
Papah Putra memeluk Naila.
Naila menangis di pelukan sang ayah. Pelukan yang hangat, yang selalu di rindukannya selama dua taun kebelakang, telah kembali.
Memang selama dua tahun ke belakang, hubungan Naila dan ayahnya tak begitu dekat. Bahkan Naila terkesan menghindar jika bertatapan dengan sang ayah, entah apa alasannya, mamah Ais pun sempat di buat bingung dengan perubahan anak perempauannya ini.
"Maaf in Nai ya pah....."
"Papah sudah memaafkan mu jauh sebelum kamu minta maaf, papah do'ain kamu semoga istiqomah..."
"Amin..."
"Mamah ga boleh ikut pelukan nih?"
"Boleh dong mah, sini sini...."
Mereka bertiga pun berpelukan.
"Mamah seneng, kamu ga ngindar lagi kalo liat papah..."
"Papah ga cerita sama mamah?" mengernyitkan dahi
Papah Putra hanya nyengir.
"Engga, terkadang ada hal yang lebih baik kita ga tau...." jawab mamah Ais
"Apa pun itu, yang penting kamu udah mau berubah lebih baik lagi..." lanjut mamah Ais
Terkadang ada sesuatu yang sebaiknya kita ga tau, daripada kita tau akan menjadi beban pikiran dan bahan gosip pada akhirnya.
Dert dert dert
Mamah Ais segera mengambil ponsel di saku gamisnya, lalu ia memeriksa siapa yang menghubunginya.
Tut
"Halo, Assalamu'alaikum tante......"
"Wa'alikusalam, tumben jam segini telpon, pasti ada yang penting ya..."
"Hehehe, cuma mau tanya, emang siapa yang di rawat di rumah sakit?"
"Hah, ga ada yang sakit ko, emang kamu kata siapa ada yang masuk rumah sakit?"
"Tadi Bagas telpon, katanya besok aku di suruh nemuinnya di rumah sakit tan...."
"Apa jangan-jangan mba Nadin yang masuk rumah sakit?" tebak Naila, yang ikut mendengarkan percakapan itu
"Ga tau sih Na, mungkin aja, soalnya tadi aja Bagas telpon aku nya pake hp suster..."
"Udah dulu ya Nu, tante mau ke rumah sakit mastiin...."
"Ia tan, assalamu'alaikum....."
"Wa'alikumsalam...."
Tut, mamah Ais mematikan ponselnya.
"Ayo yah ke rumah sakit..."
"Ia mah, ayo..."
"Aku ikut..."
"Ya udah ayo..."
Mereka bertiga bersiap-siap ke rumah sakit.
................................................
Di ruangan serba putih dan aroma obat yang menyengat, seorang wanita dengan perut yang mulai membuncit mengerjap-ngerjapkan matanya.
Dia melihat sekelilingnya, setelahnya ia mulai ter isak.
__ADS_1
Ceklek
"Sayang kamu sudah sadar, Alhamdulillah....." ucap Bagas
Nadin langsung memalingkan wajahnya, dia masih marah.
Bagas meletakan obatnya di atas lemari kecil yang ada di ruangan itu, kemudian ia mulai mendekati sang istri.
"Sayang mas minta maaf..."
Nadin tak menjawab, dia masih terisak.
"Sayang, mas bisa jamin kalo nomer yang kemaren hanya nomer nyasar... "
"Awas kalo mas bohong...." di sela sela tangisnya
"Ia ia, besok Ibnu akan kesini bawa buktinya, maafin mas ya sayang..."
Nadin memalingkan wajahnya, menatap wajah sang suami.
"Janji, mas ga bakal ninggalin aku demi perempuan lain?" tatapan yang sulit di artikan
Nadin merasa takut bila sang suami pergi meninggalkannya demi perempuan lain.Seolah ia trauma dengan kejadian naas di pernikahan pertamanya.
"Janji, mas ga bakal ninggalin kamu untuk perempuan lain, maaf in mas ya sayang..." bersungguh-sungguh
Nadin tau, semua perkataan suaminya adalah suatu kebenaran. Namun rasa takut akan kehilangan yang menghantuinya, membuat Nadin enggan mengakui kebenaran itu sebelum adanya bukti.
Nadin menghela nafas, kemudian ia mengangguk.
"Makasih sayang...." menghujani wajah sang istri dengan ciuman.
Tok tok tok
"Pakai jilbab dulu yang..."
"Ia mas..."
Bagas membantu Nadin memakai jilbab instannya, lalu ia melangkah mendekati pintu.
Ceklek
"Siapa yang di rawat..."
"Mba Nadin kenapa?"
"Apa kalian ada masalah?"
Ketiga orang itu langsung memberondongi Bagas dengan sederet pertanyaan.
"Haduh, gantian dong kalo mau nanya, masa kaya 'sepur'..... " protes Bagas
"Ealah, ora ngerasa di kwatirna..." gerutu Naila
(Ealah, ga merasa di khawatirkan)
"Ye ga gitu juga kali de, maksudnya satu-satu gitu biar enak jawabnya..."
"Ya udah jawab dulu pertanyaan mamah..."
Bagas pun menjawab pertanyaan tadi, namun untuk pertanyaan yang di lontarkan sang papah, ia hanya menjawab bahwa ada sedikit kesalah pahaman di antara dirinya dengan sang istri.
Kemudian Bagas menyilahkan, kedua orangtuanya dan adiknya untuk masuk.
"Gas, kalo kalian ada masalah selesaikanlah dengan kepala dingin, jangan pernah main tangan, cara menghadapi wanita itu dengan kasih sayang dan kejujuran......" nasehat papah Putra sebelum melangkah masuk
"Ia pah, Insyaalloh Bagas ga akan main tangan, dan Bagas akan selalu jujur ke istri Bagas....."
"Papah percaya...."
Kedua orang itu pun memasuki kamar tawat Nadin.
"Makasih ya mba, mba udah mau bantu aku..." ucap Naila
__ADS_1
"Ia sama-sama....."
"Emang bantu apa?" tanya papah Putra
"Kepo..." jawab Naila dengan centil
Mereka semua tertawa, melihat tingkah Naila.
Setelahnya, mereka berbincang ringan.
Setelah kepergian mertua dan iparnya, Nadin memutuskan untuk tidur.
"Mas, aku tidur dulu ya...."
"Ia sayang, berdo'a dulu ya..."
"Ia mas...."
Setelah memastikan sang istri tertidur, Bagas berjalan keluar, dia ingin menenangkan pikirannya yang kacau.
Kasus korupsi yang tengah terjadi di perusahannya benar-benar mengganggu pikirannya.
Bagimana jika perusahaan bangkrut?, uang darima yang akan ia gunakan untuk mengganti rugi uang para infestor?
Bagas memutuskan duduk di pinggir taman rumah sakit yang mulai sepi.
Pikiran yang kacau membuatnya susah untuk mencari solusinya.
"Perusahaan mu akan bangkrut, kamu akan terjerat hutang bermiliaran...."
"Bunuh diri saja, agar para infestor tak menuntut mu...."
Itulah bisikan para 'devil' yang berusaha mempengaruhi pikiran Bagas.
"Jangan dengarkan mereka..." bisikan Angel
"Semua masalah pasti ada jalannya, tapi tergantung dirimu, mau mencari jalannya atau pergi mengindari masalah yang ada, layaknya 'pecundang'......." suara yang ada di hati kecil Bagas
"Ingatlah, ada Tuhanmu...." bisikan di kuping kanannya
"Astaghfirullohaladzim...."
Bagas tersadar dari lamunannya. Ia bangkit, lalu segera menuju masjid rumah sakit.
Bagas mengambil wudu, kemudian ia melaksanakan kewajibannya, solat isa.
"Astaghfirullohaladzim, ya Alloh maafkan aku yang tadi sempat berputus asa dari rahmat Mu.... "
"Ya Alloh, maafkan aku yang belum bisa mengingat Mu di setiap nafasku..."
"Ya Alloh, sesungguhnya aku hanyalah makhluk yang lemah lagi hina. Ya Alloh, kini aku pasrah atas segala masalah yang aku terima...."
"Ya Alloh, semoga Engkau memudahkan segala urusan, Dunia dan Akherat ku...."
Itulah do'a yang di panjatkan oleh Bagas setelah solatnya.
....................................................
Semburat merah di ufuk timur,sudah berganti dengan cahaya mentari yang belum terlalu terang. Kicauan burung, berganti dengan suara mesin.
Para petugas rumah sakit, sudah bersiap dengan tugasnya masing-masing, ada yang menyiapkan makanan dan air hangat untuk pasien, menyapu, mengepel, menyiram tanaman, mengelap jendela dan lainnya.
Suasanan rumah sakit, yang terlihat horor pada malam hari sekarang tergantikan dengan suasana yang ramai, akibat banyaknya orang yang mulai berlalu lalang sesuasi perannya masing-masing.
Seorang laki-laki dengan tinggi badan sekitar 160 cm, berjalan tergesa-gesa dengan membawa berkas di tangannya.
Tok tok tok, dia mengetuk pintu salah satu kamar pasien.
Ceklek.
"Pagi..."
"Pagi juga, lo bawa apa yang gue minta?"
__ADS_1
"Ya..."
"Ok, ayo masuk..."