
Happy reading.......
Bunga melihat ke setiap sudut kamar, di mana kamar itu sudah 5 tahun dia tinggalkan. Tetapi tidak ada yang berubah, semua masih sama, bahkan foto-foto Bunga pun masih tertata rapi di tempatnya tidak bergeser satu senti pun.
Air mata sudah tidak bisa lagi Bunga bendung, dia begitu senang namun juga terharu karena dia bisa kembali ke rumah itu. Dia bisa kembali merasakan kamarnya yang sedari kecil dia tempati, yang sedari kecil menjadi saksi setiap ada bahagia dan kesedihan.
Dengan perlahan tangan Bunga mengambil satu bingkai foto yang ada di atas meja belajarnya, kemudian Bunga mencium foto itu, di mana di dalam foto itu terdapat abunga dan juga kedua orang tuanya sedang tersenyum bahagia.
"Kamu senang sayang bisa kembali lagi ke sini?" tanya Mami Rindi sambil mengusap bahu Bunga.
"Iya Mih, aku senang karena aku bisa merasakan kembali kamar yang sudah 5 tahun tidak aku tempati," jawab Bunga sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang Mami.
Rasanya momen seperti ini sudah lama sekali tidak Bunga rasakan, di mana dia bersandar di bahu Maminya, di bahu seseorang yang Bunga anggap kuat, di bahu seseorang yang selama ini menjadi benteng bagi Bunga, di bahu seorang wanita yang telah melahirkannya, berjuang bertaruh nyawa untuk dirinya agar bisa melihat dunia ini.
Sedangkan di lantai bawah Papi Frans sedang berbincang dengan Sony, karena tadi Papi Frans melihat Sony berwajah tegang dia yakin telah terjadi sesuatu, karena Papi Frans sudah hafal betul raut wajah putranya apabila sedang terjadi sesuatu yang membahayakan.
__ADS_1
"APA! Jadi ada orang yang ingin mencelakai kalian? Apa kamu sudah menyuruh anak buahmu untuk menyelidiki siapa dalang dibalik semua ini?" tanya Papi Frans dengan wajah tegasnya.
Mendengar jika ada seseorang yang ingin menculik Bunga dan mencelakai Putri semata wayangnya itu, tentu saja Papi Frans tidak tinggal diam. Dia tentu saja marah, dia tentu saja tidak akan pernah membiarkan seseorang menyakiti keluarganya walau Seujung Kuku sekalipun.
"Sudah Pih, bahkan aku sudah suruh Elang untuk menyelidiki siapa dalang di balik semua ini. Dan aku pastikan Pih, orang itu tidak akan hidup tenang! Dia akan berhadapan denganku," jawab Sony sambil meremas kertas yang ada di tangannya.
Kedua pria itu pun terdiam, mereka sama-sama memikirkan cara dan memikirkan Siapa dalang di balik semua ini. Mereka tidak akan pernah membiarkan keluarganya disakiti walau hanya sejengkal atau Seujung Kuku, karena bagi mereka keluarga adalah kebahagiaan yang tidak ternilai harganya.
*******
"Apa Tuan mencari Nona Bunga?" tanya tetangga itu kepada Bagas, dan langsung dibalas anggukan oleh pria itu.
"Iya Bu, Bunga ke mana ya? Apa dia ke kantor?" tanya Bagas kepada wanita yang bertubuh gempal yang ada di hadapannya itu.
"Nona Bunga sepertinya sudah pergi Pak, tadi 2 jam yang lalu. Saya melihat Nona Bunga pergi bersama seorang wanita paruh baya dan seorang pria dengan dua koper Pak sepertinya Nona Bunga sudah pindah dari Apartemen ini," ucap wanita bertubuh gempal itu kepada Bagas.
__ADS_1
Mendengar penjelasan wanita yang ada di hadapannya itu, tentu saja Bagas sangat kaget, pasalnya Bunga tidak ada cerita apapun soal kepindahannya dari Apartemen. Lalu wanita itu pun pergi untuk ke supermarket dan Aurora yang mendengar jika Bunga sudah tidak di Apartemen lagi merasa sedih, dia pun langsung memeluk kaki Bagas.
"Pah, pokoknya aku nggak mau tahu! Aku mau ketemu sama Tante cantik, Pah. Kita halus ke mana nyari Tqnte cantik? Aulola kangen sama Tante cantik Pah," rengek Aurora sambil menggoyangkan kaki Bagas.
Bagas merasa bingung, dia juga tidak tega jika harus melihat putrinya merengek. Tapi Bagas juga tidak tahu kemana Bunga pergi? Kemudian dia pun mengeluarkan ponselnya dan menelpon Bunga, satu kali tidak diangkat dan panggilan kedua barulah Bunga mengangkat telepon darinya.
"Hallo Bunga, kamu di mana? Kenapa apartemen kamu kosong? Tadi kata tetangga kamu, kamu pindah apartemen? Kenapa tidak bilang sama aku?" tanya Bagas bertubi-tubi tanpa memberi Bunga cela untuk menjawab.
Sedangkan Bunga yang berada di seberang telepon sana menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir kenapa pria yang menelponnya ini begitu posesif dan cerewet. Tetapi ada rasa senang di hati Bunga saat Bagas menanyakan dirinya.
"Iya maaf, aku tidak sempat mengabari kamu. Kalau begitu gini saja, aku kasih alamat rumah orang tuaku, nanti ke sini saja jika memang Aurora ingin bertemu dengan aku," jawab Bunga.
"Baiklah, aku tunggu alamatnya. Aku ke situ sekarang, soalnya Aurora sangat ingin bertemu dengan kamu," ujar Bagas. Setelah itu dia pun menutup teleponnya dan menunggu share loc dari Bunga.
Mendapatkan apa yang dia mau, Bagas pun bergegas meninggalkan apartemen itu sambil menggendong Aurora, kemudian berjalan menuju mobil dan pergi ke alamat di mana Bunga sudah memberi lokasi rumahnya kepada Bagas.
__ADS_1
Bersambung. .......