
Happy reading.......
Bunga mencoba untuk bangun dari pelukan Bagas, tapi Bagas malah menahan pinggang Bunga, hingga membuat wanita itu tidak bisa bangkit.
"Lepasin! Nanti kalau ada yang masuk, bagaimana?" pinta Bunga kepada Bagas, karena saat ini Bagas menahan pinggangnya dan malah menatap Bunga semakin dalam.
Bunga tidak kuat jika harus ditatap seperti itu oleh Bagas, bahkan saat ini jantungnya saja sudah mau loncat. Tapi, sekuat tenaga Bunga menahan untuk tidak bersikap Salah Tingkah di hadapan Bagas. Padahal, sudah sangat jelas Bagas melihat pipi merah merona milik Bunga.
"Memangnya kenapa, kalau ada yang masuk? Biarkan saja, biar kita dinikahkan," goda Bagas sambil menatap Bunga dengan tatapan menggoda. Namun, seketika wanita itu langsung membulatkan matanya, menatap tajam ke arah Bagas, hingga membuat pria itu terkekeh kecil.
Bagi Bagas, wajah kesal Bunga justru sangatlah menarik. Bahkan semakin cantik, dan karena Bagas tidak melepaskan pelukannya, Bunga pun mencubit dada Bagas dengan keras hingga membuat pria itu meringis kesakitan.
"Aawh ... kok kamu malah nyubit sih?" protes Bagas sambil mengusap dadanya yang dicubit oleh Bunga, yang terasa begitu sakit.
Tanpa memperdulikan ringisan Bagas, Bunga melengos begitu saja, berjalan mendekat ke arah ranjang Aurora. Sedangkan Bagas, malah tersenyum senang karena dia berhasil menggoda Bunga.
******
Saat ini Bunga dan juga yang lain sedang berada di meja makan untuk sarapan, dan di sana juga sudah ada Bagas. Bahkan, Bagas menyuruh asistennya untuk membawakan baju kerjanya ke kediaman Mardasena.
Semalam sebenarnya Bagas ingin mengajak Aurora untuk pulang, tapi saat dia masuk ke kamar tamu, dia melihat Mami Rindi sedang tidur bersama dengan Aurora. Dan saat Bagas masuk Mami Rindi pun bangun, kemudian menyuruh Bagas untuk tidur menemani Aurora di sana, karena dia tidak tega jika membangunkan Aurora di tengah malam.
"Oh iya, Nak Bagas. Nanti kamu berangkat ke kantornya bareng sama Bunga aja ya! Biar Aurora, Tante yang nganter ke sekolah," ucapan Mami Rindi sambil memotong roti yang ada di piringnya.
Bagas mengangguk, sedangkan Bunga malah menatap ke arah sang Mami dengan tatapan 'tidak mau'. Tapi, Mami Rindi malah melengos, pura-pura tidak melihat tatapan Bunga. Dia sengaja melakukan itu untuk mendekatkan Bunga dan Bagas, agar mereka semakin dekat dan akrab.
__ADS_1
"Anak cantik, gak mau diantar sama Tante ke sekolah?" tanya Bunga kepada Aurora.
"Tidak Tante cantik! Aku mau diantar sama Oma aja. Lagi pula,nnanti siang Oma mau ajakin aku buat makan siang sama oma Ranti," jawab Aurora sambil meminum susunya.
Bunga pun hanya pasrah. Sebenarnya, bukan dia tidak mau bersama dengan Bagas ke kantor. Hanya saja, setiap Bunga berdekatan dengan Bagas, dadanya sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Selalu berdebar dengan kencang, seakan jantung itu akan loncat dari tempatnya.
Sementara itu Bagas tersenyum senang mendapat dukungan dari keluarga Bunga, dia tahu arti dari perkataan Mami Rindi. Dan dia juga tahu, jika Mami Rindi ingin dia dan Bunga dekat. Maka kenapa Mami Rindi meminta Aurora untuk pergi ke sekolah dengannya.
"Oh iya, anak cantik. Maafkan Tante ya, semalam Tante tidak dapat es krim alpukatnya. Lagi pula, sepertinya tidak ada es krim rasa alpukat?" Bunga menatap Aurora dengan tatapan bersalah, dia takut gadis kecil itu akan merajuk. Namun siapa sangka, ternyata Aurora malah menggeleng dengan santai.
"Tidak apa-apa Tante cantik, lagi pula memang tidak ada es klim alpukat," ujar Aurora. Dan ucapan gadis kecil itu membuat Bunga mengerutkan dahinya.
"Lalu ... jika tidak ada, kenapa kamu meminta Tante cantik untuk membelikan es krim rasa alpukat?" heran Bunga sambil menatap gadis kecil yang ada di sampingnya.
