Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Lamaran Tina


__ADS_3

Happy reading.....


Tina sama sekali tidak mengajak Riko berbicara. Dia terus menatap jam yang melingkar di tangannya dengan gelisah, dan itu tidak luput dari tatapan Riko. Pria itu merasa heran, karena dia melihat sepertinya Tina sangat terburu-buru.


Setelah mobil sampai di tempat yang nina tuju, wanita itu pun langsung membuka pintu mobil, tapi kemudian dia berbalik. ''Terima kasih ya, sudah mengantarkan ku. Maaf jika aku merepotkan,'' ucap Tina sambil keluar dari mobil Riko dan masuk ke dalam Panti Asuhan.


''Dasar cewek bar-bar. Belum juga dijawab, malah pergi-pergi aja,'' gerutu Riko sambil menatap kepergian Tina.


Dia melihat ke arah Panti Asuhan itu, dan seketika Riko keluar dari mobil lalu berjalan masuk kedalam Panti. Dia penasaran apa yang Tina lakukan di dalam sana, sehingga membuatnya duduk dengan gelisah saat berada di dalam mobil. Bahkan tidak menghiraukan keberadaannya.


''Maaf ya Bu, Tina datangnya terlambat. Tadi di jalan tidak menemukan taksi sama sekali. Entah kenapa, Tina pun tidak tahu,'' ucap Tina pada seorang ibu-ibu yang ternyata pemilik Panti Asuhan itu.


''Iya, tidak apa-apa Nak Tina. Acaranya juga baru akan dimulai,'' jawab Buk Asih. Kemudian mereka pun duduk di ruang tengah, namun tatapan Buk Asih mengarah ke pintu utama, di mana dia melihat seorang pria tengah berdiri sambil menatap kearah anak-anak yang sedang mempersiapkan acara.


''Nak Tina datang bersama kekasihnya?''tanya Buk Asih kepada Tina, dan Tina yang mendengar itu tentu saja mengerutkan dahinya.


-


''Kekasih? Kekasih apa Bu? Saya tidak punya kekasih,'' jawab Tina dengan heran.


''Itu, bukannya itu kekasihnya Nak Tina?'' ucap Buk Asih sambil menunjuk ke arah Riko yang sedang menatap Tina.


Tina yang sedang menata puding di atas meja untuk acara, seketika menoleh kearah pintu utama di mana Bu Asih sedang menatap Riko. Matanya membulat kaget. Tina pikir, jika Riko sudah pulang, tapi ternyata pria itu ikut turun.


Tina pun melangkahkan kakinya mendekat kearah Riko, lalu menatap pria itu dengan kesal. ''Kamu kenapa ikut turun?'' tanya Tina dengan heran.


''Iya, aku tadi penasaran dengan Panti asuhannya. Makanya aku ikut turun, sebab kamu tidak mengajakku,'' jawab Riko dengan acuh.


Buk Asih yang melihat itu segera menghampiri keduanya, lalu mengajak Riko untuk masuk. Padahal Tina tidak menyukai Riko ada di sana, tapi demi kenyamanan dan juga permintaannya Buk Asih, dia pun menyetujui untuk Riko ikut acara tersebut.


Sepanjang acara, Riko terus menatap kearah Tina. Dia tidak memalingkan wajahnya sedikit pun, dan Tina yang di tatap seperti itu tentu saja menjadi salah tingkah.


'Tuh cowok kenapa sih ngeliatin gue terus? Emangnya ada yang salah ya, sama gue?' batin Tina merasa heran, karena Riko terus aja memperhatikan dirinya.


Setelah acara selesai, Tina sedang membantu anak-anak panti untuk memungut plastik dan membereskan piring-piring kotor beserta aqua gelas yang berceceran di sana. Dan saat Tina sedang melipat karpet, tiba-tiba Riko membantu dirinya.


Tina yang tidak ingin berdebat pun akhirnya hanya diam saja, sampai Panti itu pun terlihat bersih kembali. Lalu Tina duduk di samping Panti dekat taman kecil yang berada di sana, dan menatap bunga-bunga yang sedang bermekaran.


''Kenapa, kamu mengikutiku? Aku pikir, kamu pergi ke kantor?'' tanya Tina saat Riko duduk di sampingnya.


''Aku tidak mengikutimu. Aku hanya penasaran saja dengan Panti ini. Dan aku juga penasaran, kenapa kamu begitu buru-buru saat berada di dalam mobil, dan terlihat begitu gelisah?'' jawab Riko sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap lurus ke arah depan.


''Iya, soalnya 'kan acaranya mau dimulai, dan aku tidak menemukan taksi sama sekali. Jadi aku takut terlambat,'' jawab Tina dengan cuek.


Tidak terasa, karena kejadian di Panti membuat keduanya akrab.


************


Waktu berjalan begitu cepat, dan tidak terasa sudah 2 bulan lebih Ardi menetap di Jepang dan menyelesaikan pekerjaannya. Mentari bahkan selalu menunggu Ardi, dia berharap jika pria itu akan kembali ke indonesia.


