
Edo kembali ke lantai atas setelah memeriksa keadaan di bawah. Dia tidak ingin ikut campur dengan urusan bosnya, namun alangkah terkejutnya pria tersebut saat dia sampai di sana pintu ruangan milik Justin sudah rusak. Pria itu pun segera berlari dan melihat Justin sedang duduk di sofa sambil terus meringis.
"Tuan, Anda kenapa?" tanyanya dengan panik.
"Kau ini dari mana saja, Edo? Kenapa lama sekali!" marah Justin.
"Maaf Tuan, tadi saya habis dari lantai bawah ngecek kerjaan. Ini kenapa pintunya rusak? Terus Nona Aurora ke mana?" bingungnya.
"Dia pergi. Dan kau tahu? Pintu itu rusak dengan satu kali tendangan saja." Bukannya percaya, Edo malah terkekeh. "Tuan ini ada-ada saja. Mana mungkin wanita sekali nendang pintu bisa kebuka, apalagi sampai rusak? Memangnya dia itu Samson Wati."
"Aku tidak bercanda, Edo." Pria tersebut memasang wajah dinginnya dengan tatapan sam a dan melihat itu Edo langsung terdiam.
"Tapi Tuan, mana mungkin dia bisa melakukan itu semua?"
"Tapi itu kenyataannya. Apa kau tidak melihat pintuku sampai rusak?" Edo menggelengkan kepalanya dengan kecil, seolah ia tak percaya dengan baru saja dilihatnya. Tapi tidak mungkin jika Bosnya itu berbohong.
Namun, tetap saja di otak Edo tidak masuk di akal. Seorang wanita dengan tubuh yang tidak terlalu gemuk, mampu mendobrak pintu dengan sakit sekali tendangan.
"Terus itu Tuan, kenapa? Kok megangin senjata terus?" Edo menunjuk ke arah bagian yang dipegang terus-menerus oleh Justin, dan mendengar pertanyaan dari sahabat sekaligus kaki tangannya itu, Justin pun melengos. "Dia menendang pusakaku."
"What! Waw, amazing!"
"Amazing kau bilang? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan pusaka ku? Memangnya kau mau menggantikannya?"
Seketika Edo langsung beringsut dan memegangi kepunyaannya. "Tidak Tuan. Enak saja. Mana mungkin bisa diganti?" Pria itu bergidik ngeri jika sampai dia harus kehilangan terong kebanggaannya.
"Aku mau kamu cari tahu tentang dia! Bagaimana? Apa kau sudah menemukannya?" Edo mengangguk, kemudian dia menuju ruangannya dan mengambil berkas tentang Aurora.
"Ini Tuan." Edo menyerahkan berkas tersebut dan langsung disambut oleh Justin. Dia membuka sebuah berkas yang berisi biodata tentang Aurora, namun dahinya mengkerut heran, karena di sana hanya tertera bahwa Aurora hanyalah gadis biasa.
"Apa kau yakin ini biodata yang asli?"
__ADS_1
"Dari yang saya temukan, memang seperti itu, Tuan. Tapi ...."
"Tapi kenapa?"
"Tapi ada yang janggal Tuan, ari biodata itu. Seperti sudah dimanipulasi."
Justin menganggukkan kepalanya, kemudian dia mengetuk jari telunjuknya di dagu. "Kau benar! Ini seperti bukan biodata asli jika tidak diteliti dengan dalam. Bahkan dia berani mengancamku dengan menghancurkan kantor ini."
"Apa! Mengancam, Tuan?" kaget Edo dan Justin langsung mengangguk, "iya, aku yakin dia bukan wanita sembarangan."
Keduanya sama-sama terdiam, mereka penasaran dengan siapa Aurora yang sebenarnya. "Atau jangan-jangan ... dia adalah penyelundup dari musuh, Tuan?"
Seketika Justin menatap ke arah Edo. Dia terdiam sejenak, dan memang itu bisa saja terjadi. Tapi entah kenapa Justin merasa ragu jika Aurora adalah bagian dari musuhnya.
"Entahlah. Kau coba selidiki lagi! Pokoknya kau harus mendapatkan biodata yang asli, paham!" Edo mengangguk kemudian dia keluar ruangan itu.
Tentu saja mereka tidak akan pernah mendapatkan biodata asli Aurora, karena Bagas melindungi keluarganya dengan memalsukan semua biodata mulai dari Aurora, Arjuna, istrinya bahkan orang tuanya .
.
.
