Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Ledekan Sang Mami


__ADS_3

Happy reading........


Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, hingga 15 menit kemudian mereka pun sampai di rumah sakit, dan Bagas langsung menggendong tubuh Bunga menuju UGD.


Rasa cemas dan takut tidak bisa sembunyikan dari wajah Bagas saat ini, karena dia benar-benar takut jika terjadi apa-apa dengan Bunga. Bahkan Bagas terus saja mondar-mandir dengan tidak tenang di depan ruang UGD.


"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Bunga?" tanya Bagas dengan raut wajah yang begitu cemas pada Riko, namun Riko segera memegang bahu Bagas mencoba menguatkan Bosnya itu.


"Bapak tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa dengan Nona Bunga. Beliau pasti baik-baik saja, dan pastinya beliau wanita yang kuat. Kita berdoa saja supaya Nona Bunga cepat sadar ya, Pak."


Tak lama Dokter pun keluar dari ruangan UGD, Bagas yang melihat itu segera menghampiri sang Dokter. "Dok, bagaimana keadaannya, Dok? Apakah ada luka yang serius?" tanya Bagas.


"Ibu Bunga baik-baik saja, dia hanya kecapean dan kurang tidur, dan darahnya juga sangat rendah, itu kenapa beliau sampai pingsan. Dan saya sarankan agar beliau istirahat yang cukup dan jangan stress terlebih dahulu, karena itu bisa membuat imun di tubuhnya melemah, dan keadaannya bisa drop," jelas Dokter itu kepada Bagas.


"Apakah saya boleh masuk ke dalam, Dok?" tanya Bagas dan langsung dibalas anggukan oleh sang Dokter.


Bagas pun masuk ke dalam ruangan, sedangkan Riko ke bagian administrasi untuk membayar biaya.


Bagas berjalan mendekat ke arah Bunga yang sedang terbaring lemah, kemudian dia duduk di samping wanita itu dan menggenggam tangannya. "Aku tidak bisa melihatmu seperti ini, rasanya hatiku sakit sekali. Aku takut kehilangan kamu. Walaupun saat ini, mungkin kamu tidak mencintaiku, tidak mempunyai perasaan kepadaku, tapi aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu!" ucap Bagas dengan nada lirih sambil menatap wajah pucat Bunga.


Mata Bunga mulai bergerak, lalu terbuka secara perlahan. Dan saat dia membuka mata, Bunga melihat bagas berada di sampingnya sambil menggenggam tangannya. "Pak Bagas," ucap Bunga dengan nada yang lirih karena dia masih sangat lemas.


"Syukurlah kamu sudah bangun, aku sangat khawatir sekali," ujar Bagas sambil tersenyum lega.


"Saya di mana Pak? Apa Saya di rumah sakit?" tanya Bunga sambil memegang kepalanya yang terasa begitu pusing, dan hendak bangun. Namun Bagas segera mencegahnya. "Jangan bangun dulu! Badanmu masih lemas, kamu perlu istirahat. Besok pagi baru kita pulang," jelas Bagas sambil menahan bahu Bunga

__ADS_1


"Kamu tadi pingsan di restoran, makanya saya bawa kamu ke rumah sakit." Bunga mengangguk kecil, dia ingat jika tadi pas saat dia mau pulang tiba-tiba Bunga merasakan jika kepalanya terasa berputar-putar, setelah itu Bunga pun tidak ingat apa-apa lagi.


'Kenapa tadi aku seperti mendengar jika Pak Bagas bilang akan memperjuangkan aku ya? Atau itu hanya sebuah mimpi?' batin Bunga sambil melihat ke arah Bagas.


**********


Pagi hari Bunga sudah siap untuk pulang ke apartemennya. Awalnya Bagas menawarkan untuk dia pulang ke rumahnya, tapi Bunga menolak, lalu Bagas pun mengantar Bunga ke apartemen. Dia juga semalaman menginap dan menjaga Bunga di rumah sakit.


"Pak, sebenarnya tidak apa-apa saya bisa pulang sendiri. Lagi pula keadaan saya sudah jauh lebih baik untuk bawa mobil, atau mungkin saya bisa naik taksi online, Bapak tidak usah--"


Bagas menaruh jari telunjuknya di bibir Bunga, menghentikan ucapan wanita itu. Kemudian dia tersenyum ke arah Bunga, di mana senyum itulah yang selalu membuat semua wanita terpana bahkan terpesona oleh ketampanan Bagas.


