
Happy reading......
Bunga tidak menceritakan tentang lamaran Bagas kepada Tina maupun keluarganya, walaupun sudah dua hari berlalu dari kejadian itu, dan selama dua hari itu pula Bagas selalu menjemput dan mengantar Bunga ke kantor dan karena itu mereka juga semakin dekat.
Saat ini Tina dan juga Bunga sedang berada di dalam satu ruangan membahas pekerjaan. Tina yang merasa haus pun meminta izin untuk mengambil minuman Bunga yang ada di atas meja, namun tangannya tidak sengaja menyenggol tas Bunga hingga isi di dalam tas itu berhamburan keluar.
Saat Tina membereskan barang-barang Bunga dan memasukkannya kembali ke dalam tas, tiba-tiba dia melihat sebuah kalung yang indah, kalung yang tidak pernah Tina lihat Bunga memilikinya.
"Ini kalung siapa? Indah sekali. Kenapa Lo nggak pakai?" tanya Tina sambil memegang kalung itu.
Bunga yang sedang mengecek proposal seketika mengangkat wajahnya. Dia sangat kaget saat Tina melihat kalung pemberian dari Bagas, kemudian dengan gugup Bunga pun mengambil kalung itu dari tangan Tina dan langsung memasukkannya kembali ke dalam tas.
"Lo kenapa? Kokk gugup kayak gitu sih? Ada yang Lo sembunyiin ya tentang kalung itu dari gue?" tanya Tina dengan tatapan menyipit ke arah Bunga. Sebab dia melihat gerak-gerik aneh dari sahabatnya yang sedang menyembunyikan sesuatu.
Tina tentu saja hafal bagaimana tingkah Bunga saat menyembunyikan sesuatu darinya, karena mereka sudah bersahabat lama. Dan Tina sudah hafal betul sifat dan juga tingkahnya Bunga seperti apa.
"Tidak! I-ni kalung ke-marin aku beli," alibi Bunga. Namun Tina tidak percaya, dia mendesak Bunga untuk bercerita tentang kalung itu.
"Yakin? Tapi gue nggak percaya kalau itu kalung Lo yang beli. Lo nggak mau cerita apapun sama gue? Gue ini sahabat Lo, kalo Lo memang masih nganggep gue sahabat Lo, kenapa harus ada yang disembunyiin?"
Bunga menghela nafasnya dengan kasar, kemudian dia menatap sahabatnya yang sedang menatap dirinya dengan tatapan penuh tanda tanya. Lalu Bunga mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
"Iya, Lo benar. Kalung ini bukanlah gue yang beli, tapi Lo tau kan? Dua hari yang lalu saat Bagas mengajak gue makan siang,ndia melamar gue dengan kalung ini." Akhirnya Bunga pun menceritakan bagaimana Bagas melamar dirinya saat itu, dan Tina yang mendengarnya tentu saja sangat antusias. Wajahnya berbinar bahagia seakan dia baru saja mendapatkan jackpot satu miliar.
__ADS_1
"Wow ... congratulation. Lalu, Lo terima kan lamarannya? Wah, gue kayaknya bakalan dapat pajak nikahan nih," goda Tina sambil menyenggol bahu Bunga.
Bunga tidak habis pikir dengan sahabatnya itu, yang dilamar siapa, tapi yang bahagia siapa? Bunga yang dilamar saja biasa saja, tetapi Tina yang mendengar Bunga dilamar begitu sangat antusias.
"Yeee ... malah diem. Lo terima kan? Rugi lho, kalau nggak diterima. Ya walaupun duda, tapi dia tuh tampan. Gue jamin deh, dia pasti kuat kok 10 ronde di atas ranjang." Tina semakin menggoda Bunga, membuat wanita itu seketika mendelik tajam ke arahnya.
Plak
Bunga memukul bahu Tina dengan map yang sedang dia pegang dengan tatapan tajamnya ke arah Tina. Bunga mencebik dengan kesal. "Siapa juga yang nerima? Lo lupa, gue ini masih dalam masa iddah, orang yang sedang dalam masa Iddah itu nggak boleh nerima lamaran dari orang lain, pamali," ujar Bunga dengan nada ketus sambil mamayunkan bibirnya.
"Jadi Lo nolak lamarannya Pak Bagas?" Tina seketika menjadi lesu tidak bersemangat, tidak seperti tadi. Entah kenapa semangatnya seakan hilang lenyap bagaikan ditelan Bumi.
"Gue belum jawab. Gue akan jawab saat masa iddah gue selesai. Ya, Gue rasa waktu itu cukuplah untuk mencari tahu ke mana hati gue akan berlabuh. Apakah memang Pak Bagas itu jodoh gue atau bukan? Dan kalung ini, sengaja gue pegang, dia bilang kalau gue menerima lamarannya maka gue harus pakai kalung ini. Tapi jika gue tidak menerima lamarannya, maka kalungnya bisa gue buang ke laut atau mungkin antah berantah," jelas Bunga sambil kembali membuka map yang ada di tangannya.
