
Naila tercengang mendengar ucapan sang ayah.
"Ko gitu yah, aku kan masih pengin nerusin kuliah...." protes Naila
"Ayah ga nyuruh dia untuk nikahin kamu, tapi ayah hanya ingin ngobrol dengannya...."
"Beneran kalo ayah ga minta dia buat nikahin aku?"
"Ia, udah cepet wa dia, bilang di tunggu...."
"Ok siap...."
"Sekarang kita sarapan dulu ya...." ucap mamah Ais
"Siap mah..."
Ayah Putra memimpin do'a, lalu mereka semua pun memulai sarapannya dengan tenang.
"Yah hari ini aku sama Nadin mau pulang..."
"Ia, pintu rumah ayah akan selalu terbuka untuk kalian....."
Ada kesedihan dalam kaliamt ayah Putra Namun dia tau, niat anak nya baik.
"Kalin harus sering-sering kesini ya.... "
"Ia mah...."
.................................
Jam sembilan pagi, Nadin dan Bagas sudah siap pergi ke rumah sakit.
"Mah,pah Bagas sama Nadin pamit ya, Assalamu'alaikum.... "
"Wa'alikusalam, sering-sering main ke sini ya sayang...."
"Ia mah, ayo sayang...."
Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, Bagas dan Nadin langsung berangkat ke rumah sakit.
Tak perlu waktu lama untuk tiba di rumah sakit. Kini keduanya sedang menunggu di poli kandungan.
"Mas..."
"Ya sayang...."
"Kalo aku beli baju boleh ga?"
"Boleh dong sayang, masa ga boleh, lagi pula sayang belum pernah beli baju selama nikah sama mas kan?"
"Ia, sekarang kan badan aku udah tambah besar, jadi bajunya pada sempit, makannya pengin beli baju....."
"Ia sayang...."
Ibu muda yang duduk di sebelah Nadin, terus mengusap perutnya yang sudah besar. Dia merasa ada sesuatu yang mengalir dari sela-sela pahanya.
Rasa mulasnya semakin menjadi.
"Tolong saya...." ucapnya sembari memegang lengan Nadin
"Mas kayannya mba ini mau melahirkan, tolong panggil suster mas....." panik Nadin
Bagas langsung pergi mencari suster.
"Mba sabar ya, sebentar lagi suster datang..."
"Huh huh huh.... saya udah ga kuat....."
Gredeg gredeg, suara bangkar yang di dorong oleh se orang suster.
Keaddan mendadak heboh.
Para orang yang berada di sana langsung sigap membantu menaikan ibu muda itu ke bangkar.
"Mana suaminya?" tanya sang suster
__ADS_1
"Dia sendirian sus...." jawab salah satu ibu muda
"Oh ya sudah..."
Sang suster langsung membawa ibu muda itu ke ruang persalinan.
Seorang petugas kebersihan datang, membersihkan cairan ibu itu.
"Kayanya bakal lama nih...." ucap se orang ibu muda
"Ia nih yang, kayannya bakal lama, kita pindah aja yu...." ucap Bagas
"Ga usah mas, di sini aja, lagian belum tentu di tempat lain dokternya perempuan..."
"Mas bakal cari dokter perempuan khusus buat sayang...."
"Ga usah, lagian aku udah enak sama dokter yang ini....."
"Ya udah deh...."
Bagas mengalah, dia tak mau mengganggu kenyamanan sang istri.
Sudah satu jam lebih, tapi sang dokter belum terlihat memasuki ruangannya. Banyak pasien yang akhirnya memutuskan untuk pulang.
"Pulang aja yu yang, udah sepi nih...."
"Tapi beli baju dulu ya mas...."
"Siap sayang...."
Mereka meninggalkan poli klinik.
Bagas langsung mengajak Nadin ke toko pakaian langganan keluarganya.
Nadin memilih milih baju, nmaun ia belum ketemu dengan yang model dan harganya yang cocok.
"Sayang mau baju yang gimana sih?"
"Daster aja mas, tapi yang lengan panjang dan longgar...."
Bagas sama sekali tak memandang harga, baginya 'Ada barang ada harga', dia hanya memilih daster yang bahannya menurutnya bagus dan tidak gatal di kulit dan gampang menyerap keringat. Apa lagi kulit istrinya begitu sensitif.
"Mas, ini berlebihan tau...."