"Saya tidak merasa direpotkan. Lagi pula Saya khawatir jika kamu pulang sendirian. Saya akan lebih tenang jika mengantarkan kamu secara langsung ke apartemen," jawab Bagas sambil melepaskan jari telunjuknya di bibir Bunga.


Sesampainya di apartemen, Bunga kaget saat melihat wanita paruh baya yang tengah berdiri sambil menenteng rantang di tangannya, dan ternyata dia adalah Mami Rindi.


Mami Rindi mengerutkan dahinya saat melihat Bunga yang baru saja pulang bersama dengan seorang pria. "Assalamualaikum Mih, Mami ke sini tidak mengabari aku dulu?" tanya Bunga sambil mencium tangan sang Mami.


"Waalaikumsalam... Mami sengaja ke sini mau ngasih surprise sama kamu. Tapi, kayaknya Mami yang kamu kasih surprise? Kamu dari mana saja? Kenapa jam segini kamu baru pulang ke apartemen? Kamu nggak melakukan hal yang tidak-tidak bukan?" tanya Mami Rindi pada Bunga dengan tatapan menyipit.


Bunga melirik ke arah Bagas sekilas, kemudian dia menatap sang Mami.


"Tidak Mi, semalam aku nginap di rumah sakit dan Pak Bagas yang menolong aku, dia juga menjaga aku di sana semalaman. Itu kenapa aku pagi ini baru pulang," jawab Bunga.


Mami Rindi tentu saja sangat syok saat mendengar jika putrinya ternyata masuk ke rumah sakit, kemudian dia menangkup kedua pipi Bunga.

__ADS_1


"Lalu kamu nggak papa kan? Apa yang terjadi? Apa ada yang luka? Mana yang sakit?" tanya Mam I Rindi dengan cemas namun Bunga segera menggeleng.


"Tidak Mi! Aku baik-baik aja, hanya kecapean dan kurang tidur saja," jawab Bunga.


Mami Rindi merasa lega mendengar jawaban putrinya, kemudian dia beralih menatap ke arah pria yang ada di samping Bunga. "Lalu dia siapa? Pacar kamu?" tanya Mami Rindi.


"Oh


, bukan Mi. Dia itu Pak Bagas, dia rekan bisnisnya Bunga," jawab Bunga.


Bagas kemudian mencium tangan Mami Rindi. "aya Bagas, Tante. Saya teman sekaligus rekan kerjanya Bunga," ujar Bagas memperkenalkan diri.


Sebenarnya Bagas sudah tahu siapa Mami Rindi. Bahkan foto-foto keluarganya Bunga pun Bagas sudah tahu, karena dia menyelidiki semuanya. Bahkan Bagas juga sudah tahu tentang masalah apa yang membuat Bunga diusir dari rumah oleh Papinya.


"Ya sudah, kalau gitu kita masuk lalu sarapan. Kebetulan Mami bawa sarapan dari rumah, ayo Nak Bagas kita masuk dulu," ajak Mami Rindi kepada Bagas.


"Maaf Tante, sepertinya Bagas tidak bisa ikut, soalnya nanti jam 08.00 Bagas juga ada meeting. Kalau begitu Bagas pamit pulang dulu ya! Bunga, kamu jangan lupa minum obatnya dan vitaminnya. Ingat kata Dokter, kamu jangan kelelahan dan banyak pikiran dulu oke. Soal kerjaan biar aku dulu yang handle!" Bagas berucap sambil menatap ke arah Bunga.


"Iya Pak, terima kasih banyak ya." Setelah itu Bagas pun pamit pulang, lalu Bunga dan juga Mami Rindi masuk ke dalam apartemen.


"Sepertinya Bagas itu pria yang baik? Mami bisa melihat dari sorot matanya, dia begitu sangat khawatir sama kamu. Yaaah, dengan siapapun itu Mami pasti setuju, asalkan bisa buat kamu bahagia. Tapi Mami berharap Bagas jadi pilihan kamu," ledek Mami Rindi sambil menyiapkan sarapan untuk Bunga.


"Apaan sih Mi? Nggak lah! Mana ada Pak Bagas suka sama aku?" jawab Bunga dengan wajah yang sudah merona malu. Entah kenapa hatinya bergetar saat sang Mami meledek dirinya tentang Bagas.


Bersambung. ...........

__ADS_1


__ADS_2