Bunga semakin menggelengkan kepalanya dengan heran saat mendengar ucapan sahabatnya itu, dia tidak habis pikir dengan Tina. Karena wanita itu benar-benar bar bar.
********
Dua minggu telah berlalu, saat ini Ilham dan juga Nara sedang berada di ruangan dokter, di mana Ilham akan mengetahui kebenaran apakah Azam putranya Ilham atau bukan. Dan tentu saja Nara merasa deg-degan, jantungnya dari pagi tidak bisa dikondisikan terus berdebar dengan kuat, karena dia takut jika Ferdi gagal menukar hasil tes DNA itu.
Dokter menyerahkan amplop berwarna putih kepada Ilham, kemudian dengan perlahan Ilham membuka amplop itu. Sementara Nara menggigit Bibir bawahnya, dia benar-benar ketakutan, tangannya bahkan sudah meremas dress yang dia pakai, dan Azam tidak ikut sebab dia dijaga oleh Baby Sitter di rumah.
Mata Ilham membulat sempurna saat membaca surat itu, rahangnya mengeras, urat-urat lehernya bahkan terlihat, dia menatap Nara yang berada di sampingnya dengan sorot mata yang begitu tajam dan dingin, menusuk ke relung hati yang paling dalam.
__ADS_1
"Ken-apa Mas? Be-nar kan, jika Azam itu adalah putramu? Kamu itu terlalu tidak percaya Mas," ucap Nara dengan nada gugup saat melihat tatapan tajam Ilham kepadanya.
Ilham tidak menjawab, tangannya terkepal kuat menahan amarah yang memuncak di dalam dada. Kemudian dia menyeret Nara keluar dari ruangan dokter itu menuju parkiran. Sementara itu, Nara benar-benar bingung dengan tingkah Ilham. Harusnya Ilham memeluk dirinya karena mengetahui jika Azam adalah putranya.
"Mas, kamu ini apa-apaan sih? Tangan aku sakit, jangan ditarik," protes Nara saat Ilham menyeretnya ke parkiran. Dan saat sampai di parkiran yang lumayan sepi, Ilham menghempaskan tangan Nara dengan kasar sehingga wanita itu meringis sakit di pergelangan tangannya.
"Kamu ini kenapa sih, Mas? Kasar banget sama istri? Harusnya itu kamu meluk aku, kamu minta maaf sama aku, karena kamu udah nuduh aku yang tidak tidak!" geram Nara sambil menatap Ilham dengan kesal.
Mendengar ucapan Nara Ilham berdecih, dia sampai meludah ke samping.
"Ciih, dasar kau wanita ***-***. Benar selama ini, jika tubuh yang aku nikmati juga dinikmati oleh pria lain? Dasar wanita tidak tahu malu! Wanita tidak tahu diri!" bentak Ilham dengan amarah yang sudah membakar dirinya, kemudian dia melempar surat itu ke wajah Nara, membuat wanita itu seketika mengerjakan matanya lalu mengambil surat yang hampir jatuh ke tanah.
"Baca dan pahami! Dan setelah ini kau angkat kaki dari rumahku! Bawa anakmu itu. Aku tidak sudi menganggap anakmu sebagai anakku. Karena dia bukanlah anakku! Walaupun selama ini aku sudah menyayanginya, tapi tidak saat aku mengetahui kebenaran yang begitu pahit," ucap Ilham dengan nada yang begitu geram. Kemudian dia masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobil dengan keras.
Nara kaget mendengar ucapan Ilham, kemudian dia mengetuk pintu kaca mobil Ilham. "Mas, kamu mau ke mana? Jangan tinggalin aku! Mas... mas...."
Ilham tidak mendengarkan ucapan Nara, dia terus melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit. Saat ini dadanya begitu terasa sesak, amarah seakan menyelimuti dirinya. Bahkan dari tadi tangan Ilham terus aja terkepal.
Nara benar-benar bingung melihat perubahan Ilham, kemudian dia membaca surat itu. Dan seketika wajahnya sangat kaget, matanya membulat dengan mulut menganga.
"Bagaimana bisa? Bukannya Ferdi bilang, kalau dia sudah menukar hasilnya? Pantas saja Mas Ilham marah kepadaku, hancur sudah masa depanku kalau sudah seperti ini. Ferdi Gimana bisa cerobos sih?" gerutu Nara saat membaca surat itu yang ternyata hasilnya menunjukkan jika Azam bukanlah Putra Ilham.
Bersambung.......
__ADS_1