Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Ancaman


__ADS_3

Malam itu rumah Rafa tampak berbeda dari biasanya, rumah yang selama ini selalu terlihat sepi kini tampak ramai karena karena ada mama dan papanya serta mama dan papa maya.


Mereka berenampun mulai menikmati makan malam mereka dengan sesekali mengobrol.


"Mama sangat senang sekali karena kau menghubungi Mama sayang, akhirnya mama bisa berkunjung ke rumah kalian," ucap Mama Rafa pada Maya.


"Maya sengaja mengundang Mama untuk datang kesini karena ada yang ingin Maya sampaikan," ucap Maya.


"Apa itu? semoga apa yang kau sampaikan adalah hal yang baik," tanya Mama Rafa penasaran.


Maya tersenyum lalu memberikan sebuah amplop pada Mama Rafa.


"Apa ini? apa ini surat dari dokter?" tanya Mama Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Maya.


"Apa kau hamil Maya?" tanya sang mama pada Maya.


Maya hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya pelan diikuti oleh Mama Rafa yang membacakan isi dari surat dokter yang ada di tangannya.


Dalam surat itu dijelaskan bahwa keadaan kesuburan Maya dan Rafa baik-baik saja dan mereka berencana untuk melakukan program hamil.


Rafa yang mendengar hal itu begitu terkejut dan segera membawa pandangannya pada Maya yang memamerkan senyum lebarnya.


"Kalian sedang memulai program hamil?" tanya Mama Rafa memastikan.


"Iya ma, mungkin selama ini mama papa dan semuanya mempertanyakan hubungan Maya dengan Rafa karena Maya tidak kunjung hamil, itu kenapa Maya dan Rafa memutuskan untuk memeriksakannya ke dokter sekaligus memulai program hamil," jawab Maya menjelaskan.


"Baguslah kalau akhirnya kalian memikirkan hal itu, semoga kalian segera mendapat momongan setelah melakukan program hamil ini," ucap Mama Rafa.


"Kalau begitu bukankah seharusnya kau berhenti bekerja Maya?" tanya sang mama pada Maya.


"Maya sudah berkonsultasi dengan dokter dan dokter mengizinkan Maya untuk tetap bekerja ma," jawab Maya.


"Lalu bagaimana denganmu Rafa? apa kau akan tetap menggeluti bisnismu itu? bukankah lebih baik jika kau bergabung dengan perusahaan papamu agar kau bisa menyiapkan masa depan yang lebih baik untuk calon anakmu?" tanya Mama Maya pada Rafa.


Rafa hanya terdiam, ia memikirkan apa yang sebenarnya Maya rencanakan, membuatnya tidak mendengar pertanyaan dari mama Maya.


"Rafa.....," panggil Maya pelan sambil menyenggol lengan tangan Rafa yang membuat Rafa seketika terbangun dari lamunannya.


"Jika kau sudah memutuskan untuk mempunyai anak seharusnya kau juga memiliki pekerjaan yang jauh lebih baik dari pekerjaanmu sekarang Rafa," ucap Mama Maya pada Rafa.


"Dengan pekerjaan Rafa yang sekarang Rafa yakin masih bisa memenuhi kebutuhan Maya, Mama tidak perlu mengkhawatirkannya," balas Rafa.


"Bukan hanya untuk Maya, tapi juga untuk calon anakmu!" ucap Mama Maya yang kembali membuat Rafa terdiam.


"Mama jangan terlalu memikirkannya, walaupun Rafa tidak bekerja di perusahaan tetapi bisnis Rafa sudah sangat cukup untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga kecil kita nanti," ucap Maya membela Rafa agar sang mama tidak terus menyudutkannya.


"Semoga saja seperti itu," balas mama Maya dengan sedikit kesal karena merasa diacuhkan oleh Rafa.


"Apa yang diucapkan oleh Mama mertuamu benar Rafa, kau harus memikirkan masa depan istri dan anakmu nanti," ucap Mama Rafa.


"Rafa bisa menjalankan bisnis Rafa dengan baik ma, Rafa akan buktikan pada semua yang ada disini bahwa bisnis kecil yang Rafa jalankan sekarang akan tumbuh besar nantinya," ucap Rafa.


