Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Ancaman (2)


__ADS_3

*Flashback saat Tiara baru saja sampai di rumahnya.*


"Tiara tidak percaya Tiara menginjakkan kaki lagi di rumah ini dengan paksaan kak Bima," ucap Tiara sebelum ia keluar dari dalam mobil.


"maafkan aku Ra, jika saja kau bisa memahami keadaan saat ini aku pasti tidak akan memaksamu seperti ini," balas Bima lalu keluar dari dalam mobil dan membuka pintu belakang agar Tiara segera keluar.


"Apa aku harus memaksamu lagi agar kau keluar?" tanya Bima yang melihat Tiara tidak segera beranjak dari duduknya.


Tiara hanya menghela nafasnya lalu keluar dari mobil Bima dan berjalan memasuki rumahnya mengikuti langkah Bima.


Setelah Tiara masuk ke dalam rumahnya Bima segera mengunci pintu rumah itu, membuat Tiara sedikit curiga tentang maksud Bima memaksanya untuk pulang.


Saat Tiara membawa langkahnya masuk ia begitu terkejut saat melihat tidak hanya Mama Laras dan Gita yang ada disana, tapi juga mama dan papa Bima.


"Duduklah!" ucap Bima pada Tiara.


"Kau pasti tahu kenapa Bima memaksamu untuk datang kesini, jika saja kau mau kembali ke rumah ini dengan senang hati maka tidak akan ada siapapun yang memaksamu seperti ini," ucap Mama Laras pada Tiara.


"Tiara tahu maksud Mama meminta Tiara untuk kembali ke rumah ini, mama tidak perlu khawatir Tiara akan memberikan apa yang memang seharusnya menjadi milik mama," ucap Tiara yang seolah memahami situasi saat itu.


"Waaahh rupanya kau cukup pintar, tapi bukan itu yang Mama inginkan," balas Mama Laras membuat Tiara mengernyitkan keningnya.


"Apa maksud Mama?" tanya Tiara tak mengerti.


"Kau pasti sudah bertemu dengan Maya bukan? pengacara papamu yang menjelaskan tentang pembagian harta warisannya, apa menurutmu pembagian itu adil untuk mama?" balas Mama Laras bertanya.


"Kita semua tahu kau tidak berminat untuk melanjutkan bisnis papamu, bukankah lebih baik jika Om dan mamamu yang melanjutkan bisnis itu?" sahut papa Bima bertanya.


Tiara semakin tidak mengerti arah pembicaraan saat itu, karena sejauh yang ia tau papa Bima tidak ada hubungannya sama sekali dengan warisan yang papanya tinggalkan.


"Papamu hanya meninggalkan warisannya tidak lebih dari 25% dari total keseluruhannya, padahal selama ini Mamalah yang mengurus semua bisnis itu sendirian, jadi Mama rasa itu sama sekali tidak adil untuk mama," ucap Mama Laras.


"Mama juga akan mendapatkan rumah ini karena Tiara tidak akan pernah kembali lagi kesini," balas Tiara.


"Bagaimana dengan bisnis papamu yang lain Tiara? kau tidak akan mungkin membiarkan semua bisnis itu dikelola oleh orang lain yang bahkan tidak kau kenal bukan?" sahut papa Bima.


"Semua itu akan dikelola oleh orang-orang kepercayaan papa, Tiara percaya pada mereka semua Om," balas Tiara.


Papa Bima lalu membawa pandangannya pada Mama Laras, seolah memberikan sebuah kode yang membuat Mama Laras segera beranjak dari duduknya lalu mengambil sebuah kertas dan menaruhnya di hadapan Tiara.


"Kau pasti tahu Mama memintamu kembali ke rumah ini bukan karena mama menyayangimu, tetapi mama hanya ingin kau menandatangani surat pernyataan ini," ucap Mama Laras.


Tiarapun mengambil surat pernyataan itu dan membacanya. Ia begitu terkejut setelah ia membaca keseluruhan surat pernyataan yang menyatakan bahwa Tiara akan memberikan seluruh harta warisan sang papa pada Mama Laras dengan alasan Tiara yang tidak tertarik dengan bisnis yang papanya tinggalkan, juga sebagai bentuk terima kasihnya pada Mama Laras yang sudah menjaganya sejak kepergian kedua orang tuanya.


