Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Berubah


__ADS_3

Happy reading........


Langkah Ilham semakin mendekat ke arah angkringan itu, kemudian dia melihat angkringan itu cukup ramai. Ilham pun berdiri di belakang orang yang sedang mengantri untuk membeli sosis bakar.


Ilham melihat seorang wanita tengah memanggang sosis dan juga bakso, tapi Ilham tidak bisa melihat wajahnya. Sebab wanita itu memakai jilbab, kemudian Ilham berjalan mengitari angkringan dan berdiri tepat di hadapan wanita itu. Namun seketika mata Ilham membulat saat melihat wanita yang tengah memanggang sosis tersebut.


"Nara!" kaget Ilham sambil menatap Nara.


Nara yang merasa dipanggil, seketika menoleh ke arah depan, dan dia pun sangat kaget saat melihat Ilham berdiri di hadapannya. "Mas Ilham!" kaget Nara dengan wajah sendu. Dia tidak menyangka, jika Ilham berada di hadapannya, dan Ilham pun sama. Dia tidak menyangka jika Nara sedang berdagang di angkringan jalan seperti itu.


Nara terus melamun, tanpa sadar jika sosisnya mulai gosong. Hingga seorang pembeli mengagetkan Nara.


"Mbak, itu sosis saya awas gosong," ucap seorang pembeli kepada Nara, dan Nara langsung tersadar lalu membalik sosis tersebut.


Tatapan Ilham mengarah ke arah bawah, di mana seorang anak kecil sedang tertidur dengan pulas di emperan jalan, hanya beralaskan tikar. Namun anak kecil itu terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya, sehingga setelah 20 menit Nara selesai melayani pembeli dan sudah tidak ada orang lagi.


"Mas, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Nara kepada Ilham. Namun Ilham langsung duduk di samping Azam dan mengusap rambut anak kecil itu. Dia begitu kasihan saat melihat Azam harus menderita, sebab walau bagaimanapun, Ilham pernah menjadi Papanya selama 1 tahun.

__ADS_1


Dia menatap ke arah Nara yang sekarang sudah berubah 180 derajat. Bahkan penampilannya pun sudah berubah, dari yang tadinya terbuka dan juga glamor, kini sangat sederhana dan juga tertutup oleh jilbab, dan pakaiannya pun longgar. Itu membuat Ilham merasakan teduh di hatinya saat menatap Nara.


"Mobilku mogok, aku tadinya ke sini ingin bertanya soal pom bensin terdekat di sini, tapi ternyata aku tidak menyangka jika aku akan bertemu kamu dan Azam dalam keadaan seperti ini? Apa yang terjadi? Kenapa, sekarang kamu jualan angkringan? Lalu, kenapa Azam tidur di sini? Tempat ini pasti banyak kuman, jika Azam sakit bagaimana?" tanya Ilham memberondong Nara dengan berbagai pertanyaan.


Mendengar pertanyaan dari Ilham, sekaligus mantan suaminya itu. Nara menghela nafasnya dengan berat, kemudian dia duduk di samping Azam, namun masih berjarak dengan Ilham. Dia tidak berani menatap pria yang ada di hadapannya, Nara masih terus menunduk menjaga pandangannya.


"Setelah kamu mengusir aku, hingga aku tidak membawa apapun. Aku pergi ke rumah Ferdi, tapi ternyata kebahagiaan yang aku impikan salah. Ferdi selingkuh, dan ternyata aku hanya dijadikan budak nafsunya saja. Aku luntang-lantung di jalan, mengemis bersama dengan Azam untuk bertahan hidup. Sampai akhirnya, Allah menemukan aku dengan Bunga, dan karena keluarga Bunga, aku bisa seperti ini. Aku bertekad untuk berubah menjadi yang lebih baik, dan orang tua Bunga juga memberikan aku modal untuk membuka usaha, dan membayar kosan. Tentu saja aku sia-siakan, aku berjualan seperti ini untuk bertahan hidup, agar aku dan Azam masih bisa makan," jelas Nara sambil tersenyum ke arah Ilham, kemudian menatap kembali ke arah depan.


Ilham yang mendengar penjelasan Nara, merasa bersalah. Dia tidak menyangka, jika hidup Nara akan semenderita itu. Padahal, Ilham selama ini merindukan Azam. Dia pikir, setelah Ilham menceraikan Nara dan mengusirnya dari rumah, Nara kembali kepada selingkuhannya dan hidup bahagia, tapi ternyata Ilham salah. Nara malah menderita, bahkan jauh lebih daripada yang dia pikirkan.


