Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Ulang Tahun Mama Rafa


__ADS_3

Biiiiippp biiiipp biiiiipp


Ponsel Rafa berdering, sebuah panggilan masuk dari telepon rumahnya.


"Halo Bi, ada apa?"


"Maaf mengganggu Tuan, non Maya sekarang pingsan di rumah, bibi sudah menghubungi ambulans tapi belum ada yang datang, bibi khawatir karena dari pagi non Maya terlihat sangat pucat," jawab bibi menjelaskan.


"Rafa akan segera pulang sekarang," ucap Rafa lalu mengakhiri panggilan bibi.


Rafa kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Meskipun ia tidak mencintai Maya, meskipun pernikahannya dengan Maya adalah pernikahan palsu tetapi mendengar Maya pingsan di rumah membuat Rafa cukup khawatir.


"Tiara, aku harus pergi, aku akan mengunjungimu lagi lain kali," ucap Rafa berpamitan pada Tiara.


"Terima kasih sudah membantu Tiara hari ini kak," ucap Tiara yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Rafa.


Rafa kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah miliknya yang saat itu ditempati oleh Tiara.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Rafapun sampai di rumahnya. Ia segera berlari masuk ke dalam rumah dan mendapati Maya yang terbaring dengan mata terpejam di atas ranjang kamarnya.


"Saya meminta tolong Pak satpam untuk membawa non Maya masuk ke kamar Tuan," ucap bibi saat Rafa datang.


"Terima kasih Bi, Rafa akan membawanya ke rumah sakit sekarang," ucap Rafa lalu membopong Maya masuk ke dalam mobilnya dengan dibantu oleh bibi yang membuka mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit, Mayapun segera ditangani oleh dokter. Tak lama kemudian dokter menjelaskan pada Rafa jika Maya baik-baik saja, dia hanya terlalu banyak mengkonsumsi alkohol sehingga dia pingsan.


Setelah Maya dipindahkan ke ruang rawat, Rafapun duduk di samping Maya, menatap Maya yang masih terpejam di hadapannya.


"Masalah apa yang sedang kau hadapi Maya? Apa yang membuatmu menjadi seperti ini?" tanya Rafa dalam hati.


Setelah beberapa lama pingsan, Mayapun mulai mengerjapkan matanya dan tersadar dari pingsannya.


"Sampai kapan kau akan terus seperti ini? apa kau tidak sadar jika kau sudah merusak dirimu sendiri?" tanya Rafa saat Maya baru saja membuka matanya.


Maya yang merasa masih pusing hanya diam mengabaikan ucapan Rafa, seketika ia sadar jika ia sedang berada di rumah sakit saat itu.


"Aku ingin pindah ke ruang VIP," ucap Maya.


"Kau baik-baik saja, kau bisa pulang setelah dokter memeriksamu lagi, jadi tidak perlu pindah ke ruang VIP," balas Rafa.


"Tapi kepalaku masih pusing dan aku tidak suka berada di ruangan ini bersama pasien yang lainnya," ucap Maya.


"Kau pusing karena terlalu banyak minum alkohol, apa kau tidak tahu itu?" balas Rafa.


"Tidak bisakah kau bersikap baik padaku sebentar saja? aku baru saja membuka mataku dan kau sudah memarahiku seperti ini!" Ucap Maya kesal.


"Jika aku tidak bersikap baik padamu aku pasti sudah membiarkanmu pingsan di rumah," balas Rafa.


"Apapun masalahmu aku tidak mau tahu, tapi jangan merepotkanku seperti ini!" ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya.


"Kau mau kemana?" tanya Maya.


"Tunggu saja disini, dokter akan memeriksamu, kau bisa pulang menggunakan taksi atau hubungi saja pacarmu itu!" jawab Rafa lalu berjalan meninggalkan Maya begitu saja.


"Bodoh sekali, bagaimana aku bisa menghubunginya sedangkan aku tidak membawa ponsel!" Gerutu Maya kesal.


Tak lama kemudian dokterpun datang dan kembali memeriksa keadaan Maya kemudian memperbolehkan Maya untuk meninggalkan rumah sakit.