"Mama pasti bercanda, mana mungkin Tiara mau menandatangani surat pernyataan ini!" ucap Tiara yang segera menaruh surat pernyataan itu di atas meja.


"Tapi Mama akan memaksamu Tiara, kau tidak punya pilihan lain selain menandatangani surat pernyataan itu!" balas Mama Laras.


"Kenapa Mama harus menjadi serakah seperti ini? setelah semua yang Mama dan kak Gita lakukan pada Tiara, Tiara masih memikirkan kalian berdua, tapi kenapa....."


"Jangan selalu merasa kau adalah korban Tiara, apa kau tidak sadar apa yang sudah kau lakukan di belakangku selama ini? kau dan....."


"Gita hentikan!" ucap Mama Laras memotong ucapan Gita.


Gita hanya menghela nafasnya lalu mengalihkan pandangannya dengan kesal.


"25% dari semua bisnis papa itu sudah cukup untuk Mama Laras dan kak Gita, Tiara tidak akan ikut campur lagi dengan bisnis itu dan mama juga bisa menghapus Tiara dari daftar keluarga ini," ucap Tiara dengan tegas lalu segera beranjak dari duduknya, berniat untuk pergi namun Gita segera menahan tangan Tiara lalu menjatuhkan Tiara di atas sofa.


"Kau pikir kau bisa datang dan pergi sesukamu?" tanya Gita.


"Apalagi yang harus dibicarakan? Tiara tidak akan menandatangani surat pernyataan konyol ini, lagi pula pengacara itu pasti akan curiga jika Tiara membuat surat pernyataan seperti itu!" ucap Tiara yang bersikeras untuk menolak menandatangani surat pernyataan itu.


"Jangan bodoh Tiara kau mempunyai alasan yang kuat untuk mengelabui pengacara itu," ucap Mama Laras.

__ADS_1


"Kau bisa beralasan jika kau tidak tertarik dengan bisnis yang papamu tinggalkan dan sebagai bentuk terima kasihmu pada mamamu maka kau memberikan semua warisan itu pada mamamu, bukankah itu cukup masuk akal?" sahut papa Bima.


"Tidak Om, Tiara tidak akan mengatakan hal itu, hanya ada dua pilihan yang papa berikan pada Tiara, membiarkan Mama Laras dan kak Gita tidak mendapatkan sama sekali warisan dari papa atau memberikan 25% dari seluruh warisan itu, tidak mungkin Tiara memberikan seluruhnya pada Mama Laras, itu benar-benar konyol," balas Tiara.


"Bukankah kau sudah tidak peduli lagi pada keluarga ini? bukankah kau lebih bahagia dengan bekerja di kafe? lalu untuk apa kau memiliki bisnis peninggalan papamu jika kau sendiri tidak bisa mengelolanya?" tanya papa Bima.


"Tetap saja itu adalah hak Tiara, apapun yang akan Tiara lakukan nantinya itu tidak ada hubungannya dengan om," balas Tiara.


"Apa kau masih tidak sadar dengan posisimu saat ini Tiara? kau hanya sendiri disini dan ada lima orang yang bisa dengan mudah memaksamu untuk menandatangani surat pernyataan ini!" ucap Mama Laras yang membuat Tiara membawa pandangannya ke arah semua orang yang ada disana.


"Cepat tandatangani surat pernyataan ini selagi kita semua masih bisa bersabar, jika tidak maka tidak ada cara lain selain memaksamu dengan cara yang tidak kau inginkan!" ucap Mama Laras.


Merasa dirinya sudah tersudut, diam-diam Tiara mengambil ponselnya dari dalam tasnya, berniat untuk menghubungi Rafa namun Bima yang melihat hal itu segera merebut tas Tiara dan mengambil ponsel Tiara.


"Tolong lakukan saja Tiara, demi kebaikanmu," ucap Bima pada Tiara.


"Kebaikan apa yang kak Bima maksud? surat pernyataan ini hanya menguntungkan keserakahan kalian semua," balas Tiara dengan kesal yang membuat Mama Laras segera beranjak dari duduknya dan menampar Tiara dengan keras.


