Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Kembali Bersahabat


__ADS_3

Maya yang masih berada di bar berusaha untuk menjauh dari Bagas, meskipun Bagas sudah menyelamatkannya namun ia sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan Bagas.


"Maafkan aku jika apa yang aku lakukan salah, aku hanya berpikir itu adalah yang terbaik untuk pernikahanmu dengan Rafa, Maya," ucap Bagas.


"Kau tidak tahu apapun tentang pernikahanku jadi seharusnya kau tidak terlalu ikut campur dengan masalah pernikahanku," balas Maya sambil menarik tangannya dari Bagas.


"Dan sekarang semuanya sudah terjadi, kau juga sudah bercerai dari Rafa bukan?" tanya Bagas yang membuat Maya segera membawa pandangannya pada Bagas.


"Rafa sudah memberitahuku setelah dia meninggalkan pengadilan di hari terakhir persidangan kalian," ucap Bagas yang seolah mengerti isi pikiran Maya.


"Kalian pasti tertawa bersama, menertawakan aku yang semakin hancur karena kalian berdua," ucap Maya.


"Tidak Maya, apa kau masih tidak sadar jika keberadaanmu bersama Rafa tidak akan pernah membawa kebahagiaan untukmu, mulai hidup barumu tanpa Rafa, aku yakin kau akan lebih bahagia," balas Bagas.


"Kebahagiaan apa yang kau maksud? apa menurutmu ini adalah kebahagiaan yang aku inginkan? dikucilkan oleh banyak orang, direndahkan oleh semua orang, apa menurutmu aku bahagia dengan hal ini?"


Bagas menghela nafasnya lalu kembali meraih tangan Maya, namun dengan cepat Maya menepis tangan Bagas.


"Rafa akan memindahkanku ke Singapura bulan depan, jika kau mau kau bisa ikut bersamaku, aku akan membantu apapun yang kau butuhkan disana, kau bisa memulai hidup barumu disana Maya," ucap Bagas.


Maya terdiam beberapa saat setelah ia mendengar ucapan Bagas tentang kepindahannya ke Singapura.


Dalam hatinya ia berpikir jika ikut Bagas ke Singapura adalah jalan terbaik untuk menghindar dari masalah yang sedang ia hadapi saat itu.


Namun itu artinya Maya akan semakin jauh dari Rafa, itu artinya ia akan benar-benar melepaskan Rafa untuk Tiara yang bisa jadi akan kembali pada Rafa.


"Aku akan menemui orang tuamu untuk meminta izin membawamu ke Singapura, anggap itu sebagai tanggung jawabku karena aku juga bagian dari video yang sudah tersebar yang membuat masalah ini dimulai!"


"Jangan, kau tidak perlu menemui mama dan papa, mereka hanya akan memarahimu nanti!" ucap Maya melarang Bagas menemui kedua orang tuanya.


"Setidaknya aku harus meminta maaf pada mereka, Maya," ucap Bagas.


"Seharusnya yang meminta maaf adalah seseorang yang menyebarkan video itu, bukan kau!" balas Maya.


"Anggap saja aku yang bersalah dalam masalah ini, aku yang memulai semua ini terjadi dan aku harus bertanggung jawab di hadapan orang tuamu," ucap Bagas.


"Sudah terlambat, bukankah kau sudah memberitahu Rafa jika aku yang lebih dulu mendekatimu setelah aku mengakhiri hubungan kita!"


"Maafkan aku Maya, tapi aku berjanji aku juga akan bertanggung jawab padamu dan juga pada orang tuamu atas tersebarnya video kita," ucap Bagas.


"Tidak perlu melakukan apapun dan tidak perlu peduli lagi padaku, jalani saja hidupmu seperti biasanya tanpa mempedulikanku!" ucap Maya lalu berjalan pergi meninggalkan Bagas begitu saja.


Bagaspun hanya diam di tempatnya berdiri, membiarkan Maya berjalan menjauhinya. Dalam hatinya ia berharap jika ia bisa membawa Maya pergi dari keterpurukannya.


"Aku mungkin memang hanya bersenang-senang denganmu saat pertama kali kita bertemu, tapi sekarang aku menyesal karena sudah mengabaikanmu dan sekarang aku sadar jika hatiku terasa sakit melihatmu terpuruk seperti ini," ucap Bagas dalam hati.