"Papa percaya padamu Rafa papa akan selalu mendukungmu," sahut papa Rafa.


"Terima kasih Pa," ucap Rafa yang hanya dibalas anggukan oleh sang papa.


Setelah acara makan malam dan beberapa lama mengobrol, Rafapun berpamitan untuk masuk ke kamarnya terlebih dahulu.


"Kau juga masuklah Maya, temani suamimu di kamar, sepertinya dia terlihat lelah," ucap Mama Rafa pada Maya.


"Baik ma, Maya permisi," balas Maya lalu berjalan masuk ke kamar Rafa.


Baru saja Maya membuka pintu, Rafa segera menarik tangan Maya dengan kasar dan menjatuhkan mayat di atas ranjang.


"Apa maksudmu? kau pasti memalsukan surat keterangan dokter itu bukan?" tanya Rafa penuh emosi, namun berusaha untuk tetap menjaga volume suaranya agar tidak terdengar oleh orang tua mereka.


"Iya, kau benar," jawab Maya singkat.


"Kenapa kau melakukannya? kenapa kau membuat pernikahan ini semakin rumit Maya?" tanya Rafa yang tidak mengerti dengan arah pikiran Maya.


"Dari awal pernikahan kita memang sudah rumit Rafa, saat kau menerima perjodohan kita seharusnya kau bisa memikirkan bagaimana kehidupan kita selanjutnya," ucap Maya.


"Aku tahu itu dan kita pun sudah bersepakat untuk menjalani kehidupan kita masing-masing setelah pernikahan ini, tapi kenapa tiba-tiba kau membuat rencana yang bahkan tidak kau bicarakan padaku terlebih dahulu?"

__ADS_1


"Untuk apa membicarakannya padamu, tentu kau tidak akan setuju bukan? kau bahkan berencana untuk menceraikanku!" ucap Maya.


"Jangan bilang jika kau melakukan semua ini karena tidak ingin bercerai dariku," ucap Rafa.


Maya hanya diam, menghela nafasnya panjang lalu membaringkan badannya di atas ranjang.


"Kenapa Maya? kenapa kau melakukan ini? bukankah kau juga tidak mencintaiku? bukankah kau juga tidak menginginkan pernikahan ini?" tanya Rafa yang menuntut jawaban dari Maya.


"Entahlah, mungkin aku sudah mulai jatuh cinta padamu," balas Maya sekenanya.


"Jatuh cinta? tidak mungkin!" ucap Rafa tak percaya.


Maya kemudian beranjak dan berdiri tepat di hadapan Rafa, menatap kedua mata Rafa dengan tajam.


"Aku perempuan yang sama sekali tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain sebelumnya, aku bahkan tidak pernah berpikir untuk menikah dan sekarang aku harus menikah denganmu, tinggal satu atap denganmu, apa kau pikir tidak mungkin bagiku untuk jatuh cinta padamu?" tanya Maya yang membuat Rafa terintimidasi dan mengalihkan pandangannya dari Maya.


"Tidak mungkin, kau pasti hanya mencari alasan," balas Rafa yang masih tidak mempercayai ucapan Maya.


"Kau benar, aku memang hanya mencari alasan," ucap Maya yang membuat Rafa segera membawa pandangannya pada Maya.


"Apa kau tahu alasanku menerima perjodohan kita?" lanjut Maya bertanya pada Rafa.


"Tentu karena iming-iming firma hukum dari papamu," jawab Rafa tanpa ragu.


"Bukan hanya itu," ucap Maya yang membuat Rafa mengernyitkan keningnya.


"Jika aku tidak menikah denganmu maka mama dan papa akan menjodohkanku dengan laki-laki tua yang seusia dengan papa, aku juga tidak akan diizinkan untuk melanjutkan karirku apalagi mendapatkan firma hukum milik papa," lanjut Maya menjelaskan.


Rafa terdiam mendengar penjelasan Maya. Selama ini ia tahu bahwa Maya terpaksa menikah dengannya karena agar mendapatkan firma hukum seperti yang sudah papanya janjikan, namun Rafa tidak tahu ada alasan lain dibalik itu.


