kamu yakin pengin tau?"
"Kenapa ngga?"
"Hem, jangan kaget ya...."
"Ok..."
"Pengemis perempuan tua yang ada di depan swalayan...."
"Kenapa ga di kasih aja sekalian?"
"Dia meolak jika di kasih, biasanya dia akan mengambil sembako jika keadaan ramai pengunjung, karna saat itu anak-anak akan lengah...."
"Oh ya sudah ga papa..."
Memang benar, biasanya jika sudah memasuki jam 9 pagi akan ada seorang pengemis perempuan tua yang badannya penuh dengan cacar air duduk di tangga depan swalayan ini.
Namun Nadin baru kali ini tau bahwa ia selalu mengambil sembakonya. Ya mungkin memang itu adalah rezek pengemis itu yang di titipkan Alloh pada Nadin, karena memang rejejik yang kita punya ada hak orang lain.
"Biarkan saja ya mba Dian..."
"Ia Din, pernah waktu itu ketahuan oleh Rehan dan Rehan memarahinya habis habisan, hingga beberapa minggu kemudian ia tak pernah muncul..." jeda
"Tapi udah aku tegur ko Rehannya..."
"Makin sayang aku ke mba...."
"Hemm...."
"Makasih ya mba, udah mau Nadin repotin...."
"Ngga ngerasa di repotin ko, kan aku di gaji, hehe....."
"Tapi amanah yang aku berikan berat loh, tapi aku salut sama mba, karena mba mampu menjaga amanahku, dan mba selalu jujur, tak tergoda oleh waktu dan kesempatan...."
"Hem, kadang emang ada keinginan untuk 'ngambil' namun hati selalu menolak...."
"Makasih banyak mba...." memeluk mba Dian
"Sama-sama...."
"Aku do'ain semoga mba cepat dapat jodoh..." melepas pelukannya
"Amin...."
Bersambung.....
..........................................................................
Hai hai, para pembaca setia....
Makasih banyak ya yang udah nunggui up nya 'otor' yang ga jelas ini
Semoga kalian selalu dalam keadaan baik ya, sekain dari 'otor' gaje
Ayo dong gaes baca juga ceritaku yang berjudul 'Kisah Cinta Zahra' !!!
__ADS_1