
PLAK!
Lagi-lagi Tina mendaratlan tamparannya di pipi mulus Ardi. Tatapannya bengis menusuk tajam kepada Ardi, sementara pria itu hanya dia membatu tidak membalas perlakuan dari Tina. Karena dia tahu pasti wanita itu sangat marah kepadanya.
Walaupun itu bukan kesalahan Ardi, namun tetap saja Riko tiada karena dirinya. "Puas lo, hah! Lihat sekarang! Mas Riko sudah terbujur kaku, dan itu semua gara-gara lo, Ardi. Kenapa sih lo harus hadir di hidup gue? Kenapa?! Lo belum puas melihat gue menderita selama ini karena lo?" tunjuk Tina dengan nada bergetar, namun terkesan begitu tegas dan tajam.
"Aku tidak pernah mau diselamatkan olehnya. Seharusnya dia tadi tidak menyelamatkanku, dan membiarkanku tertabrak begitu saja." Ardi akhirnya membuka suara.
Tina malah tertawa, namun tawanya terlihat begitu getir dan menyayat hati. "Hahaha! Apa lo bilang? Seharusnya lo yang tertabrak? Terus, kalau lo yang tertabrak berarti lk nggak bakalan nikah sama Mentari? Dan sekarang apa? Apa, Ardi?! Lo akan menikah dengan wanita itu ... tapi mas Riko malah menyuruh gue untuk menikah dengan lo. Gue seperti sebuah mainan!" bentak Tina.
wWanita itu kembali luruh ke lantai, sementara Ardi hanya diam saja. Rasa sakit dan sesak di dalam dadanya atas kehilangan kekasih yang sangat ia cintai membuat Tina tidak bisa mengontrol emosinya.
"Tina, bagaimana keadaannya Riko?" ucap seseorang yang tak lain adalah tante Imelda, dan juga Om Wira yang baru saja sampai.
__ADS_1
Tina mendongakkan wajahnya, namun hanya untuk berdiri kakinya terasa lemah. Tante Imelda menatap ke arah Tina yang saat ini sedang menangis, kemudian dia berjongkok di hadapan wanita itu.
"Kamu kenapa menangis? Riko man? Bagaimana dengan keadaannya? Dia baik-baik aja kan?" tanya Tante Imelda kembali.
"Tante ... Riko, Tante ... Riko ..." Tina tidak sanggup untuk mengatakan jika saat ini pria itu telah tiada untuk selama-lamanya.
Melihat reaksi Tina, entah kenapa perasaan tante Imelda mendadak menjadi tak enak. Rasa sesak seketika menyelimuti hatinya. Dia menatap ke arah ranjang pasien di mana saat ini Riko tengah terbujur sambil menutup matanya.
Dia pun mendekat ke arah Putra semata wayangnya itu. "Riko, bagaimana keadaan kamu, Nak? Kamu baik-baik aja kan?" Tante Imelda memegang tangan putranya, akan tetapi terasa begitu dingin. Dia juga melihat bercak merah di bantal itu.
Bukannya menjawab, Tina malah semakin tergugu, dia benar-benar tak kuasa jika harus mengatakan tentang keadaan Riko sekarang, hingga akhirnya dokter yang masih berada di sana pun menjelaskan jika Riko telah meninggal dunia saat akan dibawa ke rumah sakit.
"Tidak. Tidak mungkin Riko meninggalkan tante. Ini semua pasti salah, Dok. Tolong periksa lagi keadaan Putra saya! Anda pasti tadi sedang keliru. Ayo Dok!" Tante Imelda sudah tidak bisa menahan tangisnya.
__ADS_1
"Maaf Bu, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa," ucap dokter tersebut.
Bahu tante Imelda terguncang, lututnya terasa lemas. Dunianya seakan hancur seketika saat mendengar jawaban dari dokter. Dia langsung memeluk tubuh Riko dan menangis dengan histeris.
"Tidaaak! Rikooo! Tidak. Kamu tidak boleh meninggalkan Mama! Bangun Riko! BANGUN!" teriak tante Imelda sambil mengguncang tubuh Riko.
Akan tetapi, tubuh itu sudah kaku, tidak bisa lagi digerakkan. Tante Imelda hanya bisa menangis menjerit memanggil nama Riko agar pria itu membuka matanya.
Om Wira mendekat ke arah istrinya dengan langkah gontainya, kemudian dia memeluk tubuh tante Imelda. "Tidak mungkin Riko meninggalkan kita, Pah. Ini semua pasti hanya mimpi kan, Pah? Cepat bangunkan mama, Pah! Mama tidak mau bermimpi seperti ini. Mama tidak mau!" Wanita itu menangis di dalam dekapan sang suami.
"Yang sabar ya, Mah." Om Wira hanya bisa mengatakan hal itu, karena saat ini dia pun sedang menanggung kesedihan yang begitu dalam, sehingga air mata yang bisa mewakili perasaannya saat ini sebagai seorang ayah.
Kemudian tante Imelda menatap ke arah Tina dan Ardi bergantian. "Bagaimana Riko bisa seperti ini, Tina? Bagaimana bisa? Kenapa Riko bisa berakhir seperti ini? Ayo jawab!" teriak tante Imelda.
__ADS_1
Tina bangkit dari duduknya kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah Ardi, sementara pria itu hanya menunduk. "Ini semua gara-gara dia!" tunjuk Tina, "semua gara-gara dia, Tante!" teriaknya dengan histeris.
BERSAMBUNG....