Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Tidak Bisa Memaafkan


__ADS_3

Happy reading........


Pagi ini seperti biasa Bunga bangun, shalat dan juga memasak untuk sarapan. Kebetulan tadi subuh dia mendapat WA dari Maminya, jika Sony dan juga Jelita akan main ke apartemen.


Rasa senang tentu saja saat ini dirasakan oleh Bunga, karena walau bagaimanapun sudah lama dia tidak sarapan dengan Kakaknya. Dan sudah lama juga dia tidak bercengkrama, bahkan tidak bercanda dengan sang Kakak.


Biasanya dulu di rumah itu Bunga suka sekali menjahili sang Kakak, bahkan mereka sering kejar-kejaran seperti anak kecil, karena mereka hanya dua bersaudara. Jadi mereka saling menyayangi satu sama lain.


Tepat jam 06.32 suara bel berbunyi, dan Bunga sudah siap dengan masakannya. Yaitu nasi goreng seafood dengan dadar telur dan omelet sosis kesukaan Sony.


Bunga berjalan membuka pintu, dan di sana sudah ada Sony dan Jelita. Mereka pun masuk ke dalam apartemen, tapi ternyata bukan Sony dan Jelita saja yang datang, di sana juga ada orang tuanya Bunga, yaitu Mami Rindi dan juga Papi Frans.


"Papi... Mami," ucap Bunga dengan nada lirih. Kemudian dia pun mempersilahkan ke empat orang itu untuk masuk ke dalam apartemennya. Untung saja Bunga memasak nasi goreng lebih, jadi cukup untuk mereka sarapan ditambah Bunga juga bikin omelet.


Mereka pun menuju ruang makan, di mana semua sarapan sudah tersedia.


"Waaah... Ini Princess-nya Kakak yang masak? Wow, ternyata kamu sekarang jago sekali masak ya," ledek Sony sambil merangkul bahu Bunga dan mengacak rambut Adiknya.


"Iiish, Kakak. Jangan suka ngacak-ngacak rambut apa sih! Ini udah aku sisir, nanti berantakan gimana?" protes Bunga sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Bukannya meminta maaf, Sony malah terkekeh. Dia senang, karena dia bisa merasakan lagi hangatnya bercanda dengan Adik kecilnya itu. Tuan Putri yang selama ini dia jaga, yang selama ini dia lindungi sedari kecil kini telah besar.


Papi Frans dan juga Mami Rindi yang melihat kehangatan keluarganya merasa sangat bahagia, bahkan jauh di lubuk hati Papi Frans, dia sangat bersyukur karena keluarganya masih bisa bersatu kembali setelah apa yang terjadi 5 tahun yang lalu.


Sebuah genangan air mata terlihat di kedua kelopak mata Papi Frans, dan Mami Rindi yang melihat itu segera menggenggam tangan suaminya, menguatkan hati rajanya itu, tersenyum sambil menggeleng lemah. Berkata dengan bahasa isyarat jika suaminya jangan sampai menangis.


Lalu mereka pun sarapan pagi, Bunga merasa bahagia karena dia bisa kembali merasakan hangatnya makan bersama dengan keluarga kandungnya sendiri. Perasaan hangat seketika menjalar di hati Bunga, hingga tidak terasa embun-embun air mata telah menggenang di kedua kelopak mata Bunga.


Satu tetes air mata telah lolos mengalir melewati pipi mulusnya, dan secepat kilat dia langsung menghapus air mata itu. Dia tidak ingin keluarganya melihat dia bersedih, padahal Bunga tidak tahu bagaimana semua yang ada di sana juga merasa senang karena bisa berkumpul kembali dan merasakan hangatnya keluarga.


Setelah selesai makan, mereka bersantai di ruang keluarga di mana hanya ada sofa panjang cukup untuk 3 orang saja, sehingga Sony dan juga Bunga duduk di karpet berbulu, sedangkan Mami Rindi, Papi Frans dan juga Jelita duduk di sofa.


