Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Pergi


__ADS_3

Happy reading.....


Ilham pulang ke rumah dengan amarah yang sudah tidak tertahan lagi, dan saat Ilham masuk ke dalam rumahnya dia melihat Azam sedang bermain di ruang tamu bersama dengan baby sitternya. Seketika amarah Ilham semakin memuncak saat melihat anak itu, apalagi saat mengingat jika Azam bukanlah putranya.


Hatinya sakit, hatinya hancur saat mengingat jika Azam bukanlah darah dagingnya. Ilham yang tidak ingin lepas kendali pun masuk ke dalam kamar, lalu dia mengambil koper milik Nara dan memasukkan semua bajunya dan juga Azam ke dalam koper itu.


Saat Ilham sudah beres memasukkan baju Nara dan Azam ke dalam koper, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan ternyata dia adalah Nara. Melihat sebuah koper di tangan Ilham, Nara seketika menjadi panik kemudian dia menghampiri suaminya lalu berlutut di hadapan Ilham dan memegang kaki pria itu.


"Mas, ku mohon jangan usir aku dan Azam, Mas. Aku bisa jelaskan semuanya, ini tidak seperti yang kamu pikir. Hasil itu palsu Mas, surat itu telah dipalsukan." Nara mencoba untuk membuat Ilham percaya jika hasil tes DNA itu adalah palsu.


Ilham yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi kemudian membanting koper itu hingga terseret beberapa meter dari dirinya, lalu Ilham menendang kasar tubuh Nara hingga pegangan tangan mungil wanita itu yang berada di kakinya terlepas.


"Apa kau bilang, itu hasil yang palsu? Apa kau pikir aku sebodoh itu? Aku tidak mungkin membiarkan hasil tes DNA itu ditukar, dan jangan kau pikir, aku bisa kau bodoh lagi. Sudahlah, sebaiknya kau bawa anak dari selingkuhanmu itu pergi dari sini. Aku tidak sudi menampung kalian di rumahku!" geram Ilham sambil membalik badannya dan memunggungi Nara.

__ADS_1


"Mas, aku bisa jelas--"


"PERGI!" bentak Ilham dengan suara yang menggelegar.


Nara terlonjak kaget saat mendengar bentakan Ilham, kemudian dia bangkit dan meraih koper itu lalu dia menatap Ilham dengan tatapan tak rela, karena terusir dari rumah mewah itu.


Nara mulai berjalan keluar dari kamar dengan wajah yang lesu, saat ini tujuannya adalah rumah Ferdi, sebab Nara tidak ada tempat tinggal lagi selain Ferdi. Dia menuruni tangga menuju ruang tamu di mana Azam berada.


Di dalam lubuk hati Nara, sebetulnya dia tidak mau pergi dari rumah itu. Berat rasanya Nara meninggalkan rumah ilham, karena di rumah itulah Nara seperti menjadi seorang Nyonya besar. Apalagi dengan uang bulanan yang dikasih oleh ilham.


"Tidak perlu kamu membujuk ku dengan membawa Azam, karena itu tidak akan meluluhkan hati ku," segah Ilham yang seakan sudah tahu tujuan Nara.


"Mas, maksud kamu apaan sih? Aku nggak bermaksud seperti itu, Mas. Lagipula, memangnya kamu tidak melihat wajah Azam? Kasihan dia Mas kalau sampai kamu usir kami dari sini. Kamu benar-benar tega mengusir kami?" Nara mencoba membujuk ilham dengan memperlihatkan wajah melasnya, apalagi saat ini dia tengah menggendong Azam, berharap pria yang ada di hadapannya itu akan luluh.

__ADS_1


Ilham menatap kearah Azam, dia melihat wajah anak kecil itu yang selama satu tahun lebih dia urus, dia timang, dia sayangi sepenuh hati karena ilham saat itu tahunya jika Azam adalah putra kandungnya, darah dagingnya sendiri, tapi saat ilham mengingat surat tes DNA yang diberikan dokter beberapa saat yang lalu di rumah sakit, membuat amarah Ilham benar-benar kembali memuncak.


"Aku tidak perduli, mau dia tinggal di mana itu bukan urusanku. Lagipula dia punya ayah bukan? Selingkuhan yang selama ini tidur dengan kamu! Jangan kamu pikir, selama ini aku tidak tahu kalau kamu sudah selingkuh di belakangku!" geram Ilham dengan sorot mata yang begitu tajam dan aura yang begitu dingin menatap kearah Nara.


"Sekarang pergi dari sini! Atau jika tidak, aku akan panggil satpam untuk menyeretmu keluar dari rumah!" ancam Ilham sambil menunjuk pintu keluar.


Nara mendengus dengan kasar, perasaannya benar-benar geram saat ini, dia tidak bisa meluluhkan hati Ilham walaupun dengan Azam. Dengan terpaksa Nara pun keluar dari rumah Ilham sambil menenteng kopernya.


Ilham menatap kepergian Nara dengan hati yang terluka, dia tidak menyangka jika rumah tangganya dengan Nara harus berakhir seperti ini. Terasa sakit yang ada di hati Ilham, bahkan lebih parah dari saat Ilham mengetahui perselingkuhan Nara dan juga Ferdi.


Air mata yang sejak tadi Ilham tahan, akhirnya lolos juga. Kemudian dia menghapus air mata itu dengan kasar lalu masuk ke dalam ruang kerjanya, dan mengambil satu botol minuman dan menegakkan sampai habis setengah. Ilham saat ini benar-benar merasa hancur dia merasa sebagai suami tidak dihargai, bahkan bila merasa jika dirinya terlalu bodoh karena percaya kepada ular berkepala dua seperti Nara.


Sedangkan Nara, menaiki taksi untuk menuju ke rumah Ferdi, karena saat ini tujuannya adalah rumah Ferdi. Bahkan Nara tidak membawa uang sepeserpun dari rumah Ilham, dia hanya membawa baju dan juga badannya saja.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2