Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Bertemu Kirana


__ADS_3

Happy reading.......


Langkah Bunga semakin mendekat ke arah wanita itu dan saat Bunga sudah sampai di dekat wanita hamil itu, dia pun berjongkok di hadapannya dan wanita itu langsung mengangkat wajahnya dengan mata membulat saat melihat Bunga.


''Bunga!'' kaget wanita itu sambil berdiri.


''Kirana,'' ucap Bunga sambil tersenyum. ''Kirana, kamu apa kabar?'' Bunga mengulurkan tangannya kepada wanita itu yang bernama Kirana, dan wanita itu pun langsung menyambut uluran tangan Bunga. ''Alhamdulillah aku baik, kamu sendiri apa kabar?'' tanya Kirana balik.


''Alhamdulillah aku juga baik, kamu sedang hamil?'' Bunga menatap kearah perut Kirana, lalu kembali menatap wajah wanita itu yang terlihat begitu sendu.


''Iya, aku sedang hamil,'' jawab Kirana dengan tatapan nyalang ke arah lain.


''Sudah berapa bulan? Lalu, suami kamu dimana?'' Bunga seakan penasaran dengan Kirana, karena sudah lama dia tidak bertemu dengan wanita itu, dan sekalinya mereka bertemu Bunga harus melihat Kirana dalam keadaan hamil dengan pakaian lusuh.


''Aku sudah 7 bulan, dan suami tidak ada. Dia pergi bersama selingkuhannya.'' kKrana menatap kearah Bunga, kemudian dia memegang tangan wanita itu. Ada rasa bersalah yang begitu mendalam terlihat di kedua sorot mata milik Kirana saat menatap Bunga.


Sedangkan Mama Ranti dan juga Aurora hanya diam saja memperhatikan mereka. Tadinya, Aurora juga ingin bertanya kepada Bunga tentang siapa wanita yang ada di hadapannya, tetapi Mama Ranti menggelengkan kepalanya memberi kode kepada Aurora, agar gadis kecil itu diam.


''Bunga, aku minta maaf. Mungkin selama ini aku banyak salah sama kamu? Aku tahu, kesalahanku tidak ter-maafkan oleh kamu, tapi aku sadar jika selama ini aku telah jahat sama kamu. Aku benar-benar minta maaf. Mungkin, aku juga seperti ini karena karma dari perbuatanku terhadap kamu?''


Bunga melihat tatapan rasa bersalah yang begitu mendalam di kedua mata Kirana, saat wanita itu mengungkapkan permintaan maaf kepada dirinya, dan Bunga juga melihat jika Kirana sangat kurus, seperti kekurangan gizi sebagai seorang ibu hamil.

__ADS_1


Bunga tersenyum kearah Kirana, dia seperti tidak menyimpan rasa dendam ataupun rasa marah sedikitpun kepada wanita hamil yang ada di hadapannya itu. Karena memang Bunga tidak pernah menyimpan dendam kepada siapapun, sekalipun orang itu telah berbuat jahat kepada dirinya, karena sejatinya Bunga tidak ingin membalas kejahatan dengan kejahatan. Dia percaya, jika karma Allah itu ada untuk orang-orang yang telah berbuat Dzalim.


***********


Hari ini Ardi sudah siap dengan setelan kerjanya, dia akan berangkat ke kantor, tetapi sebelum itu dia kan mampir ke cafe dulu untuk mengecek pemasukan bulanan miliknya. Biasanya Bu Raya akan mengirimkan secara email kepada Ardi, tetapi kali ini pria itu ingin datang ke cafe.


Setelah memarkirkan mobilnya, Ardi pun masuk ke dalam, tapi matanya langsung melihat ke setiap sudut yang ada di dalam cafe, seperti sedang mencari seseorang tetapi tidak menemukannya, kemudian Ardi pun masuk ke dalam ruangan Bu Raya.


''Pagi Pak,'' sapa Bu Raya sambil mempersilahkan Ardi untuk duduk, lalu wanita itu menyerahkan berkas tentang pemasukan bulanan kepada Ardi, dan pria itu langsung menerima berkas tersebut.