"Nurut aja, mba ini semua ya....."
"Siap mas...."
"Ayo sayang kita ke kasir....."
Nadin hanya menurut, walapun dengan raut muka yang tak enak di pandang.
"Berapa mba semuanya?"
"Satu juta tujuh ratus...."
"Ini mba...."
Nadin tercengang, mendengar jumlahnya, selama ini ia tak pernah menghabiskan uang segitu hanya untuk membeli baju.
"Makasih ya mas, silahkan datang kembali..."
"Ia mba, sama-sama, ayo sayang..."
Nadin tersadar dari keterkejutannya.
"Ia mas ayo...."
Tangan kiri Bagas menenteng belanjaan, tangan kanannya merangkul pinggul sang istri.
Sampai di mobil, Bagas langsung membuka bagasinya, lalu memasukan barang belanjaannya.
Kemudian Bagas menyusul Nadin, masuk ke dalam mobil.
"Langsung pulang sayang?"
__ADS_1
"Ya...."
Bagas melajukan kendaraannya menuju jalan pulang.
"Mas, dulu pas masa-masa sekolah mas nakal ga?"
"Engga tuh biasa aja..."
"Hemmm, mas pernah jatuh dari pohon ga?"
"Engga, mas ga bisa manjat pohon...."
"Cemen...." ledek Nadin
"Emang sayang pernah?"
"Pernah....."
Nadin pun menceritakan masa-masa itu. Dulu ia pernah jatuh dari pohon. Saat itu hari Kamis sore, ia bersama 3 orang temannya memanjat pohon 'nyamplung' yang berada di dekat rumah Siti, dan berada di pinggir kali.
Siti yang badannya paling kecil, manjat duluan, lalu di susul oleh Eli setelah itu baru Nadin. Nadin kebagian di antara dua cabang pohon, posisi paling enak. Sedangkan teman satunya lagi, tak sampai atas.
Saat itu Nadin ingin merubah posisi, namun karena ia tak berhati hati, ia malah terjatuh.
Siti, Eli dan Nisa langsung panik, mereka langsung turun.
Untungnya saat itu musim kemarau, jadi Nadin tak tenggelam. Namun saat baru jatuh ia tak dapat mengeluarkan suaranya.
Hal itu menambah kepanikan untuk ketiga orang itu.
Siti langsung memanggil, mas nya yang sedang bermain bola di perempatan jalan.
Mas nya Siti langsung menghentikan permainannya, dia langsung berlari bersama teman temannya.
Samapi di lokasi, ternyata sudah banyak tetangga yang berkumpul, namun tak ada yang mau menolong Nadin.
Mas nya Siti yang bernama Bayu, segera mencari jalan untuk turun ke kali.
Nadin belum bisa mengeluarkan suaranya, padahal ia sudah memcoba meminta tolong berulang kali.
Bayu berhasil turun. Ia lalu segera membantu Nadin bangkit.
Tak sengaja mata mereka bertemu. Nadin merasakan hal yang belum pernah ia rasakan.
"Ayo pelan-pelan" ucap Bayu, yang menyadarkan Nadin.
"Stop, mas ga mau denger cerita tentang laki-laki lain....." ucap Bagas menghentikan ocehan Nadin
"Kenapa mas?" tanya Nadin yang bingung
"Apa sayang ga sakit hati, kalo mas cerita perempuan lain?"
"Kalo itu tentang masa kecil, dan sekarang mas ga tau orangnya di mana ya ga papa..."
"Sayang, semua laki-laki di dunia ini ga akan suka, kalo wanitanya bercerita tentang laki-laki lain...."
"Oh gitu ya mas, ya udah deh aku minta maaf, terus aku harus cerita apa?"
"Cerita masa depan keluarga kita..."
"Si mas ngelantur, emang aku peramal apa suruh cerita tentang masa depan?"
"Alhamdulillah sampai...."
"Loh ko cepet sampai?"
"Ia kan sayang lagi mengenang masa lalu jadi ga sadar deh...."
"Hehe maaf mas..."
Memang benar, kaka temannya itu terdaftar menjadi salah satu nama dalam Cinta Monyet nya.
"Ia tapi lain kali jangan gitu ya..."
"Siap mas, sekali lagi aku minta maaf..."
__ADS_1
"Sama-sama sayang...." mengecup kening istrinya