Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Marahlah Pada Papi, Nak.


__ADS_3

Happy reading......


Tubuh Bunga terasa begitu kaku, jantungnya berdebar keras, matanya mulai mengembun, hingga jika Bunga berkedip satu kali saja, maka air matanya pasti akan jatuh membasahi pipi.


Pria itu menatap Bunga dengan tatapan begitu penuh kerinduan, pria itu pun berjalan menghampiri Bunga dan melewati Bi Saidah begitu saja.


Melihat pria itu semakin mendekat Bunga ingin sekali lari dari sana. Tetapi entah kenapa kakinya terasa begitu berat untuk digerakkan, hanya ada rasa sesak di dadanya. Dan benar saja, air mata itu telah lolos dari kedua mata Bunga bahkan tidak berhenti sama sekali.


Saat sudah di hadapan Bunga, pria itu pun segera memeluk tubuh Bunga dengan erat. Menuangkan semua rasa yang selama ini dia pendam, dan Bunga mendapatkan pelukan seperti itu menangis tersedu-sedu, dadanya benar-benar begitu sesak. Bunga merasa pasokan udaranya begitu sedikit, sehingga dia sangat sulit untuk mengambil nafas.


Pria itu pun menangis, yang selama ini terlihat kuat dan tegar kali ini dia benar-benar menangis saat memeluk Bunga. "Anak Papi... Anak Papi," ucap pria itu berulang-ulang sambil mengecup pucuk kepala Bunga beberapa kali.


Tangis Bunga semakin pecah saat pucuk kepalanya dicium oleh pria itu, suaranya tercekat di tenggorokan. Bunga bahkan tidak bisa berkata apapun karena pelukan itu yang selama ini dia rindukan, pelukan yang selama ini sudah 5 tahun tidak Bunga rasakan, pelukan yang selama 5 tahun itu pula terasa begitu dingin.

__ADS_1


Pria itu pun melepaskan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Bunga, kemudian menghapus air mata itu dengan lembut. "Papi sangat merindukanmu Sayang. Apa kau tidak merindukan Papi?" tanya pria itu dengan suara yang serak, bahkan hampir hilang tertelan oleh isak tangis.


Bunga memejamkan matanya saat tangan kekar itu menghapus air matanya, dia tidak lagi mampu berkata-kata, suaranya bahkan tertahan di tenggorokan tidak bisa Bunga untuk mengeluarkannya.


"Apa sebegitu bencikah kamu kepada Papi, Nak? Sampai kamu tidak ingin pulang ke rumah? Apa sebegitu marahnya kamu kepada Papi? Apa sebegitu bencinya kamu kepada Papi, Nak?" ucap pria itu sambil terbata-bata karena isak tangis dan juga rasa sesak di dadanya Setelah sekian tahun dia menanti momen ini Menanti Di mana dia bisa memeluk mencium dan merangkul putrinya kembali.


Bunga yang mendengar itu pun malah menangis kembali,.bahkan kali ini dia menangis lebih sedih. "Pa-pi," ucap Bunga dengan nada terbata.


Mendengar namanya disebut, pria itu pun langsung memeluk tubuh Bunga dengan erat, bahkan seakan ia tidak ingin melepaskan pelukan itu. "Anak Papi, kebanggaan Papi, Putri Papi, bunga mawar Papi," ucap pria itu yang bernama Pak Frans.


Semua tentang Bunga Bi Saidah dan juga suaminya sudah mengetahui siapa Bunga sebenarnya, karena Bunga sudah mengatakan kepada mereka. Tapi hanya kepada mereka saja, tidak kepada siapapun termasuk Tina dan juga Ardi.


"Bunga, Pak, sebaiknya kita duduk di ruang tamu ya. Kita bicarakan ini baik-baik. Dan kamu Bunga, Bibi tahu ini berat buat kamu, tapi dia adalah Papimu, walau bagaimanapun dia adalah orang tuamu, Ayahmu yang membesarkan kamu Nak, yang mendidik kamu. Jadi bicarakan ini secara baik-baik ya! Kamu juga sudah dewasa, kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk hidup kamu" Bi Saidah mencoba memberi pengertian kepada Bunga agar mau membicarakan masalahnya bersama Papinya di ruang tamu.

__ADS_1


Bunga menghapus air matanya, kemudian mengangguk. Dia juga tidak mau egois, yang dikatakan Bi Saidah itu benar, jika dia memang harus membicarakan masalahnya dengan Papinya secara baik-baik. Sebab walau bagaimanapun pria yang ada di hadapannya kini adalah orang tua kandungnya.


Mereka pun berjalan ke arah ruang tamu, sedangkan Bi Saidah berjalan menuju kamar untuk memanggil suaminya. Bunga duduk di sofa di sebelah Papinya, bahkan sedari tadi wajahnya terus menunduk tidak berani menatap pria yang ada di sampingnya itu. Air matanya terus saja jatuh tanpa bisa Bunga cegah lagi.


Tak lama Bi Saidah datang bersama Pak Gandi. Mereka duduk di hadapan Bunga dan juga sang Papi, tapi sebelum itu Pak Gandi menyalami Pak Frans terlebih dahulu sebagai rasa hormat.


"Perkenalkan Pak, nama saya Gandi. Saya Pamannya Bunga," ucap Paman Gandi dan langsung dijawab uluran tangan oleh Pak Frans. "Saya Frans, saya Papinya Bunga."


Tatapan Pak Gandi teralih kepada Bunga yang terus saja menunduk. "Nak Kenapa kamu terus menunduk? Papimu ada di sini. Apa kamu tidak ingin memeluknya? Apa kamu tidak ingin mencurahkan semua isi hati kamu kepadanya? Bukankah selama ini kamu bilang pada Paman, jika kamu sangat merindukannya? Kamu ingin memeluknya, ingin menciumnya, ingin mencurahkan segala rasa sakit, sesak dan juga rasa kerinduan kamu kepadanya? Lalu kenapa kamu sekarang diam?" ucap Paman Gandi dengan nada yang lembut.


Bunga yang mendengar itu pun kembali terisak, sedangkan Pak Frans menahan sesak di dadanya saat mendengar ucapan Pak Gandi. Dia tidak menyangka jika putrinya selama ini begitu merindukannya, tapi betapa egoisnya dia sama sekali tidak mengerti dengan perasaan sang anak.


Bunga hanya menggeleng dengan lemah, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Dia ingin memeluknya, ingin mencium pria yang selama ini membesarkan dirinya, tapi entah kenapa begitu berat. Pak Frans yang melihat itu pun segera memeluk tubuh Bunga, mendekapnya dan mengusap punggung Bunga dengan lembut. Keduanya sama-sama terisak kembali, mengeluarkan semua rasa sesak di dalam dada.

__ADS_1


"Maafkan Papi, Sayang. Maafkan Papi... Kesalahan Papi kepadamu memang terlalu besar. Papi terlalu egois! Maafkan Papi. Kamu boleh menghukum Papi, kamu boleh marah sama Papi, kamu boleh mencaci Papi, kamu boleh mengatakan apapun, mengeluarkan semua unek-unek di dalam hati kamu. Marahlah kepada Papi, Nak! Marah lah!" ucap pria itu sambil memegang tangan Bunga lalu di pukulkan ke dadanya.


Bersambung. . ..........


__ADS_2