Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Melahirkan


__ADS_3

Happy reading......


Setelah Bunga menerima lamaran Bagas semalam, dia tidak bisa tidur, bahkan sampai jam 03.00 pagi. Rasanya hati Bunga masih berbunga-bunga dan masih berdebar dengan kuat, bahkan Bunga masih bisa merasakan kecupan hangat di keningnya saat Bagas melakukan itu kepada dirinya.


"Cciiee ... yang baru aja dilamar," ledek Mami Rindi saat Bunga berada di meja makan.


Bunga tersipu malu saat mendengar godaan dari sang Mami, kemudian dia mulai duduk di kursi dan mengambil sarapannya. Ssnyum indah dan manis terus terukir di wajah Bunga.


Saat Bunga tengah sarapan, tiba-tiba seorang asisten rumah tangga mengabarkan jika Bagas sudah sampai, dan Mami Rindi pun menyuruh pelayan itu untuk mengantarkan Bagas ke meja makan, dan tidak lama pria itu pun muncul di meja makan dan langsung duduk di samping Bunga setelah mencium tangan Mami Rindi dan juga Papi Frans.


"Hey Bro, sini Ikut sarapan dulu," ucap Sony sambil menepuk bahu Bagas.


Pria itu pun mengangguk, kemudian mereka semua sarapan pagi di meja makan. "Selamat ya, Kakak ikut senang dengan kebahagiaan kalian, dan Lo Gas. Gue titip adek gue ya, jangan Lo sakitin dia. Berani Lo sakiti dia, abis batang sama telur Lo gue tebas!" ancam Sony dengan tatapan mengintimidasi ke arah Bagas.


Gluk


Bagas menelan ludahnya dengan kasar saat mendengar ancaman Sony, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika batang dan juga kedua telurnya ditebas habis oleh calon Kakak iparnya itu. Sementara semua orang terkekeh mendengar ancaman Sony, termasuk juga Bunga.

__ADS_1


"Ya ampun Sayang, kamu jangan galak-galak dong sama calon Adik ipar. Masa mau ditebas sampai habis? Nanti kamu nggak punya ponakan loh," ledek Jelita sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Bunga.


"Nah, bener itu. Kalau Lo tebas semuanya, nanti gimana Gue bikin ponakannya?" timpal Bagas mengiyakan perkataan Jelita, membuat semua orang semakin terkekeh, tapi tidak dengan Bunga. Dia malah menunduk malu saat mendengar ucapan sompral dari Kakak dan juga calon suaminya itu.


Saat semua tengah makan, tiba-tiba Jelita meremas tangan Sony dengan kuat, sambil meringis kesakitan. Membuat semua orang seketika menatap ke arah Jelita dengan cemas.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Sony sambil memegang tangan Jelita.


"Aku tidak tahu, Mas. Perutku sakit sekali, aduh... sakit sekali Mas ...." ring is Jelita sambil memegangi perutnya.


Semua orang yang ada di meja makan seketika menghentikan sarapannya, lalu mereka fokus ke arah Jelita. Mami Rindi pun bahkan sudah bangkit dan dia mengusap pundak menantunya itu.


"Sayang, kamu bisa kan temani Kakak kamu dulu ke Rumah Sakit? Mami soalnya harus mengantar Papi kamu ke bandara sebentar lagi, jadi Mami tidak bisa mengantar Sony dan juga Jelita ke rumah sakit," ucap Mami Rindi kepada Bunga, dan wanita itu pun langsung mengangguk. "Iya Mi, aku akan menemani Kak Sony dulu. Mami dan Papi hati-hati di jalan ya," ucap Bunga sambil mencium kedua tangan dari orang tuanya.


Sebelum Bunga dan juga Bagas masuk ke dalam mobil, seorang pelayan memberikan satu tas perlengkapan bayi yang sudah disiapkan oleh Jelita beberapa waktu yang lalu. Kemudian Bunga dan Bagas pun menyusul mobil Sony yang sudah lumayan jauh menuju rumah sakit.


"Ya Allah, semoga kak Jelita nggak apa-apa," gunam Bunga sambil meremas kedua tangannya. Dia benar-benar khawatir kepada kakak iparnya itu, walaupun Bunga sendiri belum pernah merasakan bagaimana yang namanya melahirkan, tetapi dia tahu sebagai seorang wanita pasti melahirkan Itu perjuangan yang sangat hebat. Sebab mempertaruhkan nyawa untuk mengeluarkan seorang manusia dari dalam tubuh.

__ADS_1


Bagas yang melihat kekhawatiran di wajah Bunga, kemudian dia menggenggam tangan wanita itu.


"Tenang saja, tidak usah khawatir. Kita berdoa saja supaya Kak Jelita tidak apa-apa, dan sehat dua-duanya," ucap Bagas menenangkan kecemasan yang ada pada diri Bunga.


Setelah sampai rumah sakit, Bunga dan Bagas langsung bergegas menuju ruang persalinan di mana di sana sudah ada Sony yang sedang menunggu di luar ruangan sambil mondar-mandir dengan wajah yang penuh kekhawatiran.


"Kak, gimana keadaannya Kak Jelita?" tanya Bunga pada sang Kakak.


"Tidak tahu, ini lagi dicek dulu sama Dokter sudah pembukaan berapa," jawab Sony dengan raut wajah cemasnya.


Tak lama Dokter pun keluar dari ruangan persalinan, lalu Dokter menyuruh Sony untuk masuk ke dalam menemani Jelita untuk melahirkan, dan dengan senang hati Sony pun masuk ke dalam. Walaupun sebenarnya dia sangat takut dan sangat khawatir melihat bagaimana Jelita kesakitan, tetapi sebagai seorang suami Sony harus berjaga dan berada di samping Jelita kapan pun dan di mana pun.


Sementara itu Bunga dan juga Bagas menunggu di depan ruangan persalinan dengan perasaan harap-harap cemas, hingga sudah 2 jam mereka menunggu, dan seperti kata Dokter, baru memasuki pembukaan 7 dan sebentar lagi Jelita akan melahirkan anak pertamanya.


Saat Bunga dan juga Bagas tengah menunggu kelahiran calon buah hati dan cucu pertama dari keluarga Mardasena, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama Bunga, hingga membuat wanita itu menoleh dengan wajah yang kaget.


"Bunga ..." panggil seseorang yang tak jauh dari Bunga dan Bagas.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2