Setiap hari, mereka selalu berkomunikasi lewat ponsel, dan selalu berkabar dan meluapkan rasa rindu mereka melalui video call. Hari-hari Mentari bahkan terasa begitu berwarna, walaupun Ardi tidak ada di sisinya.


Pagi ini, seperti biasanya Mentari mengirimkan sebuah puisi lewat Whatsapp kepada Ardi. Karena puisi yang selalu Mentari kirimkan, mewakili perasaannya saat ini. Dan Ardi juga selalu membalas puisi dari Mentari.


Bukankah kubilang, aku selalu merindu? 


Pada harum tubuh 


cerita lucu, 

__ADS_1


dan renyah suaramu 


Aku selalu menyimpan 


potongan kecil semua kenangan 


untuk kuputar berulang-ulang 


hingga kau kembali datang


Love. Mentari


Ardi yang baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba mengambil ponselnya. Karena mendengar suara dentingan, kemudian dia membaca pesan yang di kirimkan setiap pagi oleh Mentari. Dan bibirnya selalu terangkat mengukir senyuman bahagia.


Dengan cepat, Ardi pun membalas pesan itu.


Padamu selalu ada kerinduan 


Yang menyisa pada sepenggal senja 


Dan aku mulai gelisah 


Tersebab tak ingin malam cepat menyapa


Padamu selalu ada khayalan 


Di saat aku meraba bayangmu 


Hingga aku kehilangan 


Sebelum dapat memelukmu


Ketika jemari saling bertaut 


Dan hati saling menyanjung 


Padamu tak pernah ada kata usai 


Love. Ardi


Setelah membaca pesan dari Ardi, Mentari pun bersiap untuk pergi ke restoran, tapi entah kenapa badannya terasa tidak enak. Mentari pikir, mungkin dia hanya masuk angin saja seperti biasanya, dan tanpa menghiraukan rasa sakit itu, Mentari pergi untuk bekerja.


Selama dua bulan lebih, Riko dan juga Tina sudah dekat. Bahkan mereka sudah tidak canggung lagi, walaupun terkadang masih ada ke bar-baran Tina, dan juga tingkah wanita itu yang membuat Riko kesal.


Siang ini, Riko dan juga Tina sudah berjanji untuk makan siang di sebuah restoran. Karena ada yang ingin Riko bicarakan kepada Tina, bahkan dia sudah menyiapkan sesuatu yang spesial untuk wanita itu.


''Maaf ya, jika menunggu lama,'' ucap Riko saat sampai di kantor Tina, dan wanita itu tengah menunggunya di sofa yang ada di ruang tunggu.


''No problem! Ya udah, kita pergi sekarang yuk. Lagian udah mau hujan juga,'' ajak Tina sambil menggandeng tangan Riko.


Seperti biasanya, selalu ada canda dan juga tawa di dalam mobil. Mereka berdua sudah nampak tidak canggung lagi, bahkan terkadang Tina tidak segan mencubit lengan ataupun perut Riko.


Setelah mereka sampai di restoran, Riko dan juga Tina pun masuk ke dalam ruangan VVIP, yang sudah dipesan oleh Riko. Dan di sana sudah ada makanan yang disediakan oleh pelayan.


''Wow, ini makanan kesukaanku semua,'' ucap Tina sambil menatap makanan yang berada di atas meja. Karena makanan itu, adalah makanan kesukaan Tina.


''Iya, aku sengaja memesan semua makanan ini, spesial untuk kamu,'' jawab Riko sambil menarik kursi dan Tina pun duduk.


''Terima kasih,'' ucap Tina sambil tersenyum, dan dibalas anggukkan oleh Riko. Kemudian mereka pun mulai makan.

__ADS_1


Setelah makanan selesai, dan saat ini Tina sedang memakan dessert. Tiba-tiba saja Riko mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari saku jasnya, lalu dia berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Tina.


''Kenapa?'' tanya Tina dengan bingung.


''Berdirilah! Ada yang ingin aku bicarakan dan sampaikan kepada kamu.'' pinta Riko kepada Tina, dan wanita itu ku langsung berdiri.


Setelah itu, Riko langsung berjongkok di hadapan Tina dan menggenggam salah satu tangan Tina. Dan Tina yang melihat itu tentu saja sangat syok, sampai dia menatap Riko dengan mulut sedikit terbuka.


''Riko, apa yang kamu lakukan?'' tanya Tina dengan wajah yang kaget.


Riko membuka kotak berwarna merah tersebut di hadapan Tina, dan wanita itu langsung menutup mulutnya. Karena dia tahu, apa yang akan dikatakan oleh Riko, tetapi Tina berharap ini hanyalah sebuah mimpi.


''Tina, bertemu denganmu bukan sebuah keberuntungan, namun sebuah keberkahan yang diberikan Tuhan untuk melengkapiku. Izinkan aku untuk membahagiakanmu juga hingga akhir waktumu. Will you marry me?''


