Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
# 24


__ADS_3

Hormatilah orang yang lebih tua darimu, jangan pandang mereka dangan sebelah mata.......


.................................................................................


Pagi harinya, Nadin sudah siap dengan barang bawaannya. Bagas juga sudah siap untuk mengantarnya ke rumah mamahnya.


"Mas, saya sekalian pamit ya..."


"Sebentar mbok... " mengambil sesuatu di saku celananya


"Ini buat beliin oleh-oleh buat cucunya mbok.."


"Ga usah mas, yang tadi malam udah lebih dari cukup... "


"Ambil aja mbok, siapa tau nanti mbok butuh" ucap Nadin


Akhirnya mbok Jum mengambil lembaran uang itu.


"Makasih mas mba, saya pamit dulu..."


"Ia mbok, hati-hati di jalan..." mencium tangan mbok Jum


Mbok Jum mengeluarkan air matanya, dia bahagia walaupun hanya sebagai pembantu rumah tangga, namun sang majikan memperlakukan nya dengan baik dan mampu menghormatinya sebagai orang yang sudah tua.


"Ia mba, assalamu'alaikum ......."


"Wa'alikusalam.... " jawab keduanya


"Ayo sayang..."


"Ia mas... "


Bagas dan Nadin pun meluncur ke rumah orangtua Bagas.


............................................


Nadin dan Bagas baru sampai di rumah orang tua Bagas.


Nadin segera turun, lalu dia menunggu sang suami mengambilkan barangnya.


Selesai mengambil barang milik Nadin, Bagas langsung mengajak Nadin untuk masuk.


Ting tong, Bagas memencet bel.


Seorang perempuan berusia 28 tahunan membukakan pintu untuk mereka.


"Silahkan masuk mas Bagas dan mba Nadin" perempuan itu menyilahkan keduanya untuk masuk.


"Makasih mba..." jawab Nadin


Bagas dan Nadin langsung melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


"Assalamu'alaikum semuanya..."


"Wa'alikusalam.... "


Nadin segera menyalami mamah dan ayah mertua nya.


Nadin juga menyapa para pembantu yang sedang ikut sarapan bersama.


Tiba tiba Nadin merasa mual, karena bau pepes ikan yang menyengat.


Nadin langsung berlari ke kamar mandi yang ada di ruangan itu.


Uo.... sor...


Bagas, Naila, mamah Ais, dan ayah Putra segera menyusul Nadin.


"Sayang kamu ga papa?" panik Bagas, sembari mimijit tengkuk Nadin


"Perut aku enek banget mas..."


Uo.....,Nadin kembali muntah, kali ini yang keluar hanya cairan bening.


"Naila, tolong suruh bibi buatin teh pahit ya.."


"Ia mah... "


Naila bergegas meminta tolong kepada salah satu pembantunya untuk membuatkan teh pahit.


Nadin sudah tak bertenaga, wajahnya juga pucat.

__ADS_1


"Sayang udah?"


Nadin hanya mengangguk. Bagas langsung membopong Nadin, lalu membawanya ke kamarnya.


"Mah tolong bukain pintunya ya....."


"Ia.... "


Mamah Ais bergegas menaiki tangga, untuk menuju ke kamar sang anak.


"Pelan pelan Gas... "


"Ia yah..."


Setelah sampai di kamarnya, Bagas langsung menidurkan Nadin di tempat tidur.


"Mah ini teh pahitnya... "


"Ya, taruh di meja ya... "


"Ia mah..."


"Kamu pasti mual gara-gara bau pepes ya sayang?" tanya mamah Ais


"Ia mah, Nadin ga bisa bau-bau yang menyengat...."


"Sayang minum teh pahitnya dulu ya biar ga mual..."


"Ia mas, aku bisa sendiri ko..."


"Gas ada Ibnu di bawah.. " ucap sang ayah yang batu datang


"Ia yah, sayang sebentar ya mas ke Ibnu dulu"


"Ia mas...."


Bagas pun keluar.


Mamah Ais, mencabut jarum pentul yang ada di bawah dagu Nadin. Lalu mengoleskan minyak angin di sekitar leher Nadin.


"Nadin bisa sendiri mah..."


"Nai, kamu ga kuliah?"


"Astaga sampai lupa, aku berangkat dulu ya mah, yah, mba...." menyalami ketiganya


"Ia hati-hati.... "


"Mah ayah ke bawah dulu ya..."