**


Hari-hari berlalu, matahari terbit dan tenggelam di tempat yang sama setiap harinya.


Hari itu adalah hari dimana Tiara melakukan wisuda S2 nya. Tiara merasa bangga pada dirinya sendiri yang sudah bisa berjuang dan berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan baik.


Meskipun tanpa orang tuanya, ada Putra yang menemaninya saat ia wisuda. Hal itu tentu saja membuat Tiara teringat saat momen wisuda S1 nya bersama Rafa.


"Selamat Tiara, aku sangat bangga padamu, kau bahkan menjadi salah satu mahasiswi dengan nilai terbaik," ucap Putra yang merasa bangga oleh pencapaian Tiara.


"Terima kasih kak, ini juga berkat kak Putra yang sudah membantu Tiara mengerjakan skripsi," balas Tiara.


Benar, Tiara mengerjakan skripsinya dengan bantuan Putra, sama seperti yang terjadi saat ia mengerjakan skripsi S1 nya yang waktu itu dibantu oleh Rafa.


Selama bersama Putra, banyak kilasan memori yang memenuhi kepalanya tentang kebersamaannya dengan Rafa. Tak dapat dipungkiri keberadaan Putra saat itu hampir sama dengan keberadaan Rafa saat Tiara tengah terpuruk karena masalahnya bersama Bima dan keluarganya.


Namun satu hal yang membuat perbedaan adalah Tiara sama sekali tidak bisa merasakan debaran dalam dadanya sedekat apapun ia dengan Putra.


Sangat berbeda dengan saat ia bersama Rafa, debaran dalam dadanya selalu membuatnya gugup namun terasa indah dan nyaman.


Tiara seolah masih bisa merasakan perasaan itu meskipun sudah tidak ada Rafa di dekatnya, hanya dengan kembalinya memori kebersamaan mereka semua perasaan indah itu kembali ia rasakan dalam hatinya.


Namun Tiara tidak ingin berlama-lama terkurung dalam perasaan bahagia yang semu baginya, karena ia masih berpikir jika pertemuannya dengan Rafa adalah sebuah kesalahan yang tidak seharusnya terjadi, karena dengan kedatangannya dalam kehidupan Rafa membuat rumah tangga Rafa dan Maya semakin kacau yang berujung dengan perceraian.

__ADS_1


Meskipun perceraian Rafa dan Maya diperkuat oleh video Maya yang berselingkuh dengan Bagas, namun ia sadar jika dirinyapun ikut andil dalam perceraian Rafa dan Maya.


Ia sudah pernah menjadi perempuan kedua dalam kehidupan rumah tangga Bima dan Gita, sekarang ia tidak ingin lagi dicap sebagai perempuan kedua dalam rumah tangga Rafa dan Maya.


Setelah Tiara berfoto-foto bersama teman-temannya, iapun berfoto dengan Putra di beberapa spot yang biasa digunakan untuk berfoto saat wisuda.


Tiara dan Putra kemudian mengobrol di taman kampus sembari menunggu teman-teman Tiara yang lain yang sedang berfoto di banyak tempat lainnya.


"Sepertinya teman-temanmu sangat suka berfoto!" ucap Putra.


"Ini adalah bagian dari sejarah hidup mereka kak, jadi wajar jika mereka ingin mengabadikan sebanyak mungkin kenangan tentang keberhasilan mereka," balas Tiara.


"Bagaimana denganmu? sepertinya kau tidak terlalu suka berfoto!"


"Tiara hanya ingin berfoto seperlunya saja, Tiara lebih suka mengabadikan kenangan dalam memori Tiara," balas Tiara.


Setelah beberapa lama mengobrol dan teman-teman Tiara sudah kembali, merekapun berjalan meninggalkan taman kampus.


Saat tengah berjalan bersama Tiara, Putra melihat sosok yang tidak asing tengah memperhatikan dirinya dan Tiara.


Putra kemudian memberitahu Tiara jika dirinya tidak bisa mengantar Tiara pulang karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan


"Tidak apa kak, Tiara bisa pulang bersama teman-teman Tiara," balas Tiara.


Setelah memastikan Tiara meninggalkan kampus bersama teman-temannya, Putrapun segera membawa langkahnya ke arah seseorang yang sedari tadi memperhatikan dirinya dan Tiara.