"Aku memang tidak pernah berhubungan dengan laki-laki, tapi aku juga wanita normal yang jelas lebih memilihmu daripada laki-laki tua itu," ucap Maya.


"Lalu apakah kau akan dijodohkan dengan laki-laki tua itu jika aku menceraikanmu? itu kenapa kau melakukan hal ini?" tanya Rafa menerka.


"Benar sekali, kau memang pintar Rafa," balas Maya dengan tersenyum tipis.


"Kau sangat licik Maya," ucap Rafa lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa.


"Aku hanya ingin mendapatkan apa yang aku inginkan dan mempertahankan apa yang sudah aku miliki," balas Maya lalu kembali membaringkan dirinya di atas ranjang.


"Rafa!" panggil papa Rafa saat Rafa baru saja memasuki ruang kerjanya.


"Ada apa pa?" tanya Rafa.


"Apa kau sedang sibuk?" balas papa Rafa bertanya.


"Tidak, hanya mengerjakan beberapa pekerjaan saja," jawab Rafa beralasan.


"Apa papa boleh masuk?" tanya papa Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Rafa.


Rafapun duduk di kursi kerjanya, sedangkan sang papa duduk di sofa yang ada disana.


"Sepertinya ada sesuatu yang tidak papa tahu," ucap papa Rafa.


"Apa maksud papa?" balas Rafa bertanya.


"Tentang kehidupan pernikahanmu, papa tidak berniat untuk ikut campur tetapi kau bisa menceritakan apapun pada papa jika kau merasa tertekan dengan masalah yang kau hadapi," jawab sang papa.


"Rafa dan Maya baik-baik saja pa, papa tidak perlu terlalu memikirkannya," ucap Rafa.


"Tapi papa melihat kau sangat terkejut dengan surat dokter yang mamamu baca tadi, padahal disana tertulis namamu dan kondisi kesehatanmu, tetapi kau seperti baru mengetahuinya!"


"Rafa hanya terkejut karena tidak menyangka jika Maya memberitahu Mama tentang hal itu," balas Rafa beralasan


"Hmmmm..... baiklah kalau begitu, cepat selesaikan pekerjaanmu, papa keluar dulu," ucap sang papa lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Rafa.


Sepeninggalan papanya, Rafa hanya menghela nafasnya panjang, mendongakkan kepalanya, menutup kedua matanya lalu mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


**


Hari telah berganti, pagipun tiba. Rafa mengerjapkan matanya dan tersadar bahwa ia tertidur di meja kerjanya.


Dengan malas Rafa beranjak dari duduknya lalu keluar dari ruang kerjanya.

__ADS_1


"Rafa, kau dari mana?" tanya Mama Rafa yang melihat Rafa menuruni tangga.


"Mama kenapa sudah ada disini? apa mama semalam menginap?" balas Rafa bertanya.


"Mama dan papa memang menginap dan akan segera pulang setelah menyiapkan sarapan," jawab Mama Rafa.


"Kenapa kau turun dari lantai dua Rafa? apa kau tidak tidur bersama Maya semalam?" tanya Mama Maya pada Rafa.


"Rafa..... Rafa tidak sengaja tertidur karena mengerjakan pekerjaan Rafa," balas Rafa beralasan.


"Jika kalian sedang melakukan program hamil sebaiknya kalian berdua tidak terlalu lelah bekerja, itu akan sangat mempengaruhi keberhasilan kalian nantinya," ucap Mama Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala dengan malas oleh Rafa.


Saat Rafa akan masuk ke kamarnya, ia baru teringat jika Maya berada di kamarnya. Rafapun mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar dan memilih untuk bersantai di teras rumah bersama sang papa dan juga papa mertuanya


**


Di tempat lain, Tiara yang baru saja keluar dari rumah segera berbalik dan masuk ke dalam rumah.


"Kak Bima benar-benar gila, ini masih sangat pagi dan dia sudah berada di sekitar sini," ucap Tiara kesal.


"Ada apa Ra? apa ada yang tertinggal?" tanya Chika.


"Laki-laki yang mencariku sedang ada di depan, sepertinya dia sedang menungguku," jawab Tiara.


