Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Tak Mau Egois


__ADS_3

Happy reading.....


Mobil Ardi baru sampai di rumah Mentari, dan Tina sangat kaget saat melihat rumah peninggalan Nenek, Mentari. Dia tidak menyangka, jika hidup Mentari sangatlah susah. Tina pikir, Mentari terlahir dari keluarga yang kaya, tetapi ternyata dia salah.


Seketika rasa bersalah mendera di hati Tina, karena dia berpikir jika Mentari adalah saingan yang begitu berat,btetapi ternyata dia salah. Mentari bahkan jauh di bawah dirinya.


''Terima kasih ya Tuan, karena anda sudah mau mengundang dan juga mengantar saya pulang. Jika begitu, saya turun dulu. Terima kasih untuk tumpangnya, assalamualaikum,'' ucap Mentari sambil turun dari mobil dan menuju ke rumahnya.


''Wa'alikumussalam,'' jawab Tina dan Ardi bersamaan.


Ardi yang melihat Mentari turun dari mobil pun, seketika membuka pintu mobil, lalu dia menyusul Mentari, dan Tina hanya memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu.


''Mentari tunggu!'' panggil Ardi menghentikan langkah gadis 20 tahun itu, saat akan memasuki rumah gubuk nya.


''Iya Tuan, apa ada yang tertinggal?'' tanya Mentari sambil menatap kearah Ardi.1


Pria itu berjalan mendekat ke arah Mentari, lalu dia berdiri di hadapan gadis itu. ''Tidak ada yang tertingga. Hanya saja, apa aku boleh bilang sesuatu?'' tanya Ardi dan langsung dibalas anggukan oleh wanita itu. ''Tentu saja, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?'' tanya Mentari.


''Apakah kamu akan tetap tinggal di sini? Sebenarnya, saya ingin menyewakan satu rumah kontrakan untuk kamu,nkarena saya merasa di sini tempatnya tidak layak. Jika kamu tidak keberatan, saya bisa--''

__ADS_1


''Maaf Tuan, saya tidak bisa. Saya tidak ingin merepotkan siapapun, termasuk Tuan. Tuan Ardi, sudah banyak membantu saya selama ini. Jadi, saya tidak ingin merepotkan Tuan kembali. Insya Allah, saya di sini baik-baik saja kok, Tuan. Lagi pula, tempat ini juga sangat nyaman untuk saya. Karena, tempat ini adalah peninggalan dari almarhumah nenek saya, Tuan. Dan saya tidak mau meninggalkan tempat ini.''


Mentari memotong ucapan Ardi, saat mendengar Pria itu akan menyewakan rumah kontrakan untuk dirinya. Tentu saja Mentari tidak mau, dia tidak ingin berhutang budi kepada siapapun. Apalagi kepada Ardi, karena Mentari tahu sudah banyak pengorbanan dan juga bantuan yang Ardi berikan kepadanya, dan Mentari tidak ingin jika terus-menerus merepotkan Pria tampan itu.


''Baiklah, aku pun tidak bisa memaksa, tetapi jika kamu butuh apa-apa, jangan sungkan kepadaku oke?'' jelas Ardi kepada Mentari, dan wanita itu pun mengangguk kan kepalanya. ''Baik Tuan,'' jawab Mentari dengan singkat.


Setelah itu Ardi melangkah pergi meninggalkan Mentari dan masuk ke dalam mobil, tetapi entah kenapa, Ardi merasa tidak ingin jauh dari gadis itu. Dia merasakan ingin selalu dekat dengan Mentari, entah Ardi pun tidak tahu. Padahal, selama ini dia belum bisa membuka hatinya untuk wanita lain.


Sedangkan Tina, di dalam mobil terus memperhatikan gerak-gerik Ardi dan juga Mentari. Dia sebenarnya ingin menyusul Ardi, dia ingin tahu apa yang dibicarakan Pria itu kepada Mentari, saat melihat mereka mengobrol, tetapi Tina menahan dirinya.


''Tidak Tina! Jangan lakukan itu. Lagi pula, jika memang kamu mencintai Ardi, kamu menyukai Ardi. Apa Ardi mau dengan kamu yang hanya seorang janda? Ardi adalah seorang bujang, dan kamu ini apa? Tidak Tina! Biarkan Ardi bahagia bersama Mentari, jika pun jodoh, maka tidak akan kemana. Aku percaya, Allah sudah menyiapkan jodohku, entah dengan siapapun itu?'' gumam Tina dengan wajah lesu.


