Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Bertemu Mama Rafa


__ADS_3

Mama Rafa yang baru saja meninggalkan rumah Rafa segera meminta sang supir untuk diantarkan ke kafe pertama Rafa.


Meskipun sebelumnya ia tidak pernah mendatangi Rafa ke kafenya, tetapi ia harus segera menemui Rafa untuk memastikan keadaan Rafa saat itu, karena tidak mungkin jika Rafa baik-baik saja setelah dia mengkonsumsi alkohol bersama Maya semalam.


Di sisi lain Rafa yang baru saja keluar dari kafe melihat mobil sang Mama memasuki tempat parkir kafenya, Rafapun segera membawa langkahnya ke arah mobil sang Mama yang baru saja terparkir.


Melihat Rafa datang, Mama Rafapun segera keluar dari mobilnya.


"Tumben sekali Mama kesini, ada apa ma? apa Mama belum bertemu Maya?" tanya Rafa pada sang mama.


"Sudah, mama sudah bertemu dengannya, tapi sepertinya dia sedang tidak enak badan," jawab Mama Rafa.


"Aahhh begitu, apa Mama kesini untuk bertemu dengan Rafa?" tanya Rafa.


"Iya tadinya mama ingin bertemu denganmu, tetapi sepertinya kau sedang terburu-buru, apa kau mau pergi?" jawab Mama Rafa sekaligus bertanya


"Iya, Rafa akan bertemu teman Rafa tapi Rafa akan membatalkannya jika mama ingin mengobrol dengan Rafa disini," jawab Rafa.


"Tidak perlu, Mama kesini hanya ingin melihatmu saja, kau lanjutkan saja apa yang mau kau lakukan, Mama pergi dulu!" ucap Mama Rafa.


"Rafa akan mampir ke rumah nanti malam," ucap Rafa sambil melambaikan tangannya pada sang Mama yang sudah masuk ke dalam mobil.


Mama Rafa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis lalu meminta sang supir meninggalkan kafe Rafa.


Sepanjang perjalanan Mama Rafa memikirkan apa yang membuat Maya berbohong padanya, karena sudah jelas ia melihat Rafa yang baik-baik saja jadi tidak mungkin jika Rafa mabuk semalam.


"Kenapa Maya berbohong padaku? Rafa bahkan tampak tidak mengkhawatirkan Maya yang sedang tidak baik-baik saja saat ini, ada apa sebenarnya dengan mereka berdua? apa terjadi sesuatu yang tidak aku tahu?" batin Mama Rafa bertanya dalam hati.


"Kemana kita akan pergi sekarang Bu?" tanya sopir membuyarkan lamunan Mama Rafa.


"Kita pergi ke perusahaan saja Pak," jawab Mama Rafa.


"Baik Bu," balas sopir lalu mengendarai mobil ke arah perusahaan X.


Sesampainya disana Mama Rafa segera keluar dari mobil lalu berjalan ke arah pintu utama perusahaan X.


Mama Rafa masuk ke dalam lift yang saat itu ada Tiara di dalamnya. Tak lama kemudian pintu lift terbuka, Mama Rafapun keluar dari lift sambil mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, tanpa ia sadar sesuatu terjatuh dari tasnya saat ia mengambil ponsel.


Tiara yang melihat hal itu segera mengambil benda yang terjatuh dan berlari mengejar Mama Rafa.


"Maaf Bu, sepertinya ini milik ibu yang terjatuh," ucap Tiara saat sudah berhasil mengejar Mama Rafa.


Mama Rafapun segera mengecek benda miliknya yang ada di dalam tasnya dan benar saja dia tidak menemukan benda itu di dalam tasnya.


"Aaahh iya, terima kasih sudah mengembalikannya," ucap Mama Rafa pada Tiara.


Tiara hanya tersenyum dengan sedikit menundukkan kepalanya lalu berjalan ke arah ruangan lain sambil membawa beberapa map yang harus ia serahkan kepada manajer divisi produksi.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Tiarapun kembali ke meja kerjanya melanjutkan pekerjaannya sampai jam kerjanya selesai.


Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore saat Putra menghampiri Tiara.


"Apa pekerjaanmu belum selesai?" tanya Putra pada Tiara.