"Gimana kabar Mama Farah, Mas?" tanya Nara kepada Ilham, tanpa melihat ke arah pria itu.


"Jika kamu ingin mencari pom bensin, itu di depan ada, tapi pom bensin mini, bukan pom bensin yang besar," ujar Nara sambil menunjuk pom bensin mini yang tak jauh dari tempat angkringannya, dan membuat Ilham seketika menengok ke arah di mana Nara menunjuk tempat itu.


Saat Ilham akan membuka pembicaraan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang membeli sosis bakar, dan Nara pun langsung melayani anak kecil itu. Dia benar-benar harus menjaga jarak dengan Ilham, walaupun sebenarnya di dalam lubuk hati Nara dia masih mencintai Ilham.


Setelah Nara berubah, memang dia baru sadar jika Ilham begitu berarti baginya, tapi sayang, dia dan Ilham tidak bisa kembali bersama. Karena Nara begitu banyak kesalahan kepada pria itu, dan Nara tidak sanggup untuk menyakiti pria itu kembali.

__ADS_1


"Nara, aku ..." Ilham ingin mengatakan sesuatu kepada Nara, namun dia terlihat ragu.


"Aku, kenapa Mas?" tanya Nara saat Ilham menggantung ucapannya. Namun pria itu langsung menggeleng. "Tidak! Aku hanya ingin tanya, kamu buka setiap hari di sini?" tanya Ilham dan langsung dibalas anggukan oleh Nara.


"Iya Mas, aku buka setiap hari di sini, dari jam 08.00 pagi sampai jam 05.00 sore," jawab Nara sambil memanggang sosis pesanan pembeli.


"Baiklah, kalau begitu aku beli bensin dulu. Ingat, jangan pulang sore-sore. Kasihan Azam jika harus tidur di emperan jalan seperti itu," ujar Ilham sambil pergi meninggalkan angkringan. Namun baru saja dua langkah, dia kembali ke arah Nara, lalu mengeluarkan dompetnya dan memberikan Nara beberapa uang lembar berwarna merah,


"Apa ini Mas?" tanya Nara dengan bingung, sambil menatap ke arah uang yang ada di tangan Ilham.


"Ini adalah uang, untuk kebutuhan kalian," ujar Ilham, tapi Nara menggeleng dan mendorong pelan tangan Ilham dari hadapannya. "Maaf Mas, aku tidak bisa menerimanya. Hasil dari penjualanku, sudah cukup Alhamdulillah untuk aku dan Azam,ndan insya Allah kami tidak kelaparan kok, Mas," ucap Nara dengan nada tidak enak, karena dia tidak ingin merepotkan Ilham sedikitpun.


"Tolong jangan menolak! Ini untuk Azam, gunakanlah uang ini untuk kebutuhan Azam. Dia perlu susu dan juga vitamin," jelas Ilham sambil kembali menyodorkan uang itu. Namun Nara lagi-lagi menolak, dia tidak ingin merepotkan Ilham. Dia tidak ingin Ilham merasa kasihan dengan hidupnya, karena Nara pun tidak merasa jika hidupnya menderita.


Ilham yang mengerti pikiran Nara, seketika berucap, "ini bukanlah bentuk rasa kasihanku, kepada kalian. Namun, ini adalah bentuk rasa tanggung jawabku, kepada Azam. Walaupun Azam bukan Putraku, namun aku dan dia sudah ada ikatan batin bukan? Jadi, biarkanlah seorang Ayah untuk memberikan nafkah kepada anaknya?"


Nara yang mendengar itu tentu saja sangat terharu, dia tidak menyangka jika Ilham masih peduli kepada Azam. Padahal Ilham sudah mengetahui jika Azam bukanlah putranya. Ferdi saja sebagai Ayah kandungnya, tidak pernah sedikitpun menafkahi Azam. Bahkan Ferdi tidak pernah mencari keberadaan Azam di mana, dan itu membuat Nara sangatlah sakit.

__ADS_1


Mau tidak mau, Nara pun menerima uang itu karena paksaan dari Ilham. "Baiklah, aku akan menerima uang ini, dan aku akan mempergunakannya demi kebutuhan Azam. Terima kasih banyak Mas," ucap Nara dan langsung dibalas anggukan oleh Ilham. Kemudian Ilham pun melangkah pergi meninggalkan Nara dan juga Azam untuk membeli bensin.


Bersambung......


__ADS_2