"Dekat? Maksudnya?" tanya Bunga, meminta penjelasan dari gadis kecil itu. Kemudian dia melirik ke arah sang Mami, dia yakin jika Maminya telah bersekongkol dengan Aurora. Namun Mami Rindi pura-pura tidak melihat dan langsung memotong roti lalu memakannya.
"Tidak Tante cantik, maksud Aulola itu, supaya Tante cantik dan juga Papa tidak belantem telus. Jadi ... Aulola mau es klim lasa alpukat, lagi pula es klim itu, Aulola belum pelnah memakannya," alibi Aurora dengan wajah imutnya.
Sedangkan Bagas malah tertawa di dalam hati, dia benar-benar gemas dengan Putri kecilnya itu. Ternyata benar dugaannya semalam, jika Aurora dan juga Mami Rindi bekerja sama supaya dia dan juga Bunga bisa jalan bersama. Dan di sisi lain, Bunga masih menatap kedua wanita yang berbeda jauh umurnya itu dengan heran. Otaknya masih berpikir keras dengan ucapan Aurora tadi yang tidak sengaja keceplosan.
******
Sesampainya di kantor, Bunga langsung masuk ke dalam. Tetapi saat Bunga akan membuka pintu ruangannya, tiba-tiba Bagas menghentikan tangannya, membuat wanita itu seketika menoleh.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Nanti siang aku akan menjemput kamu untuk makan siang bareng. Kebetulan, ada restoran yang baru saja buka, dan aku ingin mengajak kamu untuk makan siang di sana," ujar Bagas. Setelah itu, dia pun meninggalkan kantor Bunga tanpa menunggu persetujuan dari wanita itu. Apakah Bunga setuju atau tidak makan siang dengan dirinya.
"Dasar pria kulkas! Belum juga aku jawab iya apa enggak, udah mainnya pergi aja. Ganteng sih. Tapi sayang, sikapnya kadang dingin, berubah-ubah kayak bunglon," gerutu Bunga dengan heran sambil masuk ke dalam ruangannya.
Tepat jam 11.00 siang, kerjaan Bunga sudah selesai. Dia pun bersiap-siap, karena sebentar lagi Bagas akan datang untuk menjemputnya makan siang. Dan saat Bunga sedang membereskan berkas yang ada di mejanya, tiba-tiba pintu ruangan Bunga terbuka, dan ternyata yang masuk adalah, Ardi.
"Hai Princess, apa kabar? Wow ... sepertinya kamu hari ini sibuk sekali ya? Sampai jarang hubungi aku," ucap Ardi sambil duduk di sofa yang ada di ruangan Bunga.
Bunga tentu saja sangat terkejut saat melihat Ardi datang, kemudian dia pun langsung menjabat tangan sahabatnya itu. "Alhamdulillah, kabar baik. Kamu sendiri gimana kabarnya? Gimana kerjaan kamu di Singapura, sudah beres?" tanya Bunga kepada Ardi, dan langsung dibalas anggukan oleh pria tampan itu.
"Sudah! Oh ya, kamu belum makan siang kan? Kita makan siang bareng yuk? Kebetulan, aku mau ngajak kamu makan siang di tempat yang bagus," ajak Ardi sambil berdiri.
Baru saja Bunga akan menjawab pertanyaan Ardi, tiba-tiba sebuah suara memotong dan menjawab ucapan Ardi, hingga membuat kedua orang itu menoleh ke arah belakang.
"Dia sudah ada janji makan siang denganku. Jadi ... dia tidak bisa makan siang denganmu," ujar Bagas yang baru saja datang ke kantor Bunga, lalu dia segera menarik tangan Bunga dan menggenggamnya. Membuat Ardi seketika merasa cemburu, karena melihat Bagas berani menggenggam tangan Bunga.
"Ya sudah, kalau gitu aku ikut makan siang, bereskan?" jawab Ardi dengan santai sambil merapikan jasnya.
Bagas yang mendengar itu segera menatap Ardi dengan tajam, tanda jika dia tidak setuju dengan ucapan adiknya. Namun, Ardi mengangkat kedua bahunya dengan acuh, dia tidak perduli. Yang pasti dia tidak rela melihat Bagas dan juga Bunga berduaan. Jadi, mau tidak mau, dia pun akan ikut makan siang.
"Jangan mulai! Lebih baik lo makan siang aja tuh sama, Tina. Lagi pula, dia jomblo, lu kan jomblo. Ya sudah, lu gebet aja sahabatnya Bunga. Dia cantik kok," ujar Bagas sambil menarik Bunga keluar dari ruangannya, namun Ardi segera menahan tangan Bunga.
"Haduh ... sesi tarik menarik lagi? Lama-lama tangan gua putus!' batin Bunga dengan geram, saat melihat kedua tangannya dipegang oleh kedua pria yang ngotot ingin makan siang dengan dirinya.
Bersambung. .......
__ADS_1