
Happy reading.....
Bunga mulai duduk di tepi ranjang, dia menunggu Bagas untuk keluar sambil meremas jari-jarinya. Bunga benar-benar gugup, karena saat ini sudah pasti Bagas akan meminta haknya sebagai suami, dan Bunga tidak bisa untuk menolak permintaan Bagas.
Suara derit pintu kamar mandi terdengar nyaring, membuat jantung Bunga semakin berdetak kencang. Dia tidak berani untuk melihat, bahkan melirik sedikitpun ke arah Bagas.
Bagas pun melangkah mendekat ke arah Bunga, dan saat ini dia masih menggunakan handuk yang dililit sebatas pinggang. Pria itu bahkan semakin mendekat dan hanya berjarak 2 langkah saja dari Bunga.
Eekhmm...
Bagas berdehem, mencoba mencairkan suasana. Kemudian dia duduk di sebelah Bunga, dan memegang kedua tangan wanita itu yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
"Sayang, apakah Mas boleh meminta hak Mas malam ini?" tanya Bagas kepada Bunga.
Wanita itu terus menundukkan kepalanya, kemudian dia mengangguk kecil, menandakan jika jawaban atas pertanyaan Bagas ia setujui. Lalu, dengan perlahan Bagas mulai mengangkat dagu Bunga dengan jari telunjuknya, dia dapat melihat wajah istrinya yang malu-malu seperti seorang gadis yang baru saja menikah.
"Kamu ini, kita kan sudah pengalaman, tapi kamu masih malu-malu aja?" ledek Bagas sambil menoel hidung Bunga dengan gemas, dan wanita itu pun hanya tersenyum malu sambil menundukkan wajahnya kembali.
Sejujurnya Bagas ingin sekali melahap Bunga saat ini, tapi sebagai seorang suami dan juga sebagai seorang Imam keluarga, Bagas harus menuntun istrinya di jalan yang benar. Dia juga harus menggauli istrinya juga dalam cara yang benar pula, sesuai dengan ajaran Islam.
__ADS_1
"Sebaiknya kita shalat dulu, baru kita bikin adonan," ucap Bagas sambil menangkup kedua pipi Bunga, terus dia mencium kening Bunga dengan lembut.
Mendengar ucapan suaminya, Bunga sejenak terpaku. Dia tidak menyangka jika Bagas sangatlah patuh dalam agama. Kemudian wanita itu pun mengangguk, lalu mereka berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan menunaikan shalat sunnah sebelum melakukan hubungan suami istri.
Saat keduanya sudah selesai melakukan shalat dua rakaat, Bunga mencium tangan Bagas. Kemudian Bagas menaruh telapak tangannya di atas kepala Bunga dan membacakan do'a untuk menggauli istrinya nanti.
Setelah selesai membaca do'a, Bagas mengangkat dagu Bunga, kemudian mulai mencium kening istrinya itu dengan lembut, turun ke kedua matanya, lalu kedua pipinya, hidungnya dan yang terakhir Bagas mencium bibir Bunga dengan lembut. Namun hanya kecupan saja, tidak ada lumaatan dan juga yang lainnya. Benda kenyal mereka hanya menempel saja, karena Bagas ingin merasakan desiran hangat di tubuh mereka masing-masing.
Setelah itu Bagas mulai membuka mukena yang ada di tubuh Bunga, kemudian menggendong istrinya ke atas kasur, dan dengan perlahan Bagas mengusap wajah Bunga dengan lembut, lalu mencium keningnya kembali.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Bagas kepada Bunga, dan wanita itu pun hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan wajah malu-malu.
Melihat lampu hijau yang sudah ada di depan mata, Bagas segera mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur, kemudian, dia mulai menyatukan bibirnya dengan bibir milik Bunga. Hingga beberapa detik, bibir itu pun hanya menempel. Namun, Bagas yang melihat reaksi Bunga saat mengalungkan tangannya di leher kekar milik dirinya, pria itu pun mulai meluumat bibir Bunga, lalu menghhisapnya dengan kecil dan mulai memperdalam ciumman itu.
GLUK...
Bagas menelan ludahnya dengan kasar, saat melihat tubuh Bunga yang polos
Kemudian dia mulai melakukan ritualnya sebagai suami, tanpa melewati satu inci pun di tubuh Bunga, dan tidak lupa Bagas juga memberikan cap tanda cintanya di seluruh tubuh istrinya itu.
__ADS_1
Suara desaahan dan juga suara merdu yang keluar dari mulut kedua pengantin baru itu, memecah keheningan malam. Bahkan, rintik-rintik hujan di luar pun mulai berjatuhan, menambah kesyahduan yang sedang terjadi di dalam kamar pengantin itu.
Udara dingin pun yang menusuk tulang tidak mereka rasakan. Bahkan, saat ini yang mereka rasakan adalah hawa panas di dalam diri mereka, karena terbakar api gairaah. Apalagi, saat ini Bagas sedang menggerakkan tubuhnya di atas tubuh Bunga, hingga membuat wanita itu memejamkan matanya dengan suara-suara yang indah yang keluar dari mulut seksinya, membuat semangat Bagas semakin naik.
Saat mereka selesai melakukan ritual suami istri di ronde pertama, Bagas bertanya kembali kepada Bunga. "Sayang, apakah kamu siap untuk ronde kedua?" tanya Bagas sambil mengecup kembali bibir Bunga.
"Kamu belum puas?" tanya Bunga dengan heran. Sebab mereka baru melakukannya selama 1 jam.
"Aku sudah berpuasa hampir 5 tahun, Sayang, dan kamu harus bertanggung jawab atas keperkasaanku!" ucap Bagas sambil mencium pipi Bunga.
PRANG...
Saat Bagas akan melakukan ronde kedua, tiba-tiba saja aksinya harus terhenti, karena suara yang membuat keduanya kaget. Yaitu, ada yang melempar batu ke arah kamar Bunga dan membuat jendela di kamarnya pecah.
"Apa itu, Mas?" tanya Bunga kepada Bagas yang sedang berada di atas tubuhnya.
Bagas menggeleng. "Kamu tunggu di sini ya! Aku akan lihat dulu," ucap Bagas sambil turun dari ranjang, lalu berjalan ke arah jendela yang terlihat bolong. Kemudian dia melihat batu di lantai yang terbungkus oleh kertas. Sedangkan Bunga langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Bagas mengambil batu itu dan membaca kertas yang ada di tangannya, kemudian tangan Bagas terkepal dengan kuat. "Kenapa mereka bermain-main denganku di saat seperti ini? Ganggu orang lagi belah duren aja! Apa nggak bisa besok? Kan aku sudah tidak bernafsu kalau seperti ini!" geram Bagas sambil mengumpat dengan kesal, pasalnya peneror itu malah meneror dirinya di saat dia sedang belah duren.
__ADS_1
Hassrat yang ada di dalam diri Bagas pun seketika lenyap, gara-gara dia membaca kertas yang ada di tangannya itu, dan Bunga yang melihat kemarahan sang suami segera turun dari ranjang dan membungkus dirinya dengan selimut, lalu dia pun menghampiri suaminya.
Bersambung......