
Happy reading.........
Pagi ini, di kediamannya Ilham Nara sudah bersiap untuk pergi bersama dengan selingkuhannya yang bernama Ferdi.
Pas Nara menuruni tangga untuk kemeja makan, dia melihat jika Azam sedang disuapi oleh babysitternya. Memang Nara meminta kepada Ilham untuk menyewa babysitter, supaya dia bisa lengan leluasa pergi bersama dengan kekasihnya.
"Kamu mau ke mana? Kok pagi-pagi sudah rapi aja?" tanya Tante Farah pada Nara saat wanita itu datang ke meja makan dan melihat Nara sudah rapi.
"Aku mau keluar, ada acara sama teman," jawab Nara dengan singkat.
"Keluar? Kamu ini istri macam apa sih? Hari ini kan Ilham libur, dia tidak masuk ke kantor, dan kamu malah enak pergi keluar rumah mengabaikan suami dan juga anak kamu? Kamu ini istri macam apa Nara?!" Ketus tante Farah sambil menatap Nara dengan tatapan kesal.
Nara yang mendengar itu pun berdecih, dia tidak suka diatur-atur. Apalagi oleh wanita seperti Tante Farah, yang sifatnya tidak jauh beda dengan dirinya.
"Haduh, Mama. Aku ini bukan Bunga ya, yang hanya bisanya diam diri di rumah, megang wajan, megang gorengan. Sorry Mah, level kita itu beda. Kalau aku jiwanya bebas, sedangkan Bunga jiwanya itu hanya terkurung. Sudahlah, aku mau pergi jangan halangi aku!"
Tante Farah membulatkan matanya, dia kaget saat mendengar Nara berani melawan dirinya. Tidak dia pungkiri jika sifat Nara dan juga Bunga sangatlah berbeda, mereka bagaikan langit dan bumi. Bunga adalah sesosok menantu yang tidak pernah melawan kepada dirinya. Sekalipun dia membentak, mencaci dan memakai Bunga. Tetapi Nara, adalah menantu yang berani melawan nya.
Tante Farah geram mendengar ucapan Nara, kemudian dia memanggil wanita itu, tapi Nara malah melenggang pergi meninggalkan meja makan dan melambaikan tangannya ke arah Tante Farah.
__ADS_1
Tak berselang lama, Ilham pun turun dan bergabung di meja makan. Dia melihat jika wajah Mamanya sudah kesal di pagi hari, karena kebetulan Tante Farah memang menginap di sana dan sudah satu minggu.
"Mama kenapa? Kok kelihatannya kesal banget?" tanya Ilham sambil meminum kopinya.
"Gimana Mami tidak kesal? Kamu lihat tuh istri kamu! Suami ada di rumah, bukannya manjain suami, ini malah pergi? Istri macam apa, yang malah memilih hangout sama teman-temannya? Dia kan juga punya anak, harusnya dia ngurusin kamu dan Azam. Bukannya malah pergi keluar!" Tante Farah berbicara dengan nada kesal.
Ilham yang mendengar itu pun hanya bisa menghela nafas, dia tidak bisa melarang Nara untuk pergi dari rumah. Sebab semakin Nara dilarang, maka mereka akan terus ribut dan Ilham sudah sangat lelah ribut dengan Nara.
"Biarkan sajalah Mah, aku malas ribut dengan dia," jawab Ilham dengan singkat.
"Ya,kamu nggak bisa gitu dong, Ham! Walau gimana pun, kan kamu Suaminya? Kamu Imam dalam rumah tangga, harusnya kamu bisa mendidik Nara. Harusnya dia itu ngurusin kamu dan Azam, bukannya malah kelayapan."
Kalau Bunga, dia wanita yang pendiam, ramah dan jarang keluar rumah. Dan itu mengingatkan Ilham tentang masa-masa dia dan juga Bunga saat masih bersama.
Bahkan Rasa sesal di hati Ilham pun masih sangat terasa. Tidak dia pungkiri jika perasaannya saat ini masihlah sama, masih ada rasa cinta di hatinya untuk Bunga. Tapi sayang, sekuat apapun Ilham merebut Bunga kembali, maka sekuat itu pula Bunga menolak untuk kembali bersama dengan dirinya.
************
Siang ini rencananya Ilham akan bertemu dengan klien, walaupun dia libur tapi sekretarisnya menelpon dirinya untuk meeting dadakan bersama dengan klien yang dari Swedia.
__ADS_1
"Katanya kamu libur Ham? Kok malah mau pergi ke kantor?" heran Tante Farah sambil menggendong Azam dan mengajak anak kecil itu main.
"Iya Mah, tadi Rasti nelpon aku, katanya aku harus meeting dadakan, karena klien yang dari Swedia sore nanti akan pulang. Jadi mau tidak mau siang ini aku harus meeting bersama dengan dia. Kalau gitu aku pamit dulu ya Mah, titip Azam."
Setelah itu, Ilham pun pergi meninggalkan rumah menuju ke salah satu mall yang ada di kota Jakarta. Setelah menempuh perjalanan 40 menit Ilham pun sampai, dan langsung memarkirkan Mobilnya di basement.
Lalu dia pun menaiki lift menuju lantai 3,di mana kliennya sudah menunggu di salah satu restoran. Dengan langkah yang tegap Ilham masuk ke dalam restoran dan bertemu dengan kliennya untuk meeting.
Satu jam sudah meeting pun selesai, Ilham sangat senang karena klient yang dari Swedia mau bekerjasama dengan dirinya. Kemudian dia pun keluar dari restoran itu untuk pulang, namun saat Ilham keluar dari restoran matanya tertuju pada satu titik, di mana dia melihat seseorang yang dia kenal, yaitu Nara istrinya.
"Apa itu Nara?" gumam Ilham sambil mempertajam penglihatannya, karena dia melihat seorang wanita tengah dirangkul pinggangnya oleh seorang pria bule.
Demi memastikan apakah itu Nara atau bukan, Ilham pun mempercepat jalannya menghampiri mereka. Namun dia tidak sengaja menyenggol belanjaan seorang ibu-ibu, hingga mau tidak mau Ilham membantu ibu-ibu itu untuk membereskan belanjaannya.
Dan saat Ilham melihat ke toko di mana dua orang itu keluar, Ilham sudah tidak menemukan mereka lagi. "Sial! Aku kehilangan jejak. Apa itu tadi beneran Nara atau memang halusinasiku saja? Tapi aku yakin, dari baju dan rambutnya itu mirip dengan Nara."
Ilham mengacak rambutnya merasa frustasi, dia pun kembali ke mobil karena mencari di mall sebesar itu pun sangatlah mustahil. Ilham berencana akan menanyakan nanti Saat Nara pulang ke rumah.
'Awas aja, jika dia berani selingkuh di belakangku. Kamu lihat saja Nara! Aku tidak akan pernah memaafkan dirimu!' batin Ilham saat berada di dalam mobil dengan tangan terkepal memegang setir.
__ADS_1
Bersambung. . .......