"Kalau begitu kau bekerja sore saja, biar aku yang akan menggantikanmu pagi ini," ucap Chika.


"Sepertinya aku tidak bisa terus-terusan menghindar, jika aku berangkat sorepun bisa jadi dia masih ada disana untuk menungguku seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya," ucap Tiara.


"Lalu apa rencanamu? apa kau akan menemuinya?" tanya Chika.


"Mmmm..... mungkin lebih baik seperti itu," jawab Tiara ragu.


"Jangan menemuinya jika kau ragu Tiara, sepertinya dia bukan laki-laki yang baik," ucap Chika.


"aku memang takut menemui kak Bima, bagaimanapun juga dia lebih kuat daripada aku, tapi aku juga tidak mungkin terus-terusan menghindar darinya seperti ini," ucap Tiara dalam hati.


"Apa tidak sebaiknya kau menghubungi pak Rafa agar Pak Rafa menjemputmu kesini?" tanya Chika memberi saran.


"Ini masih terlalu pagi Chika, aku tidak mungkin merepotkan Pak Rafa sepagi ini," ucap Tiara.


Tiara menarik nafasnya dalam-dalam lalu berjalan keluar dari rumah. Ia tidak peduli jika kini Bima tahu dimana ia tinggal. Ia bisa pindah ke tempat lain jika Bima masih saja mengganggunya, meskipun ia harus bisa lebih berhemat jika ia memutuskan untuk pindah tempat tinggal.


Tiara yang saat itu lebih dulu melihat Bima hanya berjalan santai berpura-pura tidak menyadari keberadaan Bima. Saat ia baru saja melewati mobil Bima, sebuah tangan tiba-tiba mencengkeramnya dengan erat.


"Ikut aku!" ucap Bima yang segera menarik tangan Tiara lalu membuka pintu mobilnya.


"Tiara akan berteriak jika kak Bima memaksa Tiara!" ucap Tiara sambil berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Bima.


"Aku tidak peduli," balas Bima lalu mendorong Tiara dengan kasar ke dalam mobilnya dan dengan cepat menutupnya.


Bimapun segera mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu.


Di sisi lain Chika yang melihat kejadian itu tidak sempat menghentikan mobil Bima, ia segera menghubungi Rafa untuk memberitahu Rafa tentang apa yang baru saja dilihatnya.


"Halo Pak Rafa, ini gawat!" ucap Chika panik.


"Ada apa Chika? jelaskan dengan perlahan agar aku mengerti," tanya Rafa.


"Tiara pak..... Tiara dibawa pergi oleh laki-laki yang kemarin mencarinya, dia dipaksa masuk ke dalam mobil lalu mobil itu pergi begitu saja," jawab Chika menjelaskan.


Tuuuutttt tuuuutttt tuuuutttt


Panggilan terputus, Rafa mengakhiri panggilan Chika begitu saja. Rafa segera berlari ke kamarnya membasuh wajahnya, mengenakan pakaian sekenanya lalu menyambar kunci mobilnya dengan tergesa-gesa.


"Ada apa Rafa? kenapa kau terburu-buru sekali?" tanya Maya yang saat itu sedang bersiap-siap di dalam kamar.


Rafa hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Maya lalu segera keluar dari kamarnya dan meninggalkan rumahnya, tidak mempedulikan siapapun yang menanyakan kepergiannya saat itu.


Rafa segera mengendarai mobilnya ke arah rumah Tiara. Rafa bisa mengingatnya dengan jelas dimana rumah Tiara karena ia pernah mengantar Tiara pulang.


Sesampainya Rafa di depan rumah Tiara, sudah ada beberapa mobil yang terparkir di halaman rumah Tiara.


Di sisi lain, Tiara yang saat itu sedang berada di ruang tamu hanya bisa terdiam dengan kedua mata berkaca-kaca saat semua orang yang ada disana memaksanya untuk menandatangani sebuah pernyataan yang sudah disiapkan oleh Mama Laras dan papa Bima.

__ADS_1


Mama Laras dan papa Bima mengancam akan menahan dan mengurung Tiara di rumah itu jika Tiara tidak segera menandatangani surat pernyataan itu.


__ADS_2