**


Hari telah berganti, siang itu Tiara sedang berada di kantin bersama teman-teman barunya yang merupakan senior di divisi pemasaran. Meskipun mereka adalah senior Tiara tetapi mereka memperlakukan Tiara dengan sangat baik, sudah tidak ada lagi senioritas di antara mereka.


Saat Tiara tengah menikmati makanannya, tiba-tiba Putra datang menghampiri Tiara.


"Apa kau senggang sepulang kerja nanti?" tanya Putra tanpa basa-basi.


"Sepertinya iya, Tiara sedang tidak memiliki rencana apapun hari ini," jawab Tiara.


"Kalau begitu tunggu aku di lobby setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu, aku membutuhkan bantuanmu," ucap Putra lalu berjalan pergi begitu saja sebelum Tiara mengucapkan apapun.


Teman-teman Tiara yang ada disanapun saling menatap dan tersenyum melihat interaksi Putra dan Tiara.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Tiara yang merasa terintimidasi oleh tatapan teman-temannya.

__ADS_1


"Aku memang tidak percaya pada ucapan Dita tentang hubunganmu dengan pak Putra, tapi sepertinya aku mulai percaya sekarang," jawab salah satu teman Tiara.


"Apa itu artinya kakak juga berpikir jika Tiara bisa berada di divisi pemasaran bukan karena kemampuan Tiara?" tanya Tiara.


"Bukan seperti itu, tentu saja kami tahu pasti bagaimana kemampuanmu tapi sepertinya memang ada sesuatu antara kau dan Pak Putra," jawab yang lain.


"Tidak ada, Tiara memang mengenal Pak Putra saat Tiara pertama kali mengikuti seminar disini, tapi tidak ada hubungan apapun antara Tiara dan Pak Putra," ucap Tiara.


"Tapi bagaimana jika Pak Putra memang menyukaimu? rasanya menyenangkan sekali memiliki kekasih yang berada satu kantor dengan kita!"


"Tiara tidak memikirkan itu kak, lagi pula bukankah Pak Putra memang selalu bersikap seperti itu pada semua perempuan?"


"Kau benar, Pak Putra memang suka bercanda di hadapan para pegawai lain tapi sepertinya sikapnya berbeda saat denganmu," ucap teman Tiara.


"Tidak, itu sama sekali tidak benar, tolong berhenti berpikir seperti itu," ucap Tiara dengan memanyunkan bibirnya karena kesal membuat teman-temannya tertawa melihat sikap Tiara.


Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore saat Tiara sudah menyelesaikan pekerjaannya. Tiara kemudian merapikan barang-barangnya dan meninggalkan meja kerjanya setelah berpamitan pada teman-temannya.


Tiara membawa langkahnya ke arah lobi untuk menunggu Putra sesuai dengan perintah Putra.


Tak lama kemudian seseorang berjalan menghampiri Tiara, namun bukan Putra melainkan Dita.


"Kau pasti senang sekarang Tiara, nikmati waktumu untuk bersenang-senang sebelum karma datang padamu karena telah merebut posisiku di divisi pemasaran," ucap Dita lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara begitu saja.


Tiara hanya menghela nafasnya panjang, menatap Dita yang berjalan semakin jauh meninggalkannya.


"Apa yang dia katakan?" tanya Putra yang tiba-tiba sudah ada di belakang Tiara, membuat Tiara cukup terkejut.


"Bukan apa-apa," jawab Tiara.


"Sepertinya dia masih tidak bisa menerima keputusan manajer pemasaran," ucap Putra.


"Tidak perlu membahasnya lagi pak, apa yang bisa Tiara bantu sekarang?" ucap Tiara sekaligus bertanya.


"Ikut aku membeli hadiah untuk tante Rossa," jawab Putra sambil membawa langkahnya keluar dari kantor diikuti oleh Tiara dengan berlari kecil.


"Hadiah untuk tante Rossa? apa Tante Rossa sedang berulang tahun?" tanya Tiara menerka yang dibalas anggukan kepala oleh Putra.


"Kalian sama-sama perempuan, jadi kau pasti lebih paham barang seperti apa yang disukai perempuan," ucap Putra.