"Apa yang kau lakukan disini dan sejak kapan kau berada disini?" tanya Putra pada Rafa.


"Sejak kau berfoto dengan memegang bahunya," jawab Rafa dengan tatapan tajam pada Putra.


"Menapa kau membawa koper? apa kau baru saja mendarat?" tanya Putra yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Rafa.


"Tunggulah disini, aku akan mengambil mobil lalu ikutlah pulang bersamaku!" ucap Putra lalu segera berlari untuk mengambil mobilnya kemudian mengendarainya ke arah Rafa menunggu.


"Berapa lama kau akan tinggal?" tanya Putra sambil membawa koper Rafa masuk ke dalam bagasi mobilnya.


"Aku tidak tahu," balas Rafa singkat.


"Tidak, aku lebih baik menginap di hotel," balas Rafa menolak.


"Tapi aku akan membawamu ke rumahku hahaha....." ucap Putra.


"Menyebalkan sekali," gerutu Rafa.


"Seharusnya kau berterima kasih padaku, dengan begitu kau tidak akan kehilangan banyak uangmu untuk menginap di hotel!"


"Lebih baik aku menginap di hotel daripada harus berhutang budi padamu," balas Rafa yang membuat Putra terkekeh.


Terakhir kali bertemu dengan Rafa, Putra memang sangat marah pada Rafa, namun hal itu tidak membuat Putra membencinya.


Baginya Rafa tetaplah sahabat terbaiknya, kemarahannya hanyalah emosi sesaat yang tidak akan ia biarkan mempengaruhi persahabatannya dengan Rafa, meskipun ia tahu jika Rafa masih menjaga jarak dengannya.


"Sepertinya kau semakin dekat dengannya!" ucap Rafa.


"Tentu saja, hanya ada aku disini yang selalu membantunya, apa kau tahu aku bahkan membantunya mengerjakan skripsinya," ucap Putra yang membuat Rafa segera membawa pandangannya pada Putra.


"Rupanya kau sudah menggantikan posisiku!" ucap Rafa yang terdengar lemah.


"Tapi setiap apa yang aku lakukan selalu membuatnya teringat kebersamaannya denganmu," ucap Putra.


"Tidak perlu berusaha menghiburku dengan kata-katamu, itu memuakkan!"


"Aku tidak sedang menghiburmu, memang itulah yang terjadi, setiap aku melakukan beberapa hal dia selalu terdiam untuk beberapa saat dan dia memberitahuku jika apa yang aku lakukan membuatnya teringat dirimu," ucap Putra.


"Dan bagiku itu adalah hal paling memuakkan selama aku bersamanya," lanjut Putra.


"Tapi setidaknya kau bisa selalu bersamanya, kau bisa menemaninya, kau bisa membantu apapun yang dia butuhkan, bahkan mungkin kau bisa membuatnya jatuh cinta dengan keberadaanmu yang selalu ada untuknya!" ucap Rafa.


"Apa kau pikir cinta akan dengan mudahnya muncul karena hal itu?" tanya Putra.

__ADS_1


Rafa hanya diam tanpa mengatakan apapun, hatinya terasa sesak saat ia menyadari kedekatan Tiara dan Putra. Membayangkan Tiara akan bersama Putra saja sudah membuat hatinya terasa sakit, apalagi jika hal itu benar-benar terjadi.


"Dia terlihat sangat bahagia dengan kehidupan barunya," ucap Rafa.


"Jika kau memperhatikannya dengan dekat kau pasti akan tahu jika dia tidak benar-benar bahagia, dia hanya berusaha untuk menggapai mimpi barunya dan melupakan semua hal yang sudah menyakitinya," balas Putra


"Aku menyesal," ucap Rafa.


"Aku mengerti, tapi penyesalan tanpa melakukan apapun juga tidak ada gunanya Rafa, aku memang menyukai Tiara tapi mungkin cinta yang aku miliki tidak sebesar cintamu padanya, tapi yang pasti aku tidak ingin melihatnya bersedih lagi," balas Putra.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan Putrapun menghentikan mobilnya tepat di halaman rumahnya.


"Kau bisa mengeluarkan kopermu sendiri bukan?" tanya Putra lalu berjalan ke arah rumah untuk membuka pintu rumahnya.


Putra kemudian masuk ke dalam rumahnya diikuti Rafa yang masuk dengan membawa koper miliknya.