"Sebentar lagi selesai pak," jawab Tiara.


"Baiklah, kalau kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu datang ke ruanganku, bantu aku membawa berkas untuk dimasukkan ke dalam mobil!" ucap Putra.


"Baik Pak," balas Tiara.


Setelah beberapa lama kemudian Tiarapun menyelesaikan pekerjaannya. Ia kemudian merapikan barang-barangnya lalu meninggalkan meja kerjanya untuk pergi ke ruangan Putra.


"Tolong bawa berkas-berkas ini ke mobilku, masih ada beberapa hal yang harus aku kerjakan jadi pergilah dulu!" ucap Putra sambil memberikan beberapa tumpuk map dan kunci mobilnya pada Tiara.


"Baik Pak," balas Tiara.


Di sisi lain, Mama Rafa yang baru saja mengadukan sikap Maya pada sang suami segera membawa langkahnya meninggalkan ruangan suaminya setelah sang suami memaksanya untuk pulang terlebih dahulu.


Mama Rafa yang sudah menunggu di pintu utama sedikit kesal karena sopirnya tidak kunjung datang.


Mama Rafapun membawa langkahnya ke arah tempat parkir untuk mencari sopirnya. Sesampainya di tempat parkir Mama Rafa mengedarkan pandangannya ke sekitarnya namun tiba-tiba ia merasa pusing.


Mama Rafapun kehilangan keseimbangan tubuhnya lalu jatuh terduduk di dekat mobil yang terparkir disana.

__ADS_1


Tiara yang saat itu baru saja memasukkan beberapa map ke dalam mobil Putra, tanpa sengaja melihat hal itu, iapun segera berlari ke arah seorang wanita tanpa ia tahu jika wanita itu adalah wanita yang ia temui di lift beberapa saat yang lalu.


"Astaga apa yang terjadi pada ibu?" tanya Tiara panik.


"Tidak apa, hanya sedikit pusing," jawab Mama Rafa sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Tolong ibu bertahan sebentar, Tiara akan meminta bantuan," ucap Tiara lalu segera mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.


Namun sebelum Tiara berhasil menghubungi siapapun, Putra tiba-tiba berlari ke arahnya.


"Tante, apa yang terjadi tante?" tanya Putra panik.


"Tolong antar ibu ini ke rumah sakit pak, sepertinya keadaannya sedang tidak baik-baik saja," sahut Tiara menjawab pertanyaan Putra.


Dengan sigap Putrapun membantu Mama Rafa untuk berdiri lalu membawa Mama Rafa masuk ke dalam mobilnya bersama Tiara.


"Apa Tante kesini untuk menemui Pak Adam?" tanya Putra saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Iya, Tante baru saja mau pulang tetapi tante tidak bisa menemukan dimana sopir tante," jawab Mama Rafa.


"Pak Adam? apa maksud Pak Putra adalah Pak Adam CEO kita?" tanya Tiara pada Putra.


"Iya, tante Rossa adalah istri Pak Adam," jawab Putra.


"Waaahh.... suatu kehormatan bagi Tiara bisa bertemu dengan ibu Rossa," ucap Tiara dengan tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya pada Mama Rafa.


Mama Rafa hanya tersenyum lalu membawa pandangannya pada Putra dan Tiara bergantian.


"Sepertinya kalian berdua cukup dekat," ucap Mama Rafa.


"Tante memang pandai membaca situasi hehehe....." balas Putra yang membuat Mama Rafa tersenyum meski wajahnya tampak pucat saat itu.


Tiarapun hanya tersenyum tipis tidak menghiraukan ucapan Putra.


"Ibu Rossa bisa memejamkan mata sebelum kita sampai di rumah sakit, agar tidak terlalu pusing," ucap Tiara pada Mama Rafa.


"Jangan memanggilku seperti itu, kau bisa memanggilku "tante" seperti Putra," balas Mama Rafa


"Tidak mungkin Bu, rasanya sangat tidak sopan jika Tiara memanggil seperti itu," ucap Tiara.


Tiara hanya tersenyum canggung dengan membawa pandangannya pada Putra yang duduk di balik kemudi.