"Apa kau tidak tahu perempuan itu adalah makhluk yang paling sulit untuk dipahami, hanya mereka sendiri yang paham tentang diri mereka!" ucap Putra.


"Tapi Tiara takut jika apa yang Tiara pilih nanti tidak sesuai dengan apa yang Tante Rossa suka," balas Tiara.


"Kau tidak perlu memikirkannya, apapun yang kau pilih tante Rossa pasti akan menyukainya," ucap Putra meyakinkan Tiara.


Putra dan Tiara kemudian masuk ke dalam mobil. Putra mengendarai mobilnya meninggalkan kantor, pergi ke arah mall yang berada tak jauh dari kantornya.


Sesampainya di mall, Tiara mengajak Putra pergi ke tempat yang menjual perhiasan.


"Sepertinya tante Rossa menyukai perhiasan," ucap Tiara pada Putra.


"Baiklah, pilih saja perhiasan seperti apa yang menurutmu disukai oleh tante Rossa," balas Putra.


Tiara menganggukkan kepalanya lalu memperhatikan deretan perhiasan yang ada di hadapannya. Ia ingat saat ia pertama kali bertemu dengan tante Rossa, saat itu tante Rossa mengenakan cincin dan gelang dengan hiasan diamond berwarna putih cerah.


Setelah beberapa lama memperhatikan, pandangan Tiarapun tertuju pada salah satu kalung dengan hiasan diamond putih seperti milik tante Rossa.


"Sepertinya kalung ini sangat cocok untuk tante Rossa," ucap Tiara sambil menunjuk sebuah kalung di hadapannya.


Tanpa banyak bertanya, Putrapun memilih kalung itu sebagai hadiah untuk ulang tahun Tante Rossa.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Putrapun mengajak Tiara untuk makan di restoran yang ada disana sebelum Putra mengantar Tiara pulang.


"Nanti malam om Adam dan tante Rossa akan mengadakan makan malam, jika kau mau kau bisa ikut, aku akan menjemputmu!" ucap Putra saat ia sudah mengendarai mobilnya ke arah rumah baru Tiara.


"Acara itu pasti hanya untuk orang terdekat tante Rossa, sedangkan Tiara bukan siapa-siapa, jadi mana mungkin Tiara ikut," balas Tiara.


"Aku yang mengajakmu Tiara, tante Rossa pasti akan senang jika melihatmu datang!" ucap Putra.


"Tapi Tiara belum menyiapkan hadiah untuk tante Rossa," balas Tiara.


"Kau bisa memberikan perhiasan yang yang baru saja kita beli tadi," ucap Putra.

__ADS_1


"Tidak bisa begitu, perhiasan itu kak Putra sendiri yang membelinya, Tiara hanya membantu memilihnya saja," balas Tiara.


"Lalu apa kau akan tetap menolak untuk ikut ke acara ulang tahun Tante Rossa?" tanya Putra.


"Mmmmm..... Tiara akan memikirkannya dulu," jawab Tiara.


"Baiklah kalau begitu, aku akan berangkat pukul 07.00 malam, kau bisa menghubungiku sebelum jam itu agar aku bisa menjemputmu!" ucap Putra yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Putrapun menghentikan mobilnya di depan rumah tempat tinggal Tiara yang baru.


"Jadi kau tinggal disini sekarang?" tanya Putra.


"Iya kak, karena pemilik rumah ini sedang berada di luar negeri jadi dia mencari orang lain yang bisa menempati dan menjaga rumahnya dengan biaya sewa yang cukup murah," jawab Tiara.


"Baguslah kalau begitu, setidaknya kau sudah tidak tinggal lagi di tempat sempit yang kemarin," ucap Putra.


"Iya kak, terima kasih sudah mengantar Tiara pulang!" ucap Tiara lalu keluar dari mobil Putra.


"Terima kasih juga sudah membantuku mencari hadiah untuk tante Rossa," ucap Putra sebelum dia mengendarai mobilnya meninggalkan Tiara.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 petang saat Tiara tengah mengemas beberapa lilin aroma terapi lalu memasukkannya ke dalam kotak kado sederhana yang baru saja dia beli.