''Oh ya, suruh Mentari mengantarkan kopi ke sini!'' pinta Ardi kepada Bu Raya, dan wanita itu langsung mengangguk kemudian menelpon ke bagian dapur untuk membuatkan kopi pesanan Ardi dan meminta Mentari yang mengantarkan nya.


Sebenarnya Bu Raya merasa heran, sebab Ardi beberapa bulan ini sering sekali datang ke cafe. Biasanya Ardi tidak pernah datang ke sana, bisa dibilang dua bulan sekali. Pria itu tidak pernah menengok cafe nya sama sekali, tetapi semenjak kehadiran Mentari, Ardi sering ke cafe bahkan seminggu bisa tiga kali.


Tak lama, pintu ruangan Bu Raya diketuk dan Mentari pun masuk membawakan kopi pesanan Ardi. Gadis itu langsung menaruh kopi di atas meja yang ada di hadapan Ardi, setelah itu Mentari keluar kembali untuk melanjutkan pekerjaannya.


Ardi tersenyum saat Mentari masuk ke dalam ruangan Bu Raya, tapi saat Mentari keluar kembali dia merasa seperti ada yang hilang. Dia ingin menahan Mentari, tetapi Ardi tidak enak kepada Bu Raya, dia takut wanita itu berpikir macam-macam.


'Aku ingin sekali menahannya, sayang di sini ada Bu Raya,' batin Ardi sambil menghela nafasnya dengan pelan.


*********

__ADS_1


Siang ini sesuai janji Bagas kepada Aurora jika mereka akan berjalan-jalan ke mall dan berbelanja. Aurora tentu saja sangat senang, karena Bagas meluangkan waktu setelah beberapa minggu ini dia sangat sibuk dengan proyek barunya.


Mereka berbelanja dari toko satu ke toko yang lain, untung saja di sana ada Riko yang menemani. Jadi Riko yang membawa belanjaan milik Aurora dan juga Bunga.


Saat mereka tengah berbelanja, tiba-tiba mata Bunga tertuju pada sosok yang sedang duduk di tengah keramaian sambil melamun. Bunga yang melihat itupun langsung menghampiri orang itu lalu menepuk pundaknya


''Dodol, Lo kampret!'' latah orang itu yang ternyata adalah Tina.


Bunga terkekeh melihat sahabatnya itu kaget karena ulah nya, sedangkan Tina menekuk wajahnya. Dia sangat kesal saat melihat jika yang mengagetkan dirinya dan membuat lamunan nya ambyar adalah Bunga.


''Eh Juminten, Lo sedang apa di sini?'' tanya Bunga kepada Tina saat melihat wanita itu tengah nongkrong di mall, padahal ini sudah siang dan harusnya Tina berada di kantor.


''Lo nggak liat, Gue lagi menikmati keramaian? Merefresh kan otak yang sedang ngebul karena kerjaan. Lo sendiri disini ngapain?'' Tina bertanya balik kepada Bunga, dan tatapannya mengarah kepada Bagas, Aurora dan juga Riko. Akhirnya Tina pun mengerti jika Bunga sedang hangout bersama dengan keluarganya.


''Iya iya, ngga usah dijelasin Gue paham. Lo lagi hangout kan bersama keluarga Lo? Ya sudah lanjut aja,'' Tina memotong ucapan Bunga saat melihat Bumil itu akan menjawab pertanyaannya.


''Ya sudah, kalau gitu Lo ikut yuk biar tambah rame!'' ajak Bunga, tetapi Tina segera menggeleng namun Bunga memaksa dan akhirnya wanita itu pun tidak bisa mengelak lagi. Dia mau tidak mau ikut bersama dengan bunga dan juga bagas.


Pikiran Tina masih menerawang akan perasaannya yang tidak menentu kepada Ardi. Dia benar-benar masih memikirkan dan meyakinkan, apakah benar jika dia mencintai Ardi atau hanya kagum dan obsesi semata, hingga Tina pun tidak sadar jika di hadapannya ada orang yang sedang mendorong troli yang berisikan kardus kardus makanan, dan kaki Tina tidak sengaja menabrak troli itu dan kardus-kardus yang bertumpukan dengan tinggi pun jatuh.


''AWAS!'' teriak seorang Pria sambil melindungi tubuh Tina, hingga tumpukan kardus itu tidak mengenai tubuh Tina melainkan mengenai tubuh Pria itu.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2