"Ikuti saja permintaan tante Rossa, Tiara!" ucap Putra yang seolah mengerti keraguan Tiara untuk memanggil "tante" pada istri CEO perusahaan tempat ia bekerja.


"Kau gadis yang baik, Tiara, benar namamu Tiara?" ucap Mama Rafa sekaligus bertanya pada Tiara.


"Iya..... tante...... nama saya Tiara," jawab Tiara ragu.


"Tante bukan atasanmu di perusahaan jadi tidak perlu sungkan seperti itu," ucap Mama Rafa.


Tiara hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan. Sesampainya di rumah sakit Mama Rafapun segera diperiksa oleh dokter.


"Terima kasih sudah mengantar tante ke rumah sakit Tiara, Putra," ucap Mama Rafa pada Tiara dan Putra setelah dokter memeriksa keadaannya.


"Sama-sama tante, apa Tante sudah menghubungi pak Adam dan Ra......"


Putra menghentikan ucapannya saat ponselnya tiba-tiba berdering, sebuah panggilan dari rekan kerjanya yang membuatnya harus segera menerima panggilan itu.


"Putra permisi sebentar tante," ucap Putra lalu berjalan sedikit menjauh untuk menerima panggilan dari rekan kerjanya, meninggalkan Tiara berdua dengan Mama Rafa.


"Seperti yang tadi Dokter katakan, tante tidak boleh terlalu banyak beban pikiran agar tante tidak pusing lagi seperti tadi," ucap Tiara pada Mama Rafa.


"Tante juga tidak ingin memikirkannya Tiara, tapi semakin lama kepala tante dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang membuat tante seperti ini," balas Mama Rafa.


"Apa Tante memiliki hobi tertentu?" tanya Tiara.


"Hobi? sepertinya tidak ada, tante hanya suka memasak jika tante mendapat resep-resep baru," balas Mama Rafa.


"Jika tante mulai merasa kepala Tante sudah terlalu penuh dengan pikiran-pikiran itu, lebih baik tante mengalihkan pikiran itu dengan cara memasak atau melakukan hobi tante yang lain, Tiara yakin perlahan pikiran yang mengganggu itu akan hilang saat tante melakukan hobi tante, entah memasak atau kegiatan lain yang Tante sukai," ucap Tiara memberi saran.


Mama Rafa tersenyum dengan menganggukkan kepalanya, entah kenapa ia begitu menyukai Tiara meski ia baru bertemu dan mengenal Tiara beberapa saat yang lalu.


"Maaf Tante, Putra tidak bisa berlama-lama disini karena masih ada yang harus Putra kerjakan," ucap Putra setelah dia mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


"Tidak apa, kalian berdua pergilah, tante akan segera menghubungi suami tante agar segera kesini," balas Mama Rafa.


"Apa pak Putra terburu-buru? bagaimana jika kita menunggu Pak Adam datang terlebih dahulu?" tanya Tiara pada Putra.


"Kita harus pergi sekarang Tiara," balas Putra..


"Tidak perlu mengkhawatirkan tante Tiara, Tante sudah baik-baik saja," ucap Mama Rafa yang mengerti jika Tiara tampak mengkhawatirkan keadaannya yang seorang diri di rumah sakit.


"Apa Tante yakin?" tanya Tiara memastikan.


Mama Rafa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum pada Tiara.


"Kau gadis cantik yang baik sekali Tiara, jika saja Tante masih memiliki anak laki-laki tante pasti akan menjodohkannya denganmu," ucap Mama Rafa yang membuat Tiara tersipu.


"Bukankah Tante masih memiliki Putra?" tanya Putra yang hanya membuat Mama Rafa terkekeh.


"Kau benar, kau memang sudah seperti anak Tante, tante akan sangat senang jika kalian berdua berhasil menjalani hubungan kalian dengan baik," ucap Mama Rafa.


Tiara hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun, ia hanya merasa senang karena wanita di hadapannya itu tampak menyukainya.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam saat Tiara sedang berada di kafe bersama Rafa.


Malam itu Rafa memang sengaja ingin menemui Tiara di kafe yang berada tak jauh dari tempat kos Tiara, kafe yang sebelumnya pernah mereka datangi.


