Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Bab 91


__ADS_3

Happy reading......


Pagi-pagi Bagas sudah selesai melakukan olahraga paginya, yaitu jogging. Dia pun masuk ke dalam rumah dengan badan yang sudah sangat berkeringat. Namun, saat dia akan menaiki tangga, tiba-tiba Mama Ranti menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Ma?" tanya Bagas kepada sang Mama.


"Mama ingin berbicara sebentar dengan kamu, ayo duduk!" titah Mama Ranti sambil mengajak Bagas untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


Bagas begitu heran, kenapa Mamanya ingin berbicara. Dan dia merasa sepertinya hal itu sangat penting. Setelah Bagas duduk di sofa, Mama Ranti memegang kedua tangannya, kemudian menatap putra sulung nya itu.


Bagas menatap sang Mama dengan tatapan heran, "ada apa Ma?" tanya Bagas. Kemudian Mama Ranti tersenyum ke arah putranya.


"Entah Mama harus memulai dari mana, tapi melihat kedekatan kamu dan Bunga, Mama yakin, jika pasti di hati kamu ini ada rasa untuk Bunga. Dan Mama mau, setelah masa iddahnya Bunga selesai, kamu melamar dia. Tapi sebelum itu, kamu harus bisa mendapatkan hati Bunga dahulu. Karena saat ini Bunga kan sedang terluka, dia sangat cocok menjadi Ibu sambung bagi Aurora. Dan terlepas dari itu semua, Aurora juga sangat menginginkan Bunga menjadi ibunya bukan?" Mama Ranti mencoba membujuk Bagas agar mau berjuang untuk Bunga.


Mendengar perkataan sang Mama, Bagas tersenyum. Dia tidak menyangka jika Mamanya akan mendukung agar dia dan Bunga bisa menjalin hubungan yang lebih serius, kemudian Bagas pun menganggukan kepalanya.


"Iya Mah, Bagas memang mencintai Bunga. Dan Bagas akan berjuang untuknya, Bagas juga sudah berencana akan melamar Bunga saat masa iddahnya selesai. Dan Bagas senang, jika Mama merestui Bagas, dan mendukung Bagas," ucap Bagas sambil memeluk tubuh wanita yang ada di hadapannya itu.


Mama Ranti dapat melihat pancaran kebahagiaan dan pancaran Harapan di kedua mata Bagas, saat dia menyebut nama Bunga. Mama Ranti seperti melihat kehidupan Bagas, yang bangkit kembali setelah kehadiran Bunga.

__ADS_1


"Kamu tahu! Kemarin saat Mama bertemu dengan Maminya, Bunga. Kami sepakat untuk mendekatkan kalian, dan kamu tahu? Keluarganya Bunga juga sudah setuju, dan Maminya Bunga juga berharap kamu akan menjadi menantunya."


Bagas tentu saja sangat kaget mendengar ucapan sang Mama. Dia tidak menyangka, Jika ternyata Mami Rindi juga menginginkan dia sebagai menantunya. Dan itu membuka peluang yang besar bagi Bagas untuk masuk ke dalam kehidupan Bunga, dan itu membuka pintu di hati Bunga semakin lebar bagi dia masuk ke dalam.


Setelah berbicara beberapa hal dengan Mamanya, Bagas pun pamit masuk ke dalam kamar untuk bersiap ke kantor. Entah kenapa, dia merasa hari ini dia begitu semangat, seperti baru saja menemukan energi yang muncul di dalam tubuhnya.


********


Bunga Baru saja sampai di kantornya, dan saat dia menghampiri Tina di ruangannya, tiba-tiba seorang karyawan menyerahkan sebuah kotak makanan kepada Bunga. Membuat wanita itu mengerutkan dahinya.


"Ini dari siapa?" tanya Bunga pada karyawannya.


Baru saja Bunga akan membuka kotak sarapan itu, namun tiba-tiba Tina mengagetkan dirinya sambil menepuk kedua bahu Bunga, membuat wanita itu sedikit terlonjak kaget.


"Dooor ...."


"Apa tuh? Kotak sarapan dari siapa?" tanya Tina dengan penasaran, sambil melirik ke arah kotak sarapan yang ada di tangan Bunga.


"Entahlah, karyawan bilang orang itu tidak boleh menyebutkan namanya. Dan aku akan tahu setelah membaca surat yang ada di dalam," jawab Bunga sambil mengangkat kedua bahunya. Kemudian dia membuka kotak sarapan itu dan melihat ada Sepucuk Surat lalu dia membacanya.

__ADS_1


Jangan lupa dimakan! Aku tidak mau kamu sakit. Karena jika kamu sakit, aku dan Aurora juga akan sedih.


Bunga tersenyum saat membaca surat itu, dia yakin jika surat itu dari Bagas. Sebab, di sana juga tertera nama Aurora, tidak bunga pungkiri ada sedikit rasa hangat di dalam hatinya saat mendapatkan perhatian dari Bagas.


"Ciiee ... ternyata dari Pak duda. Wah ... Bu janda, ketemu Pak duda. Cocok dong," goda Tina sambil menyenggol bahu Bunga. Membuat wanita itu merona malu dan menjadi salah tingkah.


"Apaan sih? Udah ah, Gue mau ke ruangan dulu," ujar Bunga dengan wajah malu-malu sambil meninggalkan Tina masuk ke dalam ruangannya,


"Bu janda, jangan malu-malu gitu dong. Muka Lo lucu tuh, kayak kepiting rebus." Tina semakin menggoda Bunga, sebab melihat sahabatnya itu menjadi salah tingkah. Apalagi wajahnya yang merah merona, membuat Tina semakin ingin menggoda sahabatnya.


Saat Bunga duduk di kursi, tiba-tiba ponselnya berdenting, dan ternyata ada pesan masuk dari Ardi, yang mengatakan jika Ardi ingin mengajak Bunga makan siang dan kali ini Ardi tidak mau ada penolakan.


Bunga menghela nafasnya dengan kasar, dia memijit pelipisnya yang terasa begitu pusing. Bagaimana tidak? Di satu sisi, kakaknya memberikan dia sarapan, di sisi lain adiknya mengajak dia untuk makan siang dan tidak boleh menolak. Sedangkan Bunga masih trauma dengan kejadian kemarin siang di restoran.


Bunga pun membalas pesan itu.


Maafkan aku, Di. Aku tidak bisa! Sebab hari ini aku sangat sibuk. Jadi, aku tidak bisa keluar. Maaf, mungkin kita akan makan siang lain waktu saja.


Setelah membalas chat Ardi, Bunga pun menonaktifkan ponselnya. Dia tidak ingin dihubungi oleh siapapun, apalagi oleh kedua pria tampan itu. Karena Bunga harus mempersiapkan presentasi untuk meeting 40 menit lagi.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2