Tina menghela nafasnya dengan kasar, dia mencoba menetralisir perasaannya saat ini. Karena Tina tahu, saat ini dia sedang Jealous, melihat kebersamaan Mentari dan juga Ardi. Apalagi, Ardi begitu peduli kepada Mentari, daan itu membuat Tina tidak suka, tapi rasa ketidak sukanya harus bisa Tina kendalikan. Karena dia tidak ingin menjadi orang yang egois dan juga jahat.


********


Pagi ini Bunga sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya. Walaupun Mama Ranti sudah melarang Bunga, tetapi wanita itu memaksa. Karena Bunga adalah seorang istri, dan tugas istri adalah melayani suaminya.


''Mah, hari ini 'kan Aurora libur sekolah? Mama temani Aurora yah ke taman? Aurora ingin sekali jalan-jalan ke taman,'' pinta Aurora kepada Bunga.

__ADS_1


Bunga pun mengusap rambut Aurora dengan lembut. ''Baiklah, nanti setelah sarapan kita ke taman ya jalan-jalan, Mama juga suntuk nih di rumah terus,'' jawab Bunga sambil duduk di samping Aurora, lalu memotong roti yang ada di atas piring untuk gadis itu.


Tak lama Bagas turun dari lantai atas menuju ke ruang makan, kemudian dia mengecup kening Bunga lalu kening Aurora bergantian. Lalu, kedua wanita itu gantian mengecup pipi Bagas kiri dan kanan.


Pemandangan harmonis itu selalu tersaji setiap pagi di meja makan. Karena Bagas ingin menanamkan rasa kasih sayang di hati aurora kepada orang tuanya, apalagi kepada Bunga. Walaupun Bunga bukan ibu kandung Aurora, tetapi dia ingin membuat Aurora menyayangi Bunga, dan menganggap Bunga selayaknya ibu kandung sendiri.


Bagas juga ingin menerapkan keharmonisan di dalam rumah tangganya, agar rumah tangga dia dan Bunga langgeng sampai kakek dan nenek.


''Papa, aku sama Mama izin untuk ke taman ya, setelah sarapan? Papa ikut nggak?'' tanya Aurora sambil memakan roti nya.


''Kayaknya Papa ngga bisa ikut deh, tapi nanti ditemenin sama Oma ya! Soalnya, Papa ada meeting 30 menit lagi. Jadi, Papa nggak bisa ikut kalian, tapi nanti siang kita makan di restoran ya? Nanti akan dijemput sama Om Riko, bagaimana?'' tanya Bagas kepada Putrinya.


''Baiklah Papah, aku sama Mama saja pergi ke tamannya, bersama dengan Omah juga. Papa kerja saja, tidak usah mengurus aku dan juga Mama! Kami bisa sendiri kok,'' rajuk Aurora sambil mengerutkan bibirnya.


Bagas tahu jika Putri kecilnya itu tengah merajuk, kemudian dia pun mengusap rambut Aurora dengan gemas. "Maafkan Papa, Sayang. Kamu harus mengerti, Papa bekerja juga untuk kamu, Mama dan juga calon Dede bayi. Jadi, kalau Papa nggak kerja, nanti gimana kita belanja keperluan Dede bayinya? Papa janji, nanti siang kita jalan-jalan ke Mall, beli boneka kesukaan kamu, bagaimana?'' Bagas mencoba membujuk Aurora, dan berhasil. Gadis itu langsung berbinar bahagia dan mengangguk-kan kepalanya dengan senang.


Sesuai dengan ucapan Bunga, setelah sarapan mereka pun pergi ke taman untuk jalan-jalan bersama dengan Aurora dan juga Mama Ranti. Mereka berjalan santai mengelilingi taman kota, tapi saat Bunga menatap kearah seberang jalan, dia tidak sengaja melihat seorang gadis yang tengah hamil besar.


''Loh, dia kan ...'' Bunga nampak berpikir saat melihat gadis itu.

__ADS_1


Lalu, langkahnya berbelok mengarah ke tempat dimana gadis itu sedang duduk dan menyandarkan badannya di bawah pohon yang besar. Aurora dan juga Mama Ranti yang melihat Bunga berbelok pun, mengikuti langkah wanita hamil itu dengan dahi mengkerut.


Bersambung......


__ADS_2