
Siang ini Tina rencananya tidak ingin keluar ke mana-mana, namun tiba-tiba saja sebuah pesan masuk dari nomor yang begitu asing.
(Nak Tina, ini Tante Imelda, mamanya Riko. Tante ingin mengajak kamu untuk jalan-jalan ke mall, apakah kamu hari ini senggang?)
Terlihat mata membulat dengan mulut menganga. Tina tidak percaya jika calon mertuanya saat ini tengah mengirimkan pesan kepadanya. Jantung dia seketika berdetak kencang, tidak menyangka bahwa tante Imelda akan mengajaknya untuk jalan-jalan.
"Aduh! Gue terima nggak ya? Tapi gue merasa ragu. Bagaimana jika ini bukan hanya sekedar jalan-jalan?" Tina bermonolog pada dirinya sendiri. Dia menggigit bibir bawahnya dengan dilema. "Tapi gak ada salahnya juga sih kalau gue jalan-jalan sama tante Imelda. Siapa tahu kan gue bisa mengenalnya lebih dalam."
Tina pun segera membalas pesan tersebut. (Iya Tante, kebetulan hari ini aku tidak bekerja. Kalau begitu biar Tina ke rumah ya).
(Nggak usah, sayang. Kita ketemuan di mall aja!)
(Oke tante).
Tina segera melompat dari tempat tidur dan membersihkan dirinya, kebetulan dia belum mandi sedari pagi karena cuaca yang terlihat cerah namun di kamarnya terasa begitu dingin. Wajar saja, karena AC dia nyalakan sampai 20 derajat.
"Gue harus dandan cantik, tampil anggun agar tante Imelda tidak malu jika jalan bersama dengan gue," ujar Tina dengan wajah riangnya sambil mengguyur tubuhnya di bawah shower.
Setelah selesai Tina segera memakai gaun selutut dengan rambut digerai, lalu dia pun segera menyambar tasnya. Kebetulan Tina juga tidak memakai make-up yang tebal, karena dia pikir tidak usah berdandan terlalu menor. Bukannya membuat pangling, tapi malah seperti ondel-ondel sedang mangkal.
"Bismillah! Tina, lo pasti bisa. Jangan malu-maluin tante Imelda. Pokoknya lo harus memberi kesan yang bagus dan membuat calon mertua lo itu menyukai lo. Jangan sampai dia ilfil." Tina menyemangati dirinya sendiri sambil melompat-lompat menuruni tangga.
Wanita itu sepanjang perjalanan terus aja bersenandung riang, namun tidak dipungkiri jika saat ini hatinya sedang berdetak kencang karena dia jujur merasa deg-degan.
1 jam perjalanan Tina pun sudah sampai di sebuah mall yang besar. Dia segera mengirimkan pesan kepada tante Imelda.
(Tante, aku sudah sampai. Aku lagi berada di lobby).
(Baiklah, 5 menit lagi tante juga sampai). Terlihat balasan dari calon mertuanya.
Tina duduk di salah satu kursi yang ada di lobby tersebut, dia meremas jarinya sambil melipat bibir ke dalam. Tidak bisa menyembunyikan kegugupannya, karena untuk pertama kalinya dia jalan bersama dengan orang tuanya Riko dan hanya berdua saja.
Walaupun tante Imelda serta Om Wira tidak mempermasalahkan tentang statusnya, namun tetap saja hal-hal negatif tentang status janda itu masih menempel di dirinya, yang pasti akan menjadi bahan gunjingan ataupun menjadi bahan pertimbangan untuk kedua orang Riko.
"Tina," panggil tante Imelda.
Seketika Tina menoleh, kemudian dia berdiri sambil memberikan senyum manisnya. "Tante," ucapnya, kemudian dia mencium tangan tante Imelda.
"Sudah lama ya?"
"Ah, tidak kok, Tante. Baru saja. Lama juga tidak apa-apa," kelakar Tina.
"Kamu ini ternyata suka bercanda ya. Benar apa kata Riko, kamu adalah wanita yang humoris. Pantas saja anak tante itu sampai jatuh hati kepadamu. Padahal Riko sangat susah untuk ditaklukkan, tapi kamu mampu untuk meruntuhkan es batu yang ada di Kutub Utara."
__ADS_1
Mendengar hal tersebut Tina malah terkekeh. "Tante ini ada-ada aja ... ya udah Tan, terus sekarang kita mau ke mana?"