Bunga menyandarkan kepalanya di bahu Sony, dia menghela nafasnya dengan pelan. "Yaah... Namanya juga sudah jodoh Kak, mau gimana lagi? Mau kita menghindar seperti apapun, jika Allah sudah berkehendak, mau gimana? Tapi memang jodohnya aku dan juga Mas Ilham sampai di sini saja."


"Kakak rasanya ingin memberi pelajaran deh sama pria Brengsek itu! Berani sekali dia menyakiti Adik Kakak yang paling cantik ini." geram Bagas sambil mengepalkan tangannya.


Bunga yang mendengar itu segera mengangkat wajahnya, menatap wajah tampan sang Kakak. Dia yakin jika perkataan kakaknya bukanlah main-main, sebab Bunga sangat hafal betul bagaimana sifat Kakaknya yang begitu pendendam dan tidak kenal ampun.


"Kakak sudah biarkan saja! Lagi pun, mereka akan dapat karmanya sendiri kok. Tinggal tunggu waktu yang tepat saja, maka bom itu pun akan meledak," ujar bunga sambil tersenyum miring.

__ADS_1


Semua yang ada di sana seketika menengok ke arah abunga. Mereka melihat senyuman miring di wajah Bunga, senyuman yang mengartikan sesuatu yang akan terjadi.


"Sepertinya ada yang sedang direncanakan nih sama Adiknya, Kakak. Hayoo... Kamu ngeracain apa?" tebak Sony sambil menjawil hidung Bunga.


"Apaan sih Kak! Siapa juga yang ngerencanain sesuatu? Aku memang tahu kartu As mereka. Tapi, aku nggak mau ngasih tahu. Yaa... Selagi mereka nggak ngusik aku sih, aku mah diem aja. Tapi kalau mereka berani ngusik aku, ya udah, bomnya meledak. Tapi aku yakin sih, seiring berjalannya waktu pasti bom itu akan meledak juga Kak, karena sepandai-pandainya tupai melompat, sepandai-pandainya dia menyembunyikan bangkai, akan tercium juga kok," jawab Bunga sambil menatap ke layar TV.


Sony mengacak rambut Bunga kembali, dia bangga dengan adiknya. 5 tahun tidak bertemu dengan sang Adik, membuat Sony paham dan mengerti jika sekarang adiknya sudah besar. Bahkan sudah bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah.


Sebagai Kakak dia tentu saja sangat bangga, karena Bunga bisa melindungi dirinya sendiri. Walaupun dia tahu banyak penderitaan yang telah Bunga lalui selama 5 tahun.


Pak Frans tidak dapat menahan air matanya, kemudian dia menghambur memeluk tubuh putrinya yang sedang duduk bersama dengan Sony.


"Maafkan Papi Nak, Papi sangat egois, tapi jahat. Papi membiarkan kamu luntang-lantung di jalan, hingga kamu harus melalui penderitaan yang begitu berat. Hiingga seseorang menyakiti kamu dengan sangat sakit, Papi berjanji akan membalasnya. Papi akan menghancurkan mereka, Papi tidak akan mengampuni mereka Nak," jar Pak Frans sambil menangis dalam pelukan Bunga.


Mendengar itu Bunga merasa tersentuh, hatinya menghangat kemudian dia mengusap punggung sang Papi yang masih terlihat kekarm "Tidak Pih!Jangan lakukan itu! Jangan membalas mereka dengan kejahatan, selagi mereka tidak mengusik Bunga. Biarkan saja, Bunga bisa menjaga diri. Bunga bukan lagi anak yang manja, Bunga sekarang bisa melawan!" tolak Bunga sambil menggenggam tangan sang Papi.


Mau tidak mau Pak Frans pun mengangguk mengiyakan permintaan Bunga, tapi Siapa yang tahu jika di hati kedua pria itu Frans dan juga Sony mereka menaruh dendam kepada Ilham. Mereka tidak akan memaafkan Ilham untuk rasa sakit yang pernah dia berikan kepada Bunga, bidadari di rumah milik keluarga dari Argapura Mardasena.


Bersambung...... .

__ADS_1


__ADS_2