"Ia yah... "


Kini tinggal Nadin dan ibu mertuanya. Mamah Ais mulai bercerita tentang masa kecil dan masa sekolah Bagas yang manja dan nakal.


Naum senakal nakalnya Bagas, dia tak pernah melawan orang tuanya. Saat sekolah Bagas menjadi idaman para teman wanitanya, banyak di antara mereka yang rela merendahkan diri di depan Bagas demi bisa menjalin hubungan dengannya.


Namun Bagas tak pernah mau menerima mereka, bagi Bagas perempuan yang mulia tak pernah mau merendahkan dirinya hanya demi cinta yang belum tentu terbalas.


Nadin mengakui jika suaminya tampan dan mempesona, apalagi dia mudah bergaul dengan siapa pun tanpa memandang apa pun.


"Sayang, kamu udah enakan?"


"Alhamdulillah, berkat kasih sayang mamah Ais, aku menjadi lebih enakan mas... "


"Lebay, kan mamah cuma ngolesin minyak angin...."


"Jangan salah mah, Nadin biasa tau yang sayang dia tulus apa engga cuman dari gestur tubuh dan perkataannya, ya kan sayang?" mencium pucuk kepala Nadin


"Hehe, ya gitu deh..."


"Kalian ini ko berani berani nya bermesraan depan mamah?" omel wanita bergamis abu-abu itu.


"Yeh si mamah kaya ga tau penganten baru aja... "


"Hem ia deh, ya sudah lanjutkan saja, mamah mau keluar... "


"Ia..."


"Makasih ya mah... "


"Ia sayang... "

__ADS_1


"Kenapa belum berangkat mas?"


"Mas takut ninggalin kamu sendirian... "


"Kan aku ga sendirian mas, ada mamah, ayah Naila, para bibi, dan pastinya ada Alloh yang senantias ada bersama kita...... "


"Ia sih yang tapi tetep aja aku takut...."


"Mas, pandang mata aku!!"


Bagas menuruti kata Nadin


"Mas itu harus percaya, kalo Alloh adalah sebaik baiknya penjaga dan penolong... "


Cup, Bagas mengecup bibir tipis milik Nadin


"His, aku serius mas..."


"Hehe ia sayang maaf, ya sudah mas betangkat ke luar kota ya, tapi kamu harus ngabarin mas kalo ada apa-apa... "


"Ia mas, mas hati-hati ya, maaf ga bisa nganter ke depan... "


"Ga papa, hai anak ayah, kalian baik-baik ya di perut ibu, jangan bikin ibu sakit ya, kerna ayah ga ada di samping ibu kalian..." mengelus perut Nadin yang masih rata


Nadin tersenyum melihat tingkah sang suami.


"Ya sudah mas berangkat ya sayang..." mencium mi seluruh wajah Nadin


"Ia mas.... " salim


"Kamu istirahat aja ya sayang...."


"Ia mas... "


"Ya sudah mas pergi dulu..."menutup pintu


Bagas pergi dengan hati yang sedikit berat.


Nadin mulai membuka ponselnya, dia ingin mencari tau tentang kehamilan.


............................................


"Sayang turun yu makan siang dulu...."


"Ia mah, sebentar lagi Nadin turun..."


Nadin sedang membaca Al-qur'an saat mamah Ais memanggilnya. Kegiatan rutin nya ketika selesai solat. Ya walaupun akhir akhir ini Nadin, hanya membaca kita sucinya saat selesai solat duhur saja.


Nadin menyudahi membaca Al-qur'an nya, lalu ia meletakan Al-qur'an itu di atas meja. Kemudian ia melipat mukena beserta sajadahnya. Lalu ia pun memakai jilbabnya.


"Siang semuanya.... " sapa Nadin


"Siang mba... " jawab semuanya


"Sini sayang deket mamah...."


"Ia mah...."


"Kamu ga mual kan sayang?"


"Engga mah, ini kan kesukaan aku.... "


"Alhamdulillah kalo gitu, ya sudah ayo makan" ucap sang ayah mertua


"Ia yah....."


Ayah Putra memimpin do'a. Selesai ber do'a mereka pun makan dengan lahapnya.


............................................


Di lain tempat lain, ada lelaki yang sedang di marahi istrinya.


"Mas, aku ga suka ya kalo kamu masih cari perhatian ke mba Nadin, inget mas aku tuh istri kamu..."


"Ia, kan mas udah minta maaf kemaren....."


"Sudahlah mas mau kerja dulu.... "


"Nanti beliin martabak telor ya...."


"Hem, ia...."

__ADS_1


__ADS_2