"Kita shopping dong! Kebetulan butik langganan Tante itu di lantai 4 baru kedatangan barang import dari luar, jadi Tante mau ngajak kamu. Siapa tahu kan selera kita sama." Tante Imelda menaik turunkan alisnya.
Tina mengangguk, kemudian dia langsung berjalan bergandengan dengan tante Imelda menuju lift. Tapi ternyata lift itu penuh, akhirnya mereka pun memutuskan untuk naik eskalator.
"Tante senang sekali, karena kamu mau menerima tawaran tante. Maaf ya, jika tante merepotkan."
"Tidak kok, Tante. Merepotkan dari mana? Orang aku aja lagi libur hari ini."
"Sebenarnya tante mengajak kamu jalan itu bukan hanya sekedar ingin shopping aja, tapi Tante ingin mengenal kamu lebih dalam. Kan sebentar lagi kamu akan menjadi keluarganya Tante, jadi tante ingin mengenal karakter kamu, apa yang kamu sukai dan bagaimana hubungan kamu bersama dengan Riko."
Tina terdiam, dia cukup senang saat mendengar penuturan dari Tante Imelda. Akan tetapi, ada rasa takut juga jika tante Imelda membahas tentang statusnya.
"Kenapa kamu diam saja? Apa ucapan tante ada yang salah ya?" Tante Imelda melirik ke arah Tina sambil berjalan.
"Tidak kok, Tante. Maaf, tapi Tina sedikit canggung aja, soalnya kan ini pertama kali kita jalan. Dan lagi, di sini juga tidak ada Riko."
"Emangnya kenapa kalau ada Riko?"
"Kalau ada Riko kan nanti aku bisa minta bantuan dia kalau tidak bisa menjawab ucapan Tante, hehe ..." kekeh Tina
Tante Imelda pun turut tertawa, kemudian dia mengusap rambut Tina. "Kamu ini ada-ada saja. Memangnya apa yang bakal tante tanyakan kepadamu? Seperti di ruang interogasi saja. Tante hanya ingin mengenal kamu lebih dekat, tidak lebih."
"Menurut kamu gimana? Cocok yang ini atau yang ini?" Tante Imelda memperlihatkan dua buah tas kepada Tina.
Wanita itu nampak menimbang sambil mengetuk jari telunjuknya di dagu. Kemudian dia menunjuk tas yang berada di tangan kiri tante Imelda yang berwarna krem.
"Ini Tante, warnanya kalem. Hitam memang warna yang netral, tapi sepertinya Tante sudah sering ya membeli warna netral?" tebak Tina.
"Kok kamu tahu sih, sayang?" kaget tante Imelda, karena Tina mengetahui jika dia memang sering membeli barang dengan warna putih ataupun hitam.
"Hanya nebak aja sih, Tante. Soalnya aku juga gitu, lebih suka warna yang netral, sebab bisa masuk ke baju mana saja. Tapi krem juga tidak kalah netral, terlihat begitu elegan," jelas Tina.
Tante Imelda mengangguk, kemudian dia membayar tas itu. Tidak lupa dia juga membelikan untuk Tina. "Eh ... tidak usah, Tante. Tina sudah banyak tas kok di rumah." tolaknya.
"Tidak apa-apa. Anggap saja ini hadiah dari tante."
"Tapi ...?"
"Tante mohon jangan menolak, ya!" Wajah tante Imelda memelas. Akhirnya Tina pun mengambil tas tersebut, kemudian mereka berjalan-jalan di mall itu, mencari barang sekaligus vas bunga, karena tadi pagi pas bunga kesayangannya tante Imelda pecah karena tidak sengaja tersenggol olehnya.
Setelah selesai berbelanja, tante Imelda pun mengajak Tina untuk duduk di salah satu restoran yang ada di sana. Mereka memesan jus sekaligus beberapa cemilan, karena Tina menolak untuk makan sebab ia masih merasa kenyang.
__ADS_1
"Boleh Tante bertanya sesuatu sama kamu?"
"Boleh Tante," jawab Tina.