Meskipun ia merasa ragu untuk datang ke acara ulang tahun Tante Rossa, namun pada akhirnya ia memutuskan untuk datang.


Mengingat bagaimana sikap tante Rossa padanya, membuat keraguan Tiara perlahan pupus, membuatnya yakin untuk datang ke acara ulang tahun itu.


"Jika memang kedatanganku tidak diterima, maka aku hanya perlu pergi saja, mudah bukan?" ucap Tiara pada dirinya sendiri.


Tiara kemudian menghubungi Putra dan memberitahu Putra jika dirinya bersedia untuk ikut ke acara ulang tahun Tante Rossa.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menjemputmu tepat pukul 07.00," ucap Putra penuh semangat.


Tiara kemudian mempersiapkan dirinya, ia mengenakan dress cantik yang sudah lama tidak dipakai olehnya, membiarkan rambutnya tergerai dan menghiasnya dengan bunga-bunga kecil di bagian atas rambutnya. Tak lupa make up flawless yang membuat Tiara semakin tampak bersinar malam itu.


Tak lama setelah dirinya selesai bersiap, Putrapun tiba. Tiara segera membawa langkahnya keluar dari rumah untuk menghampiri Putra yang sudah menunggunya di depan gerbang.


Putra yang berdiri di depan mobilnya hanya terdiam tanpa berkedip melihat Tiara dengan balutan dress cantik dan make up flawless yang membuat Tiara tampak lebih bersinar dari bulan yang ada di langit malam itu.


"Ayo kak, tunggu apa lagi!" ucap Tiara membuyarkan lamunan Putra.


Putra kemudian mengendarai mobilnya ke arah sebuah restoran tempat acara ulang tahun Mama Rafa dilaksanakan.


Sesampainya disana, Putra dan Tiara berjalan ke arah salah satu ruangan yang sudah dipesan atas nama tante Rossa.


Putra dan Tiarapun memasuki ruangan itu dan tidak melihat siapapun disana selain waiters yang sedang mempersiapkan hidangan di atas meja.


"Kenapa disini sepi sekali kak? apa kita salah tempat?" tanya Tiara pada Putra.


"Tidak, memang disini tempatnya," jawab Putra sambil menggeser kursi agar Tiara duduk.


"Acara ulang tahun Tante Rossa tidak seperti acara ulang tahun yang kau bayangkan, setiap tahun hanya ada keluarga tante Rossa yang datang, tante Rossa pasti senang saat melihatmu ikut hadir disini," ucap Putra.


"Lalu bagaimana dengan anak tante Rossa?" tanya Tiara


"Dia....."


Putra menghentikan ucapannya saat tante Rossa dan om Adam masuk ke dalam ruangan itu. Seperti apa yang Putra katakan, tante Rossa begitu senang melihat Tiara ada disana.


Setelah berpelukan singkat dan memberikan hadiah yang sudah Tiara dan Putra bawa, merekapun mulai mengobrol dengan sesekali bercanda.


Om Adam tampak sesekali memperhatikan ponsel miliknya, menunggu seseorang yang saat itu belum datang ke acara ulang tahun sang istri.


"Sudahlah pa, jangan terlalu memikirkannya, dia pasti datang!" ucap Tante Rossa.


"Tumben sekali Mama berbicara seperti itu, biasanya Mama yang selalu gelisah jika dia belum datang," balas Om Adam.


"Kehadiran Tiara disini membuat Mama sangat senang, jadi Mama tidak akan memikirkan hal lainnya lagi," ucap tante Rossa yang membuat Tiara tersipu mendengarnya.


Di sisi lain, Rafa tengah mengendarai mobilnya bersama Maya yang duduk di sampingnya.


"Kenapa kau baru memberitahuku jika mama Rossa berulang tahun hari ini? jika tahu begitu aku pasti sudah membeli perhiasan mewah untuk mama Rossa!" Gerutu Maya kesal pada Rafa.

__ADS_1


"Aku sudah memberitahumu sejak kemarin, kau pasti melupakannya karena terlalu banyak mabuk," balas Rafa yang membuat Maya terdiam dengan raut wajah kesal.


__ADS_2