PLAAAAKKKK


"Cukup Tiara, cepat tanda tangani surat pernyataan ini atau Mama akan benar-benar membuatmu menyesal!" ucap Mama Laras dengan penuh emosi.


"Tidak, Tiara tidak akan menandatangani surat pernyataan itu!" ucap Tiara.


Seketika Mama Laras mendekati Tiara lalu mencengkeram dengan kuat leher Tiara, membuat Tiara kesakitan sampai kesulitan bernafas.


"Ma..... lep....pas.... kan.....," ucap Tiara terbata-bata namun tangan Mama Laras semakin kuat mencengkeram lehernya.


Bima yang ada disana merasa tidak tega melihat Tiara seperti itu, namun tidak ada yang bisa dia lakukan untuk membantu Tiara, membuat Bima hanya bisa memalingkan wajahnya agar tidak melihat kejadian itu.


"Sudah Laras lepaskan, kau bisa membuatnya mati!" ucap Mama Bima pada Mama Laras.


Mama Laraspun melepaskan tangannya dari leher Tiara lalu kembali menamparnya dengan kencang


"Tanda tangani saja Tiara, kita tidak akan menyakitimu jika kau mau menandatangani surat pernyataan ini," ucap Mama Bima pada Tiara.


Namun Tiara hanya menggelengkan kepalanya, memegang lehernya yang terasa sakit dengan kedua matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyangka wanita yang dipilih sang papa untuk menjadi Mama tirinya ternyata begitu jahat dan serakah.


Yang lebih membuatnya sedih adalah saat ia melihat laki-laki yang begitu dicintainya hanya terdiam tanpa melakukan apapun untuk berusaha membantunya.


*Flashback off*


"Ma, sepertinya ada seseorang di depan rumah," ucap Gita pada sang Mama saat ia melihat mobil Rafa yang berhenti di depan rumahnya.


"Baiklah, sepertinya kau membutuhkan waktu untuk berpikir, Mama akan memberikanmu waktu seperti yang kau inginkan," ucap Mama Laras lalu mengambil sebuah lakban besar dan tali tambang.


"Bima!" panggil Mama Laras.


Bima hanya menganggukkan kepalanya seolah mengerti apa yang harus ia lakukan. Bimapun mendekati Tiara, mengunci pergerakan Tiara agar Mama Laras bisa dengan mudah mengikat tangan Tiara lalu membungkam mulut Tiara dengan lakban besar yang sudah mereka siapkan.


"Bawa dia masuk ke kamarnya," ucap Mama Laras pada Bima.


Bima hanya mengagukan kepalanya namun saat ia akan membawa Tiara masuk, Tiara berusaha menolak dan berteriak meski tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya yang tertutup lakban.


"Ayolah Ra, jangan membuatku bersikap kasar padamu," ucap Bima pada Tiara.


Tiara menggelengkan kepalanya pelan seolah memohon pada Bima agar Bima mau membantunya, namun percuma karena Bima hanya menuruti mama Laras untuk membawa Tiara masuk ke dalam kamarnya.


Pada akhirnya Bima berhasil membawa Tiara masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu kamar itu dari luar.


Di sisi lain Rafa mengetuk pintu rumah Tiara beberapa kali hingga akhirnya Mama Laras membukanya.


"Permisi tante saya Rafa, dosen Tiara, apa Tiara ada disini?" ucap Rafa memperkenalkan diri sekaligus bertanya.

__ADS_1


"Tidak, dia tidak ada disini," jawab Mama Laras.


"Tapi sepertinya tadi saya melihat Tiara masuk ke mobil Bima dan itu mobil Bima bukan?" ucap Rafa lalu menunjuk mobil Bima yang terparkir di halaman rumah itu.


"Itu memang mobil Bima tapi dia tidak datang bersama Tiara, pergilah dan cari Tiara di tempat lain!" ucap Mama Laras lalu menutup pintu rumahnya begitu saja.


"apa benar Tiara tidak ada di rumah ini? apa mungkin Bima membawa Tiara ke tempat lain? tapi kenapa mobil Bima ada disini?" batin Rafa bertanya-tanya dalam hati.