Sementara Aurora sedang berada di dalam mobil. Dia terus saja menggerutu, karena merasa kesal dengan sikap Justin beberapa saat yang lalu. Dia tersenyum miring.
"Enak saja dia mau macam-macam denganku. Dasar pria tidak waras. Sudah mengajakku nikah secara mendadak, terus dia ingin menjebakku di ruangannya. Belum tahu aja siapa yang dihadapi." batin Aurora dengan kesal.
Kemudian dia ingat saat Justin memegang tangannya, sekelebat masa lalu di dalam hidup pria itu terbayang dengan jelas, di mana Justin sedari kecil selalu diacuhkan oleh kedua orang tuanya sebab mereka selalu sibuk.
Aurora juga melihat jika sejujurnya Justin adalah pria yang kesepian, dia hanya melampiaskannya kepada orang yang tidak bersalah dengan cara bersikap dingin, Arogan, tegas bahkan sering bermain wanita. Itu semua hanya untuk mengobati kesepiannya dan juga kekesalannya kepada kedua orang tuanya.
"Sejujurnya aku kasihan kepadanya. Tapi sayang dia begitu lancang," lirih Aurora sambil membuang nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
"Tapi kok aneh ya? Kenapa aku tidak bisa melihat masa depannya? Biasanya aku bisa untuk melihat masa depan seseorang jika bersentuhan, tapi kenapa dengan dia tidak?" Aurora mengetuk-ngetuk dagunya karena dia merasa bingung, tapi seketika wanita itu menggelengkan kepalanya dan mengangkat kedua bahunya dengan acuh. "Ah ... Sudahlah.nPusing kalau mikirin cowok seperti dia. Lebih baik aku sekarang ketemu Anggi sama Rika aja deh."
Namun tiba-tiba saja teleponnya berbunyi, dan ternyata itu dari Bagas yang memintanya untuk ke kantor. "Astaga! Aku lupa, papa kan minta aku ke kantornya." Akhirnya mobil pun melaju untuk menuju kantor Bagas.
Sesampainya di sana, Aurora langsung turun dan langsung menuju di mana ruangan sang papa berada. Dia mengetuk pintu terlebih dahulu, kemudian masuk dan mencium tangan Bagas.
"Iya Pah, Papa kenapa manggil aku ke sini?" tanya Aurora saat sudah duduk di kursi.
"Ada yang mau Papa bicarain sama kamu. Ini soal hidup kamu, Aurora."
"Maksud Papa?" tanya Aurora dengan bingung.
Kemudian Bagas mengajak Aurora untuk duduk di sofa, lalu dia menggenggam tangannya menatap dalam ke arah Putri tercintanya tersebut. Aurora yang ditatapi seperti itu pun merasa bingung.
"Ada apa sih, Pah? Katanya mau ngomong kok malah ngeliatin Aurora kayak gitu? Emangnya hal penting apaan?"
Terlihat Bagas menghela nafasnya dengan berat, dia menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menatap lurus ke arah depan. "Kamu apa tidak ingin membuka lembaran baru, Nak?"
"Maksud Papa?"
"Maksud Papa, apa kamu tidak ingin menikah kembali? Apa kamu tidak mau menjalin hubungan pernikahan? Iya, Papa tahu, kalau memang kamu itu trauma dan kamu masih tidak bisa melupakan Kevin. Tapi Aurora ... hidup itu terus berjalan. Kamu tidak selamanya sendirian. Papa melihat kamu terus saja seperti ini sangat sedih. Papa ingin ada yang menjaga kamu, Nak. Papa ingin ada yang melindungi kamu, dan Papa juga mau melihat kamu bahagia."
Aurora terdiam saat mendengar pertanyaan dari Papanya. Dia juga ingin menjalin hubungan pernikahan, tapi sampai saat ini Aurora belum siap. Dia masih takut jika kejadian yang menimpa Kevin akan menimpa suaminya di masa depan nanti.
"Pah, aku ..."
"Sayang, sebuah luka tidak akan pernah sembuh jika kamu tidak membiarkannya sembuh dan tidak mengobatinya. Dia akan terus basah dan tidak akan pernah kering. Kevin tidak akan pernah sekalipun pergi dari hati kamu, tapi hidup kamu juga harus punya masa depan. Apa kamu tidak ingin mempunyai keluarga kecil? Apa kamu tidak mau mempunyai suami?"
"Aurora mau, tapi belum ada yang pas."
"Papa sudah mengambil keputusan," ujar Bagas dengan tatapan lekat ke arah putrinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....