"Bagaimana dengan perusahaan disana? apa om Adam yang mengambil alih?" tanya Putra sambil memberikan minuman pada Rafa yang sudah duduk di ruang tamunya.


"Tidak, aku masih bertanggung jawab penuh atas perusahaan, lagi pula aku bisa mengerjakan pekerjaanku dari sini dan mempercayakan asisten pribadiku untuk menghandle lapangan," jawab Rafa.


"Sepertinya kau sangat mempercayai asisten pribadimu!" ucap Putra.


"Tentu saja, dia bekerja lebih baik daripada kau!" balas Rafa yang membuat Putra hanya tersenyum tipis.


"Jika kau ingin beristirahat masuklah ke kamarku, kau bisa beristirahat disana," ucap Putra.


"Bagaimana denganmu?"


"Aku bisa tidur dimanapun, tapi sejak kapan kau peduli padaku seperti ini hahaha....."


"Aku sudah memikirkannya," ucap Rafa.


"Memikirkan apa?" tanya Putra.


"Tentang masalah kita," jawab Rafa yang membuat Putra mengernyitkan keningnya.


"Mungkin selama ini aku yang terlalu kekanak-kanakan karena masih menyimpan dendam padamu," lanjut Rafa.


"Apa maksudmu kau sudah memaafkanku?" tanya Putra antusias yang hanya dibalas anggukan kepala dengan pelan oleh Rafa.


"Apa kau serius? kau sungguh sudah memaafkanku Rafa?" tanya Putra tak percaya.


"Apa sebaiknya aku mengurungkan niatku saja? sepertinya lebih baik kita bermusuhan," balas Rafa lalu menyeruput minuman di hadapannya.


"Hahaha..... aku hanya terlalu terkejut dan tidak mengerti apa yang membuatmu tiba-tiba seperti ini," ucap Putra.


"Sejak perceraianku dengan Maya aku berusaha untuk menjalani hidupku dengan lebih baik, merubah semua kebiasaan buruk yang selama ini tidak aku sadari dan bagian dari usahaku adalah melupakan masalahku denganmu!" ucap Rafa.


"Akhirnya kita sudah bersahabat lagi seperti dulu!" ucap Putra sambil memeluk Rafa, membuat Rafa segera mendorong Putra menjauh darinya.


"Kau jangan berlebihan, aku masih normal!" ucap Rafa sambil menggeser posisi duduknya yang membuat Putra terkekeh.


Rafa dan Putra memang sudah bersahabat sejak mereka masih sekolah. Persahabatan mereka mulai merenggang saat kekasih Putra diam-diam mendekati Rafa.


Rafa yang dengan tegas menolak membuat kekasih Putra mengadu domba Putra dengan Rafa.


Kekasih Putra menyebarkan foto palsu dirinya dengan Rafa dan tentu saja hal itu membuat Putra begitu terkejut dan marah pada Rafa.


Karena tidak bisa mengendalikan kemarahannya, Putrapun melaporkan foto itu pada salah satu guru di sekolahnya yang membuat Rafa hampir saja dikeluarkan dari sekolah.


Namun karena Rafa bisa membuktikan jika foto itu hanya rekayasa, pihak sekolahpun tidak mengeluarkan Rafa.


Setelah mengerti apa yang sebenarnya terjadi, Putrapun menyesal dan meminta maaf pada Rafa, ia menyesal sudah tidak mempercayai Rafa.


Tetapi apa yang dilakukan Putra sudah membuat Rafa hampir dikeluarkan dari sekolah dan tentu saja hal itu membuat Rafa sangat marah.


Sejak saat itu Rafa memutuskan untuk benar-benar menjauh dari Putra, mengakhiri persahabatannya karena kekecewaannya pada Putra yang tidak mempercayainya, bahkan hampir membuatnya dikeluarkan dari sekolah.


Meskipun begitu, Putra masih berusaha untuk terus mendekati Rafa. Putra berusaha untuk mengembalikan persahabatannya dengan Rafa seperti dulu, tetapi Rafa sama sekali tidak mempedulikannya.

__ADS_1


Sampai mereka tumbuh dewasa Rafa masih belum bisa memaafkan kesalahannya dan menganggap persahabatan mereka sudah berakhir sejak kesalahpahaman saat itu.


__ADS_2