"Kenapa kamu mau sama Riko? Dia itu kan memiliki sifat yang dingin, kaku, bahkan bisa dibilang kurang peka terhadap perempuan." Terlihat wanita itu menghela nafas yang sejenak, kemudian dia menatap lekat ke arah Tina. "Memang sih selama ini banyak sekali wanita yang mengejar-ngejar dirinya, mungkin karena Riko pria yang tampan. Tapi sikapnya terkadang membuat tante tidak yakin, apakah dia mampu untuk mendapatkan seorang calon istri atau tidak. Tapi nyatanya memang dapat, walaupun tante tahu dia itu tipe orang yang sangat susah untuk jatuh cinta dan membuka hatinya."
Tina manggut-manggut, tapi dia urung menjawab, karena Tina harus memperhatikan kata demi kata yang ia lontarkan agar enak didengar dan mudah dipahami oleh tante Imelda.
"Jawab jujur saja, tidak usah bertele-tele. Jangan sungkan. Anggap saja kalau Tante ini ibumu sendiri."
Tina tersenyum, kemudian dia pun mengangguk, "iya Tante," jawabnya, "sebenarnya Tina mencintai Riko mungkin sudah takdir, tapi Tina pun tidak tahu apa yang membuat hati ini sampai berpaut kepadanya. Walaupun memang benar apa yang Tante katakan, jika Riko adalah pria yang dingin, kaku dan lain sebagainya. Dia memiliki sifat seperti CEO yang ada di novel-novel, tapi di balik sikapnya itu ... aku melihat bahwa dia memiliki sifat yang baik, bahkan sejujurnya dia adalah pria yang hangat, humoris dan mungkin juga romantis. Namun harus lebih diasah keromantisannya." Tina berkata sambil terkekeh kecil.
"Kamu benar. Kamu harus mengajarkannya agar dia menjadi pria yang romantis, jangan kaku terus-menerus." Mereka pun tertawa bersama.
"Tante senang deh, karena Riko menemukan wanita seperti kamu. Baik, humoris, bahkan kamu tidak canggung dan tidak kaku. Memang benar sih apa kata pepatah ... jika berpasangan itu pasti akan berbeda, yang satunya api dan yang satunya air. Yang satunya bersikap kaku dan yang satunya sangat barbar." Tante Imelda terus tertawa, sementara Tina memanyunkan bibirnya saat tante Imelda menyebutnya dengan kata barbar..
"Jangan ngambek! Tante hanya bilang apa yang Riko katakan kok. Dia sering curhat sama tante, tapi kamu tahu ... dia amat sangat mencintai kamu."
"Benarkah, Tante?"
"Iya, serius." Tante Imelda mengangguk mantap. "Dan tante berharap, kalian akan cepat menikah dan kita akan segera menemui orang tuamu."
Seketika wajah Tina mendadak menjadi sedih saat mendengar kata orang tua, dan melihat itu Tante Imelda langsung menempuh jidatnya, karena dia sudah tahu semua tentang Tina, bahkan mengenai kedua orang tuanya.
"Aduh ... maaf ya sayang, tante benar-benar lupa."
"Tidak apa-apa, Tante."
Kemudian tante Imelda menggenggam tangan Tina, membuat wanita itu seketika menatap ke arahnya. "Kamu jangan sedih ya! Anggaplah tante dan juga Om Wira sebagai orang tuamu. Karena sebentar lagi itu semua akan terjadi, dan kamu akan menjadi putri kami."
Tina begitu sangat bahagia, kemudian dia memeluk tubuh tante Imelda dari samping. Tidak menyangka jika ia akan mendapatkan calon mertua seperti mereka yang begitu baik, bahkan tidak memandang dirinya.
"Makasih banyak ya Tante, aku pasti akan senang sekali memiliki orang tua seperti Tante dan om. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera masuk ke dalam keluarga Tante."
"Tante juga sudah tidak sabar." Wanita itu mengusap dan mencubit pipi Tina dengan gemas, dan setelah selesai makan, mereka pun pergi dari mall itu karena Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 sore.
"Tidak terasa, ternyata kita sudah selama itu berada di sana. Dan tante rasanya ingin selalu shopping sama kamu, karena tante rasa selera kita sama," ujarnya saat berada di lobby.
"Iya Tante, kapanpun tante mau ditemenin, tinggal WA saja. Nanti aku pasti akan menemani Tante."
Bersambung ......
Halo semua🙏🏻Kita akan lanjutkan kisah cinta Tina dan Riko untuk beberapa Bab kedepan. Selebihnya Novel ini akan jadi season 2 untuk cerita cinta Aurora, anaknya Bunga dan Bagas.
__ADS_1