Tiara kemudian menceritakan pada Rafa tentang wanita yang dia temui tentang bagaimana wanita itu tampak menyukainya.


Namun saat Tiara mengatakan jika nama wanita yang dimaksudnya adalah Rossa, Rafa seketika terdiam.


"Karena tante Rossa sangat menyukai Tiara tante Rossa bahkan ingin menjadikan Tiara menantunya, tapi sayang tante Rossa tidak memiliki anak laki-laki," ucap Tiara yang membuat Rafa bisa bernafas lega karena merasa jika Tante Rossa yang Tiara maksud bukanlah mamanya.


"Sepertinya tante Rossa hanya memiliki anak perempuan," lanjut Tiara.


"Dari mana kau tahu?" tanya Rafa.


"Saat Tiara pertama kali bertemu dengan tante Rossa, tante Rossa tidak sengaja menjatuhkan sebuah perhiasan dari tasnya, jika Tiara perhatikan perhiasan itu sepertinya cocok dipakai untuk anak muda, sangat berbeda dengan model perhiasan yang dipakai tante Rossa saat itu, jadi Tiara pikir perhiasan itu pasti akan diberikan pada anak perempuannya," jawab Tiara menjelaskan.


"Kau sok tahu sekali padahal kau baru mengenalnya," ucap Rafa yang membuat Tiara terkekeh.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu? bukankah kau sudah tiga bulan bekerja disana?" tanya Rafa.


Tiara menganggukkan kepalanya lalu menceritakan tentang keputusan manajer yang pada akhirnya menetapkan Tiara sebagai bagian dari divisi pemasaran dan memindahkan Dita ke divisi lain.


Tiara juga menceritakan tentang sikap Dita yang tiba-tiba berubah padanya, termasuk tentang roti yang Tiara makan sebelum dia mengerjakan tes terakhirnya yang merupakan pemberian dari Dita.


"Itulah kenapa aku bilang jangan terlalu menganggap semua orang itu baik, karena kau tidak akan pernah tahu apa yang ada di dalam hati mereka," ucap Rafa.


"Tiara hanya tidak mengerti kenapa dia sebenci itu pada Tiara," balas Tiara.


"Tentu saja karena dia tidak ingin tersaingi olehmu," ucap Rafa.


"Tapi bukankah dia sangat berlebihan kak? jika saja Tiara tidak mendapatkan kesempatan kedua itu artinya dia sudah menghancurkan mimpi Tiara hanya karena keegoisannya sendiri!"


"Ada beberapa orang yang tidak memikirkan orang lain Tiara, mereka hanya memikirkan keinginan mereka yang harus mereka capai tanpa mempedulikan orang lain," balas Rafa.


Tiara hanya menghela nafasnya panjang lalu menyeruput minuman miliknya.


"Aaahh iya, jangan lupa untuk mengambil cutimu bulan ini!" ucap Rafa mengingatkan.


"Rasanya Tiara masih tidak percaya jika Tiara akan benar-benar pergi ke luar negeri untuk melihat konser," balas Tiara.


"Kau harus mempersiapkan dirimu Tiara, aku sudah mencari beberapa pilihan hotel yang dekat dengan tempat konser itu," ucap Rafa.


"Hotel?" tanya Tiara memastikan pendengarannya.


"Iya hotel, kita tidak mungkin tidur di emperan toko bukan?" balas Rafa.


"Hotel..... jadi..... kita akan......." Tiara menghentikan ucapannya, ia memejamkan matanya dengan erat membayangkan hal yang tidak seharusnya ia pikirkan.


"Berhenti berpikir jorok Tiara, kotor sekali isi pikiranmu!" ucap Rafa yang seolah mengerti isi kepala Tiara saat itu.


"Tiara.... Tiara tidak..... mmmm.... kak Rafa akan memesan dua kamar bukan?"

__ADS_1


"Tentu saja aku memesan dua kamar, apa kau ingin satu kamar denganku?" ucap Rafa sekaligus bertanya.


Tiara segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia lalu terkekeh, menertawakan pikiran kotornya sendiri, begitu juga Rafa yang menertawakan sikap Tiara.


__ADS_2