Di sisi lain Tiara yang sempat melihat Rafa dari jendela kamarnya berusaha berteriak meskipun sudah pasti Rafa tidak akan mendengarnya.


Tiara berusaha membuat suara dengan cara memukulkan kepalanya ke jendela kamarnya dengan harapan Rafa akan mendengarnya dan menyadari keberadaannya disana.


"Kak Rafa, tolong Tiara..... Tiara mohon kak....." ucap Tiara dalam hati dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Tiara kemudian melihat sebuah guci besar yang ada di dalam kamarnya, tanpa pikir panjang Tiara segera menendang guci itu.


PYAAAARRR!!!!!!!


Rafa yang mendengar suara itupun segera membalikkan badannya dan mendapati Tiara yang berada di dalam sebuah kamar dengan mulut yang terbungkam oleh lakban.


"Tiara!"


Rafapun segera kembali mengetuk pintu rumah itu. Sedangkan Mama Laras dan orang tua Bima segera berlari ke arah kamar Tiara setelah mereka mendengar suara yang cukup keras dari kamar Tiara.


Mama Laras yang begitu murka segera mengambil pecahan guci itu dan menaruhnya tepat di leher Tiara.


"Kau mau mati sekarang?" tanya Mama Laras penuh emosi.


Tiara hanya terdiam tanpa mampu bergerak sedikitpun karena takut jika pecahan guci itu akan benar-benar melukai lehernya.


"Sebaiknya kita pindahkan saja dia," ucap Mama Bima.


Di sisi lain, Rafa yang masih berada di depan rumah sedang bersitegang dengan Bima dan Gita untuk memaksa masuk ke dalam rumah.


Rafa dan Bima bahkan sempat beradu fisik yang pada akhirnya membuat Bima jatuh tersungkur. Dengan sudut bibir yang berdarah Rafapun segera berlari untuk mencari keberadaan Tiara di rumah itu.


Saat Rafa baru saja menaiki tangga, ia melihat Mama Laras dan kedua orang tua Bima yang baru saja keluar dari salah satu kamar.


"Tiara ada disana bukan?" tanya Rafa dengan raut wajah menegang menahan emosinya.


"Jangan sembarangan menuduh, aku bisa melaporkanmu pada pihak keamanan jika kau membuat keributan disini," balas Mama Laras.


"Rafa yang akan lebih dulu menghubungi polisi untuk memeriksa rumah ini," ucap Rafa lalu segera mengambil ponselnya bersiap untuk menghubungi polisi.


"Tidak, jangan lakukan itu, kau benar Tiara memang ada disini karena Tiara memang bagian dari keluarga ini, kita....."


"Berhenti bersandiwara tante, Rafa tahu apa yang terjadi sekarang, jadi tolong cepat tunjukkan dimana Tiara berada!" ucap Rafa memotong ucapan Mama Laras.


"Ini masalah keluarga, tolong kau jangan ikut campur," sahut papa Bima.


"Jika ini menyangkut masalah warisan yang ditinggalkan oleh papa Tiara, om dan tante juga tidak seharusnya ikut campur," ucap Rafa yang mengenal kedua orang tua Bima.


"Tapi...."


"Cepat tunjukkan dimana Tiara sekarang atau Rafa akan benar-benar menghubungi polisi sekarang juga!" ucap Rafa dengan tegas yang membuat Mama Laras segera membuka kamar yang ada di belakangnya.


Rafapun segera membawa langkahnya masuk dan mendapati Tiara yang terduduk di sudut ruangan dengan tangan terikat dan mulut yang terbungkam oleh lakban.


"Tiara!"


Rafa segera menghampiri Tiara, melepaskan lakban yang ada di mulut Tiara dengan pelan lalu melepaskan ikatan tangan Tiara.


Seketika Tiara segera memeluk Rafa dengan erat dan tanpa ragu Rafapun membalas pelukan Tiara.

__ADS_1


"Tiara takut kak...." ucap Tiara di tengah isak tangisnya yang membuat Rafa semakin erat memeluk Tiara.


__ADS_2