Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Kembali ke Kafe


__ADS_3

Tiara berjalan meninggalkan Bima bersama Rafa, dalam hatinya ia bersyukur karena bisa melarikan diri dari Bima.


"Periksa ponselmu, saya sudah mengirim pesan tentang beberapa buku yang harus kau baca!" ucap Rafa yang membuat Tiara menghentikan langkahnya seketika.


"Lalu kenapa saya harus mengikuti Pak Rafa jika Pak Rafa sudah mengirim pesan pada saya?" protes Tiara namun Rafa hanya tersenyum tipis dengan masih melanjutkan langkahnya.


Tiara hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu berjalan pergi berlainan arah dengan Rafa. Tiara kemudian membaca pesan di ponselnya lalu menyimpan nomor Rafa ke dalam penyimpanan kontaknya.


Dosen Mesum


Tiara terkekeh setelah dia menyimpan nomor Rafa dengan nama Dosen Mesum. Tiara kemudian meninggalkan kampus dan pergi ke toko buku untuk membeli buku-buku yang dia butuhkan.


Setelah membeli beberapa buku, Tiarapun pulang ke rumah dengan menaiki bus. Sesampainya di rumah Tiara segera masuk ke dalam kamar untuk mengerjakan skripsinya.


Namun tiba-tiba ia memikirkan apa yang harus dia lakukan jika Bima kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Apa aku harus pergi lagi sebelum kak Bima pulang? tapi kemana aku harus pergi?" tanya Tiara pada dirinya sendiri.


Tiara kemudian mengambil tas ranselnya, mengisinya dengan beberapa buku dan laptop lalu membawanya keluar dari rumah.


Tiara kemudian berjalan ke arah taman yang berada di dekat rumahnya, ia kemudian mengeluarkan laptop dan buku-bukunya saat dia sudah duduk di gazebo.


Namun baru saja dia membuka laptopnya, seketika ia mengingat tentang kebersamaannya bersama Bima saat mereka tengah menghabiskan waktu di taman.


Tiara kemudian membawa pandangannya ke sekelilingnya, ada setitik rasa bahagia pada luka yang ada di hatinya saat itu.


"mungkin tidak seharusnya aku merasakan kebahagiaan itu, kebahagiaan yang singkat itu hanya membuatku semakin susah untuk melupakan kak Bima," batin Tiara dalam hati.


Tiara kemudian menutup laptopnya dan hanya membaca buku yang baru saja dibelinya.


Satu jam dua jam telah berlalu dan Tiara masih berada di taman itu dengan berpindah-pindah tempat.


Karena sudah mulai bosan Tiarapun memasukkan buku dan laptopnya ke dalam tas lalu membawanya meninggalkan taman. Saat baru saja keluar dari taman Tiara bertemu dengan Kevin yang baru saja pulang dari kampus.


"Kau mau kemana?" tanya Kevin pada Tiara.


"Aku..... aku hanya ingin mencari suasana baru untuk mengerjakan skripsiku," jawab Tiara beralasan.

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu," ucap Kevin sambil memberikan satu helmnya pada Tiara.


"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri," balas Tiara menolak.


"Kau tidak akan kabur dari rumah bukan?" tanya Kevin penuh selidik.


"Tentu saja tidak, aku juga membutuhkan persiapan jika aku memang ingin kabur dari rumah," jawab Tiara.


"Jangan melakukan hal bodoh hanya karena kak Bima, dia benar-benar tidak pantas untukmu!" ucap Kevin mengingatkan.


"Sudahlah Kevin jangan membahas kak Bima lagi, aku sedang ingin fokus dengan skripsiku saat ini," ucap Tiara.


"Baguslah kalau begitu, apa kau yakin ingin pergi sendiri?"


"Iya, jangan mengkhawatirkanku, kau pasti akan bertemu denganku di kampus besok siang," ucap Tiara lalu berjalan pergi meninggalkan Kevin.


"Jaga dirimu baik-baik Ra, hubungi aku jika kau membutuhkanku!" ucap Kevin setengah berteriak karena Tiara sudah berjalan cukup jauh darinya.


Kevin sangat mengenal Tiara dengan baik, jika Tiara sudah mengatakan ingin fokus pada skripsinya maka Kevin tidak akan mengganggunya dan memberinya waktu agar Tiara fokus mengerjakan skripsinya.


Tiarapun beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan kampus. Tiara kemudian menghubungi salah satu temannya, mengajaknya bertemu di salah satu kafe yang berada tak jauh dari kampusnya.


Tiara menghabiskan waktunya untuk bercanda dan tertawa bersama temannya setelah ia cukup lama berputar dengan materi skripsi yang sedang dikerjakannya.


"Kau sangat beruntung bisa mendapat dosen pembimbing seperti Pak Rafa," ucap teman Tiara.


"Kenapa aku harus beruntung? sepertinya dia dosen yang menyebalkan sama seperti dosen pembimbing lainnya," balas Tiara.


"Setidaknya kau tidak akan bosan menatap wajah tampan Pak Rafa," ucap teman Tiara.


"Kau masih saja seperti biasanya, apa belum cukup kak Bima yang menjadi dosen idolamu?" balas Tiara yang membuat temannya terkekeh.


"Kau memang selalu tahu seleraku Ra hahaha....."


Tiara hanya tersenyum tipis mendengar ucapan temannya karena ia sangat tahu bagaimana temannya itu sangat memuja para laki-laki tampan termasuk Bima.


Setelah lama menghabiskan waktu di kafe, teman Tiarapun berpamitan pergi terlebih dulu.

__ADS_1


"Kemana lagi aku harus pergi, aku takut pulang ke rumah jika ada kak Bima di rumah," batin Tiara sambil membawa pandangannya menatap jalan raya di hadapannya.


"Apa aku harus pergi ke kafe itu lagi?" tanya Tiara pada dirinya sendiri.


"Baiklah, tidak ada pilihan lain, pegawai disana juga sangat ramah dan tidak mengusirku walaupun aku tertidur disana hehehe....." ucap Tiara lalu menaiki bus yang akan membawanya ke kafe tempat dia akan menghabiskan malamnya disana.


Sesampainya di kafe yang dituju, Tiara segera masuk dan memilih tempat duduk di dekat CCTV agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


Tiara kemudian memesan satu cup besar milk tea untuk menemaninya malam itu. Karena suasana cafe yang cukup tenang malam itu, Tiarapun memutuskan untuk mengerjakan skripsinya disana.


Dengan laptop dan buku-buku yang ada di meja, Tiara berusaha fokus untuk mengerjakan skripsinya.


"Tiara!"


Tiara segera membawa pandangannya ke arah sumber suara saat ia mendengar namanya dipanggil.


"Pak Rafa, kenapa Pak Rafa ada disini?" tanya Tiara yang terkejut karena kedatangan Rafa.


"Justru saya yang seharusnya bertanya padamu, kenapa kau disini lagi?" balas Rafa bertanya.


"Aahh iya saya lupa, rumah Pak Rafa kan di dekat sini, saya memang sering datang ke kafe ini pak, saya sudah menjadi pelanggan tetap kafe ini sejak lama," ucap Tiara berbohong yang membuat Rafa tersenyum tipis.


"senyumnya memang cukup menawan, tapi dia tidak lebih tampan dari kak Bima," batin Tiara dalam hati yang tanpa sadar memperhatikan senyum Rafa.


"kau memang tidak pandai berbohong Tiara," ucap Rafa dalam hati yang mengetahui kebohongan Tiara.


"Apa Pak Rafa juga sering datang ke kafe ini?" tanya Tiara berusaha mengakrabkan diri dengan dosen pembimbingnya itu.


"Lumayan, mungkin dua hari sekali," jawab Rafa.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun, dalam hatinya ia berharap agar Rafa segera pergi dari hadapannya.


"Lanjutkan belajarmu dan jangan tertidur lagi disini!" ucap Rafa lalu berjalan meninggalkan Tiara begitu saja.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang karena Rafa pergi dari hadapannya.


"lagi pula Pak Rafa tidak akan tahu jika aku tidur disini lagi malam ini hehehe......" ucap Tiara dalam hati sambil menahan tawanya

__ADS_1


__ADS_2