Mata Tina berembun saat mendengarkan kata-kata dari Riko. Apalagi, saat dia mengucapkan kata Will you merry me. Dan itu membuat Tina benar-benar terharu. Air matanya jatuh membasahi kedua pipi Tina. Dia l sama sekali tidak menyangka, jika setelah sekian lama ada seseorang yang mengatakan hal itu kembali kepada dirinya.


''Riko, apakah serius dengan ucapanmu?'' tanya Tina memastikan. Dan Riko mengangguk dengan tegas.


''Ya, aku benar-benar serius,'' jawab Riko dengan pasti.


''Tapi Riko, aku ini seorang janda? Sedangkan kau sama sekali belum pernah menikah. Rasanya aku tidak pantas jika bersanding dengan mu,'' ujar Tina yang mengingat statusnya, jika dia bukan lagi seorang gadis.


Riko tersenyum mendengar ucapan Tina, kemudian dia mengecup tangan Tina dengan lembut. Lalu dia berdiri dan mengangkat wajah Tina yang menunduk, kemudian tatapannya mengarah kepada kedua mata Tina.


''Cinta tak pernah mengenal alasan, karena cinta adalah ketulusan. Cinta adalah di mana kamu sanggup menerima pasanganmu apa adanya dia. Dan aku, menerima statusmu, dan juga kekuranganmu.'' jelas Riko dengan nada yang serius.


Tina benar-benar terharu mendengar ungkapan cinta Riko. Dia tidak menyangka, jika pria itu tengah melamar dirinya. Kata demi kata yang keluar dari mulut Riko, membuat Tina kagum.


''Jadi, maukah kamu menerima aku untuk menjadi pendamping hidupmu? Menjadi imam dan menjadi ayah dari anak-anak kita kelak?'' tanya Riko kembali.


Tina yang mendengar itu tentu saja sangat bahagia, kemudian dia menganggukkan kepalanya. ''Yes, i wil,''' jawab Tina sambil menganggukkan kepalanya dengan mantap.


Riko yang mendengar itu tersenyum lebar, kemudian dia memakaikan cincin di jari manis Tina, lalu mengecup tangan itu dengan lembut. Kemudian mereka pun berpelukan.


''Terima kasih,'' ucap Riko saat memeluk tubuh Tina.


''Tidak! Seharusnya aku yang berterima kasih, karena kamu mau menerima statusku yang sudah tidak gadis lagi,'' jawab Tina sambil memeluk tubuh Riko dengan erat.


Sedangkan di kediaman Anjasmara, saat ini semua tengah sibuk untuk mempersiapkan acara tujuh bulanan kehamilan Bunga yang akan diselenggarakan tiga hari lagi.


Saat ini Bunga, Aurora beserta keluarganya sedang duduk di ruang keluarga. Mereka sedang bercanda ria, sangat terlihat jelas kebahagiaan di raut wajah Bunga.


''Sayang, Mama benar-benar tidak sabar deh, ingin segera menimang cucu dari kamu. Mau itu laki-laki ataupun perempuan, kami pasti akan menyayanginya sepenuh hati. Pokoknya, kamu jangan mengerjakan hal-hal yang berat dan jangan banyak pikiran. Karena sebentar lagi, kamu akan menjadi seorang ibu,'' ucap Mama Ranti sambil mengusap perut Bunga.


''Iya Dek, pokoknya kamu tidak boleh kecapean. Sebab Kakak ingin melihat keponakan Kakak. Pasti dia sangat tampan seperti Kakak ya gak?'' timpal Sony sambil mengedipkan matanya ke arah Bunga.


Kebetulan Sony dan juga Jelita pulang ke Jakarta, sebab Bunga ingin acara tujuh bulanannya nanti, dihadiri oleh keluarga besarnya dan juga keluarga besar dari suaminya.


Bunga menatap semua orang yang berada di ruang keluarga. Dia benar-benar bahagia, karena dulu hidupnya menderita. Di mana selalu ada saja cacian dan makian yang setiap hari Bunga terima, selalu ada penderitaan dan juga kesedihan beserta air mata.


Sekarang semua telah berlalu, berganti dengan kebahagiaan dan juga senyuman. Seiring berjalannya waktu, Tuhan mempertemukan Bunga dengan Bagas. Di mana menjadi seorang pangeran yang membuatnya bahagia seumur hidup.


Bunga menyandarkan kepalanya di bahu Bagas, dan Bagas mencium kening Bunga dengan penuh rasa cinta.


Kamu akan lebih mudah untuk merasakan kebahagiaan dengan menerima kekurangan pasangan mu.Daripada kamu harus mencari kebahagiaan dengan menyakiti hati pasangan mu.


JANGAN LUPA MAMPIR DI SEASON KEDUA YA😘😑DENGAN JUDUL. SUAMIMU AYAH DARI ANAKKU.


KARENA DISANA MENCERITAKAN TENTANG KISAH CINTA ANTARA TINA, ARDI DAN MENTARI😘

__ADS_1


KALIAN PENASARAN KAN? KENAPA ARDI BISA MENIKAH DENGAN TINA? SO, JANGAN LUPA UNTUK MEMBACANYA❤SEE